KISAH NYATA
"Vid!" Mami, begitulah kami 5 bersaudara menyebut panggilan ibu kami, memanggil namaku melalui udara setelah sebelumnya mengucapkan salam.
"Iya, mam." Sahutku yang baru saja tiba sepulang kuliah. Menaruh semua sengkonekan (perlengkapan: slang sumatera selatan: Lahat) di kamar kosan berukuran 8x5 meter.
"Kamu masih pacaran sama cowok kalimantan itu,?" tanya beliau
"Hery? masih mi, kenapa?" Aku balik bertanya untuk menjawab beliau.
"Putusin lah, dan terima cowok yang mami akan kenalkan." seloroh beliau akhirnya.
Ooo, jadi ini maksudnya, tapi sayangnya, aku sudah buta dengan cinta pria asal kalimantan itu. entah kenapa, apa karena ini pertama kalinya aku berpacaran dan mendapatkan pria perhatian baik sikap maupun materi.
Berulang kali ibuku meminta aku putus dengan kekasihku itu. Menurut beliau, dia pria yang tak cocok untuk aku jadikan suami. Tapi aku yang bodoh dalam masalah percintaan ini, masih mempertahankan ego akan hati. Bertahan di tengah ketidak setujuan ibu akan pria itu.
"Masih dengan abang akuntan itu??" tanyaku yang dibenarkan ibu dengan pasti. Pria PNS di bidang akuntan pada dinas pemerintahan itu menjadi calon pria yang ibu inginkan sebagai menantunya kali ini.
"Ntar aja mi, aku belum bisa mutusin si Hery gitu aja." jawabku masih egois.
Anda ibu tahu perihal kenyataan yang aku hadapi dalam percintaan ini, beliau pasti bersikeras aku putus.
Sudah 1 tahun setengah berpacaran, dan aku akhirnya tahu bahwa pria itu memiliki banyak wanita lain di luar sana. Belum lagi, ada wanita yang masih isteri orang tiba-tiba menghubungiku menyatakan dia adalah calon isterinya dan sudah tidur bahkan hamil anak Hery. Tapi, bodohnya aku, masih bertahan dengan kebrengsekan Hery. Yakin bahwa ia hanya khilaf, meski aku sudah banyak membaca pesan FB yang aku tahu passwordnya itu yaitu chatnya dengan banyak wanita lain.
Aku yakin bahwa pria ini akan berubah suatu saat nanti. yakin ku.
Hingga, naluri ibu yang baik, seolah tahu. tepat ketika aku pulang ke rumah.
"Nah, haus kan." Beliau memberikan segelas air putih untukku yang lupa membawa air saat makan.
Aku hendak meraih, tapi entah kenapa aku yang jarang menolak, menghentikan juluran tanganku mengambil air itu.
"Kenapa? tanya beliau bingung.
Aku menggeleng tak tahu.
Dan beliau mengambil gelas lain, dan anehnya aku menerima.
Hingga beliau menarik gelas yang sudah aku raih. Dan menawarkan dua gelas pada ku, satu gelas yang aku tolak dan gelas yang aku terima.
Anehnya lagi. aku meraih yang ada di tangan kiri beliau, dan beliau menariknya lagi hingga berulang kali dilakukan dan aku tetap memilih gelas sama walau posisinya di putar balik.
"Kamu tahu?," Tanya beliau di sela kebingunganku.
"Gelas ini,menunjukkan kamu tengah dalam keadaan tidak baik-baik saja." lanjut beliau.
"Maksudnya mi??" tanyaku tak paham.
"Ini." Beliau memberi gelas di tangan kiri yang aku tolak terakhir kali.
"Adalah air yang di celup daun bidara,." lanjutnya.
"Bidara?" beo ku.
Ibuku mengangguk.
"Minum." Perintah beliau.
Aku menolak, bersikukuh.
"Ooo, kalau begitu kamu jadi anak durhaka." ancam beliau membuatku terbelalak. Hayolah. aku anak yang tak pernah membantah kecuali soal perjodohan itu. Dan hanya karena minum saja beliau mengecamku demikian.
Ok. aku terima.
Mereguk air gelas itu, yang subhanallah begitu aku minum, berasa air tadi berubah menjadi duri sepanjang mengalir di tenggorokanku.
"Bagaimana??" tanya beliau.
"Gak enak, panas, berduri." cemberutku.
"Ntar apapun yang mami kasih, minum." pinta beliau.
Semenjak itu, aku tak pernah melewatkan apapun jenis air yang beliau beri. Kadang doa pun aku dengarkan via telepon jika aku berada di perantauan untuk kuliah.
Dan.... entah karena pengaruh airkah? hubunganku dengan Hery mendadak galau, aku seolah meragu seketika. Hingga aku tak lagi uring-uringan jika dia tak menelponku, walau 3 hari pun aku tak akan merasa khawatir.
Puncak permasalahan kami adalah, ketika aku mendapati pesan yang aku intip via gmailnya yang menyatakan bahwa ia akan menikah dengan wanita yang ia hamili, dan meninggalkanku. Aku menjadikanya bahan pertengkaran hebat. Dan memutuskannya tanpa takut.
Tapi tetap, aku tak memberi tahu ibu.
Dan ketika aku menghadapi masalah dengan kekasih, kabar ibuku yang mengidap kanker payudara dan harus operasi membuatku terjatuh dua kali.
Aku menyingkirkan masalah percintaan dan fokus dengan pengobatan ibu.
Walau tengah tak baik-baik saja, aku masih berharap jika kami melanjutkan hubungan.
"Vid, menikahlah dengan pria itu." pinta beliau, tapi aku tak menjawab sama sekali.
"Jika tak sudi, maka cukup kamu putuskan saja Hery." permintaan lain ibu.
dan kembali, aku tak menjawab.
Ibu yang sudah dioperasi dan diharapkan baik-baik saja,,,, ternyata harus melalui kemoterapi dan pengobatan ekstra. Aku memang tak paham istilah dunia media, tapi aku tahu jika ibu tak baik-baik saja, karena tanyaku pada dokter tak terjawab...
"Dok, apa ibu bisa sembuh." tanyaku, yang beliau tak jawab sama sekali.
Dan benar, tepat setelah 2 bulan aku sidang tesis terbuka untuk menyelesaikan S2 ku.... ibu harus kembali padaNya... tak sempat melihat aku wisuda...
Dan aku menuruti permintaan beliau, memutuskan pria bernama Hery dengan tanpa rasa takut sedikitpun.
Tapi, bukan itu ketakutan terbesarku.....
Aku takut,.... permintaan terakhir beliau melihatku bersanding dengan pria pilihannya tak tertunai, aku yang menolak perjodohan itu, dan pria pilihan beliau yang akhirnya memilih gadis lain.... menjadi penyesalanku... ok, memang bukan berjodoh, tapi,,, penyesalanku adalah.... tidak mencoba......
untuk sekedar mengenal pria itu, demi menyenangkan hati almarhumah.... sepanjang aku menjadi anak, aku tak pernah membantah kecuali setelah aku mengenal Hery, pria yang memberikan pelet padaku untuk menarik perhatianku, terbukti setelah menjalani rukiah, aku tak merasakan apapun pada pria itu....
naluri ibu, menyelematkanku, tapi.... balasannya, aku tak meraih keinginan beliau meski untuk sekedar... mencoba....