Jatuh cinta memang indah. Dulu kedengarannya begitu, tetapi nyatanya sakit. Setiap orang yang sudah merasakan jatuh cinta, mungkin sekali pernah merasakan penyesalan. Mengapa aku jatuh cinta padanya kalau hanya untuk disakiti?
Perkataan seperti itu pastinya pernah terlontar dari orang-orang yang tersakiti. Entah karena diselingkuhi ataupun tak dihargai. Banyak sekali alasannya sampai aku pun tidak bisa menyebutkan satu persatu. Sebab itu pulalah, aku menjaga kembali hatiku dari mencintai orang yang salah. Aku tak ingin lagi mencintai siapa pun kecuali suamiku nanti, yang halal bagiku dan memang sudah seharusnya kucintai.
Kata mencintai lebih baik daripada jatuh cinta, bukan? Karena yang namanya jatuh pasti akan sakit. Oleh karena itu, pesanku hanya satu, "jangan jatuh cinta pada siapa pun, tetapi cintailah orang yang pantas kamu cintai."
Jika mengenang masa lalu, aku pun pernah merasa bahagia saat bersamanya, bahkan hingga tak terkira. Saat mendapat pesan darinya, panggilannya bahkan pertemuan dengannya seperti singkat walau sudah bersama sehari penuh.
Karakterku manja dan dipertemukan dengan dia yang sabar. Saat itu aku merasa sangat beruntung dan ia juga mengatakan demikian. Seolah kami memang diciptakan untuk berpasangan, banyak yang menyebutkan kalau kami mirip serta cocok satu sama lain. Namun anggapan itu terpatahkan kala satu peristiwa terjadi.
Kembali lagi pada masa-masa indah yang ku lalui bersamanya. Aku pertama kali bertemu dengannya di sebuah pertemuan unit kerja mahasiswa. Kala itu, pertama kalinya kami bertemu pada acara perkenalan.
Kisah ini bukan cinta pada pandangan pertama, melainkan cinta karena terbiasa. Mulai dari sanalah aku mengetahui bahwa ia ada di dunia. Kisah ini tidak langsung dimulai ketika seorang pria dan wanita bertemu, lalu dapat dengan mudah menjalin cinta. Pada kisah ini tidak semudah itu, sebab kami melalui waktu kurang lebih 3 bulan untuk menjadi dekat.
Pada awalnya, hanya sebuah interaksi yang sudah seharusnya dilakukan junior pada seniornya. Akan tetapi, karena sifatku yang sangat cuek dan tak pernah bertegur sapa dengannya. Selama 3 bulan itu, hanya waktu yang tidak berarti apa-apa bagi kisah romansa kami.
Kemudian ada kejadian yang membuat kami dekat. Jiwaku yang gampang bersimpati membantu tugas divisinya. Saat itu pun terjadilah percakapan satu arah darinya, tetapi malam itu jugalah untuk pertama kalinya aku menyimpan kontaknya.
Bak takdir yang dipertemukan, kami resmi berpacaran dalam kurun waktu 2 minggu setelah melalui pendekatan. Hari-hariku terasa indah, setiap saat ada saja pesan darinya mengajak bertemu lalu setelah pulang akan bertelepon menghabiskan malam yang panjang.
Kalau boleh mencibir, bisa dibilang kami ini kurang kerjaan. Waktu itu, aku memang bucin dan saat-saat itulah aku dikecewakan. Dalam rentang waktu 1 tahun setengah, aku dikabari oleh kating yang kebetulan satu tempat KKN dengannya.
Baru saat itulah aku mengetahui absen-absen kabarnya, ia lalui dengan wanita lain. Tak sepenuhnya hilang kabar, karena saat itu ia meminta agar ia tidak rutin memberi kabar. Ketika memberi kabar pun, ternyata hanya kebohongan belaka.
Alasan-alasan pengajian yang ia katakan padaku, tetapi faktanya ia lalui malam bersama dengan wanita baru. Padahal katanya si perempuan juga telah memiliki kekasih, sudah pula berkomitmen akan menikah.
"Aku nggak mau putus! Aku bisa maafin kesalahan kamu."
"Tapi aku yang nggak bisa. Aku udah nggak bisa lagi sama kamu. Aku udah capek banget sama sifatmu yang egois."
"Kapan memangnya aku egois?"
"Sering. Apa kamu ingat ketika aku jatuh dari motor? Saat itu aku bilang pusing tapi yang kamu lakuin hanya menyuruhku istirahat sebelum lanjutin perjalanan. Tanpa kamu suruh pun bakal aku lakuin."
Aku tak menyangka bahwa di saat dia memutuskan ku, akan menggunakan kejadian ini sebagai alasannya. Padahal kejadian itu sudah sangat lama sekali dan saat itu pun dia tak menuntut apa-apa bahkan sekadar mengingatkan agar aku tak mengulanginya, tak pernah ia katakan. Lalu bagaimana aku bisa tahu apa yang dia mau?
"Asal kamu tau, saat aku bercerita pada dia. Respon dia bilang akan langsung datang menemui ku, bagaimana pun caranya. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu lebih memilih mengerjakan tugasmu daripada menemui ku."
Pada akhirnya, inti dari permasalahan dia yang berselingkuh adalah karena aku yang kurang peduli dan tidak perhatian terhadapnya. Itu katanya. Setelah kami putus hubungan pun, tidak lama dari itu aku dikabari seorang teman bahwa dirinya berhubungan secara terang-terangan dengan wanita itu.
Inilah peristiwa dari beberapa orang yang mengatakan kami tidak cocok. Penyebabnya mereka lebih tahu sifat dia yang seperti ini.
Tak hanya dikecewakan, aku dikhianati juga dibohongi. Sekian waktu yang kuberi agar dirinya fokus terhadap studi, nyatanya ia bermain api. Inilah penyesalanku, yang janjinya akan dinikahi malah disakiti.
Aku menyesal tidak menepati janji pada diriku sendiri bahwa tidak akan lagi berpacaran. Juga sempat pula aku membencinya, tetapi aku menyadari bahwa dia bukan orang yang tepat. Jika aku ingin dipertemukan dengan orang yang tepat, maka jalan yang dipilih adalah satu-satunya jalan yang diridai sang pemilik semesta alam. Dan kini, aku hanya berharap hijrahku tak pernah goyah lagi.