Namaku Anya Victaniana. Aku pernah disakiti oleh seseorang yang aku cintai. Hal itu membuatku belajar, lebih menjaga hati untuk tak mudah mencintai. Namun, suatu hari pertahananku runtuh. Ada seseorang yang telah menyalip, memasuki hatiku. Entah sejak kapan perasaan ini hadir, yang jelas aku tak bisa mengelak dari kebenaran bahwa hati ini telah jatuh padanya. Seseorang yang datang memberikan rasa nyaman dan aman. Sudah kucoba tepis rasa itu, namun semakin kuat perasaan itu.
Dia adalah Ryano Malviano. Kami adalah teman seangkatan di bangku kuliah. Kedekatan kami dimulai sejak kami terlibat dalam satu project lomba bersama dua teman kami yang lain. Setiap hari kami berkomunikasi melalui zoom untuk membahas tentang perlombaan. Lalu, kami juga tak segan saling bertukar cerita perjuangan masing-masing dan saling menyemangati. Sungguh aku merasa disayangi, aku merasa memiliki tempat untuk berbagi dan hari-hariku menjadi semakin berwarna.
Kedekatan kami terus menunjukan perkembangan. Aku lebih terbuka kepadanya. Aku sering meminta pertolongannya untuk mengantar dan menjemput, bahkan dia juga rela menungguiku. Dia dengan senang hati melakukannya. Karena sering mengantar jemput, ia juga telah mengenal keluargaku. Aku seakan menjadi wanita yang paling bahagia. Banyak waktu sudah yang kami habiskan bersama, berdua. Komunikasi kami, pun semakin intens, walau hanya membahas hal-hal receh. Itu saja serasa cukup meningkatkan mood dan imun tubuhku.
Lalu, tibalah di hari perlombaan yang telah kami persiapkan sebaik mungkin. Walau tak menjadi pertama, kami berhasil meraih peringkat ke empat. Setelah itu, kami merencanakan untuk makan bersama dengan hasil uang lomba yang kami terima. Kami menentukan tempat dan waktu untuk bertemu. Kali ini pun aku masih menjadi orang yang menempati kursi penumpang motornya. Kedekatan kami pun membuat dua teman kami yang lain mulai menjodoh-jodohkan kami. Tak bisa disangkal, sepertinya aku semakin menyukainya.
***
Suatu ketika aku pernah bertanya dalam hatiku, "Apa dia juga merasakan hal yang sama sepertiku?". Aku berharap perasaan yang datang bukan hanya sekedar sebuah istilah 'baper'. Jujur, aku ingin lebih dari itu. Namun di sisi lain aku tak boleh mengabaikan masa laluku. Karena semua itu pelajaran berharga. Aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Aku mencoba menata hatiku. Aku tak ingin terlalu berharap pada dia.
Akan tetapi, dia selalu saja berhasil menerobos pertahananku, walau hanya dengan hal-hal kecil. Dia sering menanyakan kabarku, dia sering mengirimkan fotonya padaku, mengingatkanku untuk makan tepat waktu dan imenjaga kesehatanku yang memiliki riwayat sakit asma. Oh, Tuhan salahkah aku berharap lebih, jika hanya aku yang dia perlakukan istimewa seperti itu?. Lagi. Aku jatuh lagi ke dalam semua perlakuan manisnya. Aku tak ingin mengikis harapanku, malah semakin bertambah asa itu.
Lalu, di tengah angan dan asa yang masih sudah meninggi menyaingi langit, aku dijatuhkan sejatuh-jatuhnya. Dia berubah. Tak ada lagi perhatian manis yang diberikan. Tak ada lagi komunikasi intens, tak ada lagi kesigapan mengantar jemput, tak ada lagi foto yang setiap hari memenuhi kolom chat. Duniaku seolah hancur. Aku begitu merasa kehilangan yang teramat dalam. Kami perlahan mulai menjauh. Kami bagaikan orang asing. Padahal kami pernah sedekat nadi.
