“Setahun lalu masih bisa ku saksikan bulan sabit terbit di bibir surgaku. Dan tahun ini. Tepat setahun aku tanpa senyum surga itu. Aku rindu.” -ynurnun-
“Kara!”
Aku sedikit tersentak oleh suara panggilan yang terdengar berat namun tak meninggalkan kelembutannya. Suara yang sudah seminggu terakhir ini tak terdengar inderaku. Suara yang selalu ku rindui dalam gelapnya malam yang menyelimuti.
Sudut bibirku terangkat membentuk bulan sabit.
“Ayah!” panggilku seraya mengalihkan pandangan dari bulan purnama yang bertengger dilangit malam gelap yang hitam pekat. Pada seorang lelaki paruh baya yang masih terlihat bugar dengan tubuh tegap walaupun rambut sudah mulai berubah warna (memutih).
Dengan seragam putih kebanggaan yang membungkus tubuhnya. Ia mendekatiku yang belum juga beranjak dari dekat jendela kamar yang terbuka lebar. Membiarkan angin malam masuk dan menembus tulang-tulangku.
Tubuh kecilku ditarik ke dalam pelukannya. Mengusir dingin malam yang sejak tadi membersamaiku. Dan bibirnya yang selalu tersenyum kurasakan mendarat dan menyentuh puncak kepalaku.
Tak lama ia lepaskan pelukan hangat itu.
“Ayah rindu,” ungkapnya penuh sayang yang mampu menyentuh ruang terdalam hatiku. Kalimat yang kerap kali ia ucapkan sepulang pengabdiannya sebagai seorang tenaga medis. Tetapi, sesering apapun ia mengucapkan kalimat itu. Sedikitpun tak pernah singgah rasa bosan untuk aku mendengarnya.
Bibir Ayah berucap rindu. Dan tangannya bergerak memperbaiki letak syal hijau tosca pemberian Ibu dua tahun silam. Syal yang selalu memberi kehangatan saat aku berjauhan dari dekapan ayah dan saudara lelaki satu-satunya. Mas Bara aku memanggilnya.
“Kara juga rindu,” balasku dan kembali menghambur ke dalam pelukannya. Pelukan ternyaman yang kumiliki sejak hari itu.
Hari dimana Ibu pergi tanpa mengucap selamat tinggal. Hari dimana bumi berhenti seketika dan lupa bagaimana caranya berotasi kembali. Kemudian, meruntuh dan dan menimpaku. Berat dan tak mampu untukku tanggung sendiri.
Ingin sekali berbagi duka. Pada benteng-benteng kokoh yang ku punya. Ayah dan Mas Bara.
Namun, aku berpikir itu adalah satu keputusan yang salah. Sebab, ku lihat mereka pun merasakan hal yang sama sepertiku. Luka kehilangan yang mendalam.
Dari sorot kedua pasang mata yang tengah menatapku nampak jelas memancarkan guratan duka kehilangan. Mata yang juga dengan sukarela menyumbangkan butiran-butiran kristal secara diam-diam.
Ah... mereka memang pintar sekali berpura-pura dihadapan Kara kecil waktu. Berpura-pura tegar seperti karang yang terhempas ombak lautan.
Dan duka itu masih mendekam dalam diri masing-masing hingga detik ini.
“Mas Bara dimana, Ayah ?”
“Sudah dikamar. Mungkin sedang membersihkan diri.”
“Ayah juga perlu bersih-bersih. Kara akan siapkan air panas untuk Ayah.”
“Tidak perlu, Nak. Kamu istirahatlah. Tidak baik untukmu tidur terlalu larut.”
“Tapi...” mulutku tak lagi berucap. Aku masih merindukannya serta dekapan hangat yang selama seminggu terakhir ini tak kurasakan. Karena, Tuhan menyertakan jarak dan waktu untuk memisahkanku dengan lelaki kuat di hadapanku ini.
Seberkas semburat kelelahan memancar terang dari wajahnya. Membuat mulutku mengalah dan mengurungkan niatnya.
“Baiklah. Setelah itu Ayah juga harus istirahat, ya.”
“Iya, Gadis manisku.”
Oh... Ayah. Selalu saja begitu. Memujiku dengan berlebihan.
“Besok pagi kita bertemu lagi, Nak. Selamat malam, Sayang.”
Ayah selalu menyempatkan diri untuk sekedar mengucap selamat malam di setiap malamku. Kemudian, ia akan mengecup keningku. Seperti malam ini, misalnya.
“Ayah ke kamar dulu.”
Kepalaku mengangguk pelan.
Pintu kamar kembali tertutup rapat. Anganku tak mengajakku menuju tempat tidur empuk berwarna merah jambu untuk mengistirahatkan tubuhku sesuai titah Ayah. Tapi, anganku-anganku kembali membawa kakiku melangkah menuju jendela yang belum ku tutup sama sekali. Menikmati semilir angin malam yang semakin dingin menembus persendianku.
