Disebuah desa tinggallah satu keluarga yang rumahnya jauh akan keramaian. Berdasarkan info yang beredar anak tunggalnya terkena sihir yang membuatnya menjadi kuat. Semenjak sihir tersebut ada di anaknya orang tuanya memutuskan untuk pindah rumah. Karena khawatir melukai warga setempat. Rumahnya yang sederhana, banyak sekali pepohonan hingga hewan buas.
Kekuatannya tersebut terkadang suka disalah gunakan oleh anaknya. Pagi ini Ibunya memilih pergi ke pasar saat anaknya tertidur pulas. Khawatir anaknya membuat keributan di pasar seperti 2 bulan yang lalu. Ternyata anaknya diam-diam mengikuti Ibunya tersebut dibelakang namun ibunya tidak menyadari hingga sesampainya di pasar baru tersadar. "Kamu mau apa Nak?" Ucapnya lemah lembut karena anaknya tersebut tidak bisa jika dikasari. Jika ada perkataan yang tidak sesuai dia akan marah hingga melukai orang tersebut.
"Aku mau menemani Ibu ke pasar." "Kamu disini saja yaa. Biarkan Ibu belanja dulu. Kamu jangan melukai siapapun." Ucapnya sambil mengelus punggung anak tunggalnya. "Baik, Bu."
Sesampainya di rumah, Ibunya melamun di sendirian. Memikirkan seandainya Ibu dan bapaknya tidak melakukan sebuah kesalahan pasti anaknya tidak akan terkena sihir. Merasa kasian akan anaknya karena tidak bisa bermain bersama teman sebayanya tidak bisa lagi sekolah, yang parah tidak bisa lagi bersosialisasi dengan banyak orang. Tidak lama anaknya muncul dihadapannya dengan mengagetkan "Bu!" "Ehh iyaa nak." Duduklah Dina disebelah Ibunya "Aku lapar Bu." Ucap Dina. "Sebentar yaa nak, ini Ibu mau masak."
Setengah jam berikutnya masakan Ibunya matang dengan lahap Dina memakan hampir setengah dari masakan Ibunya. Biasanya setelah makan Dina pergi keluar rumah untuk melihat hewan-hewan buas dekat rumahnya. Walaupun Ibunya khawatir karena dekat rumahnya ada iblis yang senang mengganggu siapapun. Tetapi tidak bisa dihiraukan anaknya memang tidak punya tempat bermain kecuali hutan. Dua jam kemudian ibunya menyusul anaknya yang berada di hutan.
"Dina..."
"Dina..."
"Dina..."
Sambil menyusuri jalan, namun tidak terdengar suara jawaban dari Dina.
Setelah sepuluh menit kemudian Ibunya menemui Dina yang sedang tertidur di hutan.
"Din" sambil menggoyangkan badannya.
"Nak bangun, pulang. Nanti kita tidur di rumah." Ternyata Dina tetap tidak terbangun. Kini Ibunya khawatir takut anaknya dijailin oleh iblis tersebut. Tetapi ibunya masih berpositif thinking.
"Nak, nanti ibu akan memasak makanan kesukaanmu."
Ibunya tidak putus asa untuk terus memanggil anaknya. 30 menit kemudian bangunlah Dina. Dan ibunya merasa bersyukur akan hal tersebut. Dina segera mengajak ibunya pulang dan menggendong Ibunya untuk keluar hutan karena matahari akan tergantikan oleh bulan.
Sesampainya di rumah, Ibunya melihat suaminya sedang memasang. Suaminya tersebut masih bekerja di kota untuk mencukupi kebutuhan anak dan istrinya. Suaminya memasak daging bakar dan sayur bening kesukaan anaknya.
"Sini makan." Ucap bapaknya terhadap anak dan istrinya.
Mereka bertiga makan dengan lahap. Hingga semuanya habis dan tidak tersisa. Tidak lama Dina masuk ke dalam kamarnya untuk segera tidur. Dina termasuk anak yang mudah tertidur mungkin tadi siang Dina tertidur pulas dan merasa kelelahan setelah mengantar Ibunya pergi ke pasar.
Pagi ini Dina pergi bersama Ibunya untuk melihat anak-anak kecil sedang bersekolah. Terdengar suara tangis yang cukup kencang Dina segera lari mencari sumber bunyi tersebut ternyata anak kecil terjatuh dari sepedah. Ia segera membantunya, karena melihat keadaan disekelilingnya sepi.
Ternyata Dina melihat iblis jahat tersebut sengaja menjatuhkan anak kecil itu. Agar membuat hatinya senang. Dina segera mengantarkan anak tersebut kepada kedua orang tuanya yang berada di sekolah. Karena orang tuanya pun sedang mencari anaknya.
"Ibu, jaga anaknya agar tidak pergi sendiri." Pesan Dina terhadap ibu tersebut.
Lalu Dina kembali menyusul Ibunya yang duduk di taman sendirian.
"Ibu, itu ada yang jualan makanan."
"Mana nak?"
"Itu sambil menunjuk ke arah yang berjualan gulali."
