4 Tahun menikah, adalah masa yang cukup membuat pondasi rumah tangga kami terbilang stabil dengan fakta bahwa keturunan belum menjadi masalah di dalamnya.
Bahagia??
Tentu..... mendapatkan pasangan seperti Restu adalah sebuah anugerah dalam hidupku ketika, masa kalutku dikhianati mantan tunanganku yang memilih pergi dengan teman kelasku.
Restu datang pada waktu yang tepat, saat aku berpikir semua lelaki hanya mementingkan nafsu semata, bukan komitmen setia.
>>>>>>>>
"Sayang, akhir tahun nanti kita liburan ke Bali, mau???" Restu mendekapku dari belakang ketika aku masih sibuk membersihkan wajah di meja rias sebelum tidur.
"Beneran, bang?" Aku sontak berbalik menghadapnya dengan wajah sumringah pastinya.
Walau travelling mudah secara dana, tapi tidak dengan waktunya. Restu yang sibuk memegang kendali perusahaan selepas ayahnya memberikan tonggak kepemimpinan dan aku yang sibuk di toko kueku, membuat kami sulit untuk pergi berlibur.
"Iya, sayang, kita ke sana, ya?" tanyanya yang dengan yakin aku angguki dan memeluk erat tubuh kekarnya.
"Sayang.!" panggilnya pelan.
"Hmm." sahutku berdeham.
"Kalau kita adopsi bayi, kamu mau gak?" tanyanya penuh hati-hati, aku refleks melepas kaitan tanganku di lehernya. Menatap lekat mata pria yang menjadi belahan jiwaku itu.
"Abang, beneran nanya itu?" aku balik bertanya, ia mengangguk sebagai jawaban atas tanyaku barusan.
Intens aku menilai keseriusan wajahnya, namun tak sedikitpun keraguan, malah terkesan seperti MEMOHON.
"Kalau kamu gak....."
"Aku mau, mau banget bang," potongku cepat.
Restu tersenyum lebar, memelukku semakin erat.
"Aku udah lihat ada anak yang mau aku....."
"Aku dah nemuin bayinya, sayang." Restu kali ini memotong ucapanku yang sudah melihat anak untuk diadopsi cepat.
"Maksudnya?" Tanyaku tak paham.
"Ada teman yang ngasih tahu kalau ada kenalannya yang mau aborsi."
"Aborsi?" potongku.
"Iya, karena dia hamil tanpa pertanggung jawaban." lanjut Restu.
"Dan, abang kasihan sama anaknya, makanya daripada di gugurin, mending anaknya buat kita aja." jelasnya lagi.
"Ya ampun bang, kamu kok sweet banget sih. Itu bayi pasti sayang banget sama kamu kalau tau kamu yang cegah dia dibunuh ibunya." aku menganggumi sikap suami yang rela mengasuh bayi yang tak berdosa itu.
"Lalu, gimana? kamu mau nerima bayi itu dalam rumah tangga kita?" lagi, Restu meminta izinku.
"Mau banget bang. banget." anggukku keras.
Dan jadilah, kami dengan tanggung jawab, mulai menanggung semua kebutuhan si ibu calon bayi yang hamil 3 bulan itu.
Namanya, Laras, cantik, dan juga memiliki tubuh bagus, terlebih aku menilainya sebagai perempuan yang pandai merawat diri, juga fashionable.
Laras, dengan senang hati aku menerimanya tinggal bersama kami, di sebuah bangunan kecil dekat asisten rumah tangga kami tinggal. Kami memang membangun rumah seperti bedeng agar asisten kami bebas berkumpul dengan keluarganya.
"Ras. Ayo, minum susunya." Aku yang melihat Laras memasuki rumah melalui arah belakang, sigap menyerahkan susu ibu hamil yang baru saja ku seduh. rutinitas.
"Makasih Rara." Sambutnya menerima uluran gelas susu dari tanganku.
Kami sudah sepakat akan mengurus Laras hingga melahirkan, dan menjamin pekerjaan untuknya setelah lahiran.
Hingga, suatu ketika, Laras, mendadak mengatakan hal konyol menurutku, katanya NGIDAM.
"Minta pijit Bang Restu???" ulangku pada permintaannya.
"Kalau gak boleh gak apa, Rara." lirih, Laras seolah membaca penolakkanku.
Jelas, aku menolak, karena walaupun mengatasnamakan ngidam dan dampak ngiler, tak segitu relanya aku menyerahkan tangan suamiku menyentuh tubuh perempuan lain, apalagi Laras terbilang seksi dengan pakaiannya.
"Maaf, ya Laras, aku belum siap aja." ucapku meminta pengertian Laras yang segera dianggukinya.
Malamnya...
"Bang., tadi si Laras ngidam aneh." ceritaku di sela tidur kami.
"Aneh? ngidam apa?" Restu antusias mendengarnya.
"Masa' dia ngidam minta di pijet kamu." ucapku lagi.
"Hahahah, kamu ini. ada-ada aja, terus??"
"Ya, aku tolaklah, masa' ikhlas suami grepe-grepe cewek laen." gerutuku, Restu memeluk tubuhku, menempelkannya pada dada bidangnya, tempat aku merasa paling nyaman bersamanya.
