"KYAAAAA" teriak salah seorang siswi saat melihat salah seorang siswi lainnya jatuh dari atas gedung sekolah tepat di hadapannya.
Semuanya berawal dari tiga bulan yang lalu saat seorang siswi dari pinggiran kota Seoul datang ke pusat kota untuk bersekolah. Dia bukan gadis yang pintar, dia juga bukan gadis yang cantik, dia berasal dari keluarga kelas menengah namun dia memiliki ambisi yang besar untuk hidupnya yang lebih baik.
Gadis itu bernama Dae Yoo-jin, dia hidup hanya bersama neneknya. Setiap hari dia berkerja part time di sebuah mini market yang dekat dengan tempat tinggalnya. Hidupnya baik-baik saja saat dia masih tinggal di pinggiran kota, karena beberapa hal dia harus pindah ke pusat kota dan bersekolah di sana.
Saat pertama kali dia datang di sekolah itu semuanya terasa baik-baik saja dan tanpa ada masalah yang berarti.
"Perkenalkan nama saya Dae Yoo-jin, mohon bantuannya" ucapnya yang lalu membungkuk.
Semuanya baik-baik saja pada awalanya tetapi, perlahan dia mulai mengalami perundungan di sekolah. Perundungan itu terjadi karena dia tidak sengaja membantu salah satu siswi yang mengalami perundungan di sekolah.
"Kau baik-baik saja..? BAGAIMANA BISA KALIAN MERUNDUNG SISWI LAIN SEPERTI ITU..?" teriaknya kepada tiga siswi yang telah melakukan perundungan.
"Apa kamu baik-baik saja..? Aku akan membantumu ke UKS" lanjutnya sembari membantu siswi yang terluka itu.
Mereka berdua berjalan pergi meninggal tiga gadis perundung itu. Dengan wajah masam dan kesal tiga siswi itu menatap mereka berdua dari belakang.
Setelah kejadian itu, Yoo-Jin melaporkan tindakan perundungan yang dilakukan tiga siswi itu kepada wali kelas mereka. Tak berselang lama setelah pelaporan itu tiga siswi perundung itu hanya mendapatkan pengurangan kredit skor nilai mereka.
Seakan hal itu telah biasa terjadi disekolah perlahan perundungan itu berubah arah ke Yoo-Jin. Pertama, dimulai dari meja kelasnya yang di coret dengan tulisan-tulisan kasar. Kedua, dengan seragam olah raga Yoo-Jin yang di buang ke dalam tong sampah. Ketiga, saat mereka secara terang-terangan membuat Yoo-Jin terjatuh di kantin hingga membuat seluruh tubuhnya penuh dengan tumpahan makan siang. Semakin lama semakin parah, beberapa kali Yoo-Jin melaporkannya kepada wali kelas mereka namun itu tak berpengaruh apapun.
Yoo-Jin bertahan selama dua bulan dengan semua perundungan yang terjadi padanya. Beberapa kali dia juga harus pulang dalam keadaan terluka di beberapa bagian tubuhnya.
"Yoo Jin-a, apa yang terjadi padamu nak..?" tanya neneknya yang terlihat begitu khawatir.
"Jin-a hanya terpeleset di tangga nek, Jin-a tidak apa-apa.." jawab Yoo Jin dengan senyum di wajahnya.
"Ah, nenek belum makan kan..? Tunggu biar Jin-a yang masak ya nenek tunggu disini sebentar" lanjutnya sembari bergegas masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar Jin-a hanya bisa menahan suara tangisnya karena tidak ingin membuat neneknya khawatir berlebihan padanya. Setiap kali dia mendapat perundungan dia hanya mencoba terus bertahan. Hingga akhirnya tepat tiga bulan setelah kedatangannya ke sekolah itu, forum sekolah mendapat kiriman foto-foto tidak senonoh yang di duga adalah Yoo-Jin.
"APA INI...? BAGAIMANA BISA SEKOLAH KAMI MENERIMA SISWI SEPERTI INI" teriak kepala sekolah.
