Pada suatu sore, cahaya matahari yang meredup ditutupi pepohonan, memercikkan cahaya yang indah ke tanah melalui celah daun daun di udara. Aku berpapasan dengan seseorang memakai baju serba hitam bergaris putih. Mata merah kecoklatan dan senyum menawan terukir indah diwajahnya. Itulah pertama kali aku melihatnya, laki laki unik yang kerap aku panggil Ian. Kesan pertemuan pertama kami disebabkan oleh faktor ketidaksengajaan. Ceritanya, saat itu sekitar pukul 16.04 aku pergi ke toko untuk membeli buku gambar dan pensil. Masalah penampilan tidak perlu ditanyakan, karena aku orangnya simpel dan suka warna hitam, jadi ku pakailah baju hitam bergaris putih dan jilbab hitam polos.
Sesampainya di depan toko langkahku terhenti lantaran melihat seorang laki-laki berpakaian sama persis denganku. Kami saling bertatapan sambil respect mengangkat tangan menunjuk satu sama lain dan melirik baju masing-masing. "Couple! Kok bisa?!. Ahhh malu sekali, bagaimana ini? Ck sudahlah toh aku tidak kenal", kataku dalam hati. Aku pun bergegas ke toko lalu membeli barang yang aku inginkan. Setelah itu aku berniat meninggalkan toko, tetapi seseorang bertanya padaku, " Ada tugas membuat poster ya?". Pertama, ini masih pertama kalinya aku mendengar suaranya, suara yang tenang dan menyejukkan hati itu tidak bisa aku lupakan sampai sekarang. "Emm" jawabku singkat disusul dengan langkah kaki 1000 meninggalkan toko.
Beberapa saat kemudian aku pun sampai dirumah, tetapi bayangan laki laki itu masih terus melintas dipikiran ku, sekilas aku ingat barang yang dibelinya adalah pensil warna. Musim pertama pertemuan cintaku berakhir begitu, tapi bodohnya aku yang mengira pertemuan kita hanya akan berakhir disini. Keesokan harinya aku mengumpulkan tugas poster ke sekolah, Bunda yang mengantar ku dan beliau menunggu ku di luar gerbang sekolah. Setelah turun dari sepeda aku pun dengan santainya berjalan masuk sambil melihat hp menuju ruang guru, baru saja ingin berbelok di lorong antara kelas 9 dan 8, "Brak!" Aku menabrak seseorang dan terjatuh karena tidak melihat. "Aduh maaf aku tidak lihat", kataku sambil menggosok gosok hidung. Karena penasaran, aku mengangkat kepala untuk melihat siapa orang yang aku tabrak. "Kamu?" ucap kami bersamaan. Dia tidak lain adalah laki-laki yang aku temui kemarin, dia berbaik hati menarikku berdiri sambil bertanya "Hidungnya tidak apa-apa?". Aku sontak merasa malu, sambil ku tutup wajahku aku lari dan berteriak "Tidak apa apa!". Sejak hari itulah aku sadar kalau kami satu sekolah.
Dulu ketika aku masih kelas 9 ada virus covid-19, jadi seluruh siswa siswi belajar daring dari rumah. Karena bosan duduk dirumah aku pun ikut mengaji dan tadarus di masjid yang tidak jauh dari rumahku. Pagi itu aku datang sebelum pukul 09.00 karena piket bersama dengan 5 temanku. Tetapi entah takdir atau bagaimana 4 temanku malah tidak masuk karena ada keperluan, jadi hanya tersisa aku dan 1 orang lagi. Aku kebingungan memikirkan siapa 1 orang lagi yang harus piket, aku pun melamun sambil menyapu lantai masjid. Tidak lama kemudian aku tersadar dari lamunanku karena seseorang memanggil. "Hei!...", "Ahh iya?", "Kamu nginjak kakiku lho dari tadi". Lagi lagi orang itu, laki-laki yang aku temui kemarin dan beberapa hari sebelumnya. "Ma-maaf", aku merasa malu saat itu sehingga aku melompat kemudian berdiri membelakangi nya, sedangkan dia tertawa kecil melihat tingkahku.
