Ada sekelompok anak kecil yang sangat bandel, anggotanya antara lain Haikal, Vicky, Hafiz, Mamat, Arif, Udin, dan Haris. Dalam kelompok tersebut diketuai oleh Haikal. Kelompok ini terkenal akan kenakalan yang mereka lakukan. Membuat keributan dalam gang perumahan karena permainan mereka.
Saat ini mereka sedang bermain api dan panjat pohon mangga dihalaman rumah keluarga yang dikenal warga sekitar sebagai orang-orang baik dan ramah. Keluarga tersebut beranggotakan sepasang suami isteri, putra sulung, dan putri bungsu. Putri bungsu ini bernama Anna. Anna adalah gadis yang ceria dan suka ketenangan.
Anna yang saat itu menonton acara variety show favoritnya merasa terganggu akan ulah dari sekelompok anak kecil dihalaman rumahnya. Anna paling benci suasana ramai atau berisik. Anna bergegas mengintip siapa saja yang mengganggu ketenangannya. Mendengar tawa dan cara mereka berbicara membuat Anna mulai terpancing emosi.
"Haikal, kau masak apa?"tanya Mamat kemudian jongkok di sebelah Haikal.
"Entah, aku gak tau."
Haikal memegang ganggang panci.
Anna sudah ratusan kali menegur anak-anak nakal itu untuk tidak bermain dihalamannya lagi. Tapi, masih saja keras kepala.
"Vicky, ayo naik lagi lebih tinggi! Sampai ke atas sana."ajak Hafiz
Hafiz dan Vicky sedang duduk di atas pohon mangga. Karena pohon mangganya agak pendek memudahkan untuk memanjat.
"Ayo! Siapa takut."
Anna memandangi mereka yang asyik bermain. Matanya menyiratkan api yang menggebu dari hati menuju otak.
"Aku gak bisa berenang."ucap Haris sembari mengayunkan kaki ke dalam air sungai.
Rumah keluarga tersebut memang dibangun diatas air atau sungai kecil.
"Waktu aku 5 tahun aku bisa berenang."kata Arif
Arif, Haris, dan Udin bermain air dibawah jemuran. Anna khawatir cipratan air kotor itu akan mengenai jemuran yang sudah dicuci. Alhasil, Anna sudah tidak tahan.
Anna membuka pintu depan lalu menetralisasikan emosi yang hampir memuncak.
Ceklek!
"Adek-adek, kemarilah! Temani kakak bermain di dalam."ucap Anna dengan senyum miring
Anak-anak seketika berhenti melakukan aktivitasnya. Mereka saling berpandangan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
"Ayolah, kakak tidak ada teman. Lagian kakak sudah buat puding coklat dan kakak tidak habis memakannya."
"Puding coklat? Ah, mau kak!"kata Haikal dan segera masuk dalam rumah.
Teman-teman Haikal pun menyusul masuk dalam rumah. Anna masih tidak memudarkan senyum miringnya. Anna menutup pintu depan dan menguncinya.
"Ada yang kakak sampaikan dulu. Silahkan duduk adek-adek!"
Mereka duduk melingkar di lantai.
"Apa kalian harus bermain dihalaman rumah kakak ini? Sudah ratusan kali aku tegur kalian untuk tidak bermain lagi terutama bermain air."
Haikal, Hafiz, Arif, Mamat, Vicky dan Haris hanya menatap Anna tanpa berani menyela.
"Kenapa diam? Bersyukurlah, aku tidak melaporkan hal ini pada orangtua kalian. Aku dengar dari dek Vicky, Haikal dimarahi karena dapat laporan dari beberapa orang dewasa yang merasa terganggu oleh ulah kalian."
"Maaf ...."cicit Vicky.
"Aku paling tidak suka diganggu. Apalagi suasana tenangku dihancurkan oleh sekelompok anak kecil yang sangat nakal."
"Ka-kami akan pindah ke te-tempat lain, kak."sahut Vicky sedikit gemetar takut.
"Hmm ... kau sudah puluhan kali mengatakan itu. Tapi tetap diulang lagi 'kan?"
Vicky menunduk. Semua teman-teman merasa bersalah. Dan lebih buruknya lagi, mereka salah target untuk mengusik orang lain.
"To-tolong jangan laporkan hal ini pada orangtua kami, kak!"pinta Vicky yang hampir menangis.
Anna tampak berpikir sejenak hingga akhirnya menjawab, "Baiklah, tapi diganti dengan hukuman. Bagaimana?"
