Namanya Maria, ya... sosok yang hingga kini masih menempel atau tinggal di kamarku, ya, tepat berdiri merentangkan kedua tangannya sepanjang jendela kamar.
Dari mana aku mendapatkan Maria?
Dari sekolah dulu, ya... masa SMA.
Aku yang terpengaruh teman-teman yang aktif, menjadikanku yang pendiam ikut terbawa aktif. Tapi, keaktifan itu malah berdampak pada kepribadianku menjadi jahil, ingin tahu semuanya, termasuk fakta keangkeran sekolahku.
Jaman masih hp kamera ala kadarnya, aku tak jarang mengambil beberapa video dan gambar di titik--titik yang angker. Kebetulan di area seberang pagar samping sekolah terdapat area pemakaman lama, sepertinya pribadi, karena hanya ada 5 makam dengan kebun di sisinya. Kelasku yang berada di lantai 3 membuatku mudah melihat pemakaman itu. Jadi, hobi kejahilanku didukung dengan objek yang tepat, bukan? Belum lagi beranda belakang kelas tempat kami duduk, di sebelahnya ada batang jengkol besar yang kata teman ada makhluk bernama genderuwo di sana.
Maka jadilah, aku yang jahil ini. Mengambil objek video dan foto pada dua area tadi, pemakaman dan beranda belakang.
Tak butuh waktu lama, saat jam kosong pelajaran, aku dengan sabar mengambil video di pemakaman dan foto di beranda belakang.
Berhasil!!!
"Hei. semua. liat, aku dapat apa!!!" Teriakku heboh di depan kelas, memancing perhatian semua teman sekelas yang segera mendekatiku.
"Paan sih.???" Tanya Jaka pertama kali.
"Nie, aku dapat sesuatu yang bagus." Aku menunjukkan hasil karyaku tadi.
Dan, bersamaan, mereka membelalakkan mata kala melihat gambar bergerak di hp ku. Seorang perempuan berambut panjang berbaju putih tengah menggerakkan kepala layaknya orang yang tengah menikmati sesuatu, kaki diselonjorkan dengan tubuh bersender pada sebuah pohon.
"Dapet dari mana?" Gusti menyela.
Aku menunjuk ke luar jendela.
"Kuburan." kataku
Spontan beberapa teman ikut mengambil video, dengan latar yang sama, tapi.. nihil. tetap ada pohon rambutan dengan 5 makam serta area kebun di sekelilingnya.
"Kok, kamu bisa dapet??" Tika bertanya heran.
"Aku aja bingung, dan malahan, lihat kan gambarnya gimana, kagak ada 1 pun makam dan kebun, cuma latar putih, cewek itu dan pohon rambutan." ujarku menatap video, karena memang aneh hasil yang aku dapatkan jika dibandingkan dengan objek sebenarnya. berbanding terbalik.
"Nah ini satu lagi." aku membuka galeri foto.
"Paan lagi tuh.?" Desi menanyakan
"Tu, genderuwo kata Winarti dan Marta bukan sih??" Aku menoleh pada salah satu dari nama itu.
"Eh, iya. itu." Seru Winarti membenarkan.
sosok yang setinggi manusia itu memiliki perawakan seperti kera, berbulu hitam, kepala plontos, dan pastinya ada taring di sisi mulutnya.
"Wah,, keren ini. Berhasil ya??" Erna menanggapi.
"Tentu dong, tapi. aku penasaran dengan kamar mandi bawah itu loh." ujarku yang penasaran pada satu objek lagi. Kamar mandi bawah, dari 3 kamar mandi, konon katanya 1 kamar mandi angker yang jarang dibuka, dan katanya lagi setiap pukul 7.15 saat siswa sudah masuk kelas, akan terdengar suara seperti orang mandi dari dalam, padahal pintu terkunci dari luar.
"Jadi?" tanya Erna lagi
"Besok aku bakalan telat masuk, biar bisa di suruh ambil sampah di belakang kelas, kan lewat kamar mandi sana." jawabku merencanakan kekonyolan.
Benar saja, besok aku meniatkan hal itu. Aku yang di cap siswa rajin dengan segudang prestasi nyaris dibiarkan masuk tanpa hukuman, tapi dengan soknya aku berujar
"Pak, masak aku gak kena hukum? gak adil dong, gimana tanggapan siswa lain pak." Keluhku sok pahlawan.
"Ya sudah, ambil sampah semampu kamu aja." sahut si guru BP.
Dengan langkah pasti, aku bergegas menuju belakang sekolah, mengambil 2 sampah daun dan cepat menuju samping kelas x yang ada kamar mandi angker itu. Dengan yakin, aku menempelkan telinga di kamar mandi yang di gembok itu. Menghitung 1-5, lalu...
Byurrrrr, suara air di guyurkan terdengar nyaring, senang sekali rasanya.
Lalu, menghitung mundur kembali, aku mengangkat satu kaki, dan....
Gebrak!!!!
Menendang pintu itu seraya berujar, "Woyy mandi mulu, diem." setelah itu aku berlari kencang meninggalkan area itu dan segera masuk kelas.
