Buugghhh!
Jingga menabrak punggung tegap dan tinggi milik seseorang di tikungan lorong saat sedang berlari menuju kelasnya. Badannya terpental sedikit ke belakang sampai terjengkang, sedang orang yang ditabraknya masih berdiri kokoh--tak bergeser barang sesenti bahkan tak terguncang sama sekali. Orang itu membalikkan badan dan menyorot Jingga dengan tatapan tajam.
"Jinggaaaa!" seru orang itu sambil berkacak pinggang. Ia adalah Narendra, guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelasnya di XI IPS 1 SMA Harapan Bangsa.
Pandangan Jingga tiba-tiba berkunang-kunang mulai menggelap perlahan. Pendengarannya juga semakin hilang, menyisakan suara angin dan kehampaan. Sesaat, dia melihat bayangan Narendra mendekatinya, kemudian badannya begitu ringan serasa melayang. Tak lama setelah itu, ia tak dapat mengingat apa-apa.
"Apa aku hampir pingsan?" tanya Jingga dalam hati sedetik sebelum dunia mendadak gulita di matanya.
Dengan cekatan, Narendra langsung bersimpuh dan menahan kepala Jingga yang hampir saja membentur lantai. Kekesalannya langsung mereda saat melihat wajah Jingga yang sangat pucat dan badannya sedingin mayat. Tanpa berpikir panjang, lelaki 26 tahun itu menggendong badan mungil Jingga untuk dibawa ke UKS.
Narendra tak memedulikan pertanyaan guru ataupun murid yang dilewatinya karena sudah terburu-buru ingin memberikan pertolongan pertama pada Jingga. Sesampainya di UKS, guru perempuan yang sedang piket di sana segera membantu menyiapkan tempat tidur untuk Jingga. Narendra membaringkan Jingga dan mengambil beberapa bantal untuk mengganjal kakinya agar lebih tinggi. Ia dan guru perempuan di sana memijit beberapa bagian di tubuh Jingga untuk menarik kembali kesadarannya. Mereka sangat khawatir karena muridnya tak kunjung membuka mata.
Lain halnya dengan Jingga, ia sebenarnya sudah tersadar sesaat setelah digendong Narendra namun kepalang berdebar dibuatnya sehingga enggan segera membuka mata. Ia malu jika mengingat tangan kokoh Narendra menopangnya tanpa keraguan seakan ingin memberinya perlindungan.
"Bagaimana ini, Pak Rendra? Jingga belum juga sadar. Apa perlu kita bawa ke rumah sakit saja?" tanya guru perempuan khawatir.
"Tidak usah, Bu. Badannya mulai menghangat, mungkin sebentar lagi siuman," jawab Narendra tenang.
Mendengar rumah sakit disebut, Jingga mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Ia sebenarnya masih malas terjaga karena menghindari bersitatap dengan Narendra. Namun, jika ia tetap berpura-pura pingsan tentu akan menambah perkara dan akan memperumit keadaanya.
"Ambil teh, Bu!" suruh Narendra sambil mengambil bantal di kaki Jingga.
Guru perempuan itu pun mengambil teh manis hangat yang sudah disiapkan di meja, sedangkan Narendra membantu Jingga duduk dan menjadikan tumpukan bantal untuk sandaran. Guru perempuan itu membantu meminumkan teh sedikit demi sedikit menggunakan sendok.
"Kamu tidak sarapan?" tanya Narendra menatap mata Jingga dalam-dalam.
Jingga hanya menjawab dengan anggukan lemah karena kelu lidahnya seperti tak mengizinkan ia bicara. Jingga menundukkan pandangannya untuk menyudahi bersitatap dengan Narendra. Baru kali ini, ia merasakan tatapan itu terlalu mengusik ketenangan dan mendebarkan jantungnya.
"Baiklah. Saya pamit kembali ke kelas ya, Bu," pamit Narendra sopan.
"Baik, Pak Rendra. Biar Jingga bersama saya," sahut guru itu tulus.