"DAE YOO-JIN BAGAIMANA BISA KAMU MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU...?" teriak wali kelasnya sembari melempar beberapa foto ke arah Yoo-Jin.
"Tidak.. Ini bukan saya pak saya tidak pernah sekalipun.." ucapan Yoo-Jin yang terpotong.
"DIAAMMM.... MULAI SEKARANG JANGAN LAGI DATANG KE SEKOLAH SAMPAI SURAT KEPUTUSAN DARI SEKOLAH DATANG UNTUKMU. PERGIII.." teriak kepala sekolah
Setelah mendengar itu Yoo-Jin segera keluar dari ruang kepala sekolah. Setiap langkah kakinya semua siswa dan siswi menatapnya dengan tajam. Beberapa siswa menatapnya dengan tatapan menggoda bahkan beberapa dari mereka berkata "Eumm.. Jika aku ingin tidur denganmu, berapa aku harus membayarnya".
Mendengar itu Yoo-Jin refleks menamparnya dengan cukup keras.
"YAAA BERANINYA KAU MENAMPARKU.. MASIH UNTUNG AKU MAU MENAWAR MU LIHAT MEREKA, MEREKA BAHKAN INGIN LANGSUNG MELUCUTI SERAGAM MU ITU DISINI SEKARANG KAU TAU" teriak siswa itu sembari menunjuk ke kerumunan siswa lainnya.
Setelah kejadian itu, Yoo-Jin tidak lagi datang ke sekolah. Dia hanya berdiam diri di dalam kamarnya. Selama berminggu-minggu.
"Jina-ya, nenek membuat sup ayam kesukaanmu. Keluarlah" ucap neneknya yang sangat khawatir.
"Jin-a baik-baik saja nek, nenek makan saja duluan. Jin-a mau menyelesaikan tugas Jin-a" teriaknya dari dalam kamar.
"Nenek letakkan supnya di depan pintu ya" ucap neneknya yang lalu meletakkan sup itu.
Keesokan harinya Yoo-Jin mendapatkan surat dari sekolah. Di dalam surat itu kepala sekolah memberitahukan jika pihak sekolah telah mengetahui siapa yang telah menyebarkan foto-foto itu dan berharap Yoo-Jin segera datang ke sekolah.
Yoo-Jin yang sangat bahagia berpikir jika nama baiknya akan di bersihkan bergegas mengenakan seragamnya dan pergi menuju sekolah. Namun, apa yang beda dia harapkan di sana kepala sekolah justru meminta Yoo-Jin untuk meminta maaf pada seorang siswi yang pernah merundungnya.
"Dae Yoo-Jin, apa kau mengenal dia..? Dia adalah Kim Hwa Young teman sekelas mu, dia bilang dia melakukan itu karena kamu duluan yang melakukannya di group rahasia antar siswi." ucap kepala sekolah
"Yoo-Jin kenapa kamu melakukan itu. Jika kamu meminta maaf padanya semua masalah ini akan berkahir dan kamu bisa bersekolah seperti biasa. Sekarang minta maaflah padanya" lanjutnya
"Tidak saya tidak..."
"Dae Yoo-Jin apa kau tau siapa ayahnya..? Ayahnya adalah ketua dewan, kau tahu jika kau tidak meminta maaf maka kau sendiri yang akan mendapatkan akibatnya" bisik wali kelasnya.
"Ssa...ssa.."
"Ingatlah nenekmu yang menunggumu di rumah" ucap kepala sekolah.
"Kau tidak ingin membuat masalah untuknya, kan..?" Lanjutnya.
Mendengar itu, Dae Yoo-Jin sangat terkejut dan terpukul. Hanya karena dia adalah anak seseorang yang berkuasa bahkan hukum sekolah tidak bisa menyentuhnya.
"Ssa ssaya mohon maafkan saya.. Ka..karena saya anda mendapat masalah. Hwa.. Hwa Young Maafkan saya" ucap Yoo-Jin sembari membungkuk di hadapan seseorang yang dulu pernah merundungnya.
