Clara, wanita berusia 25 tahun, seorang wanita tangguh, yang mampu menanggung perasaannya seorang diri. Hidup dengan status jomblo di tengah orang orang yang memiliki pasangan masing masing.
Beberapa kali teman temannya mencoba membujuknya untuk mencari pasangan, namun sebagai alasan dia hanya berkata, "Nanti dulu, masih ingin sendiri."
Bahkan sudah beberapa kali teman temannya memperkenalkan Clara dengan beberapa kenalan mereka, namun selalu saja Clara menolak.
Pernah saat Clara dan beberapa temannya sedang berlibur, hanya dia sendiri yang tidak membawa pasangan.
"Clara, kamu taukan kita liburannya bareng pasangan masing masing, harusnya kamu bawa pasangan juga dong."
Dengan malas Clara menjawab, "Aku cuma butuh liburan, tidak butuh pacaran!"
Teman temannya hanya menghela napas tak berdaya.
Feri, salah satu teman Clara mendekatinya, "Clara, apa sih alasan kamu tidak mau pacaran?"
"Aku tidak butuh pacar!" Jawab Clara singkat.
"Okey, kalo gitu aku boleh ngajak kamu jalan besok?" Tanya Feri yang sebenarnya mengajak Clara.
"Maaf yah, aku sibuk banget." Clara beralasan sibuk, namun sebenarnya dia benar benar tidak ingin jalan berdua dengan Feri.
"Clara pliss ..." Mohon Feri.
"Udah sore, aku pulang duluan yah!" Clara langsung meninggalkan Feri sendiri.
Esok harinya, Feri menjemput Clara dengan mobil merahnya. Clara yang siap berangkat kerja melihat mobil Feri berhenti tepat di depannya.
"Bareng aku ya!"
Clara hendak menolak, namun melihat wajah memohon Feri, dia menganggukkan kepalanya.
"Okey."
Ketika sampai di kantor, Tia, Gio, Vira, Gina dan Bagas menghampiri mereka.
"Ada yang baru jadian nih." Kata Bagas dengan nada menggoda.
"Nggak ada yang jadian kok!" Sanggah Clara ringan.
Feri memasang wajah cemberut. Saat ini dia merasa benar benar tidak di hargai.
Saat Clara masuk ke ruangannya, dia sempat melihat Feri yang berwajah masam di balik pintu kaca. Clara hanya menghela napas.
"Maaf Feri, ada beberapa hal yang tidak bisa kamu paksakan. Begitupun aku!"
Setelah itu, Clara tidak memperhatikan situasi di luar.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Feri!" Panggil Gina.
Feri tidak menjawab.
"Feri!" Panggil Gina lagi. Kali ini dia menarik dasi Feri. Dengan kuat bibirnya berpaut dengan bibir Feri. Mata Gina terpejam.
Namun beberapa detik kemudian Feri mendorong tubuh Gina menjauh.
"Apa apaan kamu Gin!" Bentak Feri.
"Kamu yang apa apaan Fer. Udah cukup ngejar Clara, ada aku di sini yang cinta banget sama kamu!"
"Tapi aku cintanya sama Clara Gin!"
Gina yang mendengar itu merasa sakit di hatinya. Ini pertama kalinya Feri mengakui perasaannya.
Dengan air mata di pipinya, Gina meninggalkan Feri yang mematung.
"Gina!" Panggil Feri. Dia menyesal menyakiti Gina.
Tanpa berpikir panjang, Feri mengejar Gina.
Clara melihat Feri mengejar Gina yang tengah menangis. Bahkan bukan hanya Clara, Tia, Gio, Vira dan Bagas pun melihatnya.
"Ada apa dengan mereka?" Tanya Gio.
Clara hanya mengangkat bahu, pertanda dia juga tidak tau.
"Oke lupain aja mereka. Aku punya rencana buat kita sore ini. Clara, kamu wajib ikut!" Kata Bagas.
Clara hanya menangguk ringan. Dia sudah terbiasa dengan rencana tiba tiba dari teman temannya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sore hari.
Di sebuah cafe NewBee, Tia, Vira, Gio dan Bagas sudah stand by di tempat.