Narendra pun beranjak. Ia berjalan keluar UKS. Saat sampai di tengah pintu, langkahnya terhenti oleh suara lirih Jingga yang memanggilnya. Setelah ia menengok ke sumber suara, ia mendapati sepasang mata cokelat Jingga penuh keraguan namun telah siap mengunci tatapannya.
"Pak Rendra. Terima kasih. Maaf tadi tidak sengaja," ucap Jingga dengan suara bergetar dan menahan napas.
"Tidak apa-apa, Jingga. Cepat sembuh dan kembali ke kelas," sahut Narendra santai.
Selepas kepergian Narendra, Jingga kembali bisa bernapas lega. Ia mengusap dada untuk mengamankan kondisi jantungnya yang belum sepenuhnya normal seperti sedia kala. Masih ada detak-detak aneh yang hanya berhenti pada kata mengapa.
***
Semakin ke sini, Jingga merasa ada yang tak beres dengan perasaannya kepada Narendra. Setiap mereka bersemuka, ia tidak bisa menahan getaran tak biasa dalam dirinya yang bisa membuat sekujur badannya kebas sampai lupa cara bernapas. Akhirnya, Jingga menduga jika ia merasakan cinta seperti yang selama ini teman-teman ceritakan kepadanya. Bisa dibilang, inilah cinta pertama karena ia belum pernah merasakan itu sebelumnya.
Jingga tidak terlalu menganggap serius perasaannya karena terlalu khayal jika mengharap perasaannya berbalas. Ia pun menikmati rasa itu sebagai kegaguman semata, meskipun harus selalu menahan gejolak di dada setiap berhadapan dengannya. Ia memilih menyembunyikan perasaannya dari teman-teman karena takut akan menjadi bahan ejekan karena mencintai gurunya sendiri dan pasti akan disebut penyuka Om-Om walaupun memang begitu kenyataannya. Yang jelas, ia tak mau menjadi canggung di sekolah karena Narendra sering berinteraksi dengannya sebagai guru kelas sekaligus wali kelas.
Setelah selesai ujian kenaikan kelas, berita mengejutkan tiba-tiba terdengar saat upacara bendera hari Senin pada penutupun semester itu. Lima guru yang baru dilantik sebagai ASN harus pindah mengajar keluar kota. Salah satu guru yang dipindahtugaskan adalah Narendra.
Mendengar nama itu disebut, Jingga tiba-tiba merasa seperti dunianya runtuh seketika. Persendiannya melemas. Semangatnya pun berangsur lenyap. Ia tak menyangka perasaan yang baru tumbuh itu harus menerima kenyataaan tentang pahitnya perpisahan sebelum ia tersampaikan. Bahkan, ia harus merasakan kehilangan sebelum sempat memiliki. Bukankah sangat menyakitkan?
Agar perasaannya tidak terlalu sia-sia, akhirnya Jingga berinisiatif untuk mengajak teman-temannya membuat surat kesan pesan anonim. Surat itu ditujukan untuk Narendra sebagai wali kelas mereka. Itu sebagai cara Jingga mengungkapkan cinta tanpa takut ketahuan identitasnya.
Setelah mereka selesai membuat surat dan dikumpulkan ke ketua kelas, Narendra pun datang untuk berpamitan. Air wajahnya meredup melukiskan kesedihan karena harus berpisah dengan murid waliannya yang berbeda dengan murid walian sebelumnya. Banyak emosi yang ia rasakan saat menghadapi kelas itu, kadang kompak dan menyenangkan, kadang sweet dan mengharukan, sering bandel dan menjengkelkan,
"Selamat pagi, XI IPS 1. Bapak memohon maafkan kesalahan saya selama kebersamaan kita. Tentu banyak salah dan terlalu galak namun yakinlah bahwa saya melakukannya karena begitu sayang kalian dan ingin mendidik kalian menjadi pribadi yang lebih baik di waktu mendatang. Bapak pamit untuk berpindah tugas keluar kota karena ikatan dinas jadi mohon doanya semoga bisa dilancarkan semua prosesnya. Sampai jumpa, Anak-Anakku Tercinta. Semoga suatu hari bisa berjumpa lagi dan kalian sudah menjadi orang sukses di masa depan. Terima kasih atas kenangan manis dan menjengkelkan yang telah kalian berikan," pidato Narendra berusaha tegar dan tak terlihat rapuh.
