Perkenalkan, nama ku Rabela Candrawati atau kerap disapa Ara.
Sudah tiga hari ini aku dan teman teman tim ku yang ber anggota kan lima orang ini berada di kampung Cempaka. Sebuah perkampungan yang jauh dari perkotaan ini terkenal dengan luasnya perkebunan karet yang di budidaya oleh warga sekitar nya.
Tepat nya satu bulan yang lalu, aku dan tim mendapat tugas mata kuliah Ekologi tumbuhan. dan kami semua sepakat untuk menjadikan karet sebagai objek pembahasan. Selain karena tanaman tumbuhan ini bernilai ekonomis tinggi, Indonesia juga merupakan penghasil getah karet (lateks) terbesar kedua di dunia. Produk hasil olahan getah karet di gunakan sebagai bahan baku dan bahan produk alat kesehatan.
Pertumbuhan pohon karet sangat baik ketika berada di wilayah tropis. Oleh sebab itu, wajar jika sebagian negara produsen karet terbesar berasal dari Asia tenggara. Bagian yang dimanfaatkan dari pohon karet ialah getah nya, yang didapat dari proses penyadapan.
Seminggu lama nya kampus memberi kami waktu untuk menyelesaikan penelitian kami sampai selesai. Dan ini adalah hari ke empat kami semua berada di kampung cempaka.
Kami semua menjalani rutinitas seperti biasa. Tim yang beranggotakan lima orang terdiri dari Bima, Raima,Bella Arka dan Aku. Kami menempati dua rumah kecil atau orang kampung sini bilang rumah bedeng yang kosong.
Rumah bedeng adalah rumah darurat atau rumah sementara bagi para pekerja. Atau lebih tepat nya, rumah bedeng ini di sediakan bagi para pekerja perkebunan karet yang belum memiliki hunian. Oleh sebab itu, letak nya pun di dirikan tidak jauh dari lahan perkebunan karet.
Dua minggu yang lalu tepat nya sebelum kami benar benar melakukan penelitian disini,kami sempat bertemu dengan pemilik lahan perkebunan, guna meminta izin untuk ikut serta bersama para pekerja agar lebih maksimal dalam mendapatkan hasil penelitian, karena bersama mereka kita bisa mendapatkan tambahan informasi yang mungkin tidak tercantum di internet.
Aku sebagai ketua tim kemudian di kenalkan dengan Dian. Se orang pemuda putra dari mandor yang bertugas mengawasi perkebunan karet di kampung Cempaka. Perawakan yang tinggi bertubuh tegap dan juga tampan, tak di pungkiri ketampanan Dian ini mengalahkan pesona Bima dan Arka. Meski ia adalah pemuda kampung yang jauh dari peradaban kota, namun ketampanan nya cukup memikat para wanita. Berada empat hari di kampung ini, aku cukup tau bahwa memang dia adalah perjaka idola nya kaum hawa. Dian di tugaskan untuk mendampingi kami selama penelitian disini.
Sabtu pagi, cuaca cukup cerah dan hembusan angin segar terasa, air embun masih terlihat menetes di dedaunan sekitar bedeng, meski waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi, namun suasana disini terasa masih sangat pagi, itu dikarenakan rindang nya pepohonan di sekitar membuat sinar matahari yang masuk terhalang, dan hanya mampu menembus celah celah dahan pohon yang renggang.
" Loh, kalian sudah mau berangkat?!" Tanya ku saat ku lihat Ima dan juga Bella menjinjing sepatu di tangan mereka, juga tas ransel yang biasa mereka gunakan saat penelitian.
" iya lah, ini kan udah siang Ra, makanya kalau tidur jangan kaya kebo, orang lain kemana, lo mah sibuk molor aja kerja nya "
" ini kan udah siang, pekerja juga udah pada balik kali, ngapain kesana lagi. Udah lah besok pagi aja lagi ya "
" kali ini, kita mau liat bibit karet yang baru dateng ra, kemarin Bima udah konfirmasi sama Dian ko'. udah ah, yuk kita jalan, lo mau bareng kita gak?" Tanya Bella
" kumpul nya dimana?!" Tanya ku penasaran
" gak jauh ko, di bukit depan rumah Dian, lahan nya kan masih kosong, kata Arka rencana nya bibit baru akan ditanam disana. Ini kesempatan kita buat dapet dokumentasi saat penanaman bibit baru. Makanya kalau mau bareng ayok cepetan, Arka sama Bima udah duluan nyampe sana "
" ya udah, kalian duluan aja gih, ntar gue nyusul. Orang deket ini tempat nya, gue tau ko "
" ya udah kalau gitu, kita duluan. Tapi awas lo, ntar susulin kita ya Ra "
" iya iya. Pasti gue nyusul ko. "
Bella dan Raima kemudian pergi menuju sebuah perbukitan lahan yang hendak di tanami pohon baru. Sementara Ara, dirinya dengan segera bersiap hendak menyusul ke empat teman nya.