"Menyebalkan, baiklah aku memaafkan mu" jawab Hwa Young yang lalu berjalan pergi begitu saja.
"Pak lalu berita itu..." Ucap Yoo-Jin
"Berita apa..? Urus saja sendiri. Setidaknya sekolah tidak mengeluarkan mu, sekarang pergilah" ucap kepala sekolah.
Setelahnya Yoo-Jin pergi dan berjalan ke arah rooftop. Menatap seluruh sekolah dengan tatapan marah, kesal, tidak berdaya dan sedih. Dengan frustasi dan depresi dia mengambil pena dan menusukkannya ke lengannya. Dengan pena penuh darah di tangannya dia lalu menulis setiap nama perundungnya di dalam buku hariannya. Dia juga menulis nama mereka termasuk nama wali kelas beserta kepala sekolahnya di lantai rooftop dengan darahnya sendiri.
"YAAAAAAAAA..."
"Kenapa aku..? Kenapa harus aku..? Apa salahku..? Apa aku pernah menyakiti kalian tidakkan..? HAHAHAHAHA"
"Nenek maafkan Jin-na, Jin-a tidak berbakti pada nenek. Maafkan Jinha nek, Jin-a harus pergi meninggalkan nenek. Jin-a sayang nenek" ucapan terakhirnya yang lalu melompat dari rofftop sekolah.
Keesokan harinya diadakan pemakaman di kediaman Dae Yoo-Jin. Neneknya yang begitu terpukul terus menangis sembari menepuk-nepuk lantai di depan foto Dae Yoo-Jin yang berhias bunga.
"Uri Jina-Yaa... Jin-a ku yang malang.. Jin-a ku yang malang. Uri Jina-yaa, Jin-a ku yang malang.."
Dari belakang punggung neneknya terlihat dua orang yang berdiri tegak menatap foto Yoo-Jin yang telah terbingkai rapi dengan bunga.
"Uri Jina-yaa... Jin-a ku yang malang, Jin-a ku yang malang... Uri Jina-yaa" ucap neneknya yang terus menangis terisak.
Perlahan air mata mengalir dari mata kedua orang itu. Mereka berdua menahan suara sembari terus menangis terisak melihat foto Yoo-Jin di hadapan mereka. Pemakaman di hadiri oleh pihak sekolah, semua orang terlihat begitu sedih melihat peti mati Dae Yoo-Jin diangkat menuju pemakaman.
Seakan itu bukan salah mereka mereka memberikan bela sungkawa dengan wajah sedih kehilangan murid baru mereka Dae Yoo Jin. Bersamaan dengan hari pemakaman yang dilaksanakan, pihak kepolisian memberitahukan hasil investigasi mereka.
"Kami telah melakukan investigasi mendalam tentang kematian cucu anda Dae Yoo-Jin. Namun, kami tidak menemukan apapun yang menjadi penyebab kematian cucu anda. Kami hanya menduga jika alasan mengakhiri hidupnya adalah kelelahan belajar dan dan frustasi karena nilai-nilai ujiannya yang terus menurun" ucap salah seorang kepala polisi kepada nenek Yoo-Jin.
Neneknya yang tidak percaya terus berteriak "JIN-A KU BUKAN GADIS SEPERTI ITU. DIA ADALAH GADIS YANG OPTIMIS TIDAK MUNGKIN DIA SEPERTI ITU"
"KALIAN SAMA SAJA PERGILAH PERGILAH" lanjutnya sembari mendorong pergi para polisi yang sedang bertugas.
..******..
Satu bulan berlalu, seakan tidak pernah terjadi kasus mengakhiri hidup oleh Dae Yoo-Jin semua orang kembali ke rutinitas mereka di sekolah seperti biasa. Perundungan yang dilakukan oleh Hwa Young dan teman-temannya pun kembali seperti saat Yoo-Jin masih hidup. Satu hal yang tidak banyak orang tahu adalah, setelah kematian Dae Yoo-Jin neneknya mengalami shock berat dan mengalami koma di rumah sakit.