Ibunya dan Dina segera berjalan perlahan untuk membeli gulali tersebut yang kelihatannya masih belum banyak yang beli.
"Abang satu." Ucap ibu Dina seraya memberikan uang.
"Baik Bu. Ini dan ini kembaliannya."
Dina segera melahapnya dengan gembiri. Dan tidak lama Dina menoleh ke Abang tersebut untuk menolongnya karena ranting pohon tersebut akan jatuh dan bisa mengenai kepala bapaknya jika tidak dibantu Dina. Dina kesal melihat Iblis tersebut selalu menggangu manusia. Tetapi dia menahan amarahnya agar tidak terjadi sesuatu kepada siapapun.
Tetap siang hari Dina dan ibunya pulang. Dina menggendong Ibunya kembali karena menurutnya kasihan ibu capek. Jalanan ke rumahnya jauh sekali.
"Ibu sini naik ke punggung Dina."
"Tidak Nak, kita jalan bareng saja. Bentar lagi sampai di rumah." Ucap Ibunya yang sudah mulai lelah. Dina segera menaikkan ibunya ke punggung kecil Dina yang kuat.
"Biar cepat sampai ke rumah Ibu. Aku lapar." Sambil tertawa Dina mengutarakannya.
10 menit sampailah Dina dan Ibunya di rumah. Dina segera membantu Ibunya memasak. Karena Dina sudah lapar tidak karuan. Dina pun sesekali memakan sayuran mentah seperti wortel sebab terlalu lapar dan tidak mampu menahan. Setelah semuanya selesai makanlah Dina dengan Ibunya berdua. Hening yang terdengar hanyalah suara jangkrik. Setelah selesai Dina masuk ke kamarnya. Tetapi Dina memilih untuk tidur bersama Ibunya karena khawatir akan iblis tersebut.
"Bu, Dina masuk yaa ke kamar ibu."
"Silahkan Nak."
"Bu, malam ini bapak tidak pulang. Aku temani ibu di tidur yaa." Ucapnya dengan penuh kasih sayang.
"Boleh nak, memangnya kenapa? Tumben."
Ucap Ibunya bertanya karena selama ini Dina tidak pernah meminta untuk tidur bersama. Apakah ada sesuatu yang ingin diceritakan. Begitulah pikir ibunya.
"Bu, tadi siang. Saat di taman. Ada iblis yang menggangu orang-orang jika sedang sendirian. Di taman tadi saat membeli gulali iblis itu juga datang kembali."
Menghela nafas cukup panjang.
" Aku ingin sekali membantu orang-orang bu. Agar tidak diganggu oleh iblis tersebut. Bahkan sebenarnya dia adalah siluman iblis Bu. Itu lebih membahayakan lagi untuk manusia."
Ibunya terdiam. Memikirkan keselamatan anaknya karena siluman tersebut sangat berbahaya tidak sebanding dengan anaknya.
"Alangkah baiknya kamu tidak ikut campur nak. Terlalu bahaya." Ucap Ibunya khawatir dengan keadaan anaknya.
"Tetapi Bu, kasian dengan mereka yang disakiti oleh iblis tersebut."
"Sebisa mungkin tidak usah, tetapi jika memang bisa membantu sesama tidak apa Nak."
Setelah itu Dina dan ibunya segera tidur karena sudah semakin malam.
Pagi tiba waktunya Dina menemani Ibunya pergi ke pasar dan kali ini Dina tidak akan membuat ulah sehingga memalukan Ibunya. Kini Dina penuh semangat mengantar Ibunya pergi ke pasar. Karena niatnya untuk membantu orang-orang jika ia menemui sesuatu yang aneh.
"Bu, sudah belum?" Ucap Dina sambil teriak di halaman rumahnya.
"Sudah nak, yuk berangkat." Ucapnya sambil mengunci pintu.
Berjalan melalui pohon-pohon tinggi untuk sampai di pasar. Kini mereka berdua berjalan secara perlahan sesekali membicarakan hal-hal yang tidak pernah didengar sebelumnya. Hingga tiba di pasar berasa begitu cepat. Kina Dina pergi ke dalam pasar bersama Ibunya. Untuk membeli keperluan di rumah karena katanya malam ini Bapaknya akan pulang.
Di jalan menuju rumah Dina kembali bertemu dengan siluman iblis tersebut. Ibunya segera menarik anaknya agar tidak bertengkar dengan iblis tersebut.
"Nak tidak usah." Seraya menarik tangan anaknya tersebut.
"Bu, tidak apa. Seharusnya dia berfikir untuk tidak melukai orang-orang tidak bersalah."
Kini Ibunya berada di belakang Dina, berharap anaknya akan baik-baik saja.
"Kenapa kau mengganggu manusia?" Ucap Dina terhadap iblis tersebut.
"Kau tidak usah menjadi jagoan. Kau itu kena sihir. Sewaktu-waktu kekuatanmu akan menghilang." Ucap iblis tersebut kepada Dina.
"Sebelum hilang, lebih baik ku gunakan untuk membantu orang."