Setelah pidato Narendra selesai, ketua kelas mewakili teman-teman untuk meminta maaf juga kepada wali kelas mereka. Kemudian, ia menyerahkan paper bag berisi surat anonim dari teman sekelasnya sebagai kenang-kenangan untuk Narendra. Mereka sangat tulus memberikan hadiah sederhana itu karena mengerti jika gurunya sangat suka membaca sehingga yakin bahwa Narendra akan membacanya satu per satu.
Narendra menerima paper bag itu dengan penuh haru. Ia terenyuh melihat ketulusan dari wajah-wajah polos anak didiknya. Mata mereka bicara lebih banyak ketika bibir mereka membisu melepas kepergian wali kelas yang sangat berkesan untuk mereka. Narendra memang sangat galak dan tegas namun ia akan begitu sayang kepada murid jika mereka menurut kepadanya.
Perpisahan itu diselimuti dengan air mata dan kesedihan mendalam. Narendra sampai tidak tega meninggalkan mereka karena ia dapat merasakan kasih sayang dari anak waliannya itu. Satu per satu bersalaman dengannya penuh kehangatan.
Di urutan terakhir, ada Jingga yang sedari tadi menahan tangis. Saat mereka bersitatap, air mata mendadak jatuh tanpa sengaja dari sudut matanya. Melihat pemandangan memilukan itu, Narendra langsung mengusap ubun-ubun Jingga dengan tersenyum sekenanya.
"Pak Rendra, jangan lupakan saya," tangis Jingga lirih.
"Iya, Jingga. Kamu sekolah yang rajin. Jangan suka telat berangkat biar tidak sering dipanggil guru BK. Jangan suka telat makan biar tidak pingsan lagi," sahut Narendra berusaha menenangkan Jingga.
Setelah selesai bersalaman dengan murid kelas XI IPS 1, Narendra meninggalkan kelas itu dengan berat hati dan membawa semua kenangan tentang mereka di kepala. Setelah ia membelakangi anak didiknya, air mata tiba-tiba merembes membasahi pipi. Ia segera menyeka sebelum ada yang mengetahui kesedihannya.
Melihat Narendra keluar dari kelas, Jingga pun berlari mengejarnya. Sesampainya di depan kelas, ia ingin mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kalinya.
"Pak Re..." suaranya tiba-tiba terhenti saat melihat Narendra sedang berbincang dengan guru perempuan di sekolah itu.
Hati Jingga semakin pedih melihat pemandangan manis itu. Guru perempuan itu memberikan sebuah kado yang diletakkan di paper bag dan Narendra menerimanya dengan bahagia. Narendra berbincang dengan guru itu dengan jarak dekat seperti sudah sangat akrab, guru itu pun menanggapinya dengan senyum merekah dan wajah bersemu merah.
Jingga mengurungkan niatnya untuk mendekati Narendra karena takut menghancurkan momen berharga mereka. Ia menunduk lesu sambil masuk kembali ke kelasnya dengan muram.
"Ternyata memang tidak pantas mempunyai rasa kepada orang dewasa," keluh Jingga dalam batinnya.
Jingga bersyukur dalam hati karena surat itu tidak diberi nama jadi tidak masalah jika mungkin pacar Narendra membacanya.
***
Beberapa hari setelah pindah ke luar kota dan hidup mandiri di kos sementara, Narendra akhirnya bisa beristirahat dengan tenang setelah sibuk beberes kamar. Saat sedang rebahan santai, ia melihat sebuah paper bag tergantung di cantolan bajunya. Ia pun teringat belum sempat membaca surat dari anak didik tersayangnya. Ia pun berdiri dan meraihnya.
