Pada suatu masa terdapatlah sebuah kota kerajaan yang bernama Hunts yang diserang oleh sekelompok setan api. Kelompok tersebut dipimpin oleh masternya yang bernama Dabos. Wujud Dabos berupa setan dengan rambut yang berapi dan bertanduk. Dabos dan pasukannya melihat kota kerajaan tersebut dan berencana untuk merebutnya. Mereka menyerang dan berhasil menguasainya. Dabos merasa senang dan tertawa. Semua tentara kerajaan yang dikerahkan tidak bisa melawannya.
40 tahun kemudian di sebuah desa kecil ada seorang prajurit dari kerajaan Hunts datang dan mengumumkan sebuah undian bahwa siapa yang bisa melawan dan mengalahkan Dabos di Colossal Coliseum akan diangkat menjadi raja kerajaan Hunts.
Namun semua warga desa itu merasa takut melawan pasukan setan api. Akan tetapi ada satu warga yang bernama Asoka yang berani untuk mencoba. Asoka berkata “Baiklah aku akan melawannya dan aku siap.” Prajurit itu berkata “Baiklah anak muda aku harap kamu tidak akan mati dalam petarungan itu. Kamu harus bersiap selama 3 hari”. Setelah prajurit itu meninggalkan desa, Asoka langsung pulang ke rumahnya dan meminta ayahnya untuk membuat senjata yang kuat sekali. Ayahnya itu adalah seorang penyihir dan dia menyanggupi permintaannya.
Dalam 3 hari selanjutnya ayah Asoka menunjukan kepada Asoka zirah merah yang sangat kuat sekali, pedang api yang bisa berputar, kacamata yang bisa mengeluarkan api, perisai yang bisa menahan segala serangan setan api. Asoka merasa sangat senang atas pemberian ayahnya, dia segera berpamitan untuk meninggalkan ayahnya di desa.
Pada saat prajurit datang menjemputnya mereka takjub dengan senjata dan perlengkapan yang dimiliki oleh Asoka dan berkata “Wah kamu memiliki senjata dan perlengkapan yang sangat keren dan dahsyat, cepat naik kuda itu.”
Sebelum naik ke atas kuda Asoka berkata kepada ayahnya ”Ayah di sini saja aku tahu aku akan menang.” Asoka berkuda bersama prajurit itu ke Kerajaan Hunts dan langsung menuju Colossal Coliseum.
Sesampainya di sana Asoka melihat banyak sekali kesatria yang telah mati karena Dabos ternyata sangat kuat sekali.
Pada saat Asoka masuk ke Colossal Coliseum dia akhirnya melihat Panglima Dabos yang berupa raksasa setan api dengan kapak yang sangat besar di dalam arena pertarungan. Penjaga Coliseum bertanya pada Asoka “Apa kamu yakin melawan raksasa itu, kamu tahu dia bisa menghancurkan kamu dalam waktu 1 detik?” Asoka hanya berujar “Aku tidak takut dengan siapapun.”
Dabos mulai tidak sabar dan langsung berkata “Ayo pertandingan Colosal Coliseum dimulai sekarang. Ayo mana lagi petarung yang berani menantang panglimaku!”. Asoka segera masuk dan bersiap untuk bertarung melawan raksasa itu.
Raksasa keji itu menyerang dengan sangat cepat menggunakan kapaknya. Tetapi Asoka dapat menahan serangan itu dengan perisainya dan Asoka menembak raksasa itu dengan kacamata lasernya. Serangan balasan Asoka ke raksasa tersebut mampu menjatuhkan menjatuhkan lawannya dengan telak. Asoka langsung menusuk dada raksasa yang sedang terjatuh itu dengan kecepatan kilat.
Raksasa itu mati dan Dabos menjadi amat murka dia berkata “Ini omong kosong, bagaimana si bodoh itu bisa membunuh raksasa itu?” Dengan amarahnya Dabos langsung memasuki arena itu dan menyerang Asoka. Tetapi Asoka dapat menahan serangan tiba-tiba tersebut dengan perisainya. Dabos tidak membuang waktu terus menyerang dengan ganas dan langsung menembak Asoka dengan hembusan apinya. Tetapi hembusan api itu dapat dihisap oleh pedang berputar yang dibuat oleh ayah Asoka.
Dabos semakin murka dan berkata “Oh begitu rupanya, cukup sudah permainan ini, sekarang waktunya menunjukan bentukku yang sebenarnya.” Kemudian Dabos menunjukan tubuh sebenarnya dia berubah menjadi setan api yang sangat besar dengan banyak duri-duri dan rahang yang sangat panjang, bentuknya sangat mengerikan.
