Dengan perut besarnya, Ajeng berlari menembus hutan. Lolongan serigala yang bersahutan, membuat ia tidak berani berhenti walaupun darah biru dan merah yang mengalir di antara pahanya semakin banyak.
~Suara Penyiar Wanita~
"Hingga sekarang, pencarian tubuh Nyonya Ajeng Kusuma masih di lanjutkan. Polisi sudah mengerahkan belasan anjing pelacak untuk membantu proses pencarian. Sementara itu, Tuan Malik Nightwalker telah di evakuasi dan sedang rawat secara intensif di Rumah Sakit Dokter Gray."
Malik memaki setiap orangnya yang tidak berhasil menemukan keberadaan Ajeng. Ia bahkan tidak segan melepaskan tembakan kepada seorang anak buahnya yang berani menjawab kata-katanya.
Dengan murka Malik menarik jarum infus yang menancap di lengannya. Luka-luka ditubuhnya telah menutup dengan sempurna.
"Bram, bawa aku kembali ke lokasi kecelakaan. Aku harus menemukan Ajeng!" perintah Malik pada asistennya, Bram.
Lima menit kemudian mereka sampai. Malik masih bisa melihat sisa-sisa kecelakaannya tadi. Mobilnya bahkan masih terbalik di dasar jurang yang tidak terlalu dalam itu.
"Sejauh mana polisi melakukan pencarian?" tanya Malik tidak sabar.
"Radius lima kilo meter masuk kedalam hutan itu"
"Apa kalian pikir Ajeng yang sedang hamil besar, bisa berlari sejauh itu?" Malik membentak beberapa polisi yang masih menunggu di sana.
Terlihat sekali wajah ketakutan mereka.
"Bram, Ajeng sudah masuk kedalam wilayah terlarang lembah serigala! Panggil pasukanmu dan susul aku segera! Kau paham, kan!?" tanya Malik yang sudah melangkah turun ke dalam hutan.
Bram mengangguk. la masuk kembali ke dalam mobil. Dengan lekas Bram melakukan panggilan kepada anak buahnya dengan semacam telepati.
Hanya beberapa detik saja, puluhan Vamps sudah berkumpul setelah mendapat isyarat dari Bram.
Beberapa polisi yang sadar akan kedatangan makhluk lain itu, lari meninggalkan lokasi kecelakaan. Mereka tau kalau masalah itu bukan lagi urusan mereka.
Bram lalu berlari masuk mengikuti jejak yang tuannya tinggalkan. Begitu juga dengan puluhan Vamps yang dipanggilnya tadi.
Kecepatan lari yang di atas rata-rata, membuat Bram dan pasukannya sudah menyusul Malik yang tengah menganalisis lokasi di sekitarnya.
"Aaaaauuuuuuu ...."
Lolongan panjang itu membuat Malik menampakkan taringnya.
"Brengsek! Mereka menemukan Ajeng!" umpat Malik yang kemudian kembali berlari menuju asal suara. Semua pasukan Vamps mengikuti.
Bangsa Vamps dan Wolfis seharusnya hidup damai berdampingan. Tidak mengusik satu sama lain. Akan tetapi, semenjak Malik menikahi Ajeng yang merupakan seorang manusia dengan kemampuan menjinakkan Wolfis—mereka menyebutnya Whisperer—bangsa Wolfis menjadi gusar. Mereka menyebut pernikahan itu hanya kepentingan Malik Nightwalker, untuk memusnahkan bangsa Wolfis. Benarkah?
***
Ajeng menyandarkan tubuhnya yang kelelahan di dinding goa. la berhasil menjinakkan satu Wolfis yang terpisah dari kawanan dan membuatnya menjaga dirinya saat ini.
"Good boy..." bisik Ajeng lirih saat melihat serigala besar itu memandanginya dengan iba.
Mini dress putih Ajeng bahkan sudah sangat mengenaskan. Darah biru dan merah bercampur di sana.
Namun tiba-tiba saja ....
"Aarrrghh! Nak, apa kau ingin keluar sekarang? Aduuuh ... Mama sudah tidak kuat lagi!" pekik Ajeng saat lagi-lagi perutnya mengalami kontraksi.
Lagi-lagi serigala itu bersuara iba.
"Aaaaauuuuuuuuu ...."
"Ya! Ya! Aku tau dia mau lahir. Diamlah! Atau kita akan tertangkap!" perintah Ajeng yang tentu saja membuat serigala itu semakin gelisah dan terus mondar-mandir di depan mulut goa.