"Bagaimana keadaannya, apa dia sudah sadarkan diri..?" tanya seorang laki-laki kepada seorang gadis yang sedang duduk di samping tempat tidur nenek Yoo-Jin sembari meletakkan beberapa makanan di meja.
"Seperti biasa, nenek tidak bangun dari tidurnya. Kematian Jin-a adalah pukulan terbesar untuknya." jawab gadis itu.
"Bagaimana..? Apa kita bisa pindah besok..?" Lanjutnya.
"Tentu. Ah, Maafkan ayah karena membutuhkan waktu satu bulan untuk mengurus semuanya." ucap laki-laki itu.
"Anda sudah berusaha keras ayah" jawab gadis itu.
"Dia akan datang besok, katanya dia akan langsung menuju ke sekolah. Kau bisa pergi sendirian kan ke sekolah..?" tanya laki-laki itu.
"Tentu, Seo Jin akan berada di sana besok. Aku akan baik-baik saja" ucap gadis itu.
"Lakukan semuanya sesuai keinginanmu, ayah akan selalu mendukungmu, Seo Yoon" ucap laki-laki itu sembari mengelus lembut kepala gadis itu.
"Terimakasih ayah" ucap gadis itu.
Keesokan harinya, di sekolah dimana Yoo-Jin bersekolah dulu datang satu siswa dan satu siswi sebagai murid baru di sekolah. Kepala sekolah menyambut mereka dengan baik, mereka berdua sebenarnya adalah putra dan putri dari seorang mata-mata korea. Namun mereka memilih untuk menyembunyikan identitas mereka dan mengaku sebagai putra dan putri dari pemilik sebuah perusahaan yang cukup terkenal di korea.
Mereka berdua di tempatkan dikelas yang mana Yoo-Jin dulu berada, bahkan salah satu dari mereka duduk di meja milik Yoo-Jin dulu.
"Anak-anak semuanya dengarkan. Hari ini kita kedatangan dua murid baru, mereka berdua pindahan dari luar negeri. Mereka baru sampai di korea, bapak harap kalian bisa berteman baik dengan mereka. Kalian silahkan perkenalkan diri kalian masing-masing" ucap wali kelas mereka.
"Seo Jin" ucap siswa itu dengan datar datar.
"Saya Lee Seo Yoon, saya berharap kita bisa berteman baik ke depannya. Mohon bantuannya" ucap siswi itu yang lalu membungkuk.
Melihat itu hampi seluruh murid menahan tawa mereka termasuk Hwa Young dan teman-temannya.
"Seo Yoon, kamu bisa duduk di meja itu" ucap wali kelas sembari menunjuk meja Yoo-Jin yang dulu.
"Seo Jin, kamu bisa duduk di sebelah Seo Yoon" lanjutnya.
"Baik pak" jawab mereka berdua.
Mereka lalu duduk di bangku mereka masing-masing, pembelajaran kembali dilanjutkan seperti biasa. Saat makan siang tiba Hwa Young dan teman-temannya menghampiri Seo Yon yang sedang duduk menikmati makan siangnya sendirian.
"Hai, Seo Yoon. Bolehkah kami duduk disini..?" tanya Hwa Young dengan ramah.
"Ten tentu, silahkan" jawab Seo Yoon tergagap.
Hwa Young dan teman-temannya pun duduk bersama Seo-Yoon, saat mereka duduk bersama banyak siswa dan siswi lain yang menatap mereka. Seakan mereka berkata "Hwa Young memiliki mangsa baru".
"Ah, kita belum berkenalan kan. Perkenalkan namaku Kim Hwa Young, kau bisa memanggilku Hwa Young." ucap Hwayoung memperkenalkan dirinya.
"Ini Park Jimin dan Choi Hyeri, kamu bisa memanggil mereka Jimin dan Hyeri" lanjutnya
"Hai Seo Yoon" ucap Hyeri dan Jimin
"Ha hai, namaku Lee Seo Yoon salam kenal" ucap Seo Yoon dengan senyum di wajahnya.
