Oke, sebut saja namaku Fadly.
kalian tau permainan Jailangkung? waktu itu permainan ini sedang buming" nya karena film Jailangkung yang pertama waktu itu baru saja tayang.
Aku dan tiga temanku lainnya, biasa memainkan permainan ini setiap malam Rabu di belakang sekolah saat itu. Tapi, setiap kami bermain hasil nya nihil.
gak ada yang terjadi, jadi... semua cerita mistis tentang permainan ini kami anggap hanya rekayasa saja, dan di buat untuk menakuti anak-anak.
Singkat cerita, tetangganya teman ku, sebut saja sastra. Baru saja meninggal.
kata warga, saat mayatnya di temukan, wajahnya sudah hancur dan sulit di kenali. kalian panggil saja pak Danu.
warga bilang dia meninggal akibat kecelakaan (ditabrak). Sayang sekali padahal hari itu adalah hari ulang tahun putrinya yang ke-7.
kepergian pak Danu membawa duka yang mendalam, aku sering main ke rumah sastra jadi aku juga cukup dekat dengan nya. orang asik, ramah, dan penyabar. tidak heran kepergian nya membawa duka bagi keluarga dan warga sekitar.
Saat itu hari Kamis, yang berarti malam Jum'at. aku datang agak terlambat ke sekolah.
"eh, tuh si Fadly dah Dateng. kau mau join gak bro?"
kata salah seorang teman. (namanya Rafi)
"Join apaan?" tanyaku sambil meletakkan tas di kursi
"nginep ke rumah si sastra, dia ketakutan gara-gara kasus nya pak Danu itu." sahut Surya
aku mengangguk setuju. "emang Lo knp sih? sampe minta di temenin" tanya ku menatap sastra
"ih! bokap nyokap gw lagi pergi lho! gw takut di rumah!" jelas nya agak ngegas
"bukannya Lo dah sering di tinggal kek gitu ya. Kok tumben sekarang takut?"
"Lo blm denger berita tentang pak Danu?" katanya agak berbisik.
"tau! knp?"
"Kan dia matinya karena kecelakaan, ditambah, dia kan blm ngasih kado yang dia beli ke anaknya."
"lah terus?" sahutku tak serius
"ih! emang lu gak pernah denger? kalau orang mati mau ngelakuin sesuatu dan blm terpenuhi tar ruh nya gak bisa menghadap Tuhan!"
aku hanya mengangguk tak mempermasalahkan soal ada yang ia katakan.
.
.
.
.
.
.
.
malam akhirnya tiba, saat perjalanan ke rumah sastra tadi hujan, dan aku merasa tidak enak badan sampai ke rumahnya.
aku memutuskan untuk meminum obat flu.
detik demi detik berlalu, aku mulai merasa kantuk.
"woy! gak seru ih! kita cuman gini-gini aja malam ini. nonton film horor yuk!" ajak Rafi
Entah kenapa dengan anak itu, padahal malam sudah terbilang larut sekarang.
semua mengangguk termasuk aku, meski mata sudah berat rasanya. Kami menonton film.... yang di bilang di awal tadi.
Hening di sekitar, hanya ada suara dari tv (nonton film nya di tv) yang terdengar.
karena sudah tak kuat menahan kantuk aku memutuskan untuk ke dalam kamar.
baru beberapa langkah meninggal sofa Rafi kembali bersuara tapi kini ide yang dia keluarkan agak aneh.
"Gimana kalau kita main Jailangkung aja!" semua tersentak termasuk aku.
"Lo gila ya Fi?" sahut sastra
aku tak begitu mendengar apa yang sastra katakan saat itu, karena aku juga sudah sangat mengantuk.
Tapi entah bujuk rayu apa yg Rafi gunakan hingga semua setuju.
"hmm... ya sudah kalau mau main. Aku tidur dulu ya, kalau nak main bangunkan aku jangan lupa." titah ku sambil berlalu menuju kamat sastra.
"Hmmm selamat tidur Fad!" seru Mereka berbarengan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Entah berapa lama aku tertidur, saat bangun keadaan kamar sudah gelap gulita.
aku berjalan sambil meraba-raba ke luar kamar. dari lantai satu tempat nya di ruang tamu. ku lihat remang-remang cahaya terang kekuningan menyala.
aku turun dan melihat ketika kawan ku sedang bermain permainan Mistis itu.
"hey! ayok! join!" suruh Surya.
aku langsung duduk di samping nya.
"kenapa klean tak bangun kan aku?"gerutu ku begitu duduk
"tadi aku mau bangunkan kau, tapi lelap kali tidur kau sampai aku tak tega untuk bangun kan" jelas Surya.
aku lihat dua teman ku lagi yang seperti sudah siap untuk memulai permainan ini.
"eh?! meningkat rupanya cara main kira ya, pakai boneka sekarang." ucap ku menyadari sesuatu yang berbeda.
memang biasa nya kami hanya pakai jangka dan koin serta lilin di permainan sebelum sebelumnya.
dan sekarang ku lihat mereka bermain memakai boneka Jailangkung sungguhan.
"buru Ris baca mantra nya!" suruh sastra yang sudah siap.
aku kaget begitu ada Risma adik ku yang ikut bergabung ternyata.