Namun, ada satu anggota lagi yang bertambah. Seorang pria berkemeja putih, dengan dasi hitam menghiasi kerahnya. Pria itu sangat tampan, kumis tipis menghiasi bibir seksinya.
Dia dengan santai bersandar di kursi sambil memainkan ponselnya.
Selang beberapa menit kemudian, Clara datang dengan dress putih cantiknya. Rambut hitam bergelombangnya di biarkan terurai ke belakang.
Bibir ranum wanita itu sedikit mengerucut. Melihat teman temannya dia tersenyum, namun senyum itu membeku tatkala matanya bertemu mata elang sang pria berkemeja putih.
Setelah beberapa saat saling bertatapan, Clara menjadi tenang dan mengambil posisi kursi tepat di depan pria itu.
Orang orang di cafe melihat pasangan muda mudi itu sedikit kagum.
Tia yang tinggi berpasangan dengan Gio yang tinggi dan gagah. Vira tak kalah cantik berpasangan dengan Bagas yang tak kalah gagah.
Tak hanya sampai di situ, satu pasangan lagi dengan couple hitam putih menghampiri meja mereka.
Gina yang berusaha memasang ekspresi biasa saja tidak bisa menyembunyikan rona merah kebahagiaan di wajah cantiknya. Feri dengan tangan memeluk pinggang Gina terlihat sangat serasih .
Clara melirik mereka berdua, mengangkat sebelah alisnya, dan tersenyum diam diam. Dia tidak memperhatikan mata tajam pria yang selalu mengarah padanya.
Vira yang melihat mereka bergandengan, langsung mengeluarkan pendapatnya, "Wow, kalian sangat serasih!"
Tia tak tinggal diam, "Akhirnya cintamu terbalas Gin, kamu tidak perlu menangis diam diam lagi."
"Oh, jadi ini yang di sebut diam diam saling mencinta?" Sambung Bagas.
"Clara, bagaimana menurutmu?" Gio bertanya pada Clara.
"Mereka pasangan yang sudah di takdirkan, sangat cocok!" Kata Clara tulus.
Feri yang mendengarnya merasa denyut di jantungnya seolah menusuk. Dia berusaha menepisnya, kemudian menarik Gina duduk di sampingnya.
Suasana menjadi ceria dengan celoteh Vira dan Tia. Clara sibuk mencari menu yang akan dia santap nantinya. Setelah memilih, Clara menyerahkan daftar menu pada pria di depannya.
"Aku sama denganmu!" Jawabnya singkat.
Clara hanya diam, tidak tahu harus berkata apa. Mata pria itu terus saja menatapnya.
Feri juga memperhatikan pria itu.
Suasana canggung segera di patahkan oleh Bagas. "Oke teman teman, aku lupa memperkenalkan pada kalian seseorang. Ini temanku, namanya Vero, dia adalah pemilik dari perusahaan Xgroup."
"Hal lain dari alasanku mengajaknya bergabung dengan kita, itu karena Clara!"
Clara sontak memandang Bagas.
"Ra, ini udah kesekian kalinya kita kenalin seseorang ke kamu, tapi semuanya selalu kamu tolak. Ini kali terakhir, kalo emang kamu nggak bisa, kamu bisa nolak lagi. Tapi setelah itu, kita bakal lepas tangan. Kita gak bakal gangguin status kamu lagi."
"Iya Ra," Sambung Vira. "Bukannya kita mau ikut campur urusan kamu, tapi ini demi kamu. Kita gak tega liat kamu ngelakuin semuanya sendiri. Kita ingin ada yang nemanin kamu karena kita gak bisa selalu ada buat kamu Ra. Kita semua tau kamu selalu mendam semuanya sendirian."
"Sekali ini aja Ra, kamu jangan nolak yah!" Pinta Tia.
Feri yang mendengar teman temannya memohon, merasa geram. Tiba tiba tangan lembut menggenggam tangan Feri dengan erat. Feri menoleh dan melihat wajah cantik Gina di sampingnya. Kemudian dia menghela napas dan tersenyum pada Gina. Gina membalasnya dengan senyuman lembut.
Clara tidak menjawab, dia hanya diam.