Melihat itu Hwa Young juga tersenyum sembari menikmati makan siangnya, disisi lain Seo Jin justru mengawasi mereka dari kejauhan. Tak berselang lama Seo Jin pergi begitu saja entah kemana.
Hari-hari berlalu begitu saja Hwa Young dan Seo Yoon juga semakin dekat. Mereka makan, bermain dan berbelanja bersama. Hingga akhirnya satu minggu berlalu dan Seo Yon tidak sengaja melihat Hwa Young dan teman-temannya sedang merundung seorang gadis di kamar mandi.
"Hwa Young, Jimin, Hyeri, apa yang kalian lakukan..?" tanya Seo Yoon terkejut.
"Apa kau baik-baik saja..?" tanyanya kepada seorang siswi yang basah kuyup
Gadis itu hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun.
"Seo Yoon ini tidak seperti yang kau lihat" ucap Hyeri mengelak.
"Benar, kami hanya bermain-main benarkan..?" Ucap Jimin.
"HEY JAWAB, BENARKAN..?" bentak Jimin.
"Sudahlah, aku tidak bodoh aku mengerti situasinya. Mulai sekarang kita bukan lagi teman, aku tidak ingin berteman dengan perundung seperti kalian" ucap Seo Yoon.
"Ayo biar aku antar ke UKS" ucap Seo Yoon kepada siswi yang basah kuyup itu.
Mereka berdua lalu pergi begitu saja meninggal Hwa Young dan teman-temannya.
"Biarkan saja dia. Lagi pula dari awal kita memang tidak berteman" ucap Hwa Young
"Ah, bukankah situasi ini terasa familiar" gumam Hwa Young sembari menghisap rokok di tangannya.
Tak berselang lama setelah kejadian itu, Seo Yoon mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Yoo-Jin sebelumnya. Dimulai dari coretan-coretan di mejanya, baju olah raga yang dibuang ke dalam tong sampah hingga menyuruh Seo Yoon memakan makanan yang telah dituangi minuman berada di hadapan seluruh murid di kantin.
Berbeda dengan Yoo-Jin, Seo Yoon sama sekali tidak melaporkan perundungan yang terjadi padanya kepada pihak sekolah. Beberapa kali dia melawa Hwa Young namun berakhir dengan perundungan yang semakin menjadi-jadi.
Puncaknya ketika Hwa Young menempelkan foto-foto berwajah Seo-Yoon sedang merokok di papan pengumuman sekolah.
"HWA YOUNG, APA YANG KAU LAKUKAN..?" teriak Seo Yoon
"Eumm... Apa yang aku lakukan..? Aku tidak melakukan apapun..?" ucao Hwa Young
"Bukankah aku sudah memperingatkan mu sebelumnya, jangan mengusikku lebih jauh lagi" ucap dingin Seo Yoon.
"Karena kau sudah keterlaluan jangan salahkan aku" lanjutnya yang lalu berjalan pergi begitu saja.
"YAAAA... TANGKAP DIA" teriak Hwa Young penuh amarah.
Mendengar itu dengan sigap Jimin dan Hyeri mengejar dan menangkap Seo Yoon. Setelah mendapatkannya Seo Yoon berkahir dengan di hajar oleh mereka bertiga hingga beberapa bagian tubuhnya terluka cukup parah.
Saat Seo Yoon tak sadarkan diri mereka meninggalkannya begitu saja dan tak memperdulikan Seo Yoon yang terkapar di tanah penuh luka.
"Sampai kapan kau akan menahannya..?" tanya Seo Jin yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Tunggu sebentar lagi, aku akan mengadu ke pihak sekolah dan aku ingin tahu bagaimana respon mereka" jawab Seo Yon sembari terbaring menatap langit yang biru.
"Apa itu sakit..? Aku bisa menggendong mu, kakak..?" tanya Seo Jin.
"Bisakah..?" tanya Seo Yoon.
