Seorang gadis tengah menikmati lamunannya disebuah bangku taman dengan semilir angin sore yang menerpa wajahnya.Haruna,ya Haruna lah orang itu.Kini delapan tahun telah berlalu dengan begitu cepat.Haruna yang dulu hanyalah seorang wanita biasa, kini telah menjelma menjadi seorang gadis cantik nan anggun dengan rambut yang ditutup dengan hijab.Gadis berhijab itu,kini sudah berhasil membuat keluarganya bangga karena sudah meraih cita-citanya dan berhasil mengangkat derajat kedua orang tuanya.
Haruna berdiri dari sana dan sekali lagi memandang bangunan elite yang ada dihadapannya.Haruna tersenyum dan segera pergi dari sana untuk pulang.Haruna sangat berterima kasih pada sekolah itu yang telah mengantarkannya pada cita-citanya.Kini Haruna telah menjadi seorang dokter bedah umum dan sudah bekerja di salah satu rumah sakit ternama di kotanya.Sudah setahun ini,ia mengabdikan diri di sana.
"Assalamualaikum."Haruna mencium punggung tangan ayah dan ibunya.Saat ini,Haruna berada di kedai bakso milik orang tuanya.Haruna bersyukur sekarang ayahnya tak perlu berjualan keliling lagi.Kedai bakso ini memang baru empat bulan ini berdiri.Tapi, Alhamdulillah sudah mulai banyak peminatnya."Waalaikumussalam,"jawab keduanya."Kakak kok ke sini? nggak langsung pulang aja,kan cape habis dari rumah sakit,"ibunya mengelus wajah lelah itu.Haruna hanya tersenyum dan segera membantu mereka beres-beres karena kedai akan tutup."Adek mana,Bu?"tanya Haruna yang tak melihat keberadaannya.Belum sempat ibunya menjawab seorang pria muda menghampiri Haruna."Ini aku.Kenapa nyari,kangen?"sang adik kemudian mencium tangan ketiganya.Haruna cuma geleng-geleng kepala melihatnya.Setelah selesai,merekapun segera pergi menuju ke rumah.
"Dokter Haru,ada pasien korban kecelakaan yang butuh penanganan."Seorang suster memberi tahu Haruna dengan tergesa.Haruna pun segera mengikuti langkahnya ke UGD.Saat melihat pasiennya, Haruna membelalakkan matanya, terkejut.Orang ini lagi.Setelah sekian lama tak berjumpa, kenapa harus bertemu dengannya lagi.Haruna pun segera menangani pasien itu.Haruna tidak mau terlambat menanganinya cuma gara-gara terkejut.Seorang dokter harus selalu sigap,tidak boleh lamban.Masa' cuma gara-gara terkejut seseorang harus menahan sakit lebih lama,kan nggak lucu.
Setelah memastikan pasien tidak mengalami cedera parah akibat dari kecelakaan yang terjadi mereka pun memindahkan ke ruang perawatan.Haruna pun kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya tadi.Di ruang perawatan,suster sedang menangani pasien tadi yang kini sudah mulai sadar.Angga Pramana,dialah pasien kecelakaan tadi.Pria yang menjadikan Haruna sebagai bahan taruhan saat di SMA dulu.Kini Angga sudah menjadi seorang direktur utama di perusahaan ayahnya, menggantikan sang ayah.
"Semuanya baik, kalau bapak menuruti semua yang di sarankan dokter dengan baik, insya Allah bapak sudah boleh pulang 3-4 hari lagi ya,pak !"ucap suster yang menangani Angga.Karena sejak Angga sadar, dia menanyakan kapan dia boleh pulang.Suster itupun pergi setelah memeriksa dan meminta Angga untuk beristirahat.