"loh?! Ris? kok kamu ada di sini?" tanya ku heran
"lah?! kok mas marah sih? aku pulang les gak ada siapa-siapa di rumah! tak telpon gak diangkat makanya aku kesini."
"iya Gas, gw yang telpon Risma ke sini. kan lo tadi gak bilang mau nginep di rumah gw." sahut Surya
"iya juga ya" batin ku setuju
author POV:
Di sini aku kasih mantra nya, aku dapet dari mas ku yang dah pernah main katanya kek gini. kalau berani coba aja sendiri.
oh iya, ini pakai versi Jawa kalau gak salah. ada versi Mandarin dan Indonesia juga.
ini mirip sama yang ada di film nya karena emang mantra di film nya itu di potong dari sini. dan nyebutin mantranya harus sesuai sama koma ya.
author end pov.
.
.
.
.
"Sluku-sluku bathok, bathok'e ela-elo si Romo menyang solo, oleh-oleh'e payung muntho Mak jenthit lo lo lobah, Yong mati ora obah Yen obah
medhini bocah, jaelangkung jaelangkung di sini ada pesta, pesta kecil-kecilan, datang tak di undang, pulang tak di antar."
begitulah mantra yang di nyanyikan Risma berulang-ulang kali.
suara perempuan yang lembut keluar dari mulutnya seolah sedang bernyanyi.
aku juga bisa melihat raut wajah Rafi yang terkesima mendengar alunan mantra yang kini terdengar seperti lagi itu.
di tengah ritual yang mulai serius ini, tiba-tiba pintu di ketuk.
Tok....tok....tok....
semua orang menoleh termasuk Risma. Aku mulai merasa tidak enak soal ini.
"lanjut!" titah Rafi seolah tak peduli dengan ketokan tadi.
lagi-lagi untuk yang kedua kalinya, pintu kembali di ketuk.
Tok....tok...tok...
"hey! siapa di luar?" tanya Sastra lantang. tapi tak ada Jawaban.
"Fad, coba kau tengok." ucap Suryo sambil melirik pintu depan.
aku bangkit dari duduk, lalu mulai berjalan ke arah pintu.
begitu tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu, aku terdiam. lalu menengok kebelakang.
teman-teman ku serta Risma hanya menatap padaku seperti mengatakan. "Ada apa di luar?"
begitu berbalik badan dan ingin melangkah lagi, pintu kembali di ketuk.
Tok...tok...tok...
aku terdiam. dan untuk yang kesekian kalinya pintu di ketuk.
Tok...tok...tok...
seakan sesuatu yang ada di depan pintu itu tak ingin masuk sendiri, seolah ingin di bukakan pintu layaknya bertamu.
aku meyakinkan diri, dan melangkah untuk membuat pintu, begitu di buka.......
"Gak ada siapa-siapa Sur?" kataku menatap mereka.
"Fa,Fad, di,di belakang mu...." ucap sastra gemetar
"ap-"
belum selesai bicara aku melihat nya! sosok itu berdiri tepat di depan ku.
"aaaaaaaaaaakkkkhhhh!" teriak kami bersama an.
aku segera membanting pintu. dan berlari ke arah kawan-kawan ku itu.
Risma menangis, itu sudah jelas, dia bahkan pingsan melihat sosok pria tinggi dengan wajah hancur dengan baju kemeja putih yang penuh bercak darah.
"antarkan....saya.... ketempat..... anak...saya..." kata sosok itu dengan suara lirih dari depan pintu.
"pak, pak Danu?" tanya Rafi gemetar.
"hmm...... tolong, antar kan saya ke tempat anak saya...." pinta nya lagi.
kami hanya diam, keringat dingin menyelimuti seluruh tubuh kami, tiba-tiba pintu terbuka dengan sangat keras.
Brak!!!!
kami tersentak, sosok itu kini mulai berjalan mendekat.... sambil masih meminta untuk di antar kan ke tempat anak nya.
"tolong....."
Lilin yang menjadi satu-satunya pencahayaan kami seketika padam. dan...........
Tiba-tiba semua lampu kembali menyala.
"mas! bangun!" tegur Risma yang ada di pelukan ku.
ku lihat sekeliling, ada sastra, surya, da Rafi.
apa ini hanya mimpi? aku membangun mereka.
setelah mereka tersadar dari tidak nya. kata pertama yang keluar dari mulut mereka adalah....
"Semalem itu nyata?"
kami saling menoleh. mau di bilang mimpi masa iya kami berempat memimpikan hal yang sama. Dan juga kenapa adik perempuan juga ada di sini?
Kami berjalan menuruni tangga, dan......
"Ku rasa semua nyata."
lilin yang kami pakai boneka Jailangkung itu pun ada. pintu yang terbuka. serta keadaan ruang tamu yang agak berantakan.
"Jadi... Hantu pak Danu itu juga nyata?" tanya Rafi masih belum percaya.
"Nyata! ini, dia nitip kado ulang tahu anak nya"
kata Risma tiba-tiba dengan kado kecil serta secercah surat di tangan nya.
aku mendekat ke arah nya, dan membaca isi surat itu.
TOLONG ANTAR KAN INI KE ANAK SAYA......
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
The End~~~~