Mendengar itu Seo Jin segera menggendong Seo Yoon dan membawanya pergi pulang ke rumah mereka. Keesokan harinya Seo Yoon mengadukan perlakuan Hwayoung dan teman-temannya. Sama seperti Yoo-Jin sebelumnya, Swo Yoon tidak mendapatkan hasil apapun, Hwa Young dan teman-temannya hanya mendapatkan pengurangan kredit skor.
Di atas rooftop Seo Jin sedang berdiri dimana tepat Yoo-Jin menjatuhkan diri. Menatap ke seluruh sekolah dengan wajah datar sembari memegang tas milik Yoo-Jin di tangannya.
"Kau disini ternyata..?" ucap Seo Yoon yang lalu menghampiri Seo Jin.
"Apa kau mendapat hasilnya..?" tanya Seo Jin.
"Sama seperti yang di tulis oleh Jin-a di buku hariannya, tidak ada hasil yang aku dapatkan." jawab Seo Yoon.
"Tidak bisakah aku menghabisi mereka sekaligus..?" tanya Seo Jin kesal.
"Tidak, jika itu terjadi Jin-a kita akan sangat marah. Karena mereka tiada lebih cepat" jawab Seo Yoon.
"Bersabarlah sedikit, kita akan membongkar semuanya nanti. Ah, bagaimana nasib siswa yang berani menawar tubuh Jin-a itu..?" tanya Seo Yoon.
"Aku menggantungnya di belakang sekolah, tidak lama lagi kabar kematiannya akan tersebar" ucap Seo Jin yang lalu berjalan pergi meninggalkan Seo Yoon sendirian.
"Ah, lagi-lagi dia membawa tas itu ke sekolah. YAA SEO JIN-A KENAPA KAU TERUS MEMBAWA TAS ITU KEMANA-MANA..? YAA SEO JIN-A" teriak Seo Yoon sembari berjalan menyusul Lee Seo Jin.
Keesokan harinya sama seperti apa yang dikatakan oleh Seo Jin. Jasad siswa itu di temukan dan menurut penyelidikan dia mengakhiri diri karena kasus judi online dan tidak bisa membayar hutangnya.
Selama satu minggu juga Seo Yoon tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Sedangkan Seo Jin masih terus menjalani kesehariannya mengawasi Hwa Young dan teman-temannya.
Satu minggu kemudian saat Seo Yoon kembali masuk ke dalam sekolah dia sengaja berangkat lebih awal dari pada para siswa lainnya. Dia berjalan ke arah papan pengumuman sekolah dan menempelkan beberapa foto dimana terlihat Hwa Young, Jimin dan Hyeri sedang berpesta di sebuah club diselingi dengan beberapa alkohol di meja.
"Apa ini yang kau temukan setelah satu minggu tidak masuk sekolah..?" tanya Seo Jin yang berdiri di belakangnya.
"Tentu saja tidak" jawab Seo Yoon.
"Lalu, apa hasil yang kau dapatkan selama berada di sekolah ini..?" tanya Seo Yoon.
"Aku berada di bagian penutup" ucap Seo Jin yang lalu berjalan pergi meninggalkan Seo Yoon yang masih menatap papan pengumuman sekolah.
"Kita lihat bagaimana ekspresimu nantinya" ucap Seo Yoon dengan senyum di wajahnya.
Sesuai perkiraan Seo Yoon, Hwa Young, Jimin, dan Hyeri harus datang ke kantor kepala sekolah untuk membahas foto-foto mereka yang terpajang di papan pengumuman sekolah.
Setelahnya Hwa Young benar-benar marah bahkan sampai melabrak Seo Yoon yang sedang belajar bersama Seo Jin di kelas.
"YAA SEO YOON" teriak Hyeri dari luar kelas
"Pergilah" ucap Seo Yon meminta Seo Jin pergi meninggalkannya.
"Baiklah" ucap Seo Jin yang lalu duduk barisan belakang.
"YAA SEO YOON, APA KAU GILA HAH..?" tanya Hwa Young memasuki ruang kelas bersama Jimin dan Hyeri.