Narendra membuka satu per satu surat yang ada. Ia tersenyum-senyum sendiri melihat tulisan para murid yang banyak ragamnya. Ada yang memuji dia terlalu tampan namun galak. Ada yang mengeluhkan sikap disiplinnya karena ia sering dihukum, Ada yang menyuruhnya untuk jangan terlalu teliti dan mengurangi nilai jika kurang titik dan koma. Ada yang berterima kasih karena sering ditraktir olehnya. Kebanyakan dari mereka tentu mengungkapkan sayang dan mendoakan kesuksesannya
Akan tetapi, satu surat yang menarik perhatiannya. Surat yang di belakangnya tertempel bunga Edelweis sintetis. Isi suratnya pun berhasil membuat Narendra tercengang. Begini kurang lebih isinya.
-Pak Guru, selamat bertugas di tempat baru. Semoga keberkahan selalu menyertaimu. Sejujurnya, teramat sedih mengetahui Anda dipindahtugaskan namun saya yakin jika ini salah satu jalan menuju kesuksesan.
Pak Guru, mohon maaf jika yang saya tulis selanjutnya mungkin sangat lancang, tapi saya harus tetap mengatakan demi melegakan perasaan.
Entah sejak kapan debaran aneh dalam hati saya datang setiap dengan berpapasan dengan Pak Guru. Awalnya, saya hanya berpikir terlalu mengagumi Anda. Namun, semakin hari rasanya semakin tidak bisa dikendalikan sehingga saya pikir ada perasaan lebih dari mengagumi. Mungkin, ini yang dinamakan (maaf saya lancang) "cinta pertama" seperti yang diceritakan teman-teman, tapi saya juga tidak tahu persis karena belum pernah merasakan ini sebelumnya.
Pak Guru, bolehkah aku mencintaimu?
Tidak perlu dijawab karena saya tidak berharap Anda membalasnya. Sekali lagi, saya hanya ingin melegakan perasaan saja.
Saya berikan bunga Edelwis mini sebagai lambang cinta sejati dan keabadian karena kenangan dan perasaan tentang Anda tentu takkan bisa saya lupakan.
Note: bunga yang saya tempel hanya Edelweis sintetis karena tidak boleh memetik yang asli katanya. Semoga tidak mengurangi maknanya
▼・ᴥ・▼
Narendra pun tersenyum gemas setelah membacanya.
"Dasar bocah. Cinta monyet," gumamnya.
***
Selepas lulus dari SMA Harapan Bangsa, Jingga melanjutkan studinya ke perguruan tinggi negeri di luar kota. Ia mengambil jurusan Sastra Indonesia. Entah apa motivasinya. Mungkinkah karena kekagumannya kepada Narendra? Atau mungkin karena memang dia suka dunia sastra. Entahlah. Dia juga tak tahu pasti mengapa memilih jurusan itu. Terangnya, Jingga ingin saja kuliah di sana sehingga ia sangat menikmati perkuliahannya.
Pada saat liburan peralihan dari semester lima ke semester enam, Jingga kembali ke SMA Harapan Bangsa untuk melaksanakan sosialisasi tentang kampusnya kepada siswa kelas XII di sana. Ia datang bersama dua teman seangkatannya yang berbeda jurusan namun mereka semua alumni di sekolah itu.
Tak banyak yang berbeda di sekolah, hanya bangunannya yang dipoles dengan warna baru namun masih dengan suasana dan kenangan yang sama. Kaleidoskop semasa putih abu-abu pun mulai berseliweran di ingatan Jingga dan menyeruakkan kerinduan atas segala kenangan bahagia, sedih, menjengkelkan sampai memalukan yang pernah dilaluinya di sana. Terlebih tentang tragedi surat cintanya kepada Narendra, ia merasa bodoh sekaligus penasaran dengan respon sang guru saat membacanya. Di mana pun dia sekarang, jika takdir mempertemukan mereka lagi tentu ia berharap Narendra tidak mengenali tulisannya.
