Tahu kan dengan istilah Dejavu??
Hidup di dunia sosial media dengan ponsel canggih full kuota, tak sulit menemukan definisi dejavu.
Situasi di mana kita merasa pernah mengalaminya, tapi lupa kapan menemuinya.
Dan aku pun begitu, sering merasakan namanya Dejavu, tapi... sudah sangat lama menemuinya dan terasa nyata di masa yang mendatangnya. Its amazing bukan...
"Vid, jangan lupa, besok kita ada deadline ya ambil berkas di perusahaan X." ucap Shinta, rekan kerjaku yang baru 3 bulan masuk di divisi kerja perusahaan ini, tepatnya, berada di bawah status seniorku yang mendekati asisten manajer.
"Okeh, mbak." sahutku menyetujuinya.
Tepat 2 jam setelah itu, makan siang... Dan, seperti biasa...
"Rumah makan Kartika yang deket jembatan ya mbak." Ajakku pada Shinta ke tempat makan biasa kami, jika ingin makan menu Padang.
"Iya." jawab Shinta dari depan kemudi motornya.
Sebelum sampai ke rumah makan tersebut yang tinggal 100 meter lagi, kami berpapasan dengan sebuah sepeda motor dimana terlihat dua orang yang berboncengan penuh luka dan ceceran darah di area wajahnya.
Entah setan tak tahu diri mana yang merasuki bibirku, "Haha, makanya kalo naek motor itu ati-ati, kan jatoh. Mata gak dipakek, atau gak baca doa, nabrak anak jin, hihihi." selorohku yang disambut Shinta dengan gelak tawa di depan.
Setelah selesai makan siang, rencana mengambil berkas pun dilanjutkan, sekali jalan, biar tak perlu banyak buang tenaga.
Namun, baru 100 meter menjauh dari rumah makan tadi, melewati jembatan tempat kami berpapasan dengan pengendara motor yang sempat aku sindir itu..
"Awasss mbak!!!!! Ada orang!!!" Teriakku agar Shinta segera berhenti karena ada gadis berpakaian putih hendak menyebrang dengan sepeda motornya.
Namun, bukannya berhenti sempurna, kami malah.
"Arghhhhhh, Allahu akbar.!!!" Ucapku, yang merasakan jika tubuhku berputar beberapa kali, tak terasa sedikitpun, hanya guncangan dan....
Cyiiiiiitttttt, decit suara ban tepat di hadapanku...
Sebuah mobil dump truck berisi muatan batubara berhenti tepat di depan wajahku, butuh 1 langkah lagi untuk kendaraan besar itu melindas tubuhku.
Aku membeku seketika, tak aku dengar teriakan sekitar dan suara Shinta kala aku nyaris tertabrak mobil itu.
Aku hanya diam dengan posisi seperti orang yang tengah duduk tahyat akhir lengkap telunjuk mengacung, belum sepenuhnya bisa menghadapi situasi saat ini.
"Vividddd!!!!!"
Hahh!!!!!!
Nafasku terengah, peluh deras dan berukuran besar menghiasi wajahku.
"Mimpi." gumamku melihat sekitar yang kini terlihat adalah kamarku... karena belum yakin, aku memeriksa tubuhku, kalau saja aku pingsan, tapi, beberapa kali ku aku memastikan, tetap saja aku masih utuh.
"Alhamdulillah, cuma mimpi." Lagi, aku mengucap syukur saat tahu hanya berupa mimpi buruk saja. Kembali tidur. Menarik nafas pelan, dan memejamkan mata.
********
4 tahun kemudian.....
"Vivid!!!!!!!! Awasssss!!!!!! Teriakan keras menyapa gendang telingaku. Tapi, tubuh ini tak mampu bergeser sedikitpun, hingga detik berikutnya... Jantungku tak bisa aku rasakan lagi, ya.,,,, aku menjadi kaku tak bisa merespon situasi di hadapanku.
Aku masih hidupkan? karena sampe sekarang, belum ada tanda say hello dari malaikat maut di sekitarku.
Tunggu!!!!
Otakku mendadak keluar jalur, menghentak keras ingatan alam bawah sadarku....
Ini seperti di mana???
aku pernah merasakan kejadian ini, tapi di mana? dan kapan??
Saat pikiranku berkecamuk di dalam sana, sementara tubuhku masih membeku sempurna,..
Shinta bergegas meraih tubuhku yang masih diam. merengkuhku erat.
"Ya Allah dek, kamu, kamu, gak apa-apa¿??" Tanyanya panik melihatku yang belum merespon ucapannya.
"Gak apa-apa dek??" satu suara lagi menyapaku, yang aku tebak sepertinya pengemudi dump truck yang masih terpampang di depan wajahku.
"Bangun, minum dulu yok." Suara perempuan juga menyela di antara kami, berusia 40 tahunan, memberiku air minum agar tenang.
"Aku gak apa-apa, kok." ucapku, perlahan bangkit dan menetralkan degub jantung yang sudah terasa berdetak lagi dengan normal.
"Syukurlah." Ucap Shinta.
Ya, aku ingat, ini..... ini seperti mimpi.
"Mbak." panggilku pada gadis yang juga mengalami insiden yang sama denganku.
"Iya, napa dek." jawabnya, Shinta.
"ini kayak mimpi aku mbak." lirihku
"Mimpi?? maksudnya? Shinta bingung
"Aku pernah mengalami kejadian ini, tapi di mimpi. Sama persis mbak." selorohku yakin.
Shinta hanya terkekeh.
"Kamu ini, jadi mimpi kamu itu tembus jadi nyata, gitu.???" tanyanya geli.
Aku mengangguk, yakin.
"Iya mbak."
"Berasa Dejavu aja mbak, dan, dan, anehnya itu aku itu udah ada rasa itu pas kita ngatain orang yang kecelakaan tadi." jelasku lagi.
"Termasuk cewek yang nyebrang tadi." lanjutku.
"Dek." panggil Shinta.
aku berdeham sebagai jawaban.
"Kata orang yang tadi melihat kita kecelakaan, katanya kita itu jatuh sendiri, gak ada siapapun yang nyebrang di depan kita." ucap Shinta.
"Mbak pun baru lihat pas dah nyebrang, padahal mbak yakin di depan kita tadi cuma ada mobil, dan gak ada satupun yang nyalib loh." lanjut Shinta memastikan.
"Lah, jadi itu hantu??" aku mendadak merinding. Ucapan sindiranku sepertinya terjawab, hanya saja... Dejavu itu, menjadi nyata, mimpi beberapa tahun silam itu terwujud jelas menjadi kecelakaan yang nyaris membawa nyawaku sukarela digondol malaikat maut.
Dan, anehnya. Aku berulang kali merasakan Dejavu dari mimpi sekian tahun silam, menjadi nyata, ya,, aku kerap mendapatkan hal seperti itu. Bahkan aku kadang merasa tak normal..
Aku gak bakalan jadi dukun kan dengan pengalaman tak sengaja seperti itu,,
hayolah, jangan sampai lah, heheheh.