Seorang gadis yang terus-terusan diteror oleh kartu tarot hingga membuatnya hampir celaka? Dan juga, selalu ada telepon dari si Midnight Caller? Jika itu kalian, apa yang akan kalian lakukan?
***
Semilir angin yang berhembus terasa dingin saat menyentuh kulit. Bunga-bunga Sakura yang bermekaran seakan mengatakan pada dunia bahwa mereka lah yang terindah. UdaraUdara segar dan sejuk juga membuat suasana nyaman sekaligus damai.
“Cuaca yang bagus.” Ucap gadis cantik bersurai hitam saat sedang mengitari kota di Negeri Sakura. NamanyaNamanya adalah Viola Valerixa, gadis cantik asal Indonesia yang memiliki darah ‘Turki’ ditubuhnya. Warna matanya secerah langit saat musim panas, dan lesung pipi di pipi kirinya menambah kesan manis saat tersenyum. Satu kata untuk melukiskan dirinya ‘Perfect’. Tapi tidak dengan jalan hidupnya.
***
“Ohayou gozaimas, Viola-chan.” Sapa gadis cantik bermata sipit sambil menepuk pelan pundak Viola. “Ohayoumo, Mirai-chan.” Balasnya sambil tersenyum. Mirai adalah teman pertamanya saat dia menginjakkan kakinya di Negeri Sakura ini.
Walaupun banyak perbedaan bukan berarti mereka tidak bisa jadi sahabat, buktinya mereka bisa menjalaninya sampai sekarang. Entah kenapa tiba-tiba saja kenangan Viola kembali berputar di otaknya. Padahal, itu sudah lama sekali. Kenangan tentang Viola dan sahabatnya yang ingin melanjutkan study di Jepang. Namun, sayangnya hal itu tidak pernah terwujud.
‘Andai semua itu nggak pernah terjadi, pasti lo akan disini juga.’ Inner Viola bersuara. “Vil... Vil... Viola...”
“Eh...i... iya... Nande?” Tanya Viola yang baru kembali dari masa lalunya. “Kita udah nyampe di depan gerbang dari tadi, loh.. kamu masih mau jadi patung disitu?” Cercas Mirai. “Ah...iya. Ayo.” Viola menghela nafas kasar, barharap hal yang sama tidak akan terulang kembali kepada sahabat-sahabat nya.
***
Kring... Kring... Kring
Viola terbangun dari tidurnya karena bunyi telepon yang berdering. “Siapa sih yang nelpon selarut ini?” Gumam Viola dan langsung mengangkat telepon. “Halo... Siapa dan ada perlu apa ya?”
“Jangan coba untuk mengambil sesuatu yang tidak kamu ketahui.” Suara seseorang dari seberang sana. “Apa?? Halo..halo.. ini siapa? Hal...” Viola kesal setengah mati karena sambungannya langsung terputus begitu saja. “Apasih... Nggak jelas banget!” Viola menghela nafas.
‘Tok...tok... Pring!!’
Tiba-tiba terdengar suara aneh. Viola terkejut bukan main. Angin pun berhembus adengan lembut, entah darimana asalnya padahal semua jendela sudah ditutup. Dan itu cukup membuat bulu kuduk merinding. “Lagi-lagi firasat ini!” Viola melirik sekilas ke arah jam yang ternyata sekarang jam 00:00. Midnight Caller kah?
***
Jadwal kuliah Viola telah berakhir sejak 10 menit yang lalu. Hari pun sudah mulai senja, tapi ia masih belum beranjak dari kursinya. Ia masih menatap diam keluar jendela. Banyak hal yang dipikirkannya, apalagi tentang ‘Midnight Caller’ tadi malam. Sungguh itu membuatnya bingung sekaligus takut.
“Eh...ada Violet sayang yang belum pulang. Pasti lagi nungguin oppa ya?” Seru seorang cowok dengan tampang yang cukup membuat meleleh tapi tidak dengan kelakuannya. “Idih... Eh buaya, sayang apaan sih?! Pala lo Puyang ya?” Jawab Viola dengan nada ilfeel. “Slow dong baby... Aku tau kok kalo kamu pasti cemburu kan kalo aku deket-deket si Loly..”
“Apasih? Gaje lu ah. Oh ya, bisa nggak sih sehari aja lo nggak gangguin gue? Dan satu lagi, perkenalkan nama saya Viola bukan Violet!” Ketus Viola, ia langsung meninggalkan Minhyung yang masih terpukau dengannya. “Yah... Ditinggal lagi. Gini ya rasanya kalo cinta bertepuk dengan tembok, kagak bakal ada respon!” Drama Minhyung pun kembali dimulai.