Netraku dengan sempurna menangkap bulan purnama tengah berdampingan dengan satu bintang yang kulihat paling terang memancarkan sinar diantara hamparan bintang-bintang lainnya dilangit malam yang pekat.
Bintang itu berhasil memutar otakku mengingatkan kembali celoteh Ayah ketika menenangkanku saat rindu kehadiran Ibu.
“Jika Kara ingin melihat Ibu. Dongakkan kepalamu, Nak. Disana. Dilangit itu. Ada satu bintang dengan cahaya paling terang diantara lainnya yang akan Kara temukan. Itulah Ibu.”
Bibirku bergerak membentuk lengkungan senyum miris.
“Aku iri pada Bulan. Bagaimana bisa ia terus saja berdampingan dengan Ibu sedangkan aku tidak ? Tuhan tidak adil.”
“Tidak. Kamu salah, Dik.”
Suara Mas Bara yang tiba-tiba mengejutkanku. Entah sejak kapan lelaki itu berada didalam kamarku.
“Tuhan itu sangat adil. Karena, Dia adalah yang Maha Adil. Hanya saja kita sebagai manusia yang kadang tak mampu menerima dengan baik keadilan dan ketetapan garis tangan-Nya.”
Telingaku mendengar. Namun, mataku enggan beralih dari pemandangan yang disuguhkan langit malam.
“Mas ?” suaraku memanggil setengah berbisik. Tapi, ku yakini Mas Bara masih bisa mendengarnya.
“Apakah Ibu juga merindukan kita ?” lanjutku.
Aku menoleh ke samping. Tatapanku bertabrakan dengan tatapan elang milik Mas Bara. Senyumnya terbit. Kepalanya mengangguk.
“Tentu. Bukankah tiada orang tua yang tak merindukan anaknya ? Termasuk Ibu.”
Rambut panjangku yang tergerai tak terikat dielusnya lembut. Menyalurkan rasa sayang yang dimilik pada adik kecilnya.
“Apakah Ibu sudah bahagia disana ?” tanyaku dengan kembali menatap langit.
“Ibu sudah bersanding dengan kebahagiaan sesungguhnya bersama pemiliknya. Kara jangan khawatir, ya.”
“Kata Ayah, bintang dengan sinar yang paling terang itu adalah Ibu. Benarkah, Mas ?”
“Benar. Tapi, jarak antara kita dan Ibu tak sejauh jarak langit dan bumi.”
Aku menoleh kembali. Tatapan yang ku lemparkan kali ini adalah tatapan menuntut penjelasan dari kalimat yang diucapkan Mas Bara.
Mas Bara tersenyum. “Jarak antara langit dan bumi itu terlalu jauh untuk menggambarkan jarak antara kita dan Ibu. Kau tau kenapa, Dik ?”
Aku menggeleng cepat.
“Karena, Ibu berada dalam diri kita masing-masing. Dalam diri Ayah, Mas dan Kara. Ibu selalu berada dalam hati dan jiwa kita.”
“Jadi ?”
“Jadi, selama ini Ibu tidak pernah jauh. Ibu selalu bersama kita. Jika, Kara merindukan Ibu. Cukuplah Kara berdo’a dan selalu ingat bahwa jiwa Ibu tidak pernah meninggalkan kita.”
“Mas ?”
“Iya, Dik.”
“Apa Mas Bara lupa dengan hari ini ?”
“Hari ini hari Kamis ‘kan, Dik ?”
“Buk...”
“Dan hari ini tepat satu tahun raga Ibu tak bersama kita.”
Mas Bara memotong begitu saja ucapanku dengan kalimatnya yang tepat sasaran mengunci mulutku. Aku membungkam. Lidahku kelu.
Tak ku temukan lagi senyum manis dibibirnya. Tatapan elangnya berubah sendu. Pancaran kesedihan jelas tertangkap olehku. Ada genangan di kelopak matanya.
“Mas...”
Tubuhku ku jatuhkan pada tubuh kekarnya. Air mata bukan lagi untuk berbentuk genangan. Namun, sekarang luruh lantah menembus kokohnya tembok pertahanan.
Kurasakan tangan besarnya mengelus lembut punggungku. Kemudian, memelukku erat dan ia hujani puncak kepalaku dengan kecupan sayangnya.
Kemeja biru lautnya kini basah bekas air mata yang ku tumpahkan entah seberapa banyak. Yang ku tahu, aku hanya menangis sesuka hati tanpa rasa malu.
Pelukannya semakin erat. Tubuhnya kurasakan bergetar. Dan isakan-isakan kecil mulai terdengar.
“Oh... Tuhan. Bentengku menangis," lirihku dalam hati.
“Mas Bara rindu Ibu, Dik.” suara memilukan itu terdengar bergetar disela isakannya.
Dan isakan-isakan yang awalnya bisa berubah menjadi isakan kuat. Dihadapanku sekarang, Mas Bara bukan lagi lelaki kuat, tegar dan dewasa. Namun, seorang rapuh yang merindu. Sama sepertiku.
“Sekarang, tepat setahun rumah ini tanpa senyum surganya.”
***