Saat sedang berjalan di lorong kelas, Jingga berpisah dengan kedua temannya karena harus mengambil laptop yang tertinggal di motor sehingga kedua temannya terlebih dahulu datang ke ruangan untuk sosialisasi. Suasana di sana sangat sepi karena sedang jam pelajaran sehingga ia bisa berjalan dengan tenang tanpa harus bertaruh dengan tatapan siswa di kerumunan.
Buugghhh
Tiba-tiba, ingatan Jingga menangkap sesuatu semacam de javu. Ia menabrak dada seseorang guru di tempat yang sama dengan saat dia menabrak Narendra. Namun, kali ini, dia tidak terpental karena badannya sudah cukup besar untuk menahan diri dan posisinya sedang tidak berlari. Ia mundur tiga langkah dan sedikit membungkuk hendak meminta maaf.
"Jangan pingsan. Berat gendongnya. Kamu sudah tidak mungil lagi," seru suara lelaki yang sangat familiar di telinganya.
Jingga mendongakkan kepala. Matanya membeliak mendapati Narendra sedang menyorotnya dengan tajam namun penuh kehangatan. Debaran di dadanya kembali, bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Tangan dan kakinya sampai gemetar karena aliran darah di badannya tiba-tiba terganggu mendadak tidak lancar. Napasnya memburu seakan tengah dikejar sesuatu.
"Pak Rendra," akhirnya satu kata berhasil lolos dari bibirnya yang sempat gagu.
"Hai, Jingga. Lama tak berjumpa. Sudah lebih tinggi sekitar lima senti ya. Bagaimana kabarmu?" tanya Narendra tersenyum dengan santai, berbeda dengan Jingga yang mati kutu dibuatnya.
Dalam hati, Jingga menggerutu,"Bagaimana mungkin saya baik-baik saja. Apa Anda tidak sadar tatapan Anda sangat mengganggu kinerja jantung saya?"
"Jingga! Hei! Tidak usah seterkejut itu. Seperti melihat hantu saja. Baru tidak bertemu tiga tahun lebih saja. Apa sudah tidak mengenali saya?" tanya Narendra mencairkan suasana.
Jingga tersadar dari lamunannya dan otot badannya kembali mengendur, meskipun jantungnya masih berdetak tak teratur. Ia mengatur napas sambil berusahan tersenyum untuk menetralkan perasaannya.
"Maaf, Pak. Saya kaget saja tiba-tiba bertemu lagi dengan Bapak di sini. Saya kira sudah menetap mengajar di luar kota," jawab Jingga mencoba menutupi kegugupannya.
"Tidak. Setelah dua tahun mengabdi sebagai ASN di luar kota, saya mengajukan mutasi untuk kembali ke sini dan pengajuan saya diterima," sahut Narendra.
"Oh," balas Jingga membulatkan bibirnya.
"Kamu ya. Masih saja ceroboh. Kalau jalan, hati-hati. Tidak kapok ya sudah menabrak saya sampai pingsan," celetuk Narendra sambil mengacak pelan rambut Jingga.
Jingga sampai terdiam. Lagi-lagi, Narendra berhasil membuat lahir dan batinnya menegang. Bahkan, rambutnya yang diacak-acak malah hatinya yang jadi berantakan. Tidak bisa dibiarkan. Ia berusaha menguasai diri agar tak menunjukkan kekagumannya kepada Narendra.
"Iya maaf, Pak. Namanya saja tidak sengaja," sahut Jingga sambil merapikan lagi rambutnya.
"Ya sudah. Silakan kalau mau melanjutkan sosialisasi. Saya dengar kamu kuliah di Sastra Indonesia ya? Lain waktu, mari kita diskusi. Atau ada yang ingin kamu tanyakan saat ini?" tanya Narendra ramah.
Sejenak, Jingga terdiam untuk menata perasaannya. Sebenarnya, ia begitu ingin berlama-lama mengobrol dengan Narendra namun jantungnya sulit dikondisikan. Jika dibiarkan lebih lama lagi, ia takut bisa mati berdiri.