Setelah dua hari dirawat, Angga sudah mulai tidak betah.Angga berjalan ke taman rumah sakit dan tak sengaja melihat wajah yang sangat dia kenali.Angga pun menghampirinya."Haruna !"panggilnya.Yang dipanggil menoleh dan tersenyum."Hai ! sudah sehat?"tanya Haruna.Haruna sedang memakan bekal yang dibuat ibunya di bangku taman rumah sakit.Aneh juga yah,kenapa mereka selalu bertemu di sebuah bangku taman.Angga mengangguk tapi heran juga.Kenapa Haruna biasa saja melihatnya di sana dengan baju pasien seperti itu."Kamu nggak tahu kalau aku dokter yang menangani kamu?"Haruna memberi tahu karena melihat wajah bingung Angga.Angga menggeleng."Kamu pake masker kalau lagi meriksa,jadi aku nggak ngeh,"jawab Angga dengan senyumnya.Haruna pun ikut tersenyum dan geleng-geleng kepala."Emangnya kamu nggak lihat name tag ku?"Angga menggaruk tengkuknya yang tak gatal.Angga menatap Haruna.Cantik, anggun, pinter,Haruna telah berubah."Kenapa?"tanya Haruna melihat Angga yang menatapnya.Angga menggeleng pelan."Kalian pindah ke mana?waktu itu aku ke rumah kamu tapi Tetangga kamu bilang kalian pindah."Sebelum Angga pergi ke Australia untuk melanjutkan pendidikannya, Angga ingin bertemu Haruna dan meminta maaf sekali lagi.Tapi sayang,Haruna dan keluarganya sudah pindah tak tahu ke mana.Haruna menatap ke arah depan,"waktu itu ada sedikit masalah dengan rumah yang kami tempati jadi kami harus segera pindah."
"Masalah apa? terus kalian pindah ke mana?"tanya Angga lagi."Adalah, masalah keluarga.Kamu kepo,deh,"jawab Haruna bercanda.Angga mendengus,"kalau nggak boleh tahu masalahnya, setidaknya kasih tahu alamat kamu?"Angga sangat ingin tahu."Kenapa kamu pengen banget tahu alamat rumah kami?"tanya Haruna bingung.Kok ngebet banget gitu."Gimana mau ngapel kalau nggak tahu alamat rumah kamu?"jawab Angga cengengesan.Haruna menggeleng tak percaya, ternyata bad boy sekolah lucu juga.Haruna tidak menanggapi candaan Angga dan segera pergi."Kamu harus istirahat yang banyak biar cepat sembuh dan bisa segera pulang!"suruh Haruna sebelum pergi.Angga mengerucutkan bibirnya,"pengen banget gue cepat pulang."Angga menepuk jidatnya,"yah, lupa minta nomernya."
Beberapa hari kemudian, Angga sudah di perbolehkan pulang.[Hai,dr.Haru!ini aku,Angga] Haruna bingung dari mana Angga mendapat nomornya.Sudah dibaca tapi tak mendapat balasan.Angga mendengus kesal dan segera men dial nomor yang dia dapatkan dengan memaksa suster yang selalu bersama Haruna.Empat kali panggilan Haruna baru menjawabnya,"halo, assalamualaikum."Baru diangkat Haruna menjauhkan ponselnya dari telinganya."Kenapa lama banget sih, jawabnya?kan aku sudah kasih tahu kamu kalau itu nomor aku !"Angga sudah seperti pacar yang sedang kesal karena panggilannya tidak di jawab."Jawab dulu salamnya kali mas bro,"jawab Haruna."Waalaikumussalam,"ucap Angga."Aku tahu kamu sudah pulang."Haruna heran dari mana lagi dia tahu."Aku sekarang di rumah sakit mau jemput kamu,tapi kata suster kamu nya sudah pulang,"lanjut Angga lagi."Oh,"jawab Haruna."Eh, Kenapa kamu mau jemput, emang aku minta?"tanya Haruna."Nggak apa-apa, pengen merajut kisah kita yang belum sempat kita mulai waktu itu,"Angga sedang menggombal ternyata.Haruna menaikkan alisnya heran,"kamu sehat kan,ngga?"
Setelah perjuangan keras, akhirnya Angga mendapat perhatian Haruna.Dan sekarang di sini lah dia dan Haruna.Di kedai bakso milik keluarga Haruna."Lama banget kita nggak ketemu lagi ya kak?"tanya adiknya Haruna.Angga mengangguk,"Iya,kalian pindah nggak ngasih tahu."Angga memakan baksonya dengan lahap.Angga sangat merindukan bakso buatan bapaknya Haruna ini."Kamu sudah lulus kan?sudah dapat tempat kerja?"tanya Angga pada adiknya Haruna.Angga menggeleng,"kita mau buka cabang kedai bakso di dekat kampus ku kemarin,"jawabnya.Angga melihat Haruna dan Haruna mengangguk membenarkan.Adik Haruna pergi membantu ayahnya."Kalian hebat,saling membantu dan selalu support satu sama lain,"ucap Angga mengagumi keluarga Haruna."Nggak seperti keluargaku,selalu sibuk masing-masing.Nggak hangat seperti kalian,"curhat Angga."Kamu nggak boleh berpikir seperti itu,"timpal Haruna."Kamu lihat sendiri kan, kemarin pas aku sakit?mereka datang saat aku sudah ingin pulang,"Haruna diam mendengarkan curhatan Angga."Kamu selalu melihat dari sisi tidak baiknya.coba deh kamu lihat dari sisi positifnya?"
