Dari sepanjang aku menjalani hidup, kisah si piggy piggy ini, mungkin adalah hal terkonyol salah satunya yang menjadi catatan absurdku.
Gimana gak,
Eithh tapi tunggu,
Jan buru2 gan, kan mau jadi cerpen lokkkk.
Oke, ayuk cik mulai cerito yo (Kakak mulai cerita ya)
>>>>>>> Pada zaman dahulu......
Weittt, salah, bukan kisah kartun kancil, ganti...
Once Upon a time (Biar rada internasional, era revolusi industri coyyy)
next,,,
Seingatku itu saat aku masih mengenakan seragam putih biru, hidup bersama keluarga di lingkungan baru di bedeng 5 pintu dengan kami berada di urutan pertama.
Keuangan yang nyaris selalu menekankan kami untuk mengencangkan ikat pinggang, membuat hidup sesederhana mungkin menjadi lembaran baru keluarga.
Ayah yang baru saja terkena PHK harus mencari pekerjaan lain dengan pesangon secukupnya.
Pertama pindah ke lingkungan ini, tentu menyenangkan, sangat malah.Ramai, banyak teman dan ramah.
Betah lah dilihat dari cover nya.
Selain itu, letaknya yang cukup banyak menjangkau fasilitas publik seperti pasar, sekolah, klinik, angkutan umum adalah salah satu alasan orang tua memilih di sini, dan khususnya biaya sewa yang murah pastinya.
Aku yang cukup humble dengan orang-orang, termasuk saudaraku yang lain, menjadikan kami tak kesulitan berinteraksi dengan siapapun. Baik orang tua, anak-anak dan dewasa lainnya.
Hingga, aku yang kerap berkeliaran di sekitar lingkungan, menemui hal yang cukup menarik perhatianku.
mau tau??
Aku banyak melihat beberapa orang, eh, lumayan sih bukan beberapa lagi ya.... mereka selalu membawa buku tipis di setiap duduknya, dan bukan hanya itu, mereka juga membawa alat tulis serta mencorat coret kertas tadi.
Penasaran??
Ya, Teka teki silang kali, yakinku.
melangkah pasti pada sekumpulan kakak-kakak yang duduk di sebuah pance (Tempat duduk dari bilah bambu sebagai alasnya dan ditopang kayu di bawahnya).
"Kak, ngisi TTS, ya??" tanyaku pasti
"Bukan, bukan TTS, dek." jawab si kakak tadi. tersenyum padaku.
"Terus apa?" aku menoleh, melihat ada gambar, angka dan..... entah apa itu, tak paham. Dan benar, itu tak sama dengan TTS. Tidak sama sekali.
"Anak cewek gak boleh tahu, gak boleh ya. Sana gih." Salah satu dari mereka menyela dan secara halus mengusirku.
Ok, fix, aku pergi dengan rasa penasaran yang amat sangat.
Hingga suatu hari, rasa penasaran itu terjawab manakala aku tak sengaja melewati rumah tetanggaku yang berada di bedeng nomor 4, rumah wak Mimi. Karena nama anak gadisnya Mimi.
Di sana, pria tua yang umurnya senior dari ayahku tengah mengumpulkan beberapa lembar kertas, dengan buku yang mirip seperti yang sering aku lihat beberapa waktu selama di sini.
Mendekat...
"Wak, wak." panggilku setelah jaraknya sudah dekat
"Ya, kenapa." jawab wak mimi.
"Itu apa wak?" tanyaku lagi penasaran.
"oooh ini?" tanya balik pria tua itu yang segera aku angguki keras.
"Ini namanya kertas togel." jawabnya
"Togel??"ulangku.
"Iya, lalu ini buku mimpi dan ini kertas yang dibeli mereka lalu jika nomor mereka keluar, maka dapat uang." jelas wak mimi seolah membaca pikiranku.
"Buku mimpi?" aku mengingat hal unik di sana, sebuah buku, dan katanya buku mimpi.
