¬Ibu Peri💓¬
Kak, malam ini kita tidak jadi pulang. Adikmu masuk Rumah Sakit. Mendadak badannya panas, dan kata dokter harus dilakukan observasi malam ini. Maaf ya sayang, kamu hati-hati di rumah. Peluk cium Mamah, Papah dan Arka.
What!!!
Kedua mataku terbelalak saat membaca pesan WhatsApp dari sosok wanita yang 17 tahun lalu melahirkan ku ke dunia ini.
Kami baru saja pindah ke rumah ini seminggu yang lalu, lalu sekarang aku harus sendirian di rumah belantai dua yang kanan kiri depan belakang nya pepohonan.
Rumahku dengan rumah yang lainnya berjarak cukup jauh. Kami baru pindah dari kota yang bergambar huruf K di peta ke kota yang dijuluki sebagai kota kembang.
Biasanya kemana Papah dan Mamah pergi aku selalu ikut, tapi hari ini adalah hari pertamaku masuk di sekolah baruku. Jadi aku tidak bisa izin untuk ikut kedua orangtuaku mengunjungi kerabat di kota ini.
Namaku Arumi Dewi, aku duduk di bangku SMA kelas 2. Tinggiku 160 untuk saat ini, dan berat badanku 46 kg seminggu yang lalu saat aku datang ke sekolah untuk mendaftar. Aku tidak terlalu cantik, tapi orang selalu bilang aku ini cantik. Entah dari sisi mana mereka melihatmu, hingga bisa berkata demikian.
Jarum jam menunjukkan pukul 19.10 WIB adzan isya telah berkumandang sejak beberapa menit yang lalu. Aku segera turun dari tempat ternyamanku dan berlalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Setelah sholat, cacing-cacing di perutku tiba-tiba bunyi meminta jatah makan malam. Padahal tadinya aku tidak mau makan, karena malas untuk turun ke dapur. Aku mengambil benda pipih di atas kasurku dan menyalakan musik supaya tidak terlalu sepi.
Untung saja aku rajin, saking rajinnya sejak pukul 16.00 WIB lampu di setiap ruangan sudah aku nyalakan.
Sesampainya di dapur, aku membuka freezer boks yang di khususkan untuk menyimpan berbagai hasil olahan tangan Mamah dalam bentuk berbagai macam roti.
Aku mengambil dua potong pizza yang masih terbungkus plastik mika. Aku mencari saus, sosis dan keju untuk toping. Entah akan seperti apa rasanya, tapi setidaknya bisa masuk ke dalam perutku yang sudah demo sejak beberapa saat yang lalu.
Saat aku sedang menghangatkan Pizza di dalam microwave. Tiba-tiba benda pipih kesayangan ku berdering pendek, menandakan sebuah pesan masuk.
+628123696xxxx
¬Jangan bukakan pintu kalau tidak ada suara si pengetuk.¬
Hanya itu yang tertulis di pesannya, butuh beberapa saat untukku berpikir maksud dari isi pesan yang di kirimkan dari nomor tak di kenal. Mungkin orang iseng, pikirku.
Lamunanku di buyarkan oleh suara microwave, akhirnya makananku sudah siap. Saat itu laparku lebih menakutkan dari apapun, aku sudah melupakan pesan yang baru saja aku terima.
Dan aku menyantapnya di meja makan yang juga berada dalam satu ruangan dengan dapur. Musik masih terdengar, saat ini terdengar sebuah lagu berjudul Aku Cuma ingin Kamu by Sandy Carnezter (2019)
Aku cuma ingin kamu
Yang menemani hidupku
Sampai kita tua hidup bahagia
Selama-lamanya
Aku cuma ingin kamu
Yang menemani malamku
Sayang, percayalah semua akan indah
Pada waktunya
Dua potong Pizza dan teh hangat habis tanpa tersisa, perutku sudah kenyang dan aku akan bisa tidur dengan nyenyak nanti malam. Tapi saat aku hendak menaiki tangga menuju kamarku, tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk.
Aku teringat dengan isi pesan yang masuk beberapa menit lalu. Awalnya aku ingin biarkan saja dan segera ke kamar tanpa memperdulikan siapa yang datang, bukannya aku jahat tapi aku ingin berjaga-jaga dari tindakan kejahatan yang saat ini semakin merajalela.
Saat sudah di tengah-tengah anak tangga, suara ketikan pintu terdengar lagi. Seketika suasana menjadi begitu hening, bulu kuduk ku berdiri seketika. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat ini, membukanya atau membiarkannya.
