ADI PERMANA berdiri di sebuah batu besar di tengah kebun teh yang sangat luas, pandangan matanya mengelilingi kebun teh yang luas, tak sejengkal pun ia lewatkan.
Entah dari mana asalnya kenangan masa pahit itu kembali lagi dan terasa masih segar di ingatan adi.
Enam tahun yang lalu.
Kabut sangatlah pekat menyelimuti desa pelangi desa kecil yang berada di pelosok propinsi sumatera selatan.
Desa pelangi masih belum merasa kan era kemajuan jangankan teknologi canggih seperti smartphone jalur listrik pun belum menjamah desa pelangi.
Desa ini sangat jauh jaraknya dari desa yang lain jarang sekali ada pendatang yang datang di karenakan untuk menuju ke desa pelangi di butuhkan perjuangan yang hebat.
Di karenakan akses jalan yang jelek menuju desa pelangi tak banyak orang tahu banyak potensi yang sangat berharga di di desa pelangi sala satunya pemandangan, desa pelangi di kelilingi kebun teh, kopi dan sawah.
Semua tak terlihat di karenakan hari baru sudah hujan dan kabut turun dari puncak gunung.
air hujan mengikuti parit parit kecil alami dan menggenangi lubang lubang kecil jalanan berbatu.
Dari sebuah rumah di desa pelangi terdengar teriakan seorang wanita, rumah itu terbilang mewah di banding rumah penduduk yang lain.
"Adi kamu ke manakan beras 5 karung itu??", wati bibik adi meminta kejelasan tentang beras yang di curi adi.
Adi diam tak menjawab sepatah kata pun, wati yang lagi emosi bertambah murka
"adi aku tanya sekali lagi kau ke mana kan beras itu", tanya wati sembari mendekati adi duduk di atas kursi di ruang tamu dengan mata melotot.
"kau menantang ku", plak sebuah tamparan sangat kuat mendarat di pipi pemuda tampan dan tegap itu adi terdorong sedikit ke kiri.
"baiklah, kalau kau tidak mau mengakuinya, silahkan angkat kaki dari rumah ini", usir wati dengan melipat tangan di dada penuh keangkuhan. adi masih diam seribu bahasa.
Sebenarnya kalau adi mau melawan sekali tonjok saja wati bakal tersungkur di lantai dan pingsan. tapi adi tak mau melakukan itu karena adi merasa wati satu satunya keluarga adi dan sudah membesarkan adi.
"jaenal bawah pemuda buruk ini keluar", panggil wati ke anak buahnya yang berada di luar rumah.
Tak lama jaenal dengan kawannya datang.
"bawah dia keluar dan jangan perna dia menginjakan kakinya di rumah ini lagi",
"baik nyonya", jaenal mematuhi perintah wati.
"ayo den mamang bantu", ujar jaenal penuh kesopanan tak ada sikap kasar sedikit pun karena jaenal tahu majikannya yang sesungguhnya adalah adi.
Jaenal membawa adi keluar rumah. begitu adi ingin meninggalkan rumah.
"tunggu", panggil wati sambil menenteng bungkusan kain. adi pun menoleh kearah wati yang berdiri di teras.
"ini", wati melempar kain yang berisi pakaian adi.
adi memungutnya dan melangkah meninggalkan rumah orang tuanya itu. wati tersenyum sini karena sudah berhasil menyingkirkan adi.
Rumah itu sebenarnya rumah peninggalan orang tua adi tetapi di kuasai oleh wati sejak kedua orang tua adi meninggal kecelakaan. jaenal tau semuanya oleh karena itu jaenal tak perna berlaku buruk kepada adi.
Sebenarnya wati sudah sangat lama ingin menyingkirkan adi tetapi belum ada alasan yang tepat. kali ini siasat wati berhasil.
"kasihan aden", jaelan ngomong sendiri menatap punggung pemuda tampan gaga itu denan wajah iba.
Jaenal menghilang di balik kabut tebal.
Di pertengahan desa adi terus melangkah sedikit melamun menyusuri jalan bebatuan desa pelangi, adi tidak tahu kemana arah tujuan cuma ada satu tekat adi di harus berhasil, kalau dia sudah berhasil dia akan pulang ke desa pelangi.