Meraih buku yang disodorkan wak mimi, aku melihat saksama. Banyak gambar di sana, hewan, orang, angka, huruf hingga berbagai hal yang kita temui ketika bermimpi.
"Jadi, kalau menuliskan mimpi, bisa dapat uang??" tanyaku, entah aku berpikiran apa hingga antusias kala mendengar uang dengan cara unik.
wak mimi mengangguk, dan aku pun mulai berpikir keras, mimpi, ya, aku akan mencoba bermimpi.
Beberapa kali aku bermimpi, tak satupun yang tertuang seperti di buku wak mimi.
dan terus berulang, sampai ketika.....
"Aarrghhhhhh, jauhhhh jauhhhh."teriakku berlari kencang ke mana pun asal jangan sampai di tubruk si bagong hitam itu.
"Tolonggggg. ayaaaahhhhh,,,, ibuuùuuuuuuu..... tolonggg!!!!!" lagi, aku menambah kecepatan kakiku ketika hewan besar itu dengan lurus mengejarku tanpa henti.
"Tolongggggg!!!!!!!!" teriakku lagi, hingga
bruk!!!!!
Aku merasakan tubuhku terhempas, hewan itu berhasil menabrakku dan.....
Oh Goshhhh!!!!
Aku membuka mata dan...
"Kamar????" aku mendapati diriku hanya bermimpi dan terjatuh dari atas tempat tidur.
"Mimpi gilakkkk!!!" geramku, naik ke tempat tidur lagi dan menutup mata, berdoa agar jangan sampai......
"Eh, babi?? wahh aku mimpi babi!!!" hebohku pelan, tersadar jika aku mendapat mimpi seperti di buku wak mimi
"Oke, besok aku beli togel sama wak mimi, biar dapat duit."
dan sesuai janjiku tentunya, uang saku yang aku dapat dari ibu dengan rela aku setorkan pada wak mimi dengan tulisan babi di kertas yang aku beli.
Berdoa, semoga dapat, batinku gila.
Keesokkan harinya, tepat siang hari....
"Ibuuuu!!!!! ayahhhh!!!" teriakku memasuki rumah kecil itu. Mencari keberadaan keduanya yang tengah menonton TV.
"kenapa nak, heboh gitu.??" tanya ibu menyambutku.
Aku yang senang, melambaikan tangan dengan uang senilai 100ribuan ada di sana.
Kaget?? ya, keduanya heran, darimana aku mendapatkan uang sebesar itu.
"Dari mana?" kata ayah
"Gak mencuri kan???" lanjut ayah lagi memburuku cepat, khawatir pastinya.
Aku menggeleng yakin.
"Bukan, tapi aku dapat dari wak mimi." jawabku bangga.
"Wak mimi??" ibu mengerutkan kening, beliau kenal sekali, tak sekaya itu tetangganya hingga rela memberi puterinya uang sebesar itu.
"Iya, aku beli togel, dapet mimpi babi semalam." jelasku.
"Hahhh!!!!! togel!!!???? babi????" serentak, kedua orang tuaku membelalak tak percaya.
"Balikin uangnya, itu haram nak, kamu sama aja makan babi." Seloroh ayah mengingatkan.
Hingga, aku kembali pada wak mimi, meminta uangku kembali dan menyerahkan babi dalam bentuk 2 lembar uang ratusan ribu itu.
Dan,,, babi hitam besar itu, adalah....jelmaan mimpi konyol yang aku tuangkan dalam bentuk togel dan uang sebagai bukti betapa tak masuk akalnya aku mendapatkan uang karena rasa penasaran itu.
🙀🙀🙀🙀🙀🙀🤣🤣🤣🤣🤣🤣
TOGEL->> toto gelap, bentuk perjudian yang marak dilakukan atas dasar asumsi atau hipotesa konsumennya, baik perkiraan asal, mimpi, ataupun meminta saran,, bahkan dari orang gila sekalipun...
geizzz, pernah maen togel gak kayak aku?? hahahhaha