"Husain Ahmad adalah pria pertama yang ku cintai, tak tau mengapa aku bisa mencintai pria sepertinya. Cinta ini perlahan tumbuh saat kami bertemu dalam suatu organisasi dengan aku juniornya dan dia seniorku", Fauzia Rasyi
"Ini adalah cinta pertamaku, baru hadir saat aku berumur 17 tahun. Sejauh ini aku menjauhi yang namanya cinta ataupun pacaran karena suatu hal", Fauzia Rasyi
*
"haha bahkan aku ingat saat dulu seorang anak kecil bernama Zia datang kerumah ku dan bilang.. Kak ucenn Rasyi mau permen, boleh ya..", tawa Husain Ahmad.
"ish Kak Ucen kok gitu sih, Rasyi malu tauk. Itukan juga karena kita tetanggaan, keluarga kakak juga welcom kok!", kesal
"Iyadeh iya, ga pernah menang kalau lawan Zia!"
Hari-hari mereka lewati dengan tawa, Rasyi awalnya sangat benci kepada Husain karena bagaimanapun dulu saat kecil mereka selalu bersama. Tetapi menginjak dewasa Husain menjauhinya, namun takdir mempertemukan mereka dalam suatu Organisasi.
>>
[Suatu hari dirumah Rasyi]
"Ayah sama ibu ga setuju ya kamu sama Husain", amarah dari ayah Rasyi.
Pada saat itu Rasyi sangat kecewa dan langsung pergi keluar rumah menenangkan diri. Sambil mengendarai sepeda motornya Rasyi berbicara seorang diri, "kenapa Ayah-ibu, baru kali ini Rasyi benar-benar suka orang dan itu adalah kak Husain. Sebelumnya Rasyi dekat dengan orang ayah-ibu selalu bilang, jangan ini jangan itu. Apa selamanya teman ataupun pasangan Rasyi harus kalian kekang?".
Hari itu Rasyi tidak pulang kerumah, melainkan kerumah kakaknya menenangkan diri. Jangan Kira Rasyi tidak bertanggung jawab, dia sudah meminta kakaknya memberitahu orang tuanya.
"kakak Boleh ngomong sama Rasyi?". Tanya Noviana kakak Rasyi sambil mendekat ke Rasyi.
Rasyi hanya diam tidak menjawab dengan tatapan kosong. Selain ini cinta pertamanya, dia pun tidak pernah benar-benar menyukai seseorang.
"Apa kamu tau kenapa ayah-ibu tidak mengizinkan kamu bersama Husain?". Mendengar kata yang keluar dari sang kakak Rasyi langsung mengalihkan pandangannya pada sang kakak meminta jawaban.
"Kau tau Rasyi? Ayah ibu sangat faham dan hafal mengenai tabiat dan sikap tiap anak-anak nya, mulai dari kakak pertama sampai kamu sibungsu", Noviana mencoba memberi pengertian lembut.
"Ayah dan ibu tau, jika kamu tidak pernah main-main dengan ucapanmu. Kamu paling memegang prinsip dan perkataan tanpa mau goyah", mengelus kepala Rasyi.
"Keluarga Husain bukanlah keluarga pada umumnya. Turun temurun memiliki riwayat penyakit tertentu, kau pasti tau dengan jelas maksud dari ayah-ibu melarang.."
"tapi kak...!!!". Bantah Rasyi
"Jangan bilang tapi, jelas kami tau. Kau ingin memiliki hubungan lebih sampai tahap menikah bukan?", sarkas Noviana
"Dari dulu kami membatasi kamu agar tidak kecewa Rasyi, ini semua demi kebaikan kamu. Kamu berbeda dari anak ayah-ibu, kamu yang paling spesial.. Bahkan dulu kakak-kakak kamu selalu ganti pasangan, tapi kamu??? tidak bukan?". Lirih Noviana yang turut merasakan kesedihan sang adik.
Rasyi tidak menerima alasan itu mentah-mentah, tapi mencernanya sampai dia faham betul bahwa dirinya dan Kak Ucen nya tidak bisa bersama. Melawan restu ayah-ibu dan keluarga jelas tidak bisa dilakukan Rasyi meskipun dia adalah anak paling pemberontak di keluarga.
"Mungkin hubungan kita cukup sampai sahabat, teman, tetangga dan kakak beradik kak...", ucapnya mencoba ikhlas.
>>>>>
[saat wisuda dan sambutan-sambutan]
"Akhirnya kamu bisa berdiri disini Zia", Bangga
Husain pada Rasyi.
"Rasyi kak, kok Zia sih!", lagi-lagi Rasyi dibuat kesal Husain.
"Pengumuman semuanya!". Ucap Husain lantang
Rasyi dengan bangga Berdiri disebelah Husain, bagaimanapun dialah anggota terbaik dengan prestasi banyak di organisasinya. Hingga akhirnya bisa bersanding dengan Husain yang juga anggota terbaik dimasanya.
"Hari ini, saya Husain Ahmad.. Ingin menyatakan perasaan saya!".. Ucapan Husain Ahmad di mikrofon membuat ricuh seisi ruangan.