Tidak berakhir sampai disitu, dia yang masih berdiri dibelakang ku, menepuk perlan pundak ku kemudian mengulurkan tangan, sembari tersenyum ia berkata, "Aku Rian kita satu sekolah, satu RT, dan mengaji disini bersama setiap hari. Ohh ya! kita sempat bertemu 2 kali waktu itu. Mau jadi temanku?". Jantungku berdetak kencang mendengar hal itu, anehnya tanganku malah langsung menjabat tangannya, sedangkan aku tetap tidak berani menatap wajahnya. Dari momen inilah perlahan-lahan kami menjadi teman dekat, Ian sering datang ke rumah bertemu ayah dan Bundaku, bermain bersama adikku, mengaji dan tadarus bersamaku dan banyak hal lainnya, ayah dan bundaku menyukai Ian karena dia baik dan sopan, dia bahkan menggantikan Bunda dan Ayah untuk menjaga ku ketika aku sakit (aku tidak ingin mengganggu pekerjaan kedua orang tuaku, jadi aku minta mereka tetap bekerja). Waktu terus berlalu, dan pada suatu hari Ian tidak ke masjid karena sakit, di situ aku merasa kesepian dan ada yang kurang. Karena biasanya dia bercanda dan mengajariku di tempat mengaji, ramah hanya kepadaku, dan hanya ketika bersamaku Ian mudah gugup dan tersipu. Sejak hari itu aku mulai sadar kalau aku menyukai Ian.
Singkat cerita dua tahun sudah berlalu, aku diterima di sekolah terfavorit di kotaku dan hari ini aku berusia 16 tahun sedangkan Ian sudah memasuki 17 tahun. Pagi itu adalah hari Sabtu, aku sangat bersemangat untuk bertemu dengan Ian dirumahku, "Hari ini harus bilang tentang perasaan ku pada Ian!", ujar ku dalam hati. Pukul 07.00 Ayah, dan Bunda akan berangkat bekerja dan adik akan diantar ke sekolah. "Assalamualaikum Tante, om" sapa Ian yang baru datang kepada orang tuaku. "waalaikumsalam, An sudah datang. Kami mau berangkat titip zizah ya", kata ayahku pada Ian. "Siap om", aku pun bersalaman dan mereka pun berangkat. "Emm..Ian mau dibuatkan minum?" tanyaku. "Ehh tidak usah Iza duduk saja, aku ingin bicara". Jawab Ian sembari menyuruhku duduk disamping nya.
Aku penasaran dengan apa yang ingin disampaikan Ian kepadaku, karena baru pertama kali aku melihatnya mengeluarkan ekspresi yang begitu serius. Ian pun bercerita dengan rinci tentang dirinya yang akan pergi ke Sulawesi bersama kedua orangtuanya besok. Mendengar hal itu, aku tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun, hatiku terasa sakit seperti sesak dan sulit bernafas, tanpa aku sadari air mataku jatuh begitu deras membasahi pipi ku. Ian yang terkejut melihat ku menangis sontak memelukku dengan erat. "Maaf aku baru memberitahu, aku khawatir Iza akan sedih. Tapi percayalah aku pergi untuk menjadi lebih baik dan pantas bersama Iza", mendengar kata-katanya ini tangisan ku semakin menjadi jadi. Aku tidak bisa berhenti menangis sambil ku sembunyikan wajahku di pelukannya. Tetapi dibalik tangisanku ini aku yakin kalau Ian juga menyukaiku meskipun kami tidak pernah saling mengungkapkan, jadi aku tidak melarangnya untuk pergi.
Keesokan harinya Ian pun pergi jauh meninggalkan kota, tepat pada pertengahan Agustus dan Ian diterima disekolah terbaik di Sulawesi. Sedangkan aku terus berusaha untuk tidak ketinggalan jauh. Untuk menghindari memikirkannya setiap saat aku mengikuti ekstrakulikuler bulu tangkis dan belajar hal baru seperti bahasa Jepang, dengan begini aku akan sibuk dan tertidur lelap bila lelah. Waktu dengan cepat berlalu baru beberapa bulan Ian pergi dan sebentar lagi aku akan menghadapi ujian akhir semester 1. Dengan begini keseharian baru tanpa Ian, dimulai. "Hahh tahun ini berlalu dengan cepat dan akan segera berakhir."
_Tapi...musim cintaku dengan Ian tidak akan pernah berakhir... karena tidak lama lagi Ian akan pulang untuk mengunjungiku_
catatan : - Ian adalah caraku memanggil Ian.
- An adalah cara Ayah memanggil Ian.
- Adikku laki laki.
- Iza adalah cara Ian memanggilku.
Season 1 TAMAT
lanjut nggak nih?