Bagaimana rasanya, jika kau mencintai seseorang, di saat akan berpisah?
Mungkin itu yang disebut cinta yang terlambat.
apalagi cinta itu terus bertahan sampai bertahun tahun, dan kau tidak bisa melupakan nya.
sedangkan dia, mungkin sudah mencintai orang lain.
Ya aku mengalami hal itu, namaku Eline. Aku sedang mencintai seseorang bernama Havi. Pernah sekali aku mengirim pesan padanya, dan mengakui bahwa aku adalah orang gila. Mungkin dia menganggap itu adalah lelucon semata. Tapi tidak, aku serius! batinku tersiksa karena terus mencintai nya ,sekarang aku selalu tertawa, saat sedih, marah, bingung, pusing, sakit, malu, dan senang.
Terkadang aku selalu diam diam menyimpan foto nya, kuharap bisa melihatnya secara langsung.
Kuharap, tuk bisa menyentuh nya seperti saat kecil dahulu.
Kuharap, bisa bermain dengannya seperti dahulu.
Aku duduk sendirian di taman saat sore hari itu sambil menulis komik ditaman. Biasanya aku duduk disini dari jam 3 sampai jam 5 mencari inspirasi. Komik ber genre horror/gore, terkadang juga tema pembunuhan, saat aku marah aku selalu menggambarkan aku membunuh sesorang. Biasanya sih ditaman aku duduk sambil makan es krim.
“Saatnya makan es krim, hahah.” kataku ngomong sendiri
ugh, Aku menabrak seseorang, “Hua, maaf aku jalan gak liat liat, hehe.” kataku.
“Kau... kak Eline bukan.” tanya orang itu.
Saat ku lihat… dia Azi! adiknya Havi, “Azi.” kataku, sempat aku tak bisa berpikir apa apa. Aku sangat malu, kali ini aku sama sekali tak bisa tertawa, merasa ada tekanan saat melihat Azi yang hampir mirip dengan kakaknya.
“Kakak orang gila yang di ceritakan kak Havi kan?” tanya Azi.
‘Sial, Havi menceritakan nya, walau saat itu aku serius, itu memalukan!’ pikirku.
Aku berusaha tetap tersenyum, “Ya, mungkin aku yang itu, hahah, aku pergi dulu, dah.” kataku, sambil melambaikan tangan.
Setelah itu, aku membeli es krim. Tapi setelah membeli es krim, aku tak bisa berpikir apa apa. Pikiranku kosong, aku masih menyesal soal pengakuanku. ternyata Havi tak bisa menjaga rahasiaku soal itu. Kuterus merenungi perbuatanku. Air mataku mengalir tanpa sebab.
‘Dia pikir, pengakuanku adalah sebuah bahan candaan? Aku serius, dan kau sekarang membuatku makin tertekan?’ pikirku, akhirnya aku bisa berpikir.
Ah, aku baru sadar, es krimku meleleh, aku segera menghabiskan nya.
Jam 5, aku berjalan pulang kerumah. Aku masih berjalan tanpa pikiran, tak sengaja aku menabrak pohon di taman. Tapi anehnya aku sebelumnya tidak melihat pohon ini ditaman. Aku berhenti berjalan sambil memejamkan mata karena pusing. Saat membuka mata, aku melihat banyak makhluk aneh di sekelilingku.
‘Ada apa ini, kenapa aku dapat melihat hal gaib?’ pikirku.
Aku berlari ke tempat yang ramai dan banyak orang, tapi aku malah berlari tanpa arah. aku tiba di sebuah jalan yang ramai, tapi sepertinya jalan ini sepi dari manusia. Dari jauh terlihat, ada seseorang yang sedang bersandar di tiang lampu. Saat orang itu berjalan, ada mobil yang menabraknya dan pergi meninggalkan orang tersebut. Aku berlari menolong orang itu, dia Havi!
“HAVI!” panggilku, dia tak menjawabku. Darahnya menetes deras. Aku segera mengambil HP ku, tunggu tak ada sinyal!
‘Aku harus apa, aku tahu rumah sakit yang dekat dari sini.’ pikirku.
Aku menggendongnya dipunggungku, badannya yang sedikit berat, tak menjadi masalah, yang penting dia selamat. Ada jin yang menunjukan padaku rumah sakit terdekat, aku langsung berjalan. Di perjalanan, aku merasa badan Havi sangat panas. Selain itu, tiba tiba ada tetesan darah yang mengalir ke baju, rambut, dan punggungku. Sesekali aku terjatuh, karena aku tak sanggup berjalan dengan menggendong nya lagi. Akhirnya aku sampai di rumah sakit, aku membawanya ke ICU langsung.
