"Bang, akhir pekan nanti jadikan kita ke pasar malam?" panggilku pada sang suami yang masih berbaring di tempat tidur.
"Hmmm." dehamnya sebagai jawaban.
"Yes, aku mau naek kora-kora, bang. kayak waktu kita masih PDKT dulu." kikikku merasa geli mengingat awal mula kami PDKT yaitu di pasar malam, dengan kora-kora sebagai arena permainan yang menyimpan kenangan sang suami menyatakan rasa sukanya padaku.
Mengaplikasikan sponge pada bedak di wajah, rutinitas berhias sebelum berangkat bekerja. Aku memang lebih dulu bersiap-siap ketimbang suami yang jam kerjanya agak siang dariku.
Maklum saja, aku masih karyawan biasa di sebuah perusahaan asuransi, sementara suami adalah manager di perusahaan showroom mobil.
Dan hari ini, seperti biasanya, aku harus mempersiapkan rapat peningkatan kinerja dalam mempertahankan serta mencari konsumen.
Menjadi isteri seorang manajer dengan link pergaulan suami yang pasti luas, harusnya aku tentu bisa dengan mudah mendapatkan konsumen, tapi aku enggan seperti itu. aku sebisa mungkin berusaha mandiri.
***
"Hai, Dira." Sapa Andini, rekan kantorku yang masuk 2 bulan setelahku, tapi kemampuannya cukup membuatnya bisa mengejar karir tetapku.
"Hai, Dini." sahutku. duduk di kubikel tepat di sebelahnya.
"Gimana rapat tadi??" tanyanya setelah selesai menaruh gelas kopi miliknya.
"Kayak biasa. Harus ini, itu dan begitu." ucapku pelan.
"Eh, Dira, denger-denger bakalan ada promosi loh." seloroh Andini semangat.
"Iya. aku tahu. cuma, susah targetnya berat." jawabku pasrah.
"Heleh, punya lakik tuh di manfaatkan, ntr dimanfaatin orang baru tahu rasa." sahut andini.
"Hai, semua." satu suara menyela obrolan kami berdua.
Lyra... pekerja baru yang masuk tanpa melalui proses magang panjang, cukup 1 bulan, ia sudah bisa sama tetapnya dengan kami berdua.
Emejing bukan??
entah koneksi apa yang digunakannya.
"Eh. Dira, gue mau tanya." Lyra menarik kursinya ke sebelah kursiku.
"Paan." jawabku .
"Suami Lo tu manajer. kan?" tanyanya random
"Kenapa memangnya?" Andini, malah yang bertanya.
"Nanya aja." balas Lyra.
"Akhir minggu kita kumpul yok." ajak Andini tiba-tiba.
"Gak bisa, aku udah ada janji kencan sama suami." kekehku menjawab malu.
"Cieee kencan." ledek Andini menepuk mejanya sembari tertawa.
"Ya dong. Enak..." Sahut Lyra menepuk bahuku lalu beranjak menuju kursinya yang berada di depan kubikelku.
Ketika pulang, aku seperti biasa. mendapati rumah sederhana kami kosong tanpa siapapun. Tinggal berdua dan belum dikarunia momongan cukup menyita kekosongan yang tak usai sampai suami pulang.
"Eh, kebetulan banget." suara yang aku kenali, menyapa belakang tubuhku.
Ibu mertua.
"Ibuk." aku menarik tangannya untuk aku ciumi, namun segera ditepis beliau.
"Cepet bukak. Capek." sahut beliau, ketus.
Aku membuka pintu dengan cepat.
"Kamu itu, ikut pengobatan sana, program kek, terapi kek, atau minum herbal. Lama banget ngasih cucu, apa mandul kamu??" ibu mertua tanpa basa basi menembakku dengan kata mengerikan itu,,, lagi. Sudah dari 1 bulan kami menikah, kata itu kerap menyapaku hingga 2 tahun pernikahan kami.
sabar, begitu batinku berucap.
"Iya, buk, Dira udah mulai mencoba Sama mas Danu." balasku lembut.
"Heh, awas aja kalo masih belum dapet cucu, mandul, kamu bakalan dapet madu dari suami kamu." kata ibu mertua bertambah, mengancam?
"Ibuk." sahutku lirih, tak percaya ucapan barusan keluar dari ibu suamiku.
Tapi beliau hanya melengos, tanpa merasa bersalah sudah menggores batinku dalam.
*****
Malamnya...
"Dira, akhir pekan nanti, mas gak bisa temenin kamu ke pasar malam, ya.?" suamiku, mas Danu, membaringkan tubuhnya setelah selesai bersih-bersih.
Aku yang sudah berbaring duluan menoleh padanya.
"Mas ada dinas luar?" tanyaku, biasanya selalu seperti itu.
"Bukan. Tapi ada ketemu klien penting." jawabnya
"Ya sudah. Kapan-kapan aja kalo gitu." Jawabku kemudian tanpa menuntut.
"Makasih." ucapnya memelukku erat dan mulai tertidur bersama.
Akhir pekan, aku yang memilih diam di rumah, berakhir dengan menata barang-barang yang sudah lama tidak aku bereskan.