"Oke, diamnya Clara pertanda persetujuan." Bagas mengambil kesimpulan.
Semua mata memandang Clara, tidak ada penolakan. Jadi semua sudah sepakat bahwa Clara menerima permintaan mereka kali ini.
Clara hanya memandang Vero, begitupun Vero. Tak ada suara, hanya mata yang saling bicara.
"Oke, karena kita sudah berkumpul, aku ingin tau rencana kita setelah dari sini kita akan kemana. Rasanya sangat seru kencan dengan cara seperti ini." Kata kata Gio membangkitkan semangat semua orang.
"Bukit Cinta!" Tiba tiba semua mata memandang ke arah suara itu.
Yang menjawab adalah Clara. Semua orang terpana dengan jawabannya. Ini adalah pertama kalinya Clara mengajukan usulan lokasi kencan. Mereka tambah bersemangat, kecuali Feri.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Bukit Cinta.
Pemandangan indah dari atas bukit membuat semua orang sangat bahagia.
Kali ini, pilihan Clara adalah tempat di mana semua orang membawa orang yang mereka cintai ke bukit ini.
Clara memandang ke bawah. Tidak ada yang tau apa yang wanita itu pikirkan.
Vero berdiri diam di belakangnya.
Vira berinisiatif mengajak teman temannya menjauh. "Sepertinya kita perlu memberi mereka waktu berdua."
Mendengar Vira, mereka memutuskan menjauh untuk memberi ruang bagi Clara dan Vero.
Feri dengan enggan mengikuti Gina yang menariknya.
Merasakan kepergian teman temannya Clara tidak bergeming. Vero pun tetap patuh diam memandang punggung gadis itu.
Selang beberapa waktu, Clara berbalik menghadap Vero. Matanya memandang wajah tampan pria itu.
Dia menunggu, menunggu orang di depannya untuk menyapa terlebih dahulu.
Namun sunyi, tak ada suara dari orang di hadapannya.
Clara lelah, dia menghela napas panjang, kemudian berkata, "Jika kali ini kita bertemu, tapi tidak untuk bersatu, lebih baik kita hentikan sampai di sini. Jangan di lanjutkan, aku tidak ingin kembali kecewa."
Setelah mengatakan kegundahan yang dia pendam selama ini, Clara mundur perlahan. Dia hendak berbalik namun tangan kuat menariknya ke dalam pelukan.
Hangat, itu yang Clara rasakan. Pelukan yang selalu dia rindukan, pelukan yang selalu dia impikan. Pria yang sangat dia rindukan.
7 tahun penantian, akhirnya dia bertemu dengannya lagi. Lelah, Clara hampir menyerah. Namun ketakutan akan kecewa membuat Clara tak mampu membuka pintu hatinya lagi.
Mungkin hanya dia, hanya orang ini yang memiliki kunci hatinya. Hanya dia yang mampu membukanya kembali.
Clara menangis dalam pelukan Vero, sakit yang selama ini tertahan karena kerinduan, tumpah begitu saja dalam dekapan pria itu.
Mendengar isak tangis di bawahnya, Vero memeluk erat tubuh itu.
Feri yang melihat Vero mendadak memeluk Clara, ingin segera menghajarnya habis habisan. Namun segera badan kekar Bagas menghalangi jalannya.
"Minggir Gas, laki laki itu kurang ajar. Dia berani memeluk Clara begitu saja!" Akhirnya emosi Feri meledak setelah beberapa jam terpendam. Bagaimanapun juga, dia masih menyimpan rasa untuk Clara.
"Cukup Feri, kamu gak lihat Gina di samping kamu? Dia pacar kamu sekarang, dan kamu gak lihat, Clara dan Vero saling mengenal."
Feri akhirnya tersadar, saat ini Clara tengah memeluk Vero dengan erat. Hatinya terasa ditikam, sangat sakit.
Namun, semakin Feri melihatnya, amarah Feri semakin membara. Dia dengan keras mendorong tubuh Bagas hingga membuatnya terjatuh ke tanah.
Dengan amarah, Feri berjalan ke arah pasangan yang sedang berpelukan.
Feri segera memisahkan mereka berdua, tanpa aba aba, Feri meninju wajah Vero.