"Hwa Young, Jimin, Hyeri tidak bisakah kalian tenang. Masih banyak murid disini yang belajar untuk uji..." ucapan Seo Yoon yang terpotong karena Hwa Young menamparnya.
"YAA... ( menjambak rambut Seo Yoon ) KAU PIKIR KAMI TIDAK TAU APA KALAU KAU YANG MENEMPELKAN FOTO-FOTO ITU DI PAPAN PENGUMUMAN.." teriak Jimin
"Foto-foto apa..? Ah, foto-foto kalian yang itu ya..?" ucap Seo Yoon dari ekspresi polos dan berubah menjadi terlihat sedikit gila dengan senyum di wajahnya.
BRAKKK.... ( suara meja jatuh karena Seo Yong di lempar oleh Jimin ).
"BERANINYA KAU MELAKUKAN ITU. SEO YOON-A KAU TIDAK MENGENALKU JANGAN BERANI UNTUK MELAWANKU" ucap dingin Hwa Young pada Seo Yoon yang tersungkur di lantai.
Mendengar itu perlahan Seo Yoon berdiri menjambak rambut Hwa Young dan melemparkannya ke arah loker kelas. BRAKK....
"Ah, bukankah aku juga pernah berkata "Jangan mengusikku Hwa Young-a" tapi kau terus mengusikku" ucap Seo Yoon
"YAA SEO YOON, BERANINYA KAU" teriak Jimin sembari berjalan menghampiri Seo Yoon.
Melihat itu Seo Yoon segera mengangkat satu kursi kelas dan memukulkannya kepada Jimin hingga Jimin tidak sadarkan diri.
"AAAA. . ." teriak seluruh murid yang menyaksikan.
"Dia akan semakin gila jika di biarkan" gumam Seo Jin.
"HYERI-A, KALIAN PIKIR AKU TAKUT PADA KALIAN KAN..? TIDAK, AKU DIAM KARENA AKU INGIN SEGERA MENGHABISI KALIAN. JADI JANGAN MENGUSIKKU YA, INGAT BAGAIMANA AYAHMU NANTI JIKA MENGETAHUINYA" bisik Seo Yoon pada Hyeri yang gemetar ketakutan.
Setelah mendengar itu Hyeri langsung tersungkur gemetar dan berani mengatakan apapun.
"HWA YOUNG-A. JANGAN MENGUSIKKU LAGI, OKE!!!" teriak Seo Yoon yang lalu berjalan pergi meninggalkan ruang kelas.
"YAAA" teriak Hwa Young frustasi.
Setelah hari itu Hwa Young, Jimin, dan Hyeri tidak lagi nampak di sekolah. Mereka seakan tidak pernah ada di sana, bersamaan dengan tidak adanya mereka di sekolah suasana sekolah menjadi lebih tenang dan damai.
"Lagi-lagi kau disini" ucap Seo Yoon pada Seo Jin yang berdiri di tempat terakhir Yoo-Jin.
"Sudah hampir satu bulan kita disini. Aku sudah kehilangan kesabaran sekarang" ucap Seo Jin.
"Apa kau pikir dia akan diam saja setelah apa yang terjadi..?" ucap Seo Yoon.
"Jin-a kita sudah sangat menderita, aku tidak ingin menghabiskan waktuku bermain-main bersama mereka sepertimu" ucap Seo Jin.
"Lihatlah itu, dia akhirnya yang datang untuk putrinya" ucap Seo Yoon yang menatap ke bawah.
"Waktu kita telah tiba. Berikan penutupan yang indah untuk kisah ini" ucap Seo Yoon yang lalu berjalan pergi meninggalkan Seo Jin sendirian di rooftop.
"Tentu, aku akan memberi akhir yang indah di kisah ini. Jina-yaa, aku mempersembahkan akhir kisah ini untukmu. Wahai malaikat kecilku" ucap Seo Jin sembari memeluk erat tas milik Yoo-Jin.