"Pak Rendra sudah menikah?" tanya Jingga tak bisa mengerem mulut lancangnya yang tidak nyambung dengan pembicaraan sebelumnya.
Sedetik setelah pertanyaan itu keluar, sang penanya ingin menabok bibirnya yang mendadak hilang kendali. Wajahnya bersemu merah serasa ingin kabur saat itu juga saking malunya. Jingga bahkan sampai terheran-heran dengan dirinya yang bisa mengucapkan pertanyaan itu dengan sangat lancar. Entah apa motivasinya, ia pun tak tahu pasti.
Narendra tersenyum simpul penuh makna. Matanya menyorot Jingga dengan tatapan yang sulit diterjemahkan seolah tidak menampik namun juga tidak mengiyakan. Sungguh menyebalkan, sangat membuat penasaran.
"Coba ramal? Menurut analisismu, sudah atau belum?" canda Narendra.
"Ih ramal-ramal segala. Bapak pikir saya cenayang. Sepertinya belum ya?" sahut Jingga mengharapkan jawaban iya.
Jingga semakin tak paham dengan perasaannya yang seberharap itu kepada gurunya. Toh, jika Narendra menjawab iya, lantas apa yang hendak dilakukannya? Salto? Jingkrak-jingkrak? Atau malah menembak cinta pertamanya? Oh tidak. Pertanyaan yang terlontar sungguh mustahil dan terlalu muskil. Jingga menggelengkan kepala untuk menghapuskan percakapan tidak jelas di kepalanya.
"Setelah kamu selesai sosialisasi, temui saya di perpustakaan ya. Ada yang ingin saya tanyakan," ujar Narendra mengalihkan pembicaraan.
Jingga merasa kesal ingin menjitak kepala Narendra yang malah menganti topik, bukan menjawab pertanyaannya. Sial, dia semakin penasaran dan tak sabar menunggu nanti, maunya sekarang.
"Baik, Pak," sahut Jingga berusaha menguasai dirinya untuk lebih bersabar lagi.
***
Sesuai dengan perintah Narendra, Jingga pun datang ke perpustakaan untuk menemuinya di sana. Narendra yang sedang duduk di kursi kepala perpustakaan pun bangkit dan menyambutnya dengan sangat ramah. Setelah menyapa dan berbasa-basi sebentar dengan pustakawan dan tenaga perpustakaan lainnya, ia segera mendekat ke tempat duduk Narendra.
"Jingga. Akhirnya, kamu datang juga," ucap Narendra dengan senyum terkembang lebar.
"Iya, Pak," sahut Jingga menunduk untuk menghormatinya.
"Ayo ke ruang baca saja. Biar bisa sambil duduk santai atau mau ambil buku dulu yang kamu suka juga tidak apa," tutur Narendra.
"Tidak, Pak. Langsung ke ruang baca saja tidak apa," jawab Jingga dengan tangan dan kaki yang mulai dingin membayangkan harus berduaan dengan Narendra.
Benar saja, di ruang baca hanya ada Jingga dan Narendra karena masih jam pelajaran. Walaupun hanya tersekat rak-rak buku namun ruang baca yang lesehan cukup aman dari pandangan dari meja para petugas perpustakaan. Narendra memilih tempat itu karena memang di sana lebih lapang dan lebih santai untuk mengobrol.
Narendra memilih satu meja di pojok dan memberi isyarat dengan tangan agar Jingga duduk di seberangnya. Jingga pun menurutinya dengan patuh, walaupun dadanya amat bergemuruh.
Tiba-tiba, Narendra mengeluarkan sebuah lipatan kertas lengkap dengan bunga Edelweis sintetis tertempel di belakangnya. Dada Jingga seolah terhantam sesuatu saat menatap benda yang dipegang oleh Narendra. Ia tentu sangat mengenal barang itu.
