Hay, Jika berkenan bacalah Immortal sistem, yuk buruan baca lagi hangat-hangatnya nih. jika suka tolong jempolnya di anggkat dan berikan kepada Immortal sistem. Ica menanti kedatangan anda. Selamat membaca.
Malam itu aku berjalan di bawah sinar rembulan malam, di temani bintang bintang di langin. Namun, seketika hujan deras turun membasahi tubuhku.
Seorang pemuda yang membawa belatih di tangannya, datang menusuk tepat di jantungku.
Jleb!
Darah seketika mengalir keluar dari tubuhku. Ku terjatuh, denngan darah yang mengalir deras yang terhapus di bawah guyuran hujan.
Pria itu melihatku dengan senang, tertawa bahagia.
"Hah? Konyol!"
"Aku tidak terima mati seperti ini."
Setelah tertusuk pisau oleh orang yang tak di kenal, Shuwan Tao berada di ruang hampa, lalu dirinya melihat sececar cahanya dan mengikuti cahaya itu terus menerus sampainya Ia melihat sebuah pintu dan memasukinya.
Shuwan Tao melihat Tubuh pria yang tengah terbaring pucat dan di sampinya ada seorang wanita tengah menangis. Shuwan Tao mendekat dan tubuhnya terhisap masuk kedalam tubuh pria itu.
"Nyeri-sakit-sakit!"
Shuwan Tao berbaring di ranjang, merasakan sakit dari kepal samapi kaki seolah olah tubuhnya terkoyak. Namun, dibandingkan dengan rasa sakit di tubuhnya, sakit kepalanya bahkan lebih buruk. Seolah-olah kepalanya akan meledak.
Wajahnya sepucat kertas dan keringat dingin menetes ke dahinya. Saat kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan, informasi melonjak dalam benaknya seperti arus listrik.
"Ibu, jangan pergi..."
Tiba-tiba, Shuwan Tao menegakkan punggungnya dan duduk. Dengan tatapan Bingung dimatanya. Shuwan Tao, melihat sekeliling dengan bingung.
"Gege (kakak laki-laki). Ada apa dengan mu."
"Dimana ini? Siapa aku?" Tanya Shuwa Tao yang sudah masuk kedalam tubuh Li Chen.
"Kamu, Le Chen." ucap Wanita Itu.
"Ya aku Le Chen, tidak, aku Shuwan Tao!"
"Gege ada apa dengan mu. Apakah kau melupakan ku."
"Le Chen?" bingung Shuwan Tao.
Shuwan Tao, melihat pandangan di depannya. Shuwan Tao, menyadari bahwa
dia tidak akrab dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
"Bawakan aku cerimin atau apapun yang dapat digunakan untuk memperlihatkan rupaku."
"Siapa dia? Hah? wajah ku telah berubah menjadi dirinya. Apakah aku berinkarnasi?"
"Siapa dia." tanya Shuwan Tao(menujuk dirinya sendiri karena saat ini Shuwan tengah berada di dalam tubuh Li Chen).
Gadis itu mulai menceritakan kepada Shuwan Tao yang dikiranya Li Chen tapi hanya tubuhnya Li Chen yang masih ada tetapi jiwanya sudah berganti menjadi Shuwan Tao.
Sedikit demi sedikit, Shuwan Tao mulai ingat siapa pemudah yang raganya dihuni olehnya sekarang ini.
Pria yang di terlantar dan ditinggalkan walaupun setatusnya juga seorang pangeran. Karena suatu isiden yang menyebabkan sang, Ibu meninggal dunia. Ia bernama, Jia Li, wanita yang cantik dan indah seperti artian dari nama yang ia sandang. Namu karena Jia Lia ialah wanita yang paling di sayang oleh sang Raja, menyebabkan kecemburuan untuk selir lainnya.
Mei Yin, Selir pertama sang Raja berbeda dari Jia Lia ia adalah Ratu yang rama sedang, Mei Yin, yang mempunyai artian yang sama dengan nama sang Ratu, memperdaya lelaki dengan kecantikannya menjadikan dia Selir pertama yang memiliki kedudukan kedua sesudah sang Ratu. Dengan keadaan berbadan dua Raja menjadikannya Selir pertama.
Namun itu semua belum memuaskannya. Mei Yin, ingin menjadi yang pertama yang menguasai Istanah dan menjadi Ratu untuk sang, Paduka Raja. Berbagai cara dilakukannya. Samapi meracuni sang Ratu. Namun, usahanya sia-sia karena sang Ratu dapat selamat dan terlebih mendapatkan kabar gembira karena mengetahui sang Ratu sedang mengandung. Sang Raja yang bernama, Kong Chen. Mendengar berita kehamilan sang Ratu membuatnya bahagia, terlebih yang tengah mengandung ialah wanita yang amat ia cintai.
Mei Yin yang mengetahui kehamilan sang Ratu menjadi murka. Diantingnya semua barang yang ada di depan matanya. Suara bisingpun terdengar hingga keluar kamar.
"Kurang ajar. Mengapa ia juga mengandung. Akan ku bunuh kau dan anakmu demi kenyaman anak yang tenga ku kandung dan ketenangan ku. Semua yang menghalangi jalan anakku dan diriku harus kusingkirkan bagai semut, kuinjak hingga mati berkeping keping." marah Mei Yin.
Selama kehamilan sang Ratu, Mei Yin, tidak pernah menyerah untuk menyingkirkan, Ratu Jia Lia. Hingga kelahiranpun datang kepada, Mei Yin, melahirkan anak laki-laki yang di beri nama Zhang Yin, dan selang 1 bulan kemudian Ratu Jia Lia pun juga melahirkan anak yang sama pria tampan dan gagah mirip sang Raja dan wajah yang rupawan miri sang Ratu, ia di beri nama, Li Chen, nama berlakang yang sama dengan nama sang ayah.
