Hiduplah induk dan anak kucing yang selalu berada didapur, si anak kucing sangat riang dan gembira. hingga suatu hari si anak kucing sempat berfikir, ia merasa keluarganya kurang lengkap,
lalu ia bertanya kepada ibunya, "ibu seperti apakah ayah?" tanya si anak kucing.
"ayahmu adalah abu dapur yang sering kita tiduri nak" ujar si induk kucing.
si anak kucing merasa kurang percaya, ia duduk di dekat jendela dan melihat matahari. ia melihat matahari begitu bercahaya dan terlihat gagah.si anak kucing pun pergi menemui matahari.
saat tiba dipuncak ia melihat matahari yang begitu besar dan tampak perkasa.
lalu berkata "wahai matahari aku bertanya!",
mata matahari tersorot ke arah si anak kucing kecil itu. "apa yang ingin kau tanyakan wahai kucing kecil?" ujar si matahari,
"wahai matahari, kau begitu kuat dan gagah, apakah kau adalah sosok ayahku?" tanya kucing penuh harap.
Matahari pun tertawa dengan nyaring "HA HA HA HA". tawanya yang nyaring membuat bumi bergetar hingga si kucing kecil menggigil ketakutan.
"aku bukan ayahmu wahai kucing kecil, aku bukanlah yang paling kuat dan paling gagah disini nyatanya awanlah yang paling kuat disini, cahayaku tak bisa menembus tubuhnya.
tanyalah pada awan mungkin ialah sosok ayahmu", ujar si Matahari.
si anak kucing pun berangkat menemui awan.
"wahai Awan!" teriak si anak kucing.
awan pun menoleh dan berkata "ada apa kucing kecil?".
"matahari berkata kaulah yang paling kuat hingga cahayanya tak dapat menembus tubuhmu, jadi apakah kau adalah sosok ayahku yang gagah dan kuat?" tanya si kucing kecil.
Awan pun refleks tertawa, "hahaha". si anak kucing pun kebingungan. "aku bukanlah yang paling kuat kucing kecil, anginlah yang paling kuat. karena angin aku ditiup dan dikendalikan olehnya kemana mana. jadi tanyalah pada angin, mungkin dialah sosok ayahmu yang paling kuat wahai kucing kecil", ujar si awan.
lalu kucing pun menemui angin, kucing juga bertanya dengan pertanyaan yang sama "wahai angin awan berkata kaulah yang paling terkuat di sini, mungkinkah kau adalah sosok ayahku?".
angin pun menjawab, "aku memang bisa menerbangkan awan. namun, aku tidak bisa menerbangkan gunung, sepertinya gunung adalah yang paling terkuat dan sangat cocok untuk menjadi ayahmu".
kucing pun merasa sedih, lalu menemui gunung.
"mengapa kau begitu murung wahai kucing kecil" tanya si gunung. "aku sedih, aku tak bisa menemukan sosok ayahku, dan angin bilang kau adalah yang paling terkuat di sini. apakah kau adalah ayahku?"
tanya si anak kucing dengan muka melas.
"oh.. rupanya begitu, tapi sepertinya aku bukanlah yang terkuat di sini, aku memang tidak bisa diterbangkan oleh angin. tetapi, aku tidak bisa mengalahkan tikus tanah yang ada di dalam tubuhku ini. maaf, mungkin si raja tikus adalah sosok ayahmu yang paling terkuat". ujar si matahari tampak merasa kasihan.
kucing pikir tikus adalah musuh bebuyutannya, tetapi ia rasa mungkin suatu keajaiban akan terjadi. lalu ia menemui si raja tikus dengan menelusuri lubang yang digali oleh anak buah jadi tikus.
kucing pun sampai di tempat lokasi raja tikus. dengan waspada tikus pun bertanya kepada si anak kucing, "wahai anak kucing apa yang kau lakukan di sini?". "aku ingin bertanya kepadamu harus tikus" jawab si anak kucing.
"apakah kau adalah sosok ayahku?" tanya si kucing kecil. raja tikus pun heran, "mengapa kau berpikir seperti itu wahai kucing kecil?" tanya si raja tikus.
"karena dari sepanjang perjalanan aku telah menemui matahari, awan,dan angin. aku bertanya pertanyaan yang sama kepada mereka tetapi mereka menjawab mereka bukanlah ayahku, dan tadi aku menemui gunung, gunung bilang kaulah yang paling terkuat di sini wahai raja tikus." ujar si anak kucing penuh harap.
"maaf aku sepertinya mengecewakanmu wahai anak kucing kecil" jawab si raja tikus. "kau tahu kan, kucing dan tikus adalah musuh bebuyutan. itu sangat tidak mungkin aku menjadi ayahmu."
kucing pun tadi berpikir seperti itu. "pulanglah nak, ibumu pasti sedang mencarimu" ujar si raja tikus tampak kasihan.
anak kucing pun pulang dengan wajah sedih dan kembali ke dapur. ia melihat abu dapur yang ditiduri oleh ibunya, ia pun mulai berpikir untuk menerima keadaan dan tetap gembira seperti biasanya. TAMAT