Hati Jingga sontak menjadi berbunga-bunga. Ia tak menyangka Narendra masih menyimpannya, bahkan tanpa direncanakan bisa ada saat mereka kembali dipertemukan. Entah teka-teki apa yang sedang dimainkan takdir hingga ia semakin antusias untuk mengikuti jalan ceritanya.
"Jingga, saat saya pindah mengajar. Kelasmu mengumpulkan surat tanpa ada satu pun yang diberi nama penulisnya. Saya tertarik dengan satu surat ini. Apakah kamu tahu siapa pemilik suratnya?" tanya Narendra penuh harap.
Jingga menelan ludah getir. Ia tak punya nyali untuk mengakui bahwa itu adalah miliknya. Dalam hati tentu ia bahagia namun suratnya berisi hal yang sangat memalukan untuk diungkapkan jadi lebih baik diam saja demi menjaga harga diri.
"Saya tahu, tapi sudah berjanji untuk merahasiakannya. Memang, ada apa dengan surat itu, Pak?" tanya balik Jingga penasaran.
"Sayang sekali ya, tapi tidak apa. Sebenarnya, saya malu mengatakan namun saya rasa kamu bisa dipercaya untuk menyampaikan pesan kepadanya," ucap Narendra membuat Jingga semakin menggila rasa ingin tahunya.
"Iya, Pak. Saya akan menyampaikan kepadanya. Saya jamin rahasia kita aman," sahut Jingga penuh antusias.
"Katakan ini kepadanya kalau dia masih sendiri saja ya. Kalau sudah punya pasangan, lebih baik jangan," pinta Narendra serius.
Jingga hanya membalas dengan anggukan penuh semangat. Ia tak sabar mendengar apa yang akan dikatakan oleh Narendra.
"Tolong, katakan pada pemilik surat ini bahwa saya berterima kasih sebanyak-banyaknya karena surat ini sudah sangat membuat saya jatuh hati, bahkan mungkin jatuh cinta pada penulisnya. Saya jawab juga pertanyaan di suratnya bahwa dia boleh sekali jatuh cinta kepada saya. Bilang juga. Kalau dia masih single dan kuliah, saya akan sabar menanti sampai kelulusannya. Kalau dia sudah tidak sekolah, saya ingin mengajaknya melanjutkan hidup bersama saya. Jika memang tidak bersedia, saya juga tidak memaksa," ungkap Narendra setengah berbisik namun jelas terdengar oleh Jingga.
Jingga terperangah mendengar penuturan Narendra yang seperti di awang-awang dan terlalu sulit untuk diterima sebagai kenyataan. Jantungnya hampir meledak dibombardir oleh ucapan Narendra yang sangat tak tertebak.
"Mimpi apa aku semalam, Oh Tuhan," pekik Jingga dalam hati.
Jingga tak tahu harus bereaksi bagaimana walau ia adalah pemilik surat itu. Bahagia, tentu. Senang, sudah pasti. Namun, bimbang juga terus menyelimuti. Bahkan, pikirannya berkeliaran entah ke mana sampai lupa ada Narendra di depannya sedang memerhatikan dengan heran.
"Jingga!" panggil Narendra menarik kesadaran Jingga dari lamunanya.
"Eh iya, Pak," jawab Jingga terbata-bata.
"Kamu mendengarkan ucapan saya, kan?" tanya Narendra tegas.
"Dengar, Pak. Saya juga sudah mengingatnya," jawab Jingga dengan mata berbinar.
"Baguslah. Terima kasih, Jingga. Awas saja kalau berita ini sampai menyebar. Kamu orang pertama yang akan saya cecar," ancam Narendra.
"Tenang, Pak. Saya usahakan semua aman dan terkendali. Memang, dia tidak terlalu muda untuk menjadi kekasih Bapak?" sahut Jingga sambil mengacungkan dua jempol tangannya.
