"Bbrraakkhh ..."
Suara itu mengagetkan kami yang sedang tertidur dalam perjalanan panjang menuju Desa Cemoro Lodang. Desa tujuan masih harus ditempuh 4 jam lagi, tapi, tampaknya mobil yang kami tumpangi menabrak sesuatu.
"Ada apa, Ga ?" tanyaku pada Raga yang kebetulan saat itu mendapat giliran memegang kemudi.
"Gue ga tahu, kelihatannya menabrak sesuatu," katanya sambil meminggirkan mobil lalu keluar untuk memeriksa.
Pada bagian bemper depan melesak ke dalam basah oleh darah. 5 meter di belakang mobil tampak sebuah benda hitam tergeletak melintang pada aspal jalanan yang seakan terpanggang oleh sang raja siang yang sudah berada di atas kepala.
Raga menghampirinya, "Ah, cuma seekor kucing, sembarangan melintas," katanya.
"Mending lu kubur saja, dech daripada nanti ketimpa sial," kataku.
"Ah, cuma seekor kucing... lu kok masih percaya sama tahayul gitu, sich, Ra ?!" ujar Ida, "Sudah, Ga ... ayo cepetan berangkat sudah mepet, nich. Perjalanan masih jauh,"
"Paling tidak, diminggirkan, dong. Bagaimanapun juga, dia juga makhluk hidup," sahutku.
"Mending lu minggirkan atau kuburkan sendiri, dech. Kami ga ada waktu buat ngurusin yang begituan," ujar Raga.
"Baiklah kalau begitu, gue akan menguburkannya," kataku.
"Sudah ga ada waktu lg ! Waktunya mepet banget bisa-bisa kita terlambat menuju pesta pernikahan Dhita,"
"Lebih baik terlambat daripada kena sial," sanggahku.
"Terserah, lu... kau kuburkan saja bangkai kucing itu, kami akan melanjutkan perjalanan," tegas Raga.
"Terserah, kalian sudah... gue sudah kasih peringatan, Lo... kalau ada apa-apa... jangan kaget,"
"Pikiran, lu jelek banget. Sudah ayo masuk, kita lanjutin perjalanan," 2 lawan 1, aku menyerah. Akhirnya, kuputuskan untuk menurut. Dengan perasaan iba, kupandangi bangkai kucing berwarna hitam itu, "Maafkan aku, pus. Baik-baiklah kau disana," doaku pada si kucing. Setelah itu aku masuk ke dalam mobil dimana Yuna yang duduk di sampingku seakan tidak peduli atas apa yang baru saja terjadi.
"Kuharap, jangan ada kejadian aneh-aneh setelah menabrak kucing hitam itu," bisik Yuna padaku.
"Jadi, kau juga merasa tidak terima melihat teman-teman bersikap acuh tak acuh pada kucing itu ?" tanyaku.
"Sedari dulu yang namanya menabrak harus bertanggung jawab, bukan ? bukannya melarikan diri. Untung cuma seekor kucing, kalau misal itu penunggu jalanan ini atau kalau kucing jadi-jadian. Kita semua bisa celaka," ujar Yuna.
Apa yang kukhawatirkan terjadi juga, mobil yang kami kendarai, sepertinya sudah berjalan jauh meninggalkan jalanan itu, akan tetapi, seakan-akan berputar-putar di tempat yang sama.
"Kenapa, ya kok kita seperti berputar-putar di tempat yang sama," kata Raga.
"Ya, bentar lagi kita tiba di tempat dimana bangkai kucing itu berada, tuh, kan ?!" ujar Ida.
"Gue sudah bilang, kan ?" sahutku.
"Iya, sudah nyaris 5 kali kita berputar-putar di tempat ini, Lo... bukannya cepat sampai tapi malah terjebak di jalanan ini," sambung Yuna.
"Ada-ada saja, di jaman modern seperti ini masih percaya tahayul," sahut Ida.
"Lu, lihat sendiri, kan... sudah kita kuburkan dulu bangkai kucing itu.... kita pasti bisa keluar dari tempat ini," kataku, "Karena kau yang menabraknya, kau harus melakukan upacara penguburan seadanya,"
Raga dengan kesal keluar dari mobil, dan mengambil beberapa alat gali yang sudah disiapkan di dalam jok mobil. Iapun mulai menggali dan kami mengiringi dengan doa saat jasad kucing itu dimasukkan ke dalam liang lahat sedalam 3 meter.
Dan, seperti yang kuperkirakan, setelah menguburkan bangkai kucing itu, suasana jalanan yang seakan gelap gulita mendadak terang benderang seperti fajar menyingsing, kami berhasil tiba di tempat tujuan dengan selamat.
Namun, tepat satu Minggu kemudian kami beroleh kabar bahwa Raga dan Ida tewas dalam sebuah kecelakaan misterius di tol J. Km 38. Aku teringat saat, Raga menguburkan bangkai kucing itu ia lakukan dengan hati yang tidak ikhlas malah menyumpah-nyumpah. Rupanya, ketidak ikhlasan mereka mengundang petaka. Sebelum mereka tewas, mereka sempat mengalami hal-hal yang ganjil. Seekor kucing hitam datang dan menghantui mereka, ia menerkam dan menggerogoti tubuh Raga dan Ida.
__________ T a m a t __________
10 Des 2022
( Ditulis oleh L. Eric K. )