Hatiku semakin sesak menerima kenyataan bahwa dia baik-baik saja. Seakan tak merasa kehilangan. Apa semua yang pernah mereka lewati tak pernah mengukir arti dalam dirinya?. Dia bersikap biasa saja, seperti tak pernah terjadi apapun. Aku benar-benar terlihat menyedihkan. Aku menangis kepada para sahabatku. Aku menangis kepada Mama. Aku menceritakan tentang perasaanku yang sudah terlanjur dalam, namun aku tiba-tiba saja diabaikan. Aku sulit menerima itu semua.
Walau tak mudah, aku mencoba menerima, perlahan-lahan. Awalnya terasa aneh, semudah itu menempatkan jarak dan berpura-pura baik-baik saja. Aku menguatkan diriku sendiri. Aku pasti bisa tanpa semua hal tentangnya. Aku menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan dan fokus menyelesaikan skripsi. Bahkan aku memilih kembali ke kotaku untuk beberapa waktu. Aku butuh waktu untuk menata hatiku kembali. Terkadang aku masih sering menangis, meratapi kebodohanku yang dengan mudahnya menaruh harapan pada orang yang tak pernah memberi kepastian. Bahwa tenyata, hatiku hanya sebagai tempat persinggahan.
***
Tibalah waktunya dia untuk sidang skripsi, tepat di hari ulang tahunnya. Aku berusaha biasa saja. Memberi ucapan selamat seadanya. Dia membalas ucapanku, berterima kasih dan menanyakan kabar. Aku tak mau goyah, aku sudah bertekad untuk tidak lagi berkontak dengannya, untuk keperluan skripsi sekalipun. "Cukup sudah merespon harapan palsu", begitu yang kukatakan pada diriku. Aku terkesan ingin menghindarinya. Aku betah di kotaku, apalagi sistem kuliah online masih berlaku. Semesta turut mendukungku, pikirku. Aku tak ingin kembali jika memang tak ada hal yang urgent.
Suatu hari aku mendapat kabar dari dosen pembimbingku untuk melakukan konsultasi secara offline. Aku terkejut mendapat kabar tersebut. Ah, aku belum siap menghadapi dia jika kita berpas-pasan nanti. Hatiku belum kuat. Namun, aku tak punya pilihan. Ini menyangkut masa depanku. Aku terus menerus bermonolog, mengeluarkan kata-kata motivasi kepada diri sendiri. Berharap bisa menyalurkan kekuatan untuk hati yang belum pulih. Sedalam itukah perasaan bodoh ini untuk dia?. Aku benar-benar bodoh, pikirku.
Aku berusaha setegar mungkin. Bersikap biasa saja saat tak sengaja bertemu di kampus. Bersikaplah dewasa, itulah yang terlintas dibenakku saat berhadapan dengan makhluk yang telah memberantakan hatiku. Aku tetap berbincang jika diajak bicara, walau degup jantung tak karuan. Satu bulan kemudian, aku pun mendpaatkan jadwal sidang skripsiku. Aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Bertemu dengan dia memang mengungkit kembali rasa sakit itu. Namun, aku juga belajar bahwa untuk melewati rasa sakit aku harus menghadapi rasa sakit itu bukan malah menghindarinya.
Kejutan datang lagi. Sehari sebelum sidang skripsiku, dia kembali menghubungiku. Apa tujuannya?. Dia berkata bahwa dia yang akan membelikan selempang untuk kupakai nanti setelah sah menyandang gelarku. Aku benar-benar dibuat kaget olehnya. Aku ingin menolak, namun dia memohon agar aku tidak menerimanya. Jujur, ada sedikit rasa bahagia dalam hatiku. Hati yang belum pulih benar, goyah kembali. Saat berfoto pun aku hanya ingin berfoto menggunakan selempang pemberian dari dia. Aku seolah lupa dengan perjuanganku untuk melupakan dia. Aku kembali merutuki diri sendiri yang terlalu mudah luluh. Argghh.
Setelah itu, perasaanku semakin berkecambuk. Bertanya-tanya maksud dari pemberian dia. Aku pun memberanikan diri untuk mengkonfirmasi sesuatu langsung dari dia. Tentang bagaimana rencana dia ke depan. Aku cukup to the point dengan pertanyaanku. Aku bertanya apa ada niat untuk menjalin hubungan berpacaran. Jlep. Jawabannya sangat menohok hati. Dia mengatakan dengan tegas bahwa dia belum memikirkan tentang itu. Dia ingin fokus bekerja dan mungkin akan melanjutkan sekolah nanti. Pernyataannya itu mampu membuat mataku berkaca-kaca. Sekuat mungkin aku tahan agar tak lolos.