"Wah kak Ucen hayoloo!!!", Sorak Rasyi bersamaan dengan siswa-siswi seluruh sekolah.
"Saya Husain Ahmad, yang biasa dipanggil seseorang dengan Kak Ucen..."
/degh/
Rasyi sangat berdebar sekali, sampai sekarang dia tau bahwa Kak Ucen hanya mengizinkan dia yang memanggil dengan sebutan itu, apakah...??
"Saya mencintainya, orang yang selalu saya panggil dengan Zia dengan nama asli Fauzia Rasyi. Saya Mencintaimu bahkan dari dulu. Maaf menjauhi mu hingga aku dapat menangkap kebencian mu padaku..", lirih Husain di akhir kata.
""Wooo Rasyi jawab dong!!!!""" seru siswa-siswi yang melihat Rasyi hanya diam mematung.
"Aku tau kau tidak mungkin mau jika berpacaran, komitmen dan lainnya. Maka dari itu aku langsung melamarmu Fauzia Rasyi, maukah kau menjadi istriku? bertunangan denganku? menikah denganku?", Husain berlutut dan memberikan sebuah cincin.
Rasyi bertambah syok, bahkan dia bisa melihat sang ayah-ibu dan kakaknya. Saat itu Rasyi menatap lekat sang ayah, ayah pun tiba-tiba mengangguk. Rasyi bingung sampai sang kakak memberi isyarat bahwa semua keputusan ada di Rasyi, mereka tidak akan melarang lagi..
Sebelum menjawab, Rasyi menarik nafas panjang lalu tersenyum kepada Husain.
"Kak Ucen, terimakasih atas cinta yang kau beri.. Terimakasih atas perhatian, rasa suka, pembelajaran dan lainnya.. Aku ingin menjawab satu-persatu pernyataan Kakak..", Rasyi mencoba tenang.
"Untuk rasa suka Rasyi menerima itu.. Untuk ajakan menikah dan yang lain,,,, Maaf kak, Rasyi menolak itu...", tidak bisa menahan isakannya.
/hening/
/ruangan yang ricuh menjadi hening seketika/
"why?", tanya Husain sendu
Lagi-lagi Rasyi Berusaha tersenyum, "karena Rasyi masih ingin fokus sekolah dan karir. Karena Kak Husain sangat baik dan sudah Rasyi anggap kakak sendiri..."
"aku bisa menunggu itu Zia..." potong Husain
"No kak, aku tidak suka menunggu ataupun memberi harapan. Jika nanti kakak menunggu lalu kakak melihat ada anak kecil yang memanggilku MAMA, apa yang akan kakak rasakan? begitupun sebaliknya..", jelas Rasyi..
"aku yakin bukan itu alasannya!", geram Husain menyadari adanya kebohongan Rasyi.
"hiks... Mengertilah kak... ."
"jawablah sampai aku bisa MENGERTI!", tegas Husain agar Rasyi jujur.
"karena... karena Rasyi.. sudah punya pria yang Rasyi suka!!", jawab Rasyi mantap.
/degh/
Kali ini Husain yang terkejut, bahkan seluruh keluarga Rasyi juga terkejut.
Saat hening itu terjadi, Husain pun tersenyum. Membuat semua orang semakin heran.
"I have a something for u", Husain menyerahkan secarik kertas berlapis pelastik ke Rasyi, membuat Rasyi heran..
Rasyi membaca kertas itu lirih, "undangan pernikahan, Husain Ahmad & Sania Mirza", semua turut terkejut saat Rasyi membaca itu, Karena tanpa sengaja terdengar di mikrofon.
"awalnya aku nekat memberitahu ini padamu Zia, andai kau mau maka aku membatalkan pernikahan ku. Tapi mungkin inilah takdir kita, takdir yang tak bisa kugapai adalah KAMU", tanpa sadar Husain pun meneteskan air mata.
"HIKS... KAKKK!!!", Rasyi tak sanggup lagi. Tembok kokoh yang dia bangun runtuh, berlari lah dia memeluk sang kakak yaitu Kak Ucen.
"tak apa, aku tetap kakamu bukan?. Nanti kenalkan aku dengan orang yang kau suka okay?". Ucapnya menenangkan Rasyi.
//semua merasa haru dan turut menangis dengan kejadian itu. Terutama keluarga Husain, Rasyi dan orang terdekat mereka//
.
Hari berlalu sampai di pernikahan Husain, betapa kuatnya Rasyi menyaksikan pernikahan Husain. Bahkan dialah yang menjadi MC dan Bridesmaid.
Semua berjalan lancar, bahkan Husain belum tau perasaan Rasyi yang sesungguhnya.
Tak tega mulut bicara pada sang pujaan, bahwa pria yang dicintai nya adalah Kak Ucen.
Semua berfikir biarlah rasa itu perlahan menghilang semu diantara milyaran rasa.
Cinta yang terbalas namun tak menyatu.
"Bye Kak Ucennnnnn, dirimu tak tergapai untuk Rasyi. Tapi tergapai untuk Zia, aku tetaplah Ziamu, sang adik peminta permen", Isak Fauzia Rasyi pada akhirnya ....