2 Hari setelah itu, kejadian horor menyapa kelas kami.
Kami yang duduk santai saat jam istirahat di beranda belakang kelas, secara bersamaan mendengar suara yang memanggil namaku.
"Vivid!!!!" begitu suaranya, selama 3x memanggilku.
"Eh, siapa yang manggil?" tanyaku menoleh pada teman-teman yang menggeleng sama.
Aku berdiri dan menoleh ke kelas bawah yang ramai duduk di beranda mereka.
"Hai semua!!" panggilku pada mereka.
"Kenapa?" sahut salah satu siswa di bawah.
"Ada yang manggil aku ya??" tanyaku pada mereka.
"Dihh kepedean ya, gak ada lagi." sahut salah satu dari mereka.
"Ok, jadi siapa ya?" Tanyaku, karena secara pendengaran yang baik, aku merasa jika yang memanggilku tadi begitu lembut tapi kedap dan bergema layaknya berada di dalam ruangan tertutup.
"Woy vid!!!" Tika mengagetkanku dari belakang
"Woyy kaget tau" seruku.
"Kenapa?" tanya Tika melihatku diam.
Aku menjulurkan tangan kananku.
"Kenapa tangannya?" Tika bertanya lagi.
"Kok dingin ya, tanganku" Aku merasa suhu tanganku mendadak dingin. satu persatu temanku penasaran dan ikut menggenggam tanganku.
Tak lama setelah menggenggam tanganku, mereka terjatuh satu persatu. Bukan pingsan biasa, tapi... Kesurupan!!!!!
Mereka yang kesurupan pun banyak yang mencoba meraih tanganku, entah kenapa. Kejadian tiba-tiba itu membuat sekolah sontak menyuruh siswa segera pulang karena kekacauan kesurupan itu cukup mengganggu dan menarik perhatian.
Aku yang tidak kesurupan, segera turun untuk pulang. tapi langkahku tertahan, dan malah menuju pagar pembatas.
Nyaris melompat, jika tidak, Jaka meraih tanganku segera.
"Mau ngapain kamu, hah!!!" bentaknya, menarik tanganku dan turun.
Aku yang tidak tahu apa yang barusan ku lakukan hanya pasrah bahkan saat Jaka menyuruhku naik ke atas motornya dan mengantarku pulang.
Pulang, selesai??
Tidak!!!!
Sampai di kamar, seluruh kaca lemari dan meja rias seperti menguar dalam pandanganku, aku merasa berputar, dan ada sosok yang menjadi bayang lain menggantikanku di kaca itu.
Perempuan!!!
Setelah itu, tubuhku melemas, dan aku memilih berbaring.
Entah berapa lama aku tidur, tapi saat bangun, sudah ada ibu dan 2 orang saudara laki-lakiku.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Kamu kesurupan, barusan." ucap ibu.
"Namanya Maria." sahut kakak lelakiku.
"Maria???" beoku.
Kesurupan itu, berlangsung hanya 1x, tapi tidak di sekolah, karena setelah itu aku mendapatkan mimpi yang menggambarkan bahwa 7 hari akan terjadi kesurupan massal di sekolah, lengkap dengan sosok setannya.
Dan benar saja, seperti itulah kenyataannya. Kesurupan, selama 7 hari. Diawali dengan aroma tanah kuburan basah, kemenyan menyengat, serta siswa yang mendadak menatap tajam. Bahkan aku bisa tahu siapa yang kesurupan dengan melihat raut wajah sendu serta tiba-tiba menyisir rambut layaknya panjang padahal siswa itu berambut bob.
Setelah itu, kelas mendadak menjadi kalem, tak lagi banyak mulut berkata sembarangan, siswa yang melakukan hal mesum di atap sekolah sebagai pemicu kesurupan itu, walaupun aksi jahilku tentu menjadi salah satu pemicu itu terjadi.
Para setan berujar bahwa kotornya sekolah membuat mereka terganggu.
Sesuai perkataan makhluk halus itu dalam mimpiku, 7 hari memang waktu kesurupan itu, dan setelahnya normal kembali.
Tapi tidak denganku, karena sampai sekarang sosok Maria itu masih setia mengikutiku, hanya saja, sosok itu sudah terlihat lebih baik, tidak seperti awal aku melihatnya...
Perempuan yang memiliki tubuh penuh darah di punggungnya, sudah bersih layaknya tanpa luka. Dia yang katanya menjadi korban perkosaan itu memilih lompat dari tempat tinggi dan meninggal. Maka dari itu awal perkenalan kami, aku kerap ingin lompat jika dirasukinya.
Dan sekarang, beberapa kali Maria terlihat selintas di kamar, baik ketika aku tidur atau fokus melakukan sesuatu. Bahkan terkadang, Maria muncul dengan menyentuh ujung kaki, dan juga menghembuskan angin di tengkuk beberapa waktu.
Memang sudah terbiasa, hanya saja, aku tetap tidak menginginkan kisah pertemanan dengan yang namanya sosok astral seperti Maria sekalipun.