Cerpen ini asli buatan sendiri yaaa!
Bukan karangan orang lain.
Semoga dapat bermanfaat.
Terima kasih 🥰
------~~~~~------
Pembalasan Dendam
“Sashh…, sassh…, duarr…” bunyi air ketika aku sedang berlatih.
Konon orang yang berlatih dalam penempaan diri, kekuatannya sama dengan seorang guru bela diri.
“Pelatihan diri dengan air es membahayakan tubuh, jika terus demikian… takutnya hidupku tidak akan melebihi umur 20 tahun…” ucapku dalam hati.
“Biarlah, asalkan aku bisa mendapatkan kekuatan dan dapat membalaskan dendam orang tuaku… semua pengorbanan ini tidak ada apa-apanya bagiku.”
“Wow, bukankah dia si hebat Chrimson?” Tanya seorang warga.
“Pergi menyiksa diri lagi?” Tanya warga yang lain.
“Manusia tidak berguna memang seperti sampah. Apakah tidak bisa berdiam diri saja? Untuk apa harus mencari penderitaan diri sendiri?”
Aku adalah Edward Chrimson. Aku lahir di kota A, merupakan keluarga besar Edward. Walaupun bukan keturunan langsung, tetapi tetap dapat hidup dengan nyaman.
Sewaktu aku berusia 10 tahun, kedua orang tuaku menyinggung perasaan Hendrick, seorang yang terkenal di kotaku, merekapun dicelakai olehnya. Demi membalas dendam orang tuaku, aku pun mati-matian melatih diri, demi menjadi orang hebat di antara orang seumuranku.
Aku pergi ke gunung untuk menghirup udara segar dan duduk di bawah pohon untuk berteduh. Ketika aku menoleh ke arah kanan, aku tidak sengaja melihat tanaman langka.
“Oh Tuhan! Bunga merak salju! Asalkan dikombinasikan dengan serbuk mawar, ini dapat meningkatkan kekuatanku secara drastis!” ucap ku dengan wajah yang Bahagia.
Aku pun berlari dengan semangat ingin pulang ke rumah untuk meracik nya, tapi di tengah jalan aku dihentikan kakak sepupuku yang bernama Niel dan beberapa orang-orang pengawalnya.
“Bukankah ini adik Chrimson?”
“Kau begitu terburu-buru, mau pergi ke mana?” Ucapnya dengan tatapan tajam.
“Kak… kakak… Niel, mengapa kau bisa berada di sini?” Ucapku dengan gemetar dan ketakutan. Aku pun tertegun melihat tatapannya yang tajam ke arahku.
“Kau ini semakin menjadi-jadi, banyak yang bilang, kurang setengah tahun lagi kau akan melampauiku menjadi nomor satu di kalangan pemuda keluarga Edward.” Ucapnya dengan senyum sinis.
“Kelak, jika bertemu denganmu, apakah aku harus menghindarimu? Tanya dia kepadaku dengan tatapan penuh kebencian.
“Mana ada! Meraka sembarangan berbicara! Aku tidak ada maksud menantang kakak Niel.” Ucapku dengan ketakutan.
“Apa…? Jika begitu, kakak akan membantumu agar seumur hidup tidak bisa bersaing denganku….” Ucapnya dengan senyum jahatnya.
Karena ketakutan, aku pun berencana untuk lari. Tetapi sebelum aku berlari, ia sudah menyuruh pengawalnya untuk menghancurkan dasar pelatihanku, sehingga aku tidak bisa berlatih seumur hidup. Kemudian, aku pun di buang ke jurang.
--------------------------------
“Uuggghhh…..” rintihku sambil memegang kepalaku yang terasa sakit.
“Apakah kau sudah bangun anak muda?” Tanya seorang kakek tua kepadaku.
“Si… siapa kau…dan mengapa kau menyelamatkanku?” Tanyaku dengan ketakutan.
“ Aku adalah Ketua di perguruan Naga Merah ini. Aku menemukanmu di dekat jurang, karena kau masih bernapas, jadi aku membawamu ke sini. Aku melihat ada bakat yang luar biasa dalam dirimu, jadi… maukah kau jadi muridku” Tanya kakek tua tersebut kepadaku.
Dan dengan bingung aku berkata “Dasar pelatihanku sudah dirusak, jadi aku tidak bisa berlatih lagi. Mengapa kau mau menjadikanku muridmu?”
“Aku sudah mengatakan, bahwa kamu memiliki bakat yang luar biasa dalam dirimu. Untuk dasar pelatihanmu, aku memiliki metode kuno untuk memperbaikinya.”
“Benarkah? Baiklah, terimakasih Guru” Ucapku dengan sangat Bahagia. Dan ia hanya membalasku dengan senyuman ketika aku memanggilnya guru.
Kemudian dia mengantarku ke sebuah kamar dan mengatakan bahwa kamar itu akan manjadi kamarku sekarang. Ia juga megatakan bahwa ia akan memperbaiki dasar pelatihanku besok.