Ajeng tau ia harus mengeluarkan bayinya saat ini juga. Sayang ia tidak punya kekuatan untuk
melakukannya sendiri.
Ajeng lalu memanggil serigala yang ia jinakkan tadi dan membisikkan suatu hal yang gila. Hal yang tidak mungkin lakukan jika tidak terdesak seperti ini.
"Aku mohon lakukan dengan benar. Aku akan mendorongnya sekali, d-dan kau lakukan bagianmu ...," jelas Ajeng berharap tidak ada kesalahan di sana.
Serigala itu menggelangkan kepalanya dengan enggan.
"Lakukan!"
"Hhhrreerrr." Makhluk itu menggeram.
Ajeng tersenyum dan mulai mengatur nafasnya yang pendek-pendek.
"Oke ... huf ... huf ... huf ... satu, dua, tiga!! EEENGGHHHH!!" Ajeng mengejan.
Bersamaan dengan itu, serigala tadi menginjak perut bagian atas Ajeng dengan kedua kakinya yang besar-besar.
"Ooeeek! Oeeek! Oeeek!" Suara tangisan bayi memecah keheningan malam. Saat itu juga hujan turun dengan derasnya.
Serigala tadi langsung menjilati tubuh si bayi hingga bersih.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Ajeng menganbil bayi itu dan mengecup puncak kepalanya sekali.
"Kata Daddy, namamu Musa ... kata Daddy, kamu akan menjadi anak hebat ...," bisik Ajeng kepada anak laki-lakinya.
Serigala tadi mulai gelisah kembali.
"Sssstthhh ... mereka sudah dekat. Aku membebaskanmu dari bisikanku. Pergilah! Terima kasih karena sudah menolongku, Yuna ...," bisik Ajeng pada serigala itu.
Setelah mengucapkan namanya kembali, tandanya Ajeng sudah membebaskan bangsa Wolfis dari pengaruh bisikannya.
Serigala itu melesat pergi meninggalkan Ajeng dan Musa, bayinya.
Tidak sampai satu menit kemudian, puluhan Wolfis sudah berkumpul di luar goa. Ajeng bisa mendengar geraman mereka semua dari tempatnya bersandar.
"Sayang ... aku masih berharap engkau datang menjemputku saat ini ...," gumam Ajeng yang tengah memberi Musa ASl pertamanya.
"Aaaaaauuuuuu ...."
"Lolongan itu semakin dekat!" jelas Bram yang sudah memperlambat larinya.
Mereka menemukan sebuah goa yang telah di kelilingi segerombolan Wolfis.
"Berpencar!" perintah Malik.
"Tuan! Jika salah satu Vamps melihat anakmu, mereka akan menjadi tidak terkendali! Sebaiknya kita saja yang ke sana!" jelas Bram yang sadar dengan konsekuensi yang akan terjadi.
"Tidak, Bram. Orangmu akan sibuk dengan para Wolfis. Aku akan membawa Ajeng dan anakku pergi dari sini. Kau ... kau tunggu di sini untuk kami ...."
"Ta-tapi Tuan?!"
Malik menghilang. Bersamaan dengan itu, terjadi pertempuran brutal di bawah sana.
Vamps melawan Wolfis. Sekilas Bram bisa melihat tuannya masuk ke dalam goa dengan kecepatan terbaiknya.
Bram menuggu. la akan membawa Tuan Muda Musa keluar dari wilayah terlarang hutan serigala dan membawanya pulang ke mansion Nightwalker. Sedangkan tuannya sendiri akan mengurus Ajeng, istrinya.
Wusssh!
Malik sudah membawa Ajeng yang mendekap bayi mungilnya. Wanita itu pingsan. Musa bahkan tertidur dalam pelukannya.
"Lakukan tugasmu, Bram. Aku akan membawanya ke rumah sakit!" jelas Malik yang membuat Bram langsung melesat meniggalkkan tempat itu.
Di bawah sana, mereka bahkan masih saling mencabik satu sama lain.
***
Malik menyayat lengannya lagi. Satu kantung darah akhirnya selesai. Dengan ketakutan, dokter itu memasangkan infus ke lengan Ajeng.
Ajeng sendiri sedang berusaha membuka matanya, tapi tidak bisa. Sedangkan, ia merasa kalau darahnya mulai mendidih saat ini.