Selesai operasi, Havi belum sadarkan diri. Aku masih menunggu diruangannya, aku bingung akan menelpon keluarganya, aku tak tau nomornya. Rambutku masih lengket karena darahnya, bajuku berwarna merah darahnya. Aku duduk di samping kasur Havi, aku menunggu ia terbangun. Aku memainkan tangannya yang lemah itu. Aku ingat, dulu aku pernah memukul tangannya dengan keras. Aku sadar, biru bekas pukulanku di tangannya belum hilang. Aku mengelus tangannya. Tiba tiba Havi mencengkeram tanganku.
“Hng, geli tau.” kata Havi sedikit sadar.
Havi menarik tangannya, dia sudah benar benar sadar, “eh siapa kau?” tanyanya.
Aku menegakkan tubuhku, “a… aku.” nadaku sedikit ketakutan.
Havi terlihat senang, “Eline, sudah lama aku ingin bertemu denganmu.”
“Benarkah?” tanyaku tak percaya.
“Ya, aku ingin tahu apa kau benar benar gila.”
Aku merasa jengkel dengan kata katanya.
“Ng, kenapa kau berbau seperti darah? Bajumu itu kenapa?” tanya Havi.
“Aku yang mengangkatmu kesini, sebelumnya kau di tabrak mobil.” jawabku, sambil menahan air mata.
“Eline, kau memang gila ya? kau tidak menelpon keluargaku?” tanya Havi dengan nada tinggi.
Aku mengambil telepon genggamku, “kau ingin menelepon siapa?”
“Calon istriku…” jawab Havi polos.
‘Calon istri… dia benar benar akan menikah?’ pikirku.
Aku benar benar menangis sekarang dan menatapnya, ku lempar telepon genggamku ke perutnya dengan pelan.
“Baiklah, silahkan kau telepon sendiri, aku tak sanggup untuk itu, aku tak kan membantumu lagi, dan aku tak kan mengantarmu pulang…. Aku benci kau Havi!” marahku dengan tidak jelas.
Aku keluar dari kamarnya dan keluar dari rumah sakit.
Di koridor depan rumah sakit, aku sempat berpikir lagi.
‘Tak mungkin aku meninggalkan nya sendirian.’
Aku duduk bersandar di tembok, dan menangis. Di sebelahku ada sosok perempuan dengan mulut yang sobek. Ia seperti ingin bertanya kepadaku.
“Kau melihatnya kan tadi?” tanyaku.
Perempuan itu mengangguk, tapi masih melihatku dengan heran.
“Apakah yang kulakukan itu benar?”
Perempuan itu menggeleng kepalanya, lalu perempuan itu memberi isyarat dengan menyalami kedua tangannya.
“Aku harus meminta maaf kepadanya?”
Perempuan itu mengangguk dan tersenyum.
“Terima kasih, aku akan minta maaf padanya.”
Aku bergegas pergi ke kamar Havi lagi, saat aku membuka pintu kamarnya.
“Ngapain balik lagi?” tanya Havi.
Aku menahan pintu, “Oh nggak boleh ya? Yaudah aku akan benar benar pulang.” kataku.
“Tunggu Eline.” panggil Havi.
‘Sepertinya havi ingin ditemani.’ pikirku.
Havi mengangkat telepon genggamku, “gak mau HP nya?”
‘Sial, kukira apa.’ pikirku, aku masuk dan meraih telepon genggamku.
Namun Havi menarik tanganku dengan kasar, dan ia membisikkan sesuatu padaku.
“Tolong jangan pergi, Eline.”
Mukaku merah, aku tak tahu kenapa aku tak bisa mengendalikan diriku.
“Ke… kenapa Havi?” tanyaku
“Seriuskah kau keluar dengan baju berdarah dan rambut lengket gitu? Apa kau benar benar gila?” tanya Havi.
“Apa aku peduli, karena penampilanku ini? Kau peduli karena penampilanku seperti ini dari dirimu sendiri?” tanyaku.
Havi terdiam, aku kembali duduk di sampingnya.
“Sudahlah pulang saja sana!” perintah Havi, ia tak mau melihatku.
