"Dong!"
"Dong!"
"Dong!"
Jam Kota di puncak menara berbunyi keras tepat pada Pukul 00.00.
***
Di tengah Kota, di bawah menara...
Ratusan hantu sedang berkumpul, mereka berpesta ria. Namun, hantu - hantu itu hanyalah sebuah tiruan dari orang-orang yang mengenakan busana menyeramkan sehingga mirip dengan apa yang ada dalam imajinasi mereka yaitu Hantu Halloween.
Seorang Hantu tampan terlihat mendekati hantu lainnya.
"Hai Hantu berbaju merah! Cantik sekali malam ini?" sapanya.
"Hai juga, Pangeran Vampir! Kau pun begitu tampan," balas Hantu berbaju merah.
"Hahahay, hayo Gen Gou! Tempel terus Sheria!" hasut Hantu pendek pada si Gen Gou, Sang Drakula Tampan.
"Brisik kamu, Niken!" bentak Sheria si Hantu berbaju merah.
"Kabur!" seru Niken si Hantu pendek lantas berlari.
"Kau datang padaku di malam ini," Lagu mulai berputar.
Gen Gou menjulurkan tangannya, "Sheria, maukah berdansa bersamaku?"
"Tentu, Drakula Tampan." Jawab Sheria seraya memberi tangannya pada Gen Gou.
Kemudian, keduanya berserta semua pasangan hantu pun berdansa di malam yang semakin dingin.
"Memberi cahaya yang begitu indah," Lagu semakin mengeras.
"Sheria," ucap Gen Gou.
"Iya?" jawab Sheria seraya makin menatap mata Gen Gou.
"Set!"
Tak ada yang diucap dari taring Drakula Tampan, Gen Gou hanya menarik pinggul Sheria sampai begitu terlihat mesra dalam dekapan dansanya.
"Kau terangi hati, hatiku yang sepi,"
Lagu masih menyela kemesraan semua pasangan hantu. Begitu juga dengan Gen Gou dan Sheria yang semakin dekat wajahnya.
Aku menantimu seribu malam...
Telah Ku lalui gelapnya rindu ini...
Saat kau tak di sisiku...
Cintaku semakin menggebu...
Denting waktu suarakan kataku...
Yang kini ucap Aku mencintamu...
Semoga kau mendengarkan laguku...
Di saat aku...
Jauh darimu...
***
Bersamaan dengan dansa hantu dan putaran lagu, seseorang datang terlambat...
"Dizao, di manakah engkau?"
Bertanya sambil menerobos semua hantu yang berdansa, Pria berambut kilau merah mencari seorang wanita bernama Dizao.
***
Sementara di sudut lainnya, terlihat Niken mendekati sahabatnya...
"Hei, Hantu Bergaun Biru! Sendirian saja?" Niken langsung saja menyapa sahabatnya seraya duduk.
"Hantu Pendek, sepertinya ... dia tidak datang," ucap si Hantu bergaun biru.
"Bukankah tadi sore dia bilang akan datang, Dizao?" tanya Niken.
"Iya, tapi sampai sekarang dia belum juga datang," balas Dizao seraya melihat handphone yang sedari tadi digenggamnya.
"Apakah kamu sudah hubungi dia lagi?" lanjut Niken.
Hanya melihat handphonenya, Dizao terlihat kecewa. "Mungkin Wa Soo Hyun tidak akan datang." Kemudian, Dizao berdiri, "dia pasti ketiduran!" kesalnya.
"Jangan kecewa begitu, Dizao! Malam ini adalah Malam Halloween, apapun bisa terjadi. Dia itu hantu paling tampan, bahkan Gen Gou si Drakula tak bisa menandingi hantu ...." Niken tak melanjutkan kalimatnya karena di sampingnya sedang melesat Hantu Berambut Killau Merah.
"Greep!" Tangan Dizao dipegang.
"Apaan sih Niken?" Dizao tambah kesal.
"Aku lari!" seru Niken dalam lirikannya pada Wa Soo Hyun si Hantu Berambut Kilau Merah.
"Niken!" seru Dizao.
"Niken?" tanya Dizao.
"Hantu Pendek sudah pergi. Ini aku, Wa Soo Hyun," ucap Si Hantu Berambut Kilau Merah.
Dizaou begitu terkejut, ia pun dengan cepat berbalik badan. "Wa Soo Hyun?" Kemudian ia memeluk pria yang sedari tadi ditunggunya.
Wa Soo Hyun membalas pelukan Dizao. Ia pun berucap, "maaf, aku terlambat Dizao."
"Diam dulu, aku kedinginan!" tegas Dizao.
Entah apa yang sesungguhnya dirasa oleh Dizao. Meski sedang berpelukan dengan Wa Soo Hyun, ia tetap kedingingan.
***
Dizao menatap mata Wa Soo Hyun...
"Matamu merah?" tanya Dizao.
"Benarkah?" Wa Soo Hyun berpura-pura.