--------
Suasana di perbukitan lahan baru.
Sesampai nya di sana , Ara segera bergabung dengan ke empat kawan nya yang sedang sibuk melakukan penelitian, dengan serius mereka semua mengerjakan tugas mereka agar cepat selesai.
" yah, laptop nya mati ..!"
" ya ampun Ra, baru juga dipake, lagian lo ceroboh nya gak ketulungan ya, semalem kan udah gue suruh buat di charger tuh laptop !" Seru Bella dengan emosi. Pasal nya laptop itu adalah satu satu nya yang mereka gunakan untuk mengerjakan laporan saat ini setelah dua hari lalu laptop milik Bima jatuh di sebuah tebing saat mereka menuju air terjun di sekitar kampung cempaka. Dan itu nenyebabkan semua laporan yang sudah mereka susun terpaksa di buat ulang di laptop milik Ara. Karena di antara mereka ber lima hanya Bima dan Ara yang membawa laptop.
" ya udah, bikin catetan aja dulu di buku, nanti kita selesain di bedeng " ucap Arka menenangkan
" tapi laporan ini udah harus dikirim ke dosen siang nanti Ka, mana kata Dian seharian ini akan ada pemadaman lampu serentak "
" apa? Jadi gimana dong, gays? Sorry ya, gue bener bener minta maaf, gara gara kecerobohan gue ini "
" udah, sekarang lo turun temuin Dian, lo minta bantuan ke dia, gimana ke' supaya lo bisa charger tu laptop terus lo input ni laporan nya, poko nya gue gak mau tau, hasil penelitian kita kali ini udah harus lo kirim ke dosen siang nanti !" Ucap Bella dengan tegas.
" Lah, Dian nya dimana?!"
" Dian tadi pulang ke bedeng, lo susul aja dia ke rumah nya ra. Untuk sementara hasil laporan kita disini di catet di buku dulu, habis itu kita susulin lo nanti kita kerjain bareng bareng, tanggung ni dikit lagi, kita bagi tugas gak papa ya? Biar cepet kelar juga kan tugas nya " ucap Bima dengan bijak
" iya Bim, gak papa, ya udah gue turun dulu yah, gue mau nyari Dian dulu "
-----
Di rumah Dian
" loh, Ara? Ngapain kamu kesini? Aku baru aja mau berangkat kesana nyusulin kalian " ucap Dian saat ia melihat kedatangan Ara yang hendak menghampiri nya.
" Gak papa, kamu gak perlu susulin mereka, aku mau minta tolong sama kamu boleh?"
" boleh, kenapa?"
" di kampung katanya ada pemadaman listrik serentak ya Ian?"
" iya Ra, kemarin ada pohon tumbang yang menyebabkan kabel utama penyambung listrik putus, jadi kemungkinan saat ini sedang di perbaiki. Memang nya kenapa?!"
" aku perlu nge charger laptop Ian, ini darurat banget. Kamu bisa anter aku gak, kemana gitu yang gak terkena dampak pemadaman, rumah makan atau warnet atau apalah biar aku bisa ikut nge cass laptop disana "
" oh, itu masalah nya. Ya udah aku anter ke kampung sebelah yuk "
" alhamdulillah, syukur lah, bener ya disana listrik nya dipastikan nyala"
" iya. Ayo aku anter naik motor biar cepet nyampe juga kesana "
" thank you yah Ian "
" Ia "
Mereka kemudian menuju kampung sebelah, sebuah perkampungan yang sangat minim penduduk, dikarenakan beberapa tahun silam ada sebuah kejadian mistis yang menyebabkan penduduk nya berpindah tempat. Sepanjang perjalanan yang di lalui hanya ada bangunan bangunan kosong yang sudah lama tak di tempati. Ke adaan sekitar terasa dingin mencekam, padahal siang itu cuaca cukup panas.
" Ian, tempat nya ko serem gini sih, ini yakin masih ada penduduk yang mau tinggal disini?"
