Baru saja Adiz mau menduduki bangku nya,di sebelah dia lihat Sahara sedang asyik dengan laptop.Cewek berdarah Indo itu,video call dengan cowok tampan ,macco,tampan ,keren dan sontak saja Adiz.Langsung naksir dan berteriak.Ingin mengenal lebih dalam siapakah bule itu ?
"Good morning,how are you ?"
Bule itu menyapa Sahara dengan sapaan yang hangat.Bergegas Adiz ingin melihat secara dekat.Tapi,kedatangan Dieng membuat dia membatalkan niat.
"I fine,thanks !"
Sahara bercakap-cakap banyak dengan si Bule.Membuat Adiz menjadi iri.
"Saha..,"
Pembicaraan terputus.Saat Dieng datang menepuk bahunya.Merasa ada yang memanggil,Sahara melirik ke arah mereka.
Tapi,tidak ada dia rasa.Kembali melanjutkan pembicaraan dengan bule.
"Diz,mau ngapain sih ?"
Dieng terlihat kepo.Adiz menghirup udara segar sebentar.Perasaan jengkelnya muncul.Niat mau mendekati dan menyelidiki,siapa Bule yang bicara sama Sahara jadi tidak terlaksana.
"Ngapain ? seharusnya Ay nanya sama yu,batalin niat orang aja."
Dengan tampang masam ,Adiz melototi temannya .Malah si Dieng kikuk dan heran .Kok Adiz,sudah tukar bahasa segala.Perasaan kemaren -kemaren biasa-biasa aja.Nggak pakai bahasa Inggris,tapi sekarang?
"Eh,Adiz kamu kesambat di mana ? dan bicara Inggris sok-sok jadi Bule.Jangan-jangan kamu,sudah di santet bule ?"
Pertanyaan Dieng barusan,membuat Adiz jadi berpikir.Jadi,dia bicara barusan ceplos dan terbawa perkataan ke bule-bulean.
"Oh begitu,kamu salah denger kali Yeng.Biasa aja".
Adiz pura-pura linglung .Padahal dia tidak ingin Dieng tau,apa yang baru di alaminya.Dieng geleng-geleng tak mengerti dengan si Adiz.
Dengan cepat-cepat Adiz,mengeluarkan alat tulisnya.Saat dia lihat Bapak Chester,guru yang mengajar olahraga masuk.Hari ini pelajaran berupa materi,minggu esok baru praktek.Bilang guru yang jago main gollf itu.Adiz kurang tertarik,karena gurunya galak dan egoiz.Bagi berapa cewek yang lain melainkan merasa senang dan bangga karena kebanyakan dari mereka ngefans berat sama guru yang masih muda itu.Bapak Chester sendiri masih lajang dan baru berdomisili di sini.
"Golf,so you after introduce if about .Okay ! Sir will studies to all.Please,stop speaking !"
Guru itu menerangkan secara detail.
Adiz hanya pura-pura mendengarkan saja.Padahal dia cuek dan tidak peduli.
Niat Adiz mau menonton televisi di tunda dulu.Saat telpon rumah berbunyi.
Kring ! kring ! kring !
"Siapa juga yang nganggu siang begini ?" gerutu Adiz dengan suatu tanda tanya di kepalanya ?"
Setelah terdengar suara dari seberang pertanyaan Adiz barusan terjawab.
"Hi,Good Afternoon .Where do you life ?"
Hati Adiz bergejolak ,tidak tau kalau dia lagi galau .Kenapa Arsan nelpon dia segala ?
Sok sekali cowok itu ,mentang-mentang lagi di Helsinki di kota Finlandia sana.Pake logat ala-ala bule .
"I live at paradise !"
Adiz bicara asal jawab saja.Biar tau rasa itu cowok.
"What is mean ?"
Adiz tertawa senang.Tidak percaya Arsan kalau dia lagi berada di tempat yang di maksud.Memang tidak,jelas saja dia kan masih di dunia.Masih hidup belum mati.Merasa tidak ada yang penting,Adiz memencet tombol off.Telpon itu di putuskan tanpa pamit.Dengan rasa tidak bersalahnya.