Keesokan harinya, aku bangun dan dengan semangat pergi menemui guru. guru pun menyuruhku untuk duduk bersila, dan mulai memperbaiki dasar pelatihanku. Setelah selesai, guru memberikan buku tentang dasar pedang dan menyuruhku membaca buku tersebut. Kemudian guru menyuruhku untuk beristirahat, karena mulai basok aku akan mulai berlatih imu pedang.
Keesokan harinya,
“Sebelum kamu berlatih ilmu pedang, kamu harus tahu bagaimana memegang pedang dengan benar.” Kata guru sambil mempraktikkan cara memegang pedang yang benar. Kemudian guru mengajariku menggunakan pedang, dasar-dasar ilmu pedang, dan teknik pedang.
Setiap hari, guru akan mengajariku ilmu pedang dan Teknik-teknik bermain pedang. Hingga suatu ketika, guru mengajakku berjalan-jalan menuju pasar pedang. Tetapi banyak orang yang mencibirku dan mengatakan bahwa aku tidak layak menjadi murid guru, namun guru mengatakan bahwa aku tidak boleh membenci meraka tetapi lakukanlah yang terbaik agar aku diakui layak menjadi muridnya.
Guru juga mengatakan agar aku tidak memasukkan perkataan meraka ke dalam hati, yang membuat aku tidak percaya diri, tapi menjadikan perkataan mereka menjadi motivasi bagiku untuk lebih giat belar ilmu pedang.
Beberapa saat setelah perjalanan yang cukup jauh, aku dan guru pun sampai di pasar pedang. Disana guru membantuku memilih pedang yang cocok untukku, tetapi tanpa sengaja aku melihat pedang yg diselimuti oleh energi berwarna emas.
“Guru lihatlah, ada pedang yang di selimuti energi berwarna emas!” Ucapku dengan semangat, membuat guru langsung melihar pedang tersebut.
“Biasa saja, tidak ada yang spesial dari pedang ini.” Jawab guru sambil memegang pedang tersebut dan membuat aku kebingungan.
“Tapi aku melihat ada energi berwarna emas disekeliling pedang tersebut!” Jawabku, membuat guru bingung.
“Jika kamu suka, maka ambillah. Guru akan membayarnya!” Kata guru.
“Wahhh… terima kasih Guru.” Jawabku dengan wajah yang Bahagia. Setelah guru selesai membayar pedang itu, kami pun barjalan-jalan dan Kembali ke perguruan.
Di perguruan, aku belajar banyak Teknik pedang dari guru. Aku selalu berlatih dengan keras agar aku dapat menjadi kuat dan dapat membanggakan guru.
Setelah aku memiliki pelatihan yg cukup tinggi, guru mengutusku untuk belajar di luar perguruan. Aku pun pergi ke hutan untuk belajar bertarung menggunakan pedangku. Di hutan aku membunuh banyak binatang spiritual, dan aku mengambil inti spiritual yang ada pada binatang tersebut yang berguna untuk meningkatkan pelatihanku.
Seiring berjalannya waktu, aku pun sudah bertambah kuat, aku bahkan dapat membunuh binatang spiritual yang lebih kuat dibandingkan dengan aku.setelah aku merasa aku sudah cukup kuat, aku kembali ke kota A untuk membalaskan dendam orang tuaku.
Aku pun bergegas ke kota A dengan amarah yang tak tertahankan, mengingat kematian kedua orang tuaku. Sesampainya aku di kota A, yang pertama aku lakukan adalah membunuh kakak sepupuku yang telah merusak dasar pelatihanku. Ketika akan pergi, aku dihentikan oleh pamanku yang merupakan ayah dari kakak sepupuku itu. Paman sangat marah kepadaku karena aku membunuh putra tunggalnya. Paman pun menyerangku, dan dengan terpaksa aku melakukan perlawanan dan melukainya. Ketika melihat ia terluka, aku ingin membantunya, tetapi ketika aku mengingat bahwa ia adalah ayah dari kakak sepupuku yang ingin membuhku, dan ia juga tadi menyerangku, maka aku meninggalkan ia dengan rasa sakitnya.
Kemudian, aku pun bergegas pergi ke kediaman Hendrich. “Keluar kau, dasar pembunuhhh……!” Teriakku dengan keras.
“Ada apa ini?” Ucapnya sambil keluar dari kediamannya.
“Dasar pembunuhhh….!” Teriakku dan langsung menyerangnya dengan pedangku, tetapi ia bisa menghindar.
Aku pun menyerangnya dengan sekuat tenaga, tetapi tetap tidak bisa mengenainya. Aku pun menggunakan langkah bayangan untuk membuat ia bingung dengan arah pergerakanku. Ketika ia tidak waspada, aku pun menggunakan seluruh kekuatanku melancarkan serangan tiba-tiba dan memenggal kepalanya.
“euugghhh…..” (suara muntah darah)
“Akhirnya kamu mati, dan aku berhasil membalas dendam orang tuaku” Ucapku sambil tersenyum tipis, menahan rasa sakit akibat efek balik dari serangan tadi.