"Kau tidak tahukan, sihir mu berasal dari perlakuan ibumu kepada manusia."
Kini Ibunya menangis karena mendengar ucapan iblis tersebut. Merasa bersalah terhadap anaknya. Ingin memohon pun sepertinya sudah tidak bisa. Karena semuanya sudah berlalu cukup lama.
"Ibu, tidak perlu nangis. Aku baik-baik saja Bu." Ucap Dina memastikan semuanya baik-baik saja.
Karena iblis tersebut mengetahui Dina termasuk manusia kuat. Kini ia sengaja mencoba kekuatannya hingga terluka minimal jatuh mengenai pasir.
"Rasakan ini Dina."
Namun Dina bisa menepisnya sehingga tidak terkena. Namun Dina khawatir Iblis tersebut mengenai Ibunya. Lagi dan lagi hingga iblis tersebut merasa kelelahan melawan Dina. Dan yang terakhir Dina tidak bisa menepisnya hingga terjatuh dan berdarah. Setelah itu iblis tersebut pergi meninggalkan Dina dan Ibunya.
Dua hari setelah kejadian tersebut. Dia tidak berdaya hanya tertidur di kamar sesekali berjalan namun hanya di halaman rumahnya. Ibunya merasa bersalah. Membiarkan anaknya terkena sihir, hingga bertarung dengan siluman iblise tersebut.
Dina kini hanya bisa berjalan, tidak lagi bisa membantu orang disekitarnya. Sesekali mulut Dina mengeluarkan darah yang cukup banyak. Dan sesekali pula iblis tersebut datang ke halaman rumah Dina. Entah tujuannya apa. Semenjak kejadian tersebut Bapaknya Dina sesering mungkin pulang ke rumah untuk menemani anak dan istrinya. Berobat kesana kemari sudah dilakukan oleh keluarga tersebut. Namun tetap tidak membuahkan hasil.
Suatu malam ibunya Dina menangis di kamar dan Iblis tersebut datang ke rumah Dina.
"Mau apalagi?" Ucap ibu Dina kepada Iblis tersebut.
"Aku hanya ingin melihat anakmu."
"Pergi, tidak usah mengganggu kita. Kita sudah tidak pernah mengganggumu lagi."
Kini iblis tersebut pergi tanpa sepatah katapun. Ibunya kembali menemani Dina yang sesekali memanggil ibunya untuk pergi ke toilet. Karena kini untuk jalanpun Dina merasakan kesulitan. Tetap melakukan pengobatan hingga tanpa merasa sia-sia. Walau belum menemukan titik terang. Namun iblis tersebut menggangu mereka kembali.
"Aku ingin anakmu mati." Ucapnya kepada Ibu Dina.
"Dia sudah sakit olehmu. Untuk apalagi kesini."
Seminggu setelahnya Dina yang terkenal kuat dan suka membantu sesama dikabarkan telah meninggal setelah melawan siluman iblis tersebut. Mungkin memang sudah seharusnya seperti itu. Ibu dan bapaknya mengikhlaskan kepergian anak tunggalnya tersebut. Walaupun penuh rasa kecewa, karena anaknya terkena sihir tersebut. Kini hari-hari ibu tersebut dilakukannya secara sendiri. Pergi ke pasar, pergi ke taman walau hanya sekedar duduk untuk menghilangkan kebosanannya jika di rumah sendiri. Bapak Dina pun lebih sering pulang ke rumah untuk menemani istrinya. Seminggu sekali mereka mengunjungi pemakaman Dina untuk melepas rindu kepada anak tunggalnya.
Sudah Minggu ke 4 Dina meninggalkan orang tuanya. Namun pada jalan pulang siluman iblis tersebut mendatangi orang tuanya. Terlihat siluman tersebut senang setelah membuat Dina kesakitan hingga meninggal.
"Apalagi yang kau inginkan?" Ucap bapak Dina dengan tegas.
"Aku hanya ingin melihat kalian saja. Apakah kalian bahagia atau tidak setelah kejadian tersebut."
Sebelum Bapaknya tersebut menjawab ternyata siluman iblis tersebut langsung pergi meninggalkan. Namun kedua orang tua Dina tidak menghiraukan hal tersebut dan tetap fokus untuk membenahi kehidupannya. Bahkan kedua orang tua Dina memilih dalam waktu dekat untuk pindah ke rumah lamanya yang berada di tengah kota.
Untuk menghilangkan kesedihan dan menghindari kedatangan siluman iblis itu. Setidaknya siluman tersebut tidak sesering ini untuk menjumpainya.
"Mah, dua hari lagi kita pindah."
Tepat hari Sabtu kedua orang tua Dina memilih untuk pindah walaupun berat meninggalkan semuanya namun tidak ada pilihan lagi. Untuk saat ini hanya hal tersebut yang bisa dilakukan. Mereka berdua berharap kehidupan kedepannya tidak lagi terjadi begitu sulit hingga merepotkan banyak orang.
Dua bulan sekali Ibu dan Bapak Dina menuju makam anaknya. Hanya sekedar menjenguk tidak lama mereka langsung kembali ke rumahnya kini.