***
Aku kembali menyadari kebodohanku untuk kesekian kalinya. Aku hanya menanggapi seadanya, dan beberapa detik kemudian dengan setengah berlari aku masuk ke salah satu ruang kelas. Aku tak kuat lama-lama berhadapan dengannya. Aku baru saja membuat sejelas-jelasnya bahwa harapanku itu harus segera dimusnahkan. Aku tak tahan lagi. Air mata yang coba kubendung tak sabar ingin segera bebas. Aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Tanganku memukul-mukul dadaku yang sesak. "Bodoh, goblok kamu, Nya", umpatan masih keluar dari bibirku yang bergetar. Setelah puas menangis, aku segera ke toilet untuk membasuh wajah menyedihkanku.
Beberapa waktu berlalu, seorang teman angkatanku yang juga adalah kenalanku dari kota yang sama bernama Meyana memberi kabar bahwa ia akan sidang skripsi. Aku cukup dekat dengan semua teman angkatanku, tak terkecuali Meyana. Aku memutuskan untuk memberikannya selempang nama dan gelarnya. Aku kembali ke kampus bertemu teman-teman, termasuk dia. Muak sebenarnya, sungguh sakit hati. Namun aku ingin memberikan langsung hadiah kepada Meyana. Aku mengabaikan keberadaan dia di tengah teman-teman lainnya. Dia pun tak menegurku sama sekali. Aku lega. Aku tak perlu susah payah memikirkan cara menghadapi manusia kurang peka itu. Seusai sidang, aku dan teman-teman lainnya memberi selamat dane berfoto bersama Meyana.
Hari berganti, tak terasa sudah memasuki bulan delapan. Aku memang belum sepenuhnya baik-baik saja. Namun aku berusaha kuat dan tegar, aku tak boleh menangisi orang yang tak menginginkan keberadaanku, begitulah aku menyemangati diri. Aku sibuk mempersiapkan persyaratan wisudaku. Pada hari Jumat, aku datang ke kampus. Selain mengurus keperluan wisuda, aku pun ingin menyemangati sahabatku yang akan ujian proposal. Setelah selesai ujian, seperti biasa aku dan sahabatku yang lain memberi hadiah buket untuk sahabat kami. Lalu, kami berfoto bersama. Setelahnya kami bercerita.
Dalam perbincanganku dan sahabat-sahabatku, aku tak sengaja mendengar kalimat ejekan dari salah satu temanku kepada Meyana dan dia. Ya dia si Ryano, lelaki kurang peka. Yang sedang kucoba lupakan. Aku sedikit terganggu. Aku merasa ada sesuatu di antara mereka. Aku merasa bahwa kedekatan mereka tak biasa. Perasaanku terbukti. Aku tak sengaja mendengar temanku mengatakan bahwa mereka berdua ternyata berpacaran. Aku sangat terkejut. Mataku menangkap dua sosok yang sedang berbagi tawa. Terpancar rona bahagia dari wajah mereka. Otakku penuh pertanyaan tentang status mereka.
Sejak kapan?. Kenapa Meyana?. Kenapa kasih harapan ke aku kalau sukanya sama teman dekatku?. Pantaskah aku merasa terkhianati?. HAHAHAHA, bodoh sekali kamu, Nya. Aku miris dengan diriku sendiri. Lagi-lagi kejutan datang. Satu per satu hal seakan terkuak. Aku semakin yakin dengan perasaanku. Bahwa hanya aku yang menyukainya. Perlakuan manisnya itu tidak punya arti apapun. Aku terlalu baper. Aku kecewa karena harapan yang kuciptakan sendiri. Hari itu, jam itu, detik itu juga aku semakin memantapkan hatiku, untuk benar-benar menghapus semua kenangan palsu yang dia hadirkan. Kenangan yang bahkan tak pernah dia anggap kenangan. Aku menyerah pada perasaanku. Ternyata, hatimu bukan untukku.