Aku pun langsung pergi ketika mendengar ada suara kaki yang mendekat.
Setelah aku pergi, aku pun mencari tempat bersembunyi untuk menyembuhkan lukaku. Setelah 1 minggu, aku pun keluar dari tempat persembunyianku, dan pergi untuk berlatih.
Aku pun sering pergi ke kontes bela diri untuk menambah pengalaman bertarungku, dimana kontes ini dilakukan untuk bertanding antara pembela diri yang satu dengan yang lainnya. Di kontes ini, siapa yang menang akan mendapat koin emas dari penyelenggara.
Aku juga sering ke hutan memburu binatang spiritual, untuk mengambil inti spiritalnya.
5 TAHUN KEMUDIAN
Kini pelatihanku sudah berada di tingkat yang tinggi, satu tingkat dibawah tingkat yang tertinggi. Aku pun berencana pulang ke perguruan menjumpai guru, untuk menunjukkan pelatihanku pada guru. Di perjalanan aku berhenti sejenak di restoran untuk mengisi perutku yang kosong.
“Hei, apakah kau tahu apa yang terjadi pada perguruan Naga Merah?” Tanya seorang kepada temannya di restotan tersebut.
“Ya tau lah, perguruan Naga Merah kan sedang di serang oleh Raja Iblis. Dan ketua dari perguruan itu mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi perguruan.” Jawabnya kepada temannya.
“Aku sangat takjub terhadap ketua perguruannya!” ucapnya sambil menyeruput kopi miliknya.
“deg…”
Jantungku seakan berhenti berdenyut. Duniaku serasa akan hancur mendengar berita tersebut. Aku pun terdiam bagaikan patung setelah mendengarnya. Satu-satunya alasanku untuk hidup di dunia ini telah hilang. Kemudian aku pun bergegas ke perguruan Naga Merah tanpa menghiraukan makananku yang baru saja diantar oleh pelayan.
Di perjalanan, mataku mengeluarkan air mengingat betapa baiknya guru kepadaku. Tangisku semakin pecah setelah menyadari bahwa orang-orang yang aku sayangi pargi meninggalkanku.
Sesampainya di Perguruan Naga Merah, aku pun melihat ada Iblis yang sangat besar. Aku pun menghiraukannya melihat para tetua sedang melawannya. Lalu aku bergegas masuk ke perguruan dan bertanya pada murid perguruan dimana guru berada. Dia pun memberitahuku bahwa guru berada di dalam kamarnya dan guru sudah meninggal dunia. Dengan menangis, aku berlari ke kamar guru.
“Guruuuu… mengapa kau meninggalkanku guru…!” tangisku dengan suara yang kencang dan memeluk guru.
Tangisku pun tidak berhenti hingga aku menyadari pakaian guru telah basah oleh air mataku. Aku pun menghapus air mataku dan memeluk guru untuk yang terakhir kalinya.
“Guru, aku akan membalaskan dendammu!” Ucapku sambil berdiri dan hati yang berapi-api.
Lalu dengan penuh amarah, aku bergegas keluar dan melihat para tetua perguruan yang sudah terluka. Aku pun mengatakan kepada pera tetua untuk mengobati luka mereka dan aku akan melawan Raja Iblis.
“Raja Iblis, aku akan membunuhmu…!” teriakku dengan penuh amarah dan langsung melompat dan menyerang Raja Iblis.
Aku menyerang Raja Iblis secara beruntun, tetapi pada serangan yang ke lima, aku terpental jatuh ke tanah. Aku pun berusaha sekuat tenaga menggunakan serangan yang mematikan. akhirnya setelah beberapa puluh kali serangan, Raja Iblis pun terluka. Tetapi walaupun Raja Iblis teluka, aku juga terkena efek samping jurus mematikan tersebut.
“Euugghhh….” (suara muntah darah)
Aku pun muntah darah karena terlalu sakitnya efek samping dari jurus mematikan tersebut.
“Aku terpaksa harus mengorbankan jiwaku untuk menggunakan teknik terlarang perguruan yang pernah aku baca tanpa sepengetahuan guru” ucapku dalam hati.
Dengan mengorbankan jiwaku, aku melakukan pemurnian jiwa, menggunakan teknik terlarang, dan mengeluarkan semua energi yang ada dalam tubuhku, mengalirkannya ke pedangku, dan dalam waktu satu tarikan napas, aku menebas Raja Iblis.
“Hufff… hufff… hufff….” Suaraku kelelahan setelah menghabiskan energi dalam tubuhku.
“Aku telah membalas dendam mu, Guru.” Ucapku dalam hati sambil tersenyum.
“Kita segera bertemu lagi, Guru…”
Akhirnya, aku pun menghembuskan napas terakhirku di dunia ini. Aku tidak sedih karena aku akan segera bertemu dengan guru dan kedua orang tuaku.
Karangan : Christian