"Iya, seperti mata hantu saja!" cetus Dizao.
Wa Soo Hyun tertawa, kemudian ia menatap lebih mata Dizao. "Aku mendapatkan warna ini saat berada di depan pesta, terang bukan? Hahaha!" canda Wa Soo Hyun.
"Terang ... benar-benar seperti mata hantu," ujar Dizao.
"Dizao, aku ...." Ucap Wa Soo Hyun terhenti begitu Dizao menutup matanya.
"Tak!" Wa Soo Hyun memetakan ibu jarinya.
***
Dalam sekejap, dimensi berhenti...
Gen Gou dan Sheria terlihat berhenti berdansa. Niken si Hantu Pendek terlihat berhenti berlari di udara, dan semua hantu di Pesta Malam Halloween berhenti bergerak.
Hanya Dizao dan Wa Soo Hyun saja yang tak berhenti bergerak. Keduanya pun semakin mendekatkan wajah.
"Dizao, sebenarnya aku ...."
Lagi-lagi Wa Soo Hyun berhenti berucap karena ia gugup melihat wajah Dizao tak lagi berjarak dengan wajahnya.
Untuk beberapa saat, dalam waktu yang terhenti, mereka berdua berciuman.
Namun, di saat Dizao menjeda kecupannya, ia terkejut dengan apa yang dilihat.
"Wa Soo Hyun?" Dizao heran.
Bukan lagi terkejut, Dizao mulai berkaca-kaca di matanya saat melihat Wa Soo Hyun mulai terlihat aneh.
"Tes, tes, tes!" Air mata Dizao jatuh berlinang.
"Sebenarnya aku sudah di sini sedari tadi sebelum pesta dimulai, tapi aku terlambat. Hahaha," ujar Wa Soo Hyun.
Meskipun mengajak Dizao bercanda, tubuh yang mulai transparan itu tak dapat menahan jatuhnya air mata Dizao.
Di saat yang bersamaan, dimensi kembali normal, namun tubuh Wa Soo Hyun semakin tidak normal.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Dizao.
"Yang terjadi ... hanyalah ... aku telah mendapatkan cintamu meskipun terlambat." Jawab Wa Soo Hyun masih dengan ekspresi wajah yang tersenyum.
"Liiiuuup! Liiiuuup! Liiiuuup!" samar-samar sirene ambulan mulai mengeras.
"Aku terpanggil. Hahaha!" lanjut Wa Soo Hyun.
"Itu ... Ambulance?" Dizao heran.
"Wa Soo?"
"Wa Soo Hyun?"
"Tidaaak!!!"
Setelah melirik ke arah dari mana bunyi sirene ambulance berasal, Dizao tak lagi mendapati Wa Soo Hyun di depannya.
Ia pun berlari ke arah di mana ambulance berhenti.
"Tidak, tidak mungkin! Wa Soo Hyun!" teriak Dizao dalam langkahnya yang semakin cepat.
"Liiiuuup, liiiuuup, liiiuuup!"
"Wa Soo Hyun!"
"Tidak! Tidak mungkin!"
Teriakan histeris Dizao berbaur dengan bunyi sirene ambulance begitu ia sampai di tepi jalan tak jauh dari tempatnya duduk termenung.
Kemudian, ia pun memangku kepala yang berambut dan bermata kilau merah akibat darah yang terkena cahaya lampu.
"Dizao? Uhuk!" Wa Soo Hyun berusaha bicara.
"Bertahan, bertahanlah! Wa Soo Hyun!" tegas Dizao.
"Aku ... uhuk!" Wa Soo Hyun semakin kehilangan kendali bicaranya.
"Please, bertahanlah! Wa Soo Hyun!" bujuk Dizao.
"Aku ... Aku mencintaimu, iya! Aku datang untuk mengatakan aku mencintaimu dari dulu, kamu juga begitu bukan, Dizao?" Wa Soo Hyun sudah benar-benar kehilangan kendali bicaranya, ia justru mengucapkan soal cinta di ujung mautnya.
"Iya, aku juga. Aku cinta kamu Wa Soo Hyun! Jadi bertahanlah! Hiduplah agar cinta kita tak terhenti!" tegas Dizao.
"Syuut!" Wa Soo Hyun menyentuh wajah Dizao dengan tangannya yang berkilau merah juga.
"Terimakasih. Tapi ...."
"...."
***
Menutup dan membuka mata...
"Bangun! Woy! Bangun!"
"Jangan tidur!"
"Sebentar lagi jam 12!"
"Ayo berangkat ke Pesta Halloween!"
"Iya, iya! Dasar Gugug!"
"Apa kau bilang!"
"Gen Gou, ya! GG!"
"Brengsek, Kau! Cepat, Niken juga Diza sudah di pesta!"
"Iya Gugug! Eeeh, GG! Hahaha!"
"Brengsek!"
"Huft, hanya mimpi!" ucapku.
****
*The End*