***
Hari demi hari terus berlalu, walaupun lukanya sudah kering tapi bekasnya masih tetap ada. Meninggalkan sejuta rasa perih yang sudah tertutup tapi mulai terbuka kembali. Cobaan terus datang silih berganti, tidak memberi jeda walaupun diri sudah menyerah dan pergi begitu saja setelah menebar kepahitan di teka-teki kehidupan.
Derap langkah kaki Viola terdengar nyaring di sepanjang koridor. Dia jadi teringat Minhyung, cowok Korea yang berkuliah di tempat yang sama dengannya dan selalu mengganggunya. Bisa dibilang wajahnya itu diatas rata-rata sih, bertubuh tinggi, hidung mancung, pokoknya bisa digolongkan ke kategori the perfect boy.
Tapi, sifat dia itu loh yang kadang-kadang bikin Viola ilfeel. Entah dengannya saja sifatnya jadi menyebalkan begitu atau malah dengan semua orang? Entahlah! ‘Lah...kok gue mikirin dia sih?? Fokus Viola...fokus.’
‘Tuk..!’
Seperti ada seseorang yang melemparinya dengan.... Kartu(?) Viola mengambil kartu itu dan menatapnya heran. “Kartu tarot?! Apa ini?! Gambar cewek ditusuk di dadanya? Ini kartu model terbaru, ya?” Viola bertanya pada dirinya sendiri.
‘Kriet....’
Ia reflek melihat kebelakang, tiba-tiba saja seperti ada yang menyentuh bahunya. “Tenang Viola, tenang. Kamu kamu udah sering kok hadapin yang ginian. Malahan kamu udah pernah di....” Viola belum sempat menghabiskan kalimatnya karena dia merasa seperti ada yang memegang kakinya. Hawa dingin dan bau amis langsung menyeruak dan menusuk Indra penciumannya.
Viola yang sudah punya firasat buruk pun dengan hati-hati menoleh ke arah kakinya. “Si...si... Siapa ka... kamu...?” Viola sudah gemetaran setengah mati. Tangannya sudah basah oleh keringat dingin. “DEATH.” Suara makhluk itu yang cukup memekakkan Indra pendengaran siapapun yang mendengarnya.
Makhluk itu terus merangkak mendekati Viola dan beriringan dengan itu, dia memuntahkan darah dari mulut dan matanya, badannya kurus kering, matanya bolong, dan dia memegang sebelah pisau. “Aaaaaaaa.....” Viola menjerit dengan sangat keras dan mengambil langkah seribu.
***
Waktu terus berjalan, dan bulan pun terus berganti. Begitu juga dengan musim. Sekarang sudah masuk musim gugur, dan udara pun terasa dingin saat malam. Matahari sudah ditelan purnama, seorang gadis cantik berjalan sendirian menyusuri gelapnya malam. Teror menekutkan terus bermunculan.
Hampir setiap harinya ia mendapati mejanya di coret, entah itu dengan spidol merah ataupun darah. Bahkan banyak surat-surat aneh bermunculan dilokernya, bahkan ia pernah mendapatkan kucing mati di lokernya. Ia mulai kelelahan dengan situasi yang dihadapinya.
Viola menemukan sebuah surat dari dalam tasnya. Entah sejak kapan surat itu berada dalam tasnya. ‘Kartu tarot? Lagi?? Gambar boneka yang hancur mukanya sebelah?’ Viola mulai tak karuan. Dia berjalan gontai sambil terus menghembuskan nafas, wajah anggunnya nampak kelelahan.
Dia baru saja dari dari kerja part time nya disebuah minimarket. Saat pulang kuliah ataupun saat ada waktu senggang, Viola akan bekerja part time untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Walaupun biaya kuliahnya adalah beasiswa tapi dia juga harus bekerja,kan? Karena tidak mudah untuk hidup sendiri di negeri orang.
Biasanya dia akan bekerja part time menjadi waitress restoran, penjaga perpustakaan ataupun penjaga kasir minimarket seperti yang dilakukannya tadi. Viola sesekali menoleh kebelakang karena merasa seperti ada yang mengikuti nya.
“Kok kayak ada yang ngikutin,ya?” Viola semakin mempercepat langkahnya dan sosok itupun masih mengikuti nya. Ia berlari kencang seperti menembus badai, akhirnya ia pun sampai di apartemennya dengan terengah-engah.