"kak adi", suara teriakan seorang memanggil nama adi, adi tak menoleh sedikit pun karena dia larut dalam lamunan.
"kak adi" gadi itu berteriak lagi sembari berlari ke arah adi. adi pun menoleh.
"putri", ujar adi heran saat melihat putri menuju ke arahnya.
"kak adi", ucap putri begitu dekat dengar adi putri merunduk memegang lututnya nafasnya ngos ngosan.
" tarik nafas, tenang", adi mengusap bahu putri. kemudian putri berdiri tegak menatap adi.
"kak adi mau kemana??", tanya putri, gadis cantik itu heran melihat adi membawa pakaian yang terbungkus sarung di sandang di bahu adi
"ayo kita duduk di batang pohon itu", ajak adi mereka menuju batang pohon tumbang di pinggir jalan dan duduk.
"aku mau merantau", sambung adi saat mereka sudah duduk.
"hah, mau merantau", putri melongok menatap adi seolah tak percaya.
"iya", jawab adi.
lama putri menatap wajah pemuda tampan di hadapannya.
" aku ikut", ucap putri dengan tegas setelah tahu adi akan meninggal kan dirinya.
adi menghela nafas.
"putri kamu tidak boleh ikut", adi mencoba merayu gadi cantik itu yang sudah 2 tahun ia pacari.
panjang lebar adi menjelaskan semuanya ke pada putri.
"janji ya bakal pulang", ucap putri merenggut setelah adi jelas kan
"iya aku janji", jawab adi lalu memegang tangan putri.
tak lama mereka berpisah putri pulang adi menumpang mobil pick up yang mau keluar desa pelangi.
3 tahun berlalu.
Desa pelangi heboh bakal datang pengusaha terkenal kaya raya dan satu lagi sangat tampan, sampai anak kecil di desa pelangi membicarakan hal itu.
di kediaman pengusaha
"Bos semuanya sudah siap", asisten pengusaha itu memberi tahu.
"okey kita berangkat", rombongan pengusaha itu berangkat.
Di perjalanan pengusaha muda itu terus tersenyum, asistennya cuma geleng kepala dan bertanya dalam hatinya setan apa yang merasuki bosnya ini.
3 jam dari bandara meraka kini hampir sampai di desa pelangi. memasuki desa pelangi senyum pengusaha itu semakin merekah melihat pemandangan desa pelangi. desa pelangi hampir tak ada perubahan, cuma sekarang jalannya sudah diaspal pln sudah masuk.
mobil mereka menepi sebentar karena rombongan mereka ada yang kebelet pipis.
"bos ayo", ajak sang asisten saat melihat bosnya berdiri melamun di atas batu besar terdapat di pinggir jalan.
iya dia adalah ADI PERMANA yang di usir wati bibik nya 6 tahun lalu.
adi turun dan masuk ke mobil mereka meneruskan perjalanan.
Di desa pelangi sudah banyak orang menanti kedatangan adi tak terkecuali anak anak. anak anak itu berdiri di tepi jalan ada yang diam ada yang berteriak berlari mengikuti mobil adi, semua orang yang satu mobil dengan adi tertawa melihat anak anak itu.
tapi tak seorang pun tahu kalau yang berada dalam mobil mewah itu adalah adi.
mereka menuju rumah kepala desa pelangi, begitu sampai rombongan adi di sambut dengan meriah sekali.
banyak ibu ibu berbisik sambil menatap adi.
"duuhh gantengnya", ujar seorang ibu merada gemes dengan adi.
"iya sudah tampan, kaya lagi", sahut ibu yang lain.
" mau gak ya dia menjadi menantuku", harap seorang ibu berbaju pink.
"ye ngarep", di jawab ibu ibu di situ, kemudian mereka tertawa bersama.
Rombongan adi yang mendengar ibu ibu itu tertawa menoleh lalu tersenyum.