" ada Ra, cuma ya, tinggal dikit, yang tersisa hanya beberapa penduduk yang tinggal di ujung kampung ini, kita ambil jalan pintas ya supaya cepet nyampe, kalo ikut jalan gede bisa lama nyampe nya, belum lagi jalanan nya jelek Ra, maklum, kampung tertinggal, udah gak ada yang urus juga "
" tapi listrik aman ya Ian "
" aman Ra, tenang aja "
Tidak lama kemudian, mereka sampai di sebuah perkampungan, sekilas Ara lihat tidak ada yang aneh dengan orang orang disini, semua orang terlihat sedang ber aktifitas layak nya perkampungan biasa. Disana terdapat sebuah warung makan, Ara dan Dian segera masuk kedalam, dan memesan beberapa cemilan juga minuman. Dengan segera Ara membuka tas ransel nya, mengeluarkan laptop milik nya untuk segera di isi daya, tidak lama ia mulai sibuk mengerjakan beberapa laporan yang belum sepat ia selesaikan tadi.
" Ra, aku mau nemuin seseorang dulu yah, udah lama juga gak kesini, sekalian ketemu dia bentar "
" ok Ian, tapi nanti kalo mau pulang jemput aku lagi kesini ya "
" ok siap Ra..! Aku pergi ya !" Ucap Dian seraya keluar dari warung tersebut.
-----
Dua jam berlalu, laptop sudah terisi daya penuh, laporan juga sudah selesai ia kirim, Ara celingukan sendiri disana. Pasal nya keadaan sekitar sangat sepi, bahkan sejak kedatangan nya tadi, tak ada satu orang pun yang mampir ke warung tersebut, padahal di sepanjang jalan yang Ara lihat tadi saat menuju ke sini, tak ada warung lain selain warung yang ia tempati saat ini. Dan saat dirinya menengok ke luar, keadaan sekitar sudah mulai gelap, sungguh aneh memang, padahal jika di hitung sejak kedatangan nya tadi, dan ditambah dua jam lama nya ia disana,seharus nya ini masih siang, dan saat Ara hendak mengecek waktu di ponsel nya, entah kenapa tiba tiba tak ada pergerakan waktu disana, dengan segera ia membuka laptop nya kembali, tapi hasil nya sama saja, tak ada pergerakan yang diperlihatkan jam digital disana. Se olah semua pergerakan waktu berhenti begitu saja. Dengan panik Ara meneriaki si ibu penjaga warung yang tadi sempat melayani nya
" bu, permisi...!! Bu....!" Teriak Ara dari luar
Se orang ibu tua keluar dari dalam warung, tatapan nya tajam, aura nya terasa dingin. Sampai sampai bulu kuduk ara merinding tiba tiba.
" eh emhh,, ma-maaf bu, saya sudah selesai, jadi berapa total makanan saya bu, sekalian saya mau ngucapin makasih juga, saya sudah di perbolehkan ijin mengerjakan tugas disini tadi " ucap Ara dengan gugup
" tidak usah cu, teman mu tadi sudah membayar semua makanan nya " ucap si ibu sambil masuk kembali kedalam warung begitu saja.
Sementara Ara hanya diam mematung, jantung nya berdetak dengan sangat cepat, kaki nya bergetar dan merasa lemas seketika, dalam hati ia bertanya, siapa yang sudah membayar pesanan nya tadi, sementara Dian saja masih belum kembali sampai sekarang. Dengan sekuat tenaga ia berusaha melangkahkan kaki nya sambil meyakinkan dirinya, Mungkin Dian lah yang sudah membayar makanan itu di awal.
Suasana benar benar terasa mencekam, semilir angin dingin terasa menembus kulit, cuaca gelap namun tidak turun hujan, dan jika Ara perkirakan, seharus nya memang waktu belum tiba malam, karena menurut perkiraan yang Ara perhitungkan, seharus nya jam menunjukan pukul 2 lebih atau jam 3 sore semenjak kedatangan nya tadi. disana Ara berjalan melewati beberapa rumah kosong tanpa penghuni, namun masih terlihat beberapa warga yang menatap nya dingin. Namun Ara mencoba untuk tetap tenang, mungkin mereka menatap nya seperti itu karena memang mereka tidak mengenali Ara. fikir nya dalam hati.
Dengan segera ia mempercepat langkah nya, ia berniat berjalan saja sambil menunggu kedatangan Dian kembali, karena jujur saja ia sudah tidak betah berlama lama tinggal di warung itu, syukur syukur dirinya bisa sampai dengan cepat ke kampung Cempaka, biar saja Dian pulang sendiri, toh dirinya sudah cukup mengenal tempat ini juga, paling paling nanti ia pulang sendiri saat tidak menemukan Ara disana.