“Gila..! Itu manusia apa setan sih?! Kok gue dikejar-kejar gitu!” Viola mengedarkan pandangannya disekeliling apartemennya, berharap sosok tadi sudah menghilang. Dan akhirnya matanya tertuju pada sebuah kotak merah berukuran besar dan dihiasi dengan pita yang terletak di depan pintu apartemennya.
“Kotak? Kado ya? Tapi buat siapa?” Viola membolak-balikan kotak tersebut dan menemukan sebuah surat. “For V? Maksudnya Viola? Gue?” Tanya Viola pada dirinya sendiri. Karena merasa yakin jika kado tersebut untuk dirinya, dia pun langsung membukanya tanpa rasa curiga sedikitpun. Dan didalamnya terdapat sebuah surat dan ada kartu tarot?Lagi? Dan sekarang gambar pedang? Sungguh membingungkan.
“Dear Viola...
Are you miss me? Do you wanna DIE with me? Let’s play with me again.
I miss you so bad!”
Itulah isi surat yang diterima Viola. Ekspresi wajahnya pun berubah menjadi pucat pasi, badannya gemetaran dan dengan hati-hati dia mengeluarkan isinya. “Ya Tuhan, apa ini?” Viola reflek membuang benda tersebut dan berlari ke dalam rumahnya. Dia meringkuk di bawah meja makan sambil menangis, tidak ada kata-kata yang diucapkannya, ia hanya terus terisak.
Tiba-tiba lampu apartemennya berkedip-kedip, Viola mulai was-was. Dan suara air yang mengalir dengan deras membuatnya terkejut.
‘Byuurrrr.’ Viola mulai berjalan ke sumber suara yang ternyata berasal dari kamar mandi. “Sho-shower nya hidup,ya? Ini juga lampu apartemennya kenapa,sih? Kedip-kedip mulu! Perasaan aku udah bayar tagihan listriknya,deh!” Setelah mematikan shower, Viola berjalan ke wastafel dan mencuci mukanya. Sungguh panjang hati yang dilaluinya.
‘Ciiitttt.....Brukkkk!!’
Bunyi dentuman pintu yang sangat keras membuat Viola kaget bukan main. Dia menoleh kearah kamar mandi dan seketika bulu kuduknya terasa dingin, ia menelan ludahnya dan keringat dingin pun mulai membanjiri pelipisnya.
‘Tap..tap..tap.’ Seperti suara orang berjalan.
‘Lagi-lagi firasat ini.’ Viola membalikkan wajahnya kedepan cermin wastafel dan betapa terkejutnya ia saat mendapati tulisan di cermin itu. Perasaanya semakin tak karuan saat membaca tulisan yang berwarna merah, apalagi baunya sangat menyengat seperti....darah?
‘YOU WILL DIE.’
Lagi-lagi tulisan itu. Viola menatap kesal cermin itu dan menyiramnya dengan air. Tapi ada yang aneh, bukan tulisannya yang aneh melainkan bayangan di cermin itu. Ia merasa bahwa bayangan itu adalah dirinya tapi bayangan di cermin itu sedang tersenyum dan ia yakin bahwa dirinya sekarang tidak sedang tersenyum, dan tanda apa itu di lehernya? “Aku kan lagi nggak senyum."
“Tapi aku lagi senyum karena bahagia, keinginanku sebentar lagi akan tercapai.” ‘Glek! Apa ini? Halusinasi kah? Atau memang bayangan itu menjawabku?’ Viola mulai merasa frustasi dengan apa yang dialaminya dan akhirnya dia memberikan diri. “Siapa kamu?”
“Aku adalah kamu dan kamu adalah aku.”
“Hah? Jangan bercanda,ya! Apa maumu?”
“Tentu saja kematianmu. Karena kita harus sama.”
“Nggak! Kita nggak sama! Dan kita nggak harus sama!” Teriak Viola. “Mari kita lihat nasibmu.” Ia mengeluarkan kartu dan mulai mengacaknya, kemudian ia mengambil salah satu kartu. Dan kartu itu adalah... ‘Gambar perempuan yang kehilangan kepalanya?’
“Nasibmu tidak beruntung Viola, bahkan sampai di kartu terakhir sekalipun. Maka dari itu, ikutlah denganku.” Sosok itu menjulurkan tangannya. Tapi bersamaan dengan itu sosok tersebut berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan. Sebagian sisi wajahnya hancur, mulutnya terbelah sampai ketelinga saat tersenyum, dan jantungnya bolong sambil terus mengeluarkan darah.
