Awan terlihat mengejek dengan memperlihatkan warna kelabu, meninggalkan jejak-jejak air yang turun membasahi bumi, lalu menyerangku dengan ramai-ramai, seakan sakit hatiku hari ini adalah umpan yang empuk untuk dihantam oleh mereka.
Tubuhku basah dan bau, aku sempat tercebur ke selokan karena genangan air cukup tinggi, hujan tidak mau berhenti. Padahal aku sudah memohon pada tuhan bahwa sialku hanya cukup sampai tadi, jangan ditambah-tambah lagi.
Aku kembali menangis dengan cucuran air hujan yang mengenai wajahku. Sakit di hati tidak kunjung reda, rasanya ingin memaki, ingin marah, ingin berteriak dan mengatai bahwa dunia begitu tak adil.
Tapi aku sadar, jalanan yang aku lewati bukanlah tempat yang sepi, cukup aku dianggap bodoh karena membawa payung tapi tapi menorobos hujan tanpa menggunakannya, jangan sampai mereka menganggap aku sinting.
"Yugo sialan. Aku benci padamu!"
Aku menyebut nama Yugo, mantan pacarku sejak tiga puluh lima menit yang lalu, setelah ia dengan tega memutuskan hubungan yang sudah terjalin selama empat tahun.
Ini menyebalkan. Menyebut namanya saja saat ini membuat hatiku 'ngilu' dan ingin menangis lebih keras. Padahal sebelum semua ini terjadi, namanya selalu menjadi alasan jantungku berdebar bahagia.
Perlahan, aku menyeret langkahku. Berkali-kali kaki ku tersandung batu di dalam genangan air, beberapa pengendara motor berhenti untuk menawarkan tumpangan padaku, mungkin penampilanku terlihat menyedihkan, mereka jadi kasihan.
Tapi maaf saja, aku masih ingin menikmati luka ku tanpa bantuan orang lain. Mungkin sedikit berlebihan saat aku menolak mereka dengan menyipratkan genangan air hingga mengenai tubuh dan wajah mereka, jujur aku tidak peduli. Karena saat ini bukan tumpangan yang aku butuhkan. Aku butuh siapapun untuk menghentikan rasa sakitku.
***
Malamnya, aku demam.
Berjam-jam dibawah hujan membuat kondisi imun tubuhku menurun seketika. Hidungku mampet, berkali-kali aku batuk. Wajahku semakin jelek karena mata sembab dan bengkak. Dan meski sudah begitu, aku masih tetap menangis.
Ibu ku berjaga di dekatku. Sejak aku pulang kerumah dengan basah kuyup ia sudah panik, apalagi melihat air mata tidak ada hentinya keluar dan mengaliri pipiku, kepalanya sudah ada pikiran-pikiran buruk yang menghinggap, Ibu bahkan mengira kalau aku korban pelecehan.
Bukan, aku dengan tegas berkata bukan seperti itu. Tapi aku tidak menjelaskan lebih lanjut. Karena pusing mulai menghantam kepala ku.
Membuat nama Yugo terus berputar dalam otak. Seakan rasa pusing itu berasal darinya.
"Minum obatnya," pada tengah malam Ibu membangunkanku, memberi obat penurun demam dan air hangat di gelas kaca.
"Makasih," ucapku dengan suara bergetar dan serak.
"Kalau ada masalah. Kamu bisa cerita sama Ibu, jangan di pendam sendiri."
Kali ini, aku menangis dengan suara parau. membuat pilu siapa saja yang mendengar.
"Mimpi ku hancur Bu, aku tidak akan pernah bersanding dengan Yugo. Tidak untuk berpacaran, tidak juga untuk menikah."
Ibu menutup mulutnya, tentu saja ia terkejut.
Aku dan Yugo bukanlah pasangan yang bermain pacar-pacaran. Selama empat tahun, kami merangkai mimpi dan tujuan untuk bisa menikah suatu saat nanti. Membangun rumah tangga bersama, dibumbui dengan bayangan-bayangan manis di pernikahan kami.
Tapi semua itu harus hancur dalam kedipan mata, mengapa dalam semalam, hati manusia bisa berubah begitu cepat?
"Yugo. Dia jatuh cinta dengan Amira," sambil terisak, aku berusaha menjelaskan. Amira adalah teman di kantor Yugo, pekerja baru disana.
Selama itu Yugo berkata bahwa ia sudah berusaha bertahan denganku, ia tidak akan jatuh ke pelukan Amira, tapi pesona Amira begitu kuat dan meluluhkan hati Yugo.
Apa yang Amira miliki, tidak ada pada diriku.
Amira menawarkan rasa baru dalam hidupnya, membuat aku yang sudah lama bersamanya terasa hambar dan tak ada rasa lagi.
Hancur rasanya ketika orang yang paling berharga dalam hidupku berkata demikian. Aku dikhianati.
"Amira menemuiku bersama Yugo, mereka seperti pasangan yang saling mencintai saat bersama. Yugo begitu mudah melupakan aku. Tapi dia tidak memikirkan bagaimana aku bisa melupakannya!"
Aku meluapkan semuanya di depan Ibuku. Tidak peduli wajahku semakin jelek dan suaraku yang menderit seperti tikus terjepit.
"Aku hancur."
Saat itu rasanya kepalaku semakin berat, tapi ibu dengan cepat menarik ku ke dalam
pelukannya.
Seketika, rasa tenang menghinggap di dadaku. Seperti sihir, pelukan seorang ibu mampu memberi efek begitu besarnya.
Tangisku berhenti, hanya tersisa isakan kecil.
sambil menatap ibu, aku mulai membuka suara, "Bagaimana aku bisa mencintai orang yang begitu menyakitiku? Bahkan sampai detik ini."
Ibu tersenyum pilu, "Kamu hanya butuh waktu nak. Mungkin ini patah hati terhebat buatmu. Tapi setiap manusia memiliki moment bangkit, jatuh, suka, duka. Itu hal yang biasa, jika kamu mau berdamai dengan semuanya,"
"Tidak perlu kamu melupakan, karena rasanya akan semakin sakit, kamu hanya perlu berdamai, dengan begitu, ketika kenangan hari ini datang lagi, kamu akan biasa saja."
Aku diam mendengarkan perkataan ibu, "Di tinggalkan, meninggalkan, itu sudah fase hidup. Ayah meninggalkan kita karena memang sudah habis waktunya ia menjadi suami dan ayahmu, Yugo meninggalkan kamu karena habis waktunya menjadi pendampingmu. Kalau kamu bertanya apakah sakit? Tentu. Tapi sampai sekarang kita masih hidup dengan baik dan menerima cinta dari yang lain kan?"
Perlahan aku mengusap hidungku yang lembab. Ibu menatapku dengan wajah yang meneduhkan.
"Jadi?" Ibu bertanya dengan keputusan ku selanjutnya. Bagaimana sikapku untuk menjalani semuanya kembali dari nol, tanpa Yugo di sisiku.
"Aku akan belajar berdamai dengan sakit hatiku."
Kali ini. Aku tersenyum. Menutup hati yang berdetak nyeri, namun tidak seperti yang tadi.
Tidak apa. Karena semuanya butuh proses. Dan semuanya akan aku awali dengan satu senyum yang akan mengubah segalanya.
Yugo, kali ini aku akan benar-benar mengucapkan selamat tinggal padamu.
"Selamat tinggal Yugo. Orang yang kucintai. Terimakasih untuk semuanya, Aku sangat terluka."