Namun tepat di ujung jalan, Ara melihat ada beberapa jalur trek jalan yang jujur saja sangat asing bagi nya, karena selama menuju kesini tadi, ia tidak dengan teliti jalan mana yang di lewati.
" aduh, ini kemana ya, " gumam Ara sambil menimang nimang jalan mana yang akan ia ambil. " lah, kenapa gue nggak ke ingetan sama handephone ya, gue kan bisa hubungi Bima sama yang lain, se enggak enggak nya, disana kan ada kompas " momolog Ara, sambil membuka tas ransel di punggung nya.
" loh kenapa handphone gue mati ? Aduh ceroboh banget sih elo ra, kenapa juga nggak ikut di cass tadi, yah laptop..! ( sambil dengan segera Ara mengambil laptop dan berusaha menghidupkan nya) lah, kok laptop nya juga mati sih, padahal kan tadi udah gue isi daya penuh, ini aneh, bener bener aneh. " gumam Ara dengan rasa panik yang luar biasa.
Saat ia menengok ke kiri dan kanan terlihat se orang ibu muda yang sedang membersihkan pekarangan rumah yang entah sejak kapan ia ada disana, Ara kemudian menghampiri nya dan bertanya.
" maaf bu, jalan menuju kampung cempaka yang mana ya?" Tanya Ara sopan, sementara yang ditanya hanya menatap Ara dengan tersenyum. terlihat manis namun dingin, tanpa ada jawaban, senyum ibu itu lama kelamaan berubah menjadi tawa yang terdengar menakutkan.
Ara benar benar terkejut, dengan rasa panik yang luar biasa,ia dengan segera berlari menjauh
" ya tuhan, sebenarnya aku ada dimana ini " gumam Ara sambil terisak, air mata nya luruh begitu saja, badan nya bergetar ketakutan, kaki nya terasa lemas, fikiran nya benar benar kacau, ia bingung harus melangkah kemana lagi, di hadapan nya banyak sekali jalan, namun tiap kali Ara mencoba memilih jalan itu satu persatu pada akhir nya ia tetap akan kembali pada posisi nya semula, lalu ia kembali mencoba jalan yang lain tapi tetap saja pada akhir nya ia kembali ke tempat dimana ia bertemu dengan wanita yang menertawakan nya tadi.
Disana Ara benar benar merasa putus asa, ia berteriak dengan keras sambil menangis ketakutan.
Suasana disana semakin menggelap, namun tak ada satupun lampu penerang jalan ataupun lampu dari rumah penduduk yang menyala.
Sementara Ara hanya terdiam di atas tanah, isakan tangis nya masih terdengar pilu, keadaan nya sudah benar benar kacau,
Namun di tengah tengah keputus asaan nya, Ara sempat mendengar bisik kan " sebut asma allah Ara, sadarlah " setitik harapan ia dapat kan, mulut nya kumat kamit merafalkan do'a do'a, satau dan sebisa nya, dengan sangat Yakin Ara memanjatkan do'a do'a perlindungan pada sang kuasa.
Dengan sedikit harapan, tanpa penerangan apapun, Ara mencoba meraba raba jalan, kadang ia berjalan dengan berjongkok, batin nya menjerit pilu, ia benar benar ketakutan di tengah gelap nya suasana malam yang mencekam sendirian. Hingga entah darimana dan bagaimana kejadian nya, ia membuka mata nya perlahan, terdengar samar samar di telinga nya suara kehidupan. Percakapan beberapa orang, juga kegiatan orang orang di sekitar yang sedang melakukan aktifitas layak nya kehidupan normal pada umum nya.
Meski tidak dengan jelas, kini Ara dapat melihat samar samar orang orang menatap nya dengan tajam, pembawaan nya terasa dingin dan kaku. Ara tak sanggup menatap mereka satu persatu, ia hanya terus berjalan dengan tergesa gesa, berharap agar Ia bisa segera keluar dari dunia aneh ini.
Dengan terus merafalkan do'a do'a di sepanjang langkah kaki nya, Ara melihat ada setitik cahaya terang di ujung jalan, dengan sekuat tenaga yang masih tersisa, ia mendekati sinar tersebut hingga akhir nya
Brukkkk..... Ara tak lagi sanggup melanjutkan langkah nya, ia kehilangan kesadaran tepat setelah dirinya masuk kedalam lingkaran cahaya yang tadi ia lihat.
---------
" Ra, Ra bangun ...!! lo kenapa sih Ra, jangan bikin kita semua panik dong...!! Ucap Bella ,
Disana Bima, Arka,dan Raima juga ada, mereka semua menemukan Ara tergeletak tak sadarkan diri di depan rumah bedeng yang mereka tempati.