"Hukuman apa, kak?"tanya Vicky
"Kalian sendiri maunya apa?"
"Apa aja deh, kak. Asal orangtua kami tidak tahu."
"Hanya Vicky yang angkat bicara? Haikal kan ketuanya kenapa jadi Vicky yang banyak bicara? Ck! Yang lain bisu?"
Hening.
Suasana mulai menegangkan.
Tak lama kemudian, Anna bangkit dari duduk dan melangkah mundur sedikit jauh dari sekelompok anak kecil nakal.
"Baiklah, sesuai keinginan kalian."kata Anna dingin
Sudah 3 minggu berlalu tetapi tidak ada tanda-tanda kehadiran mereka. Para orangtua telah lelah mencari hampir pelosok daerah ini karena nihil menemukan anak-anak mereka.
Anna tidak memperdulikan suka duka keluarga orangtua ini. Ayah, ibu, dan kakak sulungnya juga tidak peduli. Keluarga tersebut acuh dan fokus dalam kegiatan masing-masing.
"Ah, akhirnya damai. Senang bisa dapatkan perasaan ini lagi."ucap Anna sembari memandang atas langit yang perlahan berganti warna jadi orange.
Anna tersenyum girang, sekian lama menginginkan ketenangan seperti masa kecilnya bisa kembali dia dapatkan. Lalu Anna bermain dengan anak kucing kesayangannya bernama Iky. Berbulu lebat seperti kucing Anggora, warna bulunya seputih salju, hidungnya pesek, dan matanya keemasan.
"HAIKAL, KAMU KEMANA, NAK?"teriak ibunya
Gerombolan warga sekitar gang turut membantu dalam mencari sekelompok anak nakal itu. Berhari-hari kelompok anak nakal itu tidak pulang ke rumah masing-masing. Orangtua mereka sudah melaporkan hal ini kepada pihak berwajib.
Tapi sampai saat ini tidak ada satupun petunjuk mengenai keberadaan mereka. Seolah-olah mereka lenyap begitu saja.
Hari sudah mulai gelap, para warga dan orangtua memutuskan untuk kembali mencari besok pagi.
Anna mengelus lembut bulu Iky lalu berkata, "Iky, kau anak kucing yang malang. 6 saudara kamu mati karena tidak sanggup bertahan hidup. Hanya kau yang tersisa. Kau benar-benar anak kucing yang beruntung."
"Andai 6 saudaramu seperti kamu juga pasti masih hidup. Tapi, mereka sangat nakal jadi, ruang bawah tanah sebagai hukumannya."ucapnya sambil tersenyum lebar.
Tidak lama setelahnya, seorang anak kecil menghampiri Anna.
"Kak, ada plastik?"
Anna mendongak menatap anak kecil di sebelahnya.
"Buat apa?"
"Buat masukin belut."
Adit itulah nama anak kecil itu. Adit suka memancing ikan dan menangkap belut di halaman rumah keluarga Anna. Hal itu membuat Anna merasa jengah melihat kelakuannya yang selalu blak-blakkan. Hampir membuat jemuran yang Anna cuci jadi kotor terkena cipratan air sungai.
"Oh, bentar. Masuk aja dulu."
Tanpa rasa curiga sedikitpun, Adit masuk ke dalam rumah. Di sisi lain, Anna mengambil plastik dalam laci. Kemudian berjalan menuju Adit.
"Dek, apa kau suka blak-blakkan?"tanya Anna
"Nggak tau, ada plastiknya? Sini, kak."
Adit hendak meraih kantong plastik ditangan Anna tetapi Anna menghindarinya.
"Kau benar-benar anak keras kepala."gumam Anna pelan
"Ha? Apa kak?"
"Kau suka belut 'kan? Aku akan berikan kau banyak belut."ucap Anna dingin sambil menyeringai
1 Tahun kemudian.
Tidak ada lagi yang mendengar kabar sekelompok anak nakal itu dan juga anak kecil satunya yaitu Adit. Semua orang sudah melupakan mereka. Termasuk keluarga mereka meski tak semuanya karena masih ada yang berduka. Pihak berwajib telah menutup kasus ini.
Anna menghirup udara dengan bebas dan lebih tenang dari sebelumnya. Anna menengadah ke langit. Memandang langit itu tanpa gangguan sedikitpun. Anna tidak tersenyum, hanya datar tanpa ekspresi.
"Aku harap, aku menemukan yang lainnya juga untuk ku bermain dirumah."
—TAMAT—