"BANGUN SAYANG ... BANGUN!!!"
Ajeng membuka matanya. la memerlukan waktu untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya.
"Argh!! Silau sekali! Dimana ini?" batin Ajeng bigung.
"Kau sadar ...," cicit Malik sambil mencium puncak kepala Ajeng dengan penuh kerinduan.
"Sayang ...," bisik Ajeng lirih. Air mata mengalir dari sudut netranya.
"Kau bertahan, Sayang."
Setelah kehilangan banyak darah tiga hari lalu, Malik menampung setidaknya empat kantung darahnya selama dua hari ini, untuk ia transfusikan pada tubuh Ajeng.
Dengan imunitas yang dimiliki Malik, Ajeng akhirnya pulih.
Ajeng merasa lain. la merasa tubuhya terlahir kembali. Lebih kuat dan lebih sehat. Seketika itu juga, amarahnya muncul.
"KAU MERUBAHKU, YANG?!" Ajeng histeris. la melemparkan tempat tidurnya tadi ke ujung ruangan. Dinding kamar itu jebol.
"Kau sekarat sayang ... tidak ada pilihan lain."
"Jika tidak ada Whisperer, bangsa kalian akan musnah!! KAU AKAN MUSNAH!!" pekik Ajeng lagi.
Malik memeluk Ajeng untuk menenangkannya.
"Apa kau tidak ingin bertemu Musa?" Malik mengalihkan perhatian Ajeng. Wanita itu melemah saat mendengar nama anaknya disebut.
"Musa? Bawa aku padanya ... ia harus menyusu!"
"Tidak sayang ... Musa tidak memerlukan ASl-mu lagi ...."
***
Dari jauh Ajeng melihat Bram sedang mengajak seorang bocah bermain di hutan. Disekitarnya ada beberapa Wolfis yang sedang duduk dengan tenang.
Degh!
Ajeng menatap Malik tidak percaya. la menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
Setelah turun dari mobil, Ajeng menarik tangan Malik dan melesat untuk menemui bocah itu.
"Whoa... Pelan-pelan nyonya..." cegah Malik saat mereka berhenti mendadak beberapa meter dari Musa dan Bram.
Musa tumbuh sangat cepat hanya dalam tiga hari. la sudah menjadi bocah berusia lima tahun yang menggemaskan.
Ajeng berlutut menatap anak itu. Senyumannya tidak mau berakhir.
"Mommy?" tanya anak itu pada Ajeng.
Ajeng menariknya ke dalam pelukan. Bayangan malam itu sampai hari ini, tergambar jelas di kepala Musa. Ajeng melirik Bram meminta penjelasan.
"Dia sangat hebat, Nyonya. la mewarisi semuanya ...." jelas Bram yang menunjuk dua serigala yang tengah tertidur. "Juga kemampuannya, memperlihatkan apa yang ia ingat," tambah Bram.
Ajeng memeluk suaminya erat. Setidaknya masih ada Whisperer di muka bumi ini ...
Bram lalu memanggil seorang Vamps untuk mengahampiri mereka.
"Bram?! Apa yang—" Ajeng sudah berdiri di antara anaknya dan Vamps kelaparan di depannya. Mencoba mencegah Vamps melukai Musa.
"Menyingkir dan lihatlah nyonya ...," jelas Bram dengan tenang.
Malik lalu membawa Ajeng menjauh.
Mereka semua melihat bagaimana Musa menatap seorang Vamps di matanya, dan langsung membuat Vamps itu merintih kemudian jatuh lemas.
"Oh My Lord ... Musa yang melakukannya?" Air mata mengalir di sudut netra Ajeng.
Ajeng teringat kembali saat ia mengetahui kalau dirinya seorang Whisperer, semua makhluk ingin dia mati. la takut hal itu terulang kembali pada Musa.
Musa mendekati Ajeng dan Malik, kemudian menggandeng tangan kedua orang tuanya.
"Tenang Mommy ... Musa akan melindungi Mommy and Daddy." Musa bahkan tahu apa yang dipikirkan kedua orang tuanya, tanpa mereka katakan sekali pun.
Musa akan menjadi begitu kuat suatu saat nanti ....
***
Cerpen ini sebelumnya terbit di akun penulis "Tika" yang merupakan akun lama saya. Sekarang saya pindah ke akun baru "Mayanov" agar bisa saya simpan dengan baik saja. Jadi bukan plagiat, yaaa. Terima kasih.