Suara ketukan terus terdengar, aku memberanikan diri berjalan ke ruang tamu mendekati pintu. Aku duduk di sofa, menunggu pintu di ketuk lagi. Aku menunggu sampai lima menit lamanya, akhirnya pintu di ketuk lagi.
"Siapa disana?" Tanya ku setengah berteriak.
¬Mah...Mamah pulang? ¬
Dengan tangan gemetar aku mengetik sebuah pesan pada Mamah ku. Dan dua menit kemudian Mamah membalasnya.
¬Ibu Peri💓¬
Enggak Sayang, kan Mamah sudah bilang. Adikmu harus menginap semalam di Rumah Sakit. Ada apa Nak?
Seketika jantungku seperti berhenti untuk beberapa saat. Tidak ada jawaban dari balik pintu dan suara ketukan sudah berhenti. Aku segera berlari menuju kamarku, sekuat tenaga aku keluarkan untuk menaiki anak tangga.
Aku tak berani menoleh ke belakang aku merasa seperti ada yang mengikuti, aku semakin panik. Setelah melewati anak tangga aku harus melewati beberapa kamar untuk sampai di kamarku. Aku kembali lari sekuat tenaga, sesampainya di kamar aku segera mengunci pintu kamarku dan duduk di balik pintu mengatur nafasku.
Aku benar-benar ketakutan, tiba-tiba ponselku berdering kembali menandakan sebuah pesan masuk dari nomor yang yang sama, nomor tidak di kenal.
+628123696xxxx
¬Apa aku bilang? Jangan pedulikan suara ketukan pintu di jam-jam segini.¬
Pikiranku semakin kacau, aku segera berlari menuju kasurku masuk ke dalam selimut. Berharap segera terlelap dan malam akan segera berganti pagi.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, kilat beberapa kali terdengar dengan cukup keras. Ketakutanku semakin bertambah, aku baca beberapa surat pendek yang aku hafal untuk menenangkan diriku. Sampai-sampai aku tak sengaja ketiduran malam itu.
Kring.. Kring.. Kring..
Suara jam weker karakter doraemonku berbunyi, dengan malas tanganku meraba nakas di samping kasurku untuk mengambil jam weker dan mematikan nya.
Tapi tak sengaja aku menyentuh sebuah tangan, kedua mataku segera terbuka. Siapa yang pagi-pagi sekali berada di kamarku? Bukankah Mamah masih di Rumah Sakit menjaga Adikku?
Dengan perlahan aku mengintip dari balik selimut, untuk melihat siapa yang ada di depanku. Dan tanpa di duga sebuah wajah sudah berada di depan mataku dengan jarak cukup dekat.
Aaaaaaaaaaaahhhhhhh...
Aku berteriak sekencang mungkin, jantungku hampir terlepas begitu saja. Nyawaku hampir lewat begitu saja. Sontak dia memelukku membelaiku dengan lembut, aku mengenali bau parfummya.
"Papah....." Panggilku, butiran bening lolos begitu saja dari ujung mataku.
"Jangan menangis, Papah disini." Ucapnya berusaha menenanganku yang masih terisak.
"Ini benar Papah kan? Atau hantu yang menyerupai Papah?" Tanya ku tak berani menatap wajahnya.
"Ini Papah Kak. Semalam Papah langsung pulang saat kamu tidak balas pesan Mamah. Dan semalam Papah bertemu dengan Pak Joko, yang dulunya jaga rumah ini katanya dia mengetuk pintu beberapa kali tidak ada jawaban." Ucap Papah.
"Ja.. Jadi semalam itu Pak Joko? Kenapa Pak Joko diam saja?Padahal aku sudah tanya siapa..." Ucapku masih terisak.
"Pendengaran Pak Joko sudah berkurang Kak. Usianya saja sudah 86 tahun. Papah semalmam mengetuk pintu kamar u tapi sepertinya kamu sudah tidur."
"Jadi Papah putuskan untuk kembali saja ke kamar. Dan pagi ini Papah lihat kamarmu masih terkunci, jadi Papah khawatir. Akhirnya Papah buka pakai kunci duplikat. Maaf ya sudah membuatku takut." Ucap Papah lagi mengecup pucuk kepalaku.
Akhirnya aku ikut dengan Papah menjemput adikku. Kebetulan hari ini hari sabtu jadi aku libur, karena sekolahku hanya masuk dari hari Senin-Jumat.
.
.
.
Terimakasih yang sudah berkenan membaca cerpenku.
Jangan lupa Like dan komen nya ya 🎃🎃