“Pergi kamu! Pergi kamu iblis jahannam!” Sambil terus terisak Viola memecahkan cermin itu dan berlari keluar kamar mandi. Dia meringkuk dibawah kolong meja sambil gemetaran, ia sudah muak dengan teror yang selama ini terus menghantuinya.
Dia sangat ingat bagaimana kejadian demi kejadian terus menimpanya. Mulai dari coretan-coretan di meja kuliahnya, surat-surat aneh dilokernya, kartu yang bergambar aneh, penelepon tengah malam, buku-buku yang berjatuhan sampai membuat keningnya berdarah, bahkan ia pernah terkunci di gudang semalaman.
Dan tadi, ada yang mengiriminya boneka tapi satu matanya hilang dan dilumuri darah disebagian sisinya. Dan setiap hal yang dia alami pasti akan ada surat yang bertuliskan,
“YOU WILL DIE.”
“Aku muak! Aku muak dengan kehidupan ini! Aku..aku...aku takut sendirian.” Viola terus menangis. ‘Rasa sesak dan perasaan ini...aku benci..aku..’
Kring..kring..kring..
Telepon berbunyi, Viola melirik ke atas jam yang menunjukkan pukul 00:00. Viola yakin pasti ini dari si Midnight Caller. Viola mengangkatnya dengan perasaan luar biasa kesal.
“Lo mau ngapain lagi hah? Lo masih belum puas kasih peringatan nggak jelas gitu,hah? Atau lo mau bilang kalo gue bakalan mati hari ini? Atau lo yang selama ini neror gue? Denger ya, siapapun lo dan dimanapun lo, Lo itu bukan Tuhan yang bisa mengubah takdir manusia.” Viola berbicara dengan nada sinis dan langsung menutup teleponnya.
Tanpa disadari, satu kesalahpahaman dapat membawanya diambang kematian. Namun apalah daya jika sudah terlambat, semuanya tidak akan berarti lagi. Satu kalimat yang bisa melukiskan keadaan saat ini, ‘Game over. Thanks for playing and you lose.’
Tuk...tuk...tuk!
Viola menoleh ke sumber suara dan betapa terkejutnya ia saat melihat ada orang lain di apartemennya. Dia memakai jubah berwarna hitam. Apa itu? Manusialah? Hantukah? Malaikat maukah? Tapi dia tidak membawa tongkat, Viola tidak bisa melihat wajahnya.
Sosok itu semakin mendekat dan Viola terus mundur. “Siapa kamu? Apa mau kamu?” Viola terus mundur hingga menabrak jendela.
‘Klik..!’
Lampu diseluruh apartemen langsung padam. ‘Gelap! Sangat gelap!’ ‘Wushshhh.’ Angin berhembus dan lampu kembali hidup. Dan betapa kagetnya ia saat sosok itu berada tepat di depannya. Sosok itu langsung mencekik Viola.
“Ukh..Le-lepasin.” Viola terbatuk dan meronta-ronta kesakitan. ‘Apa ini? Kenapa cekikannya sangat kuat! Ta-tangannya sangat dingin! Ak-aku tidak bisa bernafas.’ Inner Viola terus menjerit kesakitan.
Dan sorot itu langsung menusuk Viola di perutnya. “Akh...!” Viola mengerang kesakitan dan darah mulai menetes ke lantai. Viola mengumpulkan sisa tenaganya untuk bisa lepas dari situasi ini. Dia meraih vas bunga yang tergeletak di samping jendela dan memecahkannya di kepala berjubah tadi.
‘Pringgg!!!’ Suara vas yang pecah membuat waktu seakan berhenti. Sosok itu sedikit terdorong kebelakang dan Viola mencoba kabur dengan tertatih-tatih. Namun nasi sudah jadi bubur, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Sosok berjubah itu langsung menerjang Viola dan menusuk di perutnya. Viola benar-benar merasa seperti kehabisan darah. Lalu sosok itu melempar Viola ke luar jendela. Viola terjatuh dari lantai 7 apartemennya.
‘Byurrr!!’ Viola terjatuh kedalam kolam di samping apartemennya. Menyisakan keheningan yang membakar jiwa, air yang semula bening berubah menjadi lautan darah. Malam itu, dibawah purnama yang semakin redup, gadis itu tenggelam semakin dalam, baik itu tubuh dan jiwanya.
‘Dingin..gelap...sesak.. Inikah akhir ceritaku? Katanya, kalau kisah hidupmu belum bahagia berarti kau belum berada di akhir cerita. Tapi.. kenapa semuanya seperti... Deja vu??’
THE END