Aku tak bisa menahan air mataku lagi, aku menangis disampingnya.
Havi terlihat panik, “Ah… maaf Eline… aku terlalu kasar… maaf.”
Aku segera mengelap air mataku yang terus mengalir.
Havi tersenyum, “dasar cengeng, sama seperti saat kau masih SD dulu.”
“Aku tidak cengeng!” kataku.
“Aku menyuruhmu pulang agar kau mengganti pakaianmu.” kata Havi.
‘Dia…perhatian padaku?’ pikirku.
“Cepatlah pulang!”
“Siapa yang menjagamu?” tanyaku.
“Setan!”
Aku mulai sangat sebal dengannya,
“Oke, aku tinggal, asal kau tahu, saat kau ditabrak kemarin, aku dapat melihat jin yang ada disekitarmu. Diantara mereka ada yang memburumu, alasan aku kembali agar kau tidak diburu. Jadi… baiklah aku tak peduli!.” jelasku penuh kebohongan.
“Aku tahu, itu bohong, tapi jika kau tak peduli pulanglah.” kata Havi dengan nada lemah.
Aku tak dapat bicara apapun lagi, terasa ada yang mengganjal di tenggorokanku saat akan bicara. Aku hanya menggerakan bibirku.
‘Kau masih sakit’ gerak bibirku
“Apa?” tanya Havi yang tidak mendengarku.
Aku langsung mengangkat Havi paksa ke kursi roda.
“Arrgghh, Eline , sakit tau.”
Aku tidak mendengarkan nya, aku membawanya keluar dengan membawa cairan infusnya juga.
Sesampainya diluar, Havi mengerem kursi rodanya.
“Ada apa Eline? Kau menyiksaku?” tanya Havi.
Aku hanya menunduk, sambil berbisik
“Lihat lah kebelakang.”
Ya, rumah sakit itu menjadi kuburan.
“Apa kau masih tidak mengerti?” lanjutku.
“Baiklah, aku mengerti, sekarang kau ingin membawaku kemana?”
“Seharusnya aku yang bertanya itu, kau bisa berjalan?”
Havi mencoba untuk berdiri, akhirnya
“Bisa!” seru Havi.
Tetapi saat akan melangkahkan kaki, ia hampir terjatuh. Untung aku menahan tangannya.
“Hati hati Havi, kau masih sakit? Bagian mana?” tanyaku.
“Sudahlah itu tak penting, bantu aku berjalan!” pintanya.
Akhirnya Havi memintaku untuk mengantarnya ke stasiun. Aku merasa aneh, yang kulihat di seisi stasiun itu hanyalah sesuatu yang tidak bisa dilihat. Loketnya pun sangat gelap dan hanya ada toples berisi tiket. Karena tertulis gratis, kami hanya langsung mengambil tiket dan masuk ke kereta.
Di kereta.
“Hh, memangnya rumahmu dimana?” tanyaku.
“Dua stasiun dari sini.”
Aku terdiam saat aku memperhatikan sekeliling, pintu kereta tak tertutup! Suasana nya sangat hening, gelap, dan menyeramkan.
“Havi, maaf dulu aku salah, bintang terbesar itu bukan Betelgeuse, tapi Canis Majoris.” ucapku.
“Itu karena dulu kau sangat meremehkanku.”
Aku menatapnya yang sedang menundukkan kepalanya.
“Dulu aku mempunyai perasaan padamu.”
“Ya, dari sanalah penyesalanku di mulai.” Aku langsung pindah dan duduk di pintu kereta, melihat ke luar yang sedang hujan.
Havi berpindah ke tempat yang dekat denganku.
“Apa yang membuatmu mengaku gila?”
“Karena tekanan yang kau lontarkan.”
Havi mengingat ingat, “Oh itu, saat itu aku sedang sangat gugup bicara denganmu, jadi kujawab singkat saja.”
Havi pindah ke belakangku.
“Sampai sekarangpun masih.”
Aku berniat untuk bangun dan menatapnya, tapi aku terpeleset dan terjatuh dari kereta.
“Eline!” Jerit Havi.
Aku masih mendengarnya, tapi aku tak tahu.
Havi berusaha menolongku, tapi...
Aku seperti masuk ke lubang, mungkin aku mati?
Aku senang untuk melihatmu Havi
Selamat tinggal Havi…
“Sial kenapa dia pergi, hanya aku dan dia manusia yang berada di dimensi ini.”