Sesuai perkiraan Seo Yoon, dia di panggil kepala sekolah ke ruangannya. Dengan senyum di wajahnya dia berjalan melewati koridor gelap nan sepi, menikmati setiap suara langkah kakinya yang menggema di setiap ruangan.
Tiba-tiba langkah kakinya terhenti, menatap seorang pria dewasa berdiri di hadapannya. Dengan tatapan tajam dan marah pria itu dengan tegas memperingatkan Seo Yoon meski hanya dengan tatapan matanya, Seo Yoon mengerti benar apa maksud tatapan itu.
Mereka kembali berjalan bersimpangan, dengan tubuh tegak penuh percaya diri Seo Yoon berjalan memasuki ruang kepala sekolah. Terlihat pak kepala sekolah dan wali kelasnya sedang berdiri mwnunggu Seo Yoon.
"YAA SEO YOON, APA INI..? BAGAIMANA BISA SEORANG SISWI MELAKUKAN INI" teriak wali kelas sembari melemparkan foto ke arah Seo Yoon.
Seo Yoon hanya melihat itu dan tidak melakukan apapun terhadap foto-foto yang berserakan di lantai.
"Tenanglah Pak Kang. Seo Yoon-a dengan memandang status keluargamu, kami berharap kamu bisa memohon maaf kepada Hwa Young atas perilaku yang telah kamu lakukan padanya beberapa hari lalu" ucap kepala sekolah.
"Yoona-yaa, apa kamu tahu siapa yang telah kamu usik dia adalah putri dari dewan.." ucap kepala sekolah yang terpotong.
"Apa ini yang kalian lakukan kepadanya..?" tanya Seo Yon yang tetus menunduk menatap foto-foto yang berserakan di lantai.
"APAA..?" tanya wali kelas dan kepala sekolahnya.
"APA INI YANG KALIAN LAKUKAN PADA GADIS BERNAMA DAE YOO-JIN..?" teriak Seo Yoon.
"Ap..apa maksudmu..?" tanya kedua orang itu.
"DAE YOO-JIN, SEORANG SISWI YANG MENGAKHIRI HIDUPNYA DENGAN MELOMPAT DARI ATAS GEDUNG SEKOLAH INI. SEORANG GADIS YANG MEJANYA PENUH CORETAN DENGAN TULISAN KASAR PENUH KERENDAHAN. SAUDARAKU, MALAIKAT KAMI, DAE YOO-JIN" teriak Seo Yoon penuh amarah.
"Ga..ga..gadis itu sau..saudara..mu.." ucap kepala sekolah yang tiba-tiba tergagap.
Seo Yoon lalu mengambil remot tv dan menujukkan siaran langsung yang terjadi. Terlihat siaran langsung itu menunjukkan apa yang terjadi diruangan itu.
"KALIAN LIHAT DUA ORANG BAJINGAN INI... MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG TELAH MEMBUNUH GADIS BERNAMA DAE YOO-JIN BEBERAPA BULAN LALU" teriak Seo Yoon ke arah kamera yang tersembunyi di ruangan itu.
Melihat itu kepala sekolah dan wali kelasnya terduduk karena terkejut. Tiba-tiba siaran televisi berubah menjadi siaran penangkapan ketua dewan yaitu ayah Hwa Young.
"Sebentar lagi giliran kalian" ucap dingin Seo Yoon yang lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan.
Setelah kejadian itu Hwa Young dan teman-temannya harus di tangkap atas tuduhan perundungan hingga berakhir kematian. Kepala sekolah dan wali kelasnya di tahan atas kasus suap yang telah mereka lakukan.
Semua orang yang telah melukai Yoo-Jin mendapatkan hukuman mereka masing-masing. Sembari menatap makam milik Dae Yoo-Jin, Seo Yoon dan Seo Jin tersenyum dan lalu pergi begitu saja.
Satu hal yang tidak di ketahui Seo Yoon adalah malam dimana Hwa Young masuk kedalam penjara. Malam itu juga adalah malam terakhir Hwa Young karena Seo Jin terlebih dulu menghabisinya bersama kepala sekolah dan wali kelasnya.
Tamat....