Phone android canggih Sahara terletak di atas meja.Saat Adiz baru masuk ke kelas.Dengan sedikit penasaran Adiz melihat lebih dekat.Di layar walpaper terpajang photo dan secara dekat lagi.What bule yang kemaren ?
Adiz berdecak begitu terpukau.Ingin rasanya dia mengambil photo itu dan menyimpan di phone nya juga.Baru saja dia akan meneliti lagi,suara langkah kaki orang dari luar terdengar.
Secara bersamaan, Haikal teman sebangku nya itu muncul.Dengan buru-buru Adiz menuju ke arah bangkunya dengan cepat.
Jiwa remuk dan kusut,Adiz mencoret-coret buku tulis di hadapannya.Sudah dua kali niatnya batal,ingin menyelidiki siapa itu bule ?
Tapi ada saja rintangan,kalau tidak dari Dieng temannya yang duduk di pojok dekat pintu masuk.Dan yang kedua dari Haikal pula.Besok dari siapa lagi ? sampai seterusnya gagal total.
Pikiran Adiz melayang- layang dan tidak menentu.
"Diz,Adiz kamu sakit ya ? dari tadi di perhatiin cuma melamun".
Haikal bertanya penuh perhatian dengan perubahan sikap Adiz teman sebangkunya.Uring-uringan tak menentu.
Padahal sejak tadi pula,Bu guru Lucy menatap dan melirik Adiz dengan tatapan tidak enak sekali.Diakui memang guru itu galak dan penuh disiplin tinggi.Terkadang juga Bu Lucy guru yang mengajar matematika itu,suka tidak adil sama siswa yang di angab nya tidak berminat belajar dengannya.Tanpa ada toleransi dia akan mengusir nya keluar dari jam mengajarnya.
"Itu ada apa lagi ? ribut terus",tegur Bu Lucy melirik tajam sama mereka.Adiz memilih diam dan tidak menjawab.
"Tidak ada apa-apa bu ".
Haikal lah yang menjawabnya.Diakui sekali Haikal tidak takut sama guru itu.Karena dia termasuk cowok pemberani dan kuat mental.Dengan berani menatap mata guru yang sedang marah .
Sahara mati terbunuh ?
Kabar itu menyebar cepat di tempat Adiz bersekolah.Tak menyangka dan mengapa ini menjadi kabar terburuk dalam kamus hidup nya bagi Adiz.Dan parahnya lagi bule yang di fans beratkan oleh Adiz itulah yang telah membunuh Sahara.
Move on !
Adiz sudah melupakan si bule dan dia berjanji dalam hati kecil pada dirinya.Tidak akan fans sama bule lagi.
Walau sebenarnya soal hati tidak pernah salah .Setidaknya harus tau dulu tentang seluk beluk seseorang yang mau di jadikan idola.Agar tidak salah langkah dan dari kasus yang telah terjadi dengan Sahara .Itu semua telah menjadi pelajaran yang paling berharga dalam hidupnya.
Sewaktu itu dia teringat kegagalan yang pernah dialami dua kali ,penyebab dari si Dieng dan Haikal.Jujur saja pada hari itu Adiz marah dan ingin membenci mereka.Tapi kemudian dia sadar,Tuhan seakan menunjukkan jalan .Kalau saja tidak di halangi sama kedua temannya itu.
Adiz tidak bakalan tau untuk takdir selanjut nya.Apakah dia masih berdiri dengan tegak atau malah dia akan bernasib sama dengan Sahara yang malang.Di bunuh dan di buang begitu saja.
Adiz memandangi kedua orang itu.Dan merangkul Dieng yang sedih atas kepergian menimpa teman sekelas mereka.
"Yeng,terimakasih aku sangat beruntung menjadi teman mu! "
Dieng yang sebenarnya tidak tau apa-apa membalas rangkulan itu.Ya Adiz memang tertutup dan tidak pernah bercerita apa yang sedang dia rasakan sekarang.
"Kal ,senang mengenal kamu.Terimakasih sudah mau berteman dengan ku".
Haikal membalas jabat tangan teman sebangkunya dengan sedikit kaget.Walau dia juga tidak tau atas dasar apa Adiz mengucapkan terimakasih.