Namun Asoka tidak takut. Asoka terus melawan serangan-serangan setan api yang sedang murka tersebut, tetapi semuanya usaha gagal karena semua serangan untuk melumpuhkan Dabos gagal, pertahanan Asoka mulai goyah dan dia mulai mundur.
Keadaan tambah memburuk saat Asoka kehilangan banyak darah karena dia ditembaki oleh duri-duri Dabos ke sekujur tubuhnya. Kelihatannya tamatlah sudah riwayat Asoka di tangan Dabos, namun sebelum setan kejam itu memakannya tiba-tiba Asoka mendapat kekuataan ajaib. Yaitu kekuatan otot yang sangat luar biasa dari seseorang yang membuatnya tiba-tiba menjadi sangat kuat. Dengan kekuatan tambahan itu Asoka langsung menyerang Dabos dan dia menghajar Dabos. Asoka mematahkan tulang belakang Dabos, dan langsung memenggal kepala Dabos.
Dengan kemenangan itu semua rakyat merasa amat senang dan semua setan api yang tersisa segera lari tunggang langgang karena Dabos sudah mati. Seluruh rakyat di Kerajaan Hunts memberi hormat kepada Asoka dan mereka semua berkata “Yang mulia kamu sudah membebaskan kami dari setan api.” Asoka kemudian diangkat sebagai raja di kerajaan Hunts.
10 tahun berlalu, pada suatu saat Asoka mendapat kabar bahwa ada kakek tua yang gila, berjalan dengan tangannya dan berpenyakit parah ingin datang menemuinya. Kakek itu sudah berada di pintu gerbang istana. Asoka langsung datang dan tiba-tiba pada saat melihatnya kakek tua yang buruk rupa dan tidak memiliki kaki itu berkata “Anakku sayang, apakah kamu masih ingat saya?”
Asoka merasa marah dan langsung menamparnya dan dia berkata “Usir kakek tua itu yang rupa dan badannya sudah hancur-hancuran, ayah saya tidak seperti ini”. Segera prajurit kerajaan mengirim kakek tua itu pulang ke desa asalnya.
Esok harinya pada saat Asoka bangun tidur dia melihat burung merpati yang membawa pesan. Lalu dia membaca pesan pada kertas lusuh itu yang berisi “Anakku terkasih mengapa kamu membuang saya seperti sampah. Apakah kamu ingin tahu dan mendengar cerita tentang dirimu. Begini ceritanya kamu selalu pikir kamu itu adalah anak kandung saya bukan? Anakku kamu ditemukan pada saat bayi. Kutemukan dirimu yang tidak berdaya hampir mati di hutan. Apakah kamu masih ingat waktu kamu kehilangan kedua kakimu karena suatu kecelakaan waktu kamu masih kanak-kanak, siapa yang menggantikan kaki itu? Aku yang memotong kakiku sendiri dan memperkecilnya dengan sihir dan memasangnya di badanmu agar kau tetap bisa bermain dan berlari-lari. Apakah kau masih ingat pada saat kamu masih remaja dan dikeroyok oleh anggota genk, akulah yang menolong dan melindungimu dari pukulan-pukulan keji itu sehingga wajah dan tubuhku penuh dengan luka. Apakah kau masih ingat waktu akan melawan Dabos kau memintaku membuat senjata dan perlengkapan yang paling hebat anakku? Kubuatkan senjata paling hebat dengan sisa-sisa kekuatan sihirku. Tahukah Anakku siapa yang menyelamatkan kamu waktu Dabos hendak memakan kamu? Kukerahkan semua kekuatanku dan aku akhirnya kehilangan semua kekuatanku. Anakku semua aku lakukan karena Akulah Ayahmu yang akan selalu menyayangi dan melindungimu. 10 tahun kutunggu kabar beritamu, aku menangis tiap hari sampai dikatakan gila aku khawatir akan keadaanmu. Saat akhirnya kudengar kau menjadi raja aku sangat bahagia, aku hanya ingin memberimu selamat dan mendoakanmu Nak. Aku mengerti jika kamu malu mengakuiku anakku, aku lega kamu hidup bahagia dan aman. Sekarang aku lega bisa mengucapkan selamat tinggal padamu nak. Walaupun kamu menyebalkan aku akan selalu memaafkanmu nak, selamat tinggal Asoka kesatria -ku”.
Setelah membaca pesan itu Asoka langsung menangis tersedu dan amat menyesal atas apa yang telah dia perbuat. Asoka sangat ingin meminta maaf pada ayahnya, kakek tua yang telah diusirnya itu. Ayah yang selalu menolongnya dalam segala macam hal yang tidak bisa dilakukannya. Namun semua sudah terlambat kakek tua itu tidak dapat ditemukan dimanapun, hanya selembar pesan lusuh sebagai pengingat akan besarnya kasih dan cinta seorang ayah terhadap anaknya yang kini ada di genggaman Asoka.