"Sayang, maafin ya untuk semua kesalahan yang aku perbuat ke kamu." Restu, tiba-tiba random meminta maaf.
"Abang ngomong paan sih." sahutku masih dalam dekapannya.
"Jika suatu saat nanti, abang ngelakuin kesalahan fatal, abang terpaksa, dan abang tetap memprioritaskan kamu untuk dicintai selamanya." Jelas Restu panjang lebar. Membuatku berkerenyit bingung mendengar ucapan yang menurutku aneh.
"Makanya, kalau mau buat kesalahan fatal, inget bini dulu, biar gak nyesel kalo aku gak maafin." balasku terkekeh.
"Pokoknya, abang minta maaf, karena abang sangat mencintaimu sayang." ucap Restu, dan kami perlahan tertidur.
Larut malam.....
"Bang??" aku menepuk kasur sebelah, tak menjumpai suami di sebelah.
Mungkin Restu di kamar mandi, pikirku.
Hingga 20 menit, tak kunjung kembali, membuatku bangun.
Berjalan pelan keluar kamar, setelah memeriksa kamar mandi yang kosong.
"Abang!!!" panggilku keras, menuruni anak tangga, barangkali ia ada di dapur.
Dan..
"Arghhhh." teriakku kaget ketika dari samping ada sosok yang mendekapku.
"Sayang, ini aku." Restu, memecah keterkejutanku.
Menepuk lengannya keras.
"Ihhh kamu nih, ngagetin,. Mau buat aku jantungan biar bisa kawin lagi." serobotku kesal.
"Ehh, masa' gitu ngomongnya." Balas Restu mencubit bibirku dengan jarinya.
"Abisnya, kamu....."
"Kamu dari mana?? kok, harum banget." Aku menemukan aroma yang mirip.... Laras??
"Dari kamar mandi abis ngopi, eh ketumpah jadi cuci tangan, tapi gak tau botol apaan di kamar mandi deket dapur. Makanya wangi gini." Jelas Restu, aku yang penasaran segera ke kamar mandi, dan... benar saja, ada botol sabun Laras di sana, katanya ia hanya memakai aroma itu, makanya ia meletakkan di kamar mandi rumah belakang dan kamar mandi dapur.
"Ya sudah, kita tidur lagi yuk." Restu memeluk pinggangku dan membawa ke kamar kembali.
>>>>
6 bulan kemudian... waktu yang kami tunggu selama ini.
Lahirlah,,, bayi laki-laki, tampan, bersih dan....
"Eh, mirip kamu bang." Celetukku kala melihat lekat bayi yang kini aku peluk.
"Bentar juga mirip kamu, kan kita ngasuh bersama." sahut restu.
"Mungkin Laras ngidam bayi tampan kayak kamu kali ya" selorohku.
Laras? setelah melahirkan, ia pergi dari rumah, menempati rumah sederhana yang kami berikan lengkap dengan pekerjaan yang dijanjikan sebagai modalnya menata hidup baru. Anaknya, segera kami asuh, Kairan Sembiru, begitu namanya yang aku berikan. bayi yang tak begitu banyak merepotkan, hingga aku sebagai ibu asuh pun tak merasa kesulitan mengasuh Kairan.
Beranjak 2 tahun, Restu dan aku semakin menyayangi Kairan yang sudah bisa berjalan, lengkap dengan ocehan kecilnya.
Namun, saat kebahagiaanku sebagai ibu.. saat itu pula aku harus mengetahui sebuah fakta....
^^^^^^^
Aku yang mengunjungi kantor suami, membawa serta Kairan, dikejutkan ketika....
"Mas... aku kangen kamu." suara itu, Laras.
Membuka sedikit celah pintu ruang suamiku setelah sebelumnya aku meminta sekretarisnya membawa Kairan pergi.
"Bukannya semalam aku udah ke rumah, bukannya aku udah menuruti permintaan kamu." jawab Restu berat.
Aku melihat Laras merengkuh leher suamiku yang fokus dengan berkasnya.
"Kalau mas ngabaiin aku, bakalan aku kasih tau si Rara soal bayi kita mas." Laras mengancam Restu.
"Kalau sampai kamu ngasih tau anak kita ke Rara, aku sendiri yang akan ngehancurin hidup kamu, paham!!!!" Restu menghentak tangan Laras, berdiri dan beranjak menuju.....
"Rara....." Aku yang membeku di pintu depan, tertangkap Restu yang membuka pintu.
Seketika, aku merasa dunia runtuh, apa kata mereka tadi? anak mereka, apakah......
"Kairan adalah anak kalian, bang???" lirih aku berusaha merangkai kalimat yang nyaris tak terucap sempurna.
"Sayang...." Restu berusaha menggapai tanganku namun aku memundurkan langkah.
"Jawab." Aku masih menunggu kejujuran.
Hingga kebenaran terungkap....
"Iya, Kairan adalah anak kami berdua, Ra... maafkan aku....." Jawab Restu bersimpuh.....
>>>>>>> Next chapter berikutnya ditunggu ya