Vero yang tak siap mendapatkan serangan, langsung tersungkur ke tanah. Sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Ro..." Clara panik melihat Vero di serang. Dia dengan erat memeluk tubuh Vero. Tubuhnya sangat gemetar, dia sangat ketakutan.
Vero menghiburnya dengan berbisik, "Tidak papa, ini tidak sakit!"
Air mata semakin deras jatuh di pipi Clara. Feri tak tahan melihat Clara yang menangis. Dia mengepalkan tinjunya dengan erat.
Vero bangkit dari tanah sambil memeluk Clara. Dia melirik Feri yang marah. Pandangannya sangat tajam memandang Feri.
Namun, telapak tangan yang lembut menutup mata Vero.
Dengan sayang, Vero menurunkan tangan mungil Clara, dia menggenggamnya dengan lembut. Melihat Clara yang menggelengkan kepalanya, Vero hanya mengangguk dan tersenyum. Dia mengerti bahwa Clara melarangnya untuk membalas.
Clara lega, lalu berbalik menghadap Feri. Dia melangkah ke arah Feri.
Feri menatap Clara, dia ingin membawanya pergi dari pria itu. Namun sebelum tangannya menyentuh Clara, Clara menepisnya.
Plakk..
Suara tamparan terdengar jelas di telinga beberapa orang.
Feri terkejut saat Clara menamparnya. "Clara..." Feri hendak memegang tangan Clara, namun tendangan datang dari depannya.
Feri tersungkur ke tanah saat Vero menendang perutnya. Dengan kesakitan, Feri memegang perutnya. Vero berdiri di hadapannya memeluk pinggang Clara, seolah mengatakan bahwa wanita ini adalah miliknya.
Feri bangkit. Sebelum berdiri tegak, serangan lain datang dari samping.
Bagas meninju wajah Feri. Tak hanya sampai di situ, Bagas meninjunya berkali kali hingga wajah Feri babak belur.
"Sialan kamu Fer, lihat perempuan yang kamu buat air matanya jatuh. Dia perempuan yang selalu ada buat kamu. Dia yang selalu kasih semua perhatiannya ke kamu. Dia yang kasih semua cintanya ke kamu. Tapi ini yang kamu kasih ke dia? Cinta yang palsu? Jika dari awal kamu tidak bisa membalas cintanya, jangan pernah beri dia harapan sedikitpun."
Feri gemetar mendengar amarah Bagas. Pandangannya tertuju pada wanita berbaju putih di kejauhan. Melihat air mata yang begitu deras membasahi pipinya, hati Feri seperti di hantam baja, ini lebih sakit dari saat dia melihat Clara dengan orang lain.
"Tidak, Gina ..." Feri berjalan ke arah Gina. Sebelum mencapai Gina, sosok Tia yang tinggi menghalangi jalannya. Vira menopang tubuh Gina yang sudah lemah.
Tatapan Gina terlihat kosong. Hati Feri terasa di sayat sayat. Baru saat ini dia menyadari apa arti dari jatuh cinta yang sebenarnya. Namun sudah terlambat, dia sudah kehilangan orang yang paling mencintainya sekaligus orang yang selama ini dia butuhkan.
Vira dan Tia membawa Gina pergi dari hadapan Feri. Melihat kepergian Gina, penyesalan tak berujung datang dari hati Feri. Dia sangat menyesali telah menghancurkan hati orang yang paling mencintainya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Ra, bagaimana cara kamu bertahan sejauh ini?"
Saat ini, Vero dan Clara sedang duduk di atas Bukit Cinta. Melepaskan rindu yang selama 7 tahun mengakar di hati mereka.
"Bertahan? Ro, aku tidak tau bagaimana aku bisa bertahan. Aku hanya tau, setiap hari aku merasa lemah, aku ingin menyerah menunggumu. Ini sangat melelahkan!"
"Maaf, aku terlambat!" Vero memeluk tubuh Clara.
Clara bersandar di bahu Vero. "Ro, seandainya aku telah menyerah saat kamu datang, apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku akan menunggumu kembali!"
"Bagaimana jika aku tidak pernah kembali?"
"Maka aku akan sendiri selamanya."
_Tamat_