"Emang apa sisi positifnya?"tanya Angga sinis."Ya... karena mereka sibuk mereka jadi banyak uang,"Angga memutar bola matanya jengah."Nggak boleh gitu!dengan uang itu, mereka bisa membantu banyak orang mewujudkan impiannya seperti aku ini.Banyak anak-anak yang tidak mampu mempunyai tempat bernaung juga karena uang yang mereka cari itu, seharusnya kamu bangga memiliki orang tua yang sangat baik seperti mereka,"jelas Haruna membuka pikiran Angga.Orang tua Angga memang memiliki banyak yayasan sosial selain pemilik sekolah.Mereka juga memberi beasiswa bagi para siswa yang berprestasi.Angga berpikir dan benar juga apa yang katakan Haruna."Kalau mereka cuma punya sedikit waktu bersama kamu, manfaatkan lah waktu itu sebaik mungkin untuk saling menyayangi,"lanjut Haruna dan diangguki Angga.
Setelah perbincangannya dengan Haruna kemarin,Angga memutuskan untuk mendekatkan dirinya dengan orang tuanya.Kalau mereka yang jauh,maka dialah sebagai anak yang akan menghampiri.Tok....tok.... Angga mengetuk pintu kamar orang tuanya.Pintu terbuka dan ayahnya menatap Angga bertanya,"kenapa,ngga?"Angga melihat ke dalam, ibunya masih tertidur."Sudah subuh,pah!kita shalat jamaah,ya!"ajak Angga.Papanya tersenyum haru, anaknya mengajaknya shalat bersama.Papanya mengangguk,"papa bangunin mamamu dulu."Tak berapa lama,papa dan mamanya datang ke ruang kosong yang mereka gunakan untuk shalat dan segera melakukan shalat berjamaah dengan papanya yang menjadi imamnya.Ternyata sesimpel ini caranya, selama ini Angga terlalu sibuk menyalah orang tuanya yang tidak bisa selalu bersamanya.Setelah shalat,sang mama menyiapkan sarapan sementara Angga dan papanya berolahraga bersama.Angga sangat bersyukur dipertemukan kembali dengan Haruna.
Setelah beberapa bulan mendekati Haruna, Angga memutuskan untuk mengajak Haruna pergi ke pantai menikmati weekend bersama."Terimakasih, karena kamu hidupku jauh lebih bahagia.Akhirnya aku juga bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga."Haruna hanya tersenyum menanggapinya.Angga memegang kedua tangan Haruna,papa dan mamaku sudah tahu tentang kamu.Mereka juga sudah datang ke rumahmu kemarin.Dan aku sudah meminta restu dari orang tua kamu,"beritahu Angga.Haruna bingung harus menanggapinya seperti apa."Bapak bilang itu semua kamu yang akan menjalani,jadi kamulah yang berhak menjawabnya,"Angga menarik nafasnya gugup.Angga mengambil sebuah kotak beludru dari sakunya dan berlutut dihadapan Haruna,"Haruna Putri,Will you marry me?"Haruna melihat Angga dengan mata berkaca-kaca,tak menyangka kalau Angga akan melamarnya di sini.
"Apa ini taruhan baru kamu?kamu lagi nge prank aku?"tanya Haruna.Angga mendengus kesal,Haruna merusak momen romantis yang dibuatnya dan Haruna malah tertawa melihat wajah cemberut Angga."Kamu tuh merusak momen tahu, nggak? emangnya hal seperti ini bisa dijadiin candaan?aku tuh serius pake banget malah."Haruna malah tertawa lebih kencang mendengarnya."Iya....iya.... maaf."Angga pun mengulangi lamarannya.Angga kembali berlutut dan membuka kotak yang berisi cincin itu,"Haruna Putri, Will you marry me?"Haruna mengangguk,"yes,I do."