"ya ampunn", ibu bertubuh tambun, merasa terpesona dengan adi.
ya mereka tak sedikit pun mengenal adi, dari dulu adi sangat tampan banyak gadis gadis desa pelangi mengejar adi, tapi di usia adi yang 27 tahun ketampanan adi seolah berlipat ganda, jangan kan seorang gadis ibu ibu pun meleleh melihat ketampanan adi.
"ayo pak silahkan masuk", ajak pak kades dan mempersilahkan adi masuk ke tenda. belum berapa lama adi duduk dan berbincang bincang desa pak kades dari panggung ada yang memanggilnya.
" untuk pak adi donatur , kami persilahkan naik ke atas panggung", spontan adi melihat ke panggung. betapa terkejutnya adi mc itu adalah putri.
beberapa saat adi bengong menatap putri.
"pak adi kami persilahkan", ulang putri lagi.
adi tersadar karena merasa malu adi tersenyum menatap semua orang. mereka pun tersenyum tapi ibu ibu mulai berbisik termasuk wati yang sedari tadi gencar ingin menjerat adi untuk menjadi menantunya, wati tidak sadar itu adi keponakannya yang 6 tahun lalu ia usir.
adi naik ke panggung.
"ini pak mikropo nya", putri memberikan kepada adi.
"terima kasih sayang", ujar adi sembari mengedipkan satu matanya ke putri.
putri bengong menatap adi putri merasa tak percaya dan heran dari mana dia tahu namanya putri. putri bergidik ngeri walau adi sangar tampan, lalu putri kembali kemeja panitia.
rupanya sebelum adi datang adi sudah menyuruh anak buatnya untuk mencari tahu tentang putri, adi sangat lega saat mengetahui putri belum menikah, makanya tadi adi menggoda putri.
wati yang melihat hal itu kepanasan sendiri.
Kata sambutan di berikan adi, semua orang bertepuk tangan, 15 kemudian adi mengakhiri pidatonya.
Selesai pidato adi tak langsung turun adi berjalan ke arah meja panitia di sebelah kiri panggung di sana ada putri yang lagi ngobrol dengan temannya.
adi sedikit mencondongkan tubuhnya karena terhalang meja antara ia dengan putri, lalu berbisik di telinga putri.
"nikah yuk", putri sontak kaget lalu berdiri. keringat dingin keluar dari tubuh putri, karena putri tak percaya karena baru bertemu dengan pemuda di hadapannya kok bisa bisanya dia ngajak nikah. kawan putri juga kaget melihat putri laksana patung pancuran menatap pemuda di hadapan mereka.
"aku adi", bisik adi lagi di telinga putri.
untuk beberapa saat putri masih bengong lalu sadar.
"kak adi teriak putri", tanpa babi bu putri menghambur ke pelukan adi, putri menangis sejadi jadinya. semua orang kaget mendengar putri meneriakkan nama adi, termasuk yang lagi pidato tak terkecuali wati melongok ke atas panggung.
Semua bertepuk tangan melihat hal itu, merak menyoraki adi dan putri termasuk rombongan ad.
"nikah nikah nikah", sorak orang orang.
asi dan putri tersadar mereka melerai pelukan mereka.
terlihat dari wajah wati, wati sangat malu apa lagi semua orang sudah tahu wati mengusir adi.
dengan terhunyu hunyu wati naik ke panggung lalu sujud di kaki adi.
"maaf kan bibik di", wati menangis di kaki adi.
adi tal tega melihat hal itu adi mengangkat tubuh wati.
"sudah lah bik, semua sudah berlalu dan aku sudah maaf kan", tutur adi sembari tersenyum lalu memeluk wati.
semua orang muak melihat wati.
mereka heran kok adi masih baik dengan wati.
"putri bibik juga mintak maaf", wati menoleh ke putri, putri mengangguk
"kak", gadis sembilan belas tahun itu malu malu.
"sini sayang, emang kamu gak rindu dengan kak adi", adi menggodah arum.
Arum memeluk adi sembari menangis adi baik arum saling mengasihi cuma wati yang jahat memisahkan mereka kakak dan adi sepupu.
kini mereka larut dengan itu semua.
Satu bulan kemudian adi dan putri menikah dengan sangat meriah.
SEKIAN.