Seharian berkutat dengan pekerjaan rumah cukup menyita waktuku.
"Eh, ini apa." aku menemukan sebuah benda dalam kotak yang sudah berdebu.
"Ibuk, bapak." ucapku, menemukan barang-barang berisi benda berharga milikku, poto orang tuaku.
"Sudah lama banget gak ziarah ke makam beliau." ucapku tersadar.
melirik jam di ponsel.
"Pukul 4 sore, kayaknya masih bisa deh ziarah dulu." gumamku, beranjak dan bersiap untuk pergi ke makam orang tua yang tak begitu jauh jangkauannya.
Tiba di sana.... Aku memanjatkan doa pada kedua orang tua yang sudah terbujur di dalam sana.
merasa rindu pada keduanya, karena aku hanya anak tunggal dan keluarga jauh semua, maka aku jelas merasakan kesendirian luar biasa sampai aku bertemu Danu, suamiku, hariku perlahan terisi dengan banyak warna, walau kami masih kurang tewarnai oleh kehadiran anak, tapi Danu tak sekalipun menuntutku agar memiliki anak seperti ibunya.
Karena hari sudah semakin sore, aku berniat langsung pulang. namun, cepat aku urungkan. ketika ingat, searah dengan jalan pulang ada pasar malam yang rencananya dikunjungi aku dan suami.
sendiri, memasuki kawasan yang cukup besar, penuh sesak oleh kerumunan orang yang.....
"Mas Danu???" gumamku menangkap siluet suami yang...
"Sama siapa??" lagi, aku bergumam ketika ikut melihat sosok lain di sisi suamiku yang....
Bergelayut, ya, bergelayut di lengan suamiku.
sepupu?? tidak, mereka jauh,
saudara kandung? juga jauh, dan tidak memiliki postur seperti itu.
Aku menarik kakiku lebih cepat pada arah itu.
Degub jantungku jelas berpacu tak seirama, kencang dan menyakitkan.Otakku keras menceramahiku bahwa suamiku sedang...
Berselingkuh??
Tidak, tidak mungkin, pasti itu pria yang mirip saja dengannya.
Langkahnya menuju..
kora-kora raksasa itu.
Aku semakin mempercepat langkah, menyusulnya.
dan beruntung, aku bisa mendapatkan keranjang kora-kora dengan sudut yang bisa menangkap bayangnya.
Mataku diusahakan menajam, berfokus hanya pada titik mas Danu, dugaanku sementara.
Hingga, mataku mendapati, keduanya tengah... Berciuman?? berciuman!!!!
jelas dan pasti, walau masih berusaha aku menolak, namun mata masih setia mengawasi.
Dan, terungkap, menyesal? jelas, tapi lebih baik daripada selamanya tak tahu.
Karena kini. sosok yang sedari tadi fokus menjadi incaran netraku, turun, dan mataku dapat dengan pasti meyakini jika itu.....
"Dini??? mas Danu??" Ya dua sosok itu yang tertangkap olehku.
Walau mereka belum menyadari, tapi aksi bak sepasang kekasih itu tetap berlanjut, hingga....
Mobil, aku dari jauh bisa melihat walau gelap, mobil itu bergerak aktif walau diam.
Fix, mereka pasti...
Dengan emosi, aku meraih keberanian yang menghancurkan martabatku sebagai wanita.
Tok tok tok.
Aku mengetuk keras kaca jendela itu, dimana sebelumnya aku melihat remang-remang ke dalam bahwa mereka tengah bergelut di sana.
"Buka!!!! atau aku pecahkan kaca ini!!!!" teriakku keras.
Hening. cukup lama aku menunggu hingga.
Brak!!!
bunyi hempasan kaca pecah terdengar... Aku menghantamnya dengan batu yang aku temukan di sekitar yang cukup memecahkan kaca itu.
Benar, Andini dan mas Danu. Penampilan acak-acakkan.
"Dira." panggil Danu, gugup.
"Kami gak ngapa-ngapain." ucap Andini segera.
"Gak ngapa-ngapain??" tanyaku mendecih.
"Lalu..." aku mendekat dan,....
"Ini apa??" aku membersihkan lipstik di ujung bibir suamiku, dan juga aroma Andini yang menguar di sana.
"Kalian brengsek!!!" makiku.
"Sudah berapa lama kalian...." aku tak kuasa meneruskan. berusaha menahan air mata yang hendak melompat keluar.
"Apa karena aku belum bisa memiliki anak, mas?" tanyaku pada Danu yang segera meraih tubuhku namun aku tepis keras.
"Baiklah. Lanjutkan hubungan gila kalian, dan aku.... akan menunggumu di persidangan, dengan...." aku mengambil benda dalam tasku.....
Cekrek!!!
"Setelah aku memvideokan kalian di kora-kora, dan foto sekarang, itu akan mengungkap fakta perselingkuhan itu. Selamat Dini. Kau benar-benar penggoda yang baik." selorohku lalu pergi meninggalkan sepasang manusia kotor itu.....
End.....
Nanti kita teruskan chapternya ya.....