"Selisih sembilan tahun sepertinya tak terlalu buruk untuk menjalin hubungan. Bukankah yang penting bisa menerima satu sama lain? Ya sudah. Saya sebentar lagi harus mengajar. Ini nomor WA saya. Dia bersedia atau tidak, tolong konfirmasikan segera. Tak harus dia mengakui identitasnya dulu, yang penting saya tau dia mau atau tidak," papar Narendra sambil menyodorkan secarik kertas berisi dua belas digit angka.
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Selamat siang, Pak," pamit Jingga sambil mengantongi kertas dari Narendra.
Jingga ingin segera pergi dari hadapan Narendra karena berduaan dengannya tak lama saja sudah sangat menguras tenaga, perasaan, dan pikirannya. Setelah Narendra mengiyakan, Jingga berlalu dari hadapan Narendra dengan langkah berat namun ringan di kepala. Diam-diam, ia sangat bahagia karena perasaannya kepada Narendra berbalas setelah sekian lama walaupun Narendra tidak tahu bahwa pemilik surat itu adalah dirinya. Bahkan, dia hampir saja melupakannya karena tidak berharap akan ditanggapi serius oleh sang guru tercinta.
***
Dua hari setelah pertemuan Narendra dengan Jingga, akhirnya Jingga memberanikan diri untuk menghubungi Narendra. Sebelum itu, ia terlebih dahulu menghapus foto profil di akunnya dan mengganti username dengan sebutan Langit Senja. Ia berkali-kali mengetik dan menghapusnya, kemudian mengulanginya karena terlampau gugup dan bahagia. Akhirnya, ia nekat mengirimkan satu pesan. Kemudian, menyembunyikan ponselnya di bawah bantal .
Dari: Langit Senja
Untuk: Pak Narendra
Pak Narendra, saya bersedia. Tunggu sampai kuliah saya lulus ya.
Tak lama berselang, ponsel Jingga kembali berdering. Balasan pesan dari Narendra pun sudah ada.
Dari: Pak Narendra
Untuk: Langit Senja
Terima kasih. Sekarang, fokus dulu dengan kuliahmu. Tentang kita, yang penting sudah ada kejelasannya dan tinggal saling menjaga. Jika sewaktu-waktu kamu berubah pikiran, saya juga tidak akan mempermasalahkan. Buat bangga dulu orang tua, baru memikirkan cinta. Sampai jumpa di takdir selanjutnya. Semoga sesuai dengan doa kita bagaimanapun akhirnya. Semangat menuntut ilmu. Jangan jadikan ungkapan saya jadi pemberat langkahmu dalam melewati setiap proses yang akan kamu lalui. Beristirahatlah dengan tenang. Selamat malam.
Pesan panjang itu berhasil membuat Jingga hampir gila. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dengan bantal agar jeritan bahagianya tidak terdengar sampai keluar. Ia berguling-guling kian kemari hingga badannya tergulung di bed cover seperti roll cake. atau mungkin seperti lontong. Ia tak peduli jika Narendra belum mengetahui identitasnya karena baginya memang lebih baik seperti itu untuk saat ini.
Di tempat lain, Narendra senyum-senyum mengetahui pemilik surat itu menerima cintanya. Sebenarnya, ia juga ingin berteriak dan melompat-lompat gembira namun ia malu dengan umurnya yang sepertinya tak pantas dengan euforia berlebihan semacam itu. Cukup hatinya yang terasa lebih lega. Meskipun, sedang ada gejolak dalam dirinya untuk menemui si pemilik hati namun ia menahan sekuat tenaga untuk bersabar hingga waktunya tiba.
"Dasar, Jingga," gumamnya mengudara.
Debaran jantungnya kembali seperti saat ia menggendong Jingga untuk pertama kali. Debaran jantungnya kembali seperti saat melihat air mata Jingga mengalir mengantarkan perpisahan mereka. Debaran jantungnya kembali seperti saat Jingga menabraknya kedua kali. Debaran jantungnya kembali seperti saat ia mengungkapkan perasaannya di depan Jingga yang tidak mau mengakui suratnya. Debaran itu selalu sama. Bahkan, setelah ini, mungkin akan lebih terasa luar biasa.
***
Tamat