Membuat Mie Yin menjadi makin membenci Ibu dan anak itu. Anaknya mendapatkan nama belakang sang Ayah yang secara tak langsung menyatakan bahwa ia adalah Raja selanjutnya. Sedangkan anaknya yang juga mewarisi darahnya tak di berikan nama belakang malah memberikan namanya di akhir nama anaknya.
"Baru lahir saja kau sudah mengambil segalanya dari anakku, kasih sayang, nama pewaris dan peehatiannya yang seharusnya anakku yang mendapatkan semua itu." menggeretak gigi menahan amara melihat Raja begitu berbeda jika bersama dengan, Ratu Jia Lia, dan anaknya, Li Chen.
Hingga tragedi mengerikan itu terjadi.
Saat umur Li Chen memasuki usia 4 tahun dirinya harus kehilangan Ibunya untuk selamanya.
Kreta kuda melaju kencang, Ribuan panah api mengejar kearah kreta kuda yang sedang Ratu Jia Lia tumlangi.
Kecepatan panah melebihi batas yang bjsa dihalau kereta. Panah pun satu persatu mulai mengenai kreta dan membakar seisi kreata kuda.
Raja yang mendengar kabar keadaan sang Ratu lantas bergegas menaiki kuda melaju peasat sekencang tiupan angin.
Dilihatnya Kreta kuda yang sudah hangus terbakar.
"Sayang, bertahanlah." ucap Kong Chen lirih.
Raja Kong Chen menggendong sang Ratu dengan keadaan memeluk buahati nya.
Di dalam ruangan, Li Chen, tak henti-hentinya menangis disamping sang Ibu yang tinggal separuh nafas.
"Sayang jangan tinggalkan aku. Bagaimana diriku dan Li Chen kecil kita hidup tampa mu. Tolong jangan siksa aku seperti ini." pinta Kong Chen sendu.
"Sayang maafkan aku, maaf karena tak bisa terus berada di sisimu. Ku titip Li Chen kecil kita, kutunggu kau di surga sana."
"Tidak! Jangan katakan itu! Aku akan mencari tabib yang dapat mengobatimu, bertahanlah untuk anak kita."
"Li Chen sayang, anak Ibu yang kuat dan tampan. Tolong maafkan, Ibu. Maafkan, Ibu yang belum bisa menjadi Ibu yang terbaik untuk mu."
"Ibu..."
"Sayang lelaki tak boleh menangis. Hapus lah air matamu sayang, lihatlah, Ibu tak menangis kamu pun tak boleh menangis. Kamu harus menjadi lelaki yang hebat dan bisa menaklukan semua darat, dimanapun kau berada, kau akan selalalu menjadi nomer satu dan yang terkuat juga hebat. Tapi ingat, jika kelak kau menjadi orang yang hebat. Jangan berbangga diri dan menjadi anak yang sombong kamu harus tetap menjadi lelaki yang rendah hati dan menolong orang lain yang membutuhkan. Karena di atas langit masih ada laingit yang lebih tinggi."
"Uhuk!" suara batuk Jia Lia.
Darah keluar dari mulutnya.
"Ibu..." ucap Li Chen.
"Sayang..." ucap Kong Chen.
"Heh, mengapa kalian menangis. Kalian dua lelaki cengeng." ucap Jia Lia.
Ratu Jia Lia memasang senyum getir. Mencoba menahan air mata yang akan menerobos pertahanannya.
"Li, Ibu ada sesuatu untuk mu." ucap Jia Lia.
Batu giok berwana hijau yang indah bersinar. Dapat mencuri pandangan yang tak mampu untuk menolak akan pesona yang dikeluarkannya.
"Ini batu giok yang sudah, Ibu miliki Sewaktu kecil, karena ini pemberian dari, Kakek mu. Jaga dan jangan sampai jatuh ketangan orang lain atau ketangan orang berhati hitam dan berfikir buntu. Kau harus bisa menjaganya dengan baik." ujar Ibu Jia Lia.
"Baik, Bu. Li Chen, akan menjaganya sebaik mungkin agar tak kehilangan dan jatuh ketangan yang salah." janji Li Chen.
"Pintarnya anak Ibu."
"Uhuk!"
"Uhuk!"
"Uhuk!"
"Ibu..." ucap Li Chen panik.
"Sayang, bangun sayang. Tidak, tidak! Jangan tinggalkan aku seperti ini." ucap Kong Chen menangis.
"Jia Liaa...!" teriak Kong Chen.
"Ibu, Ibu, Ibuuu..." panggil Li Chen tersedu-sedu.
"Ayah, ibu kenapa engak bangun bangun. Ayah bangunin, Ibu yah. Kuli, Ibu semakin dingin dan pucat. Pasti, Ibu kedingin. Kata, Ibu saat badan kita kedinginan kulit kita akan pucat dan dingin." tanyanya pada Kong Chen ayah Li Chen.
"Li, Ibu mu telah tiada, Nak." jelas Kong Chen.
"Tidak, Ibu, hanya kedinginan. Ayah pembohong!" ucap Li Chen.
"Cukup, Li!" sentak Kong Chen.
"Tidak, Ayah! Ibu, masih hidup. Ibu, hanya lelah dan akan kembali sadar, benarkan, Bu. Jawab, Bu. Ibu..!" ujar Lichen tak menerima kenyataan ibunya telah tiada.
Kong Chen yang tak kuasa memeluk sang anak menenangkan Li Chen agar dapat menerima kenyataan yang ada.
Baca terus kelanjutannya di Immortal sistem.