disebuah laboratorium yang sangat besar, nampak besar yang tersusun dengan rapih disetiap sudutnya ruangan, didalam setiap tabung terdapat satu anak kecil yang sedang meringkuk dengan diselimuti oleh berbagai macam selang yang menempel pada setiap bagian tubuh.
diantara tabung-tabung besar tersebut, terdapat satu tabung yang secara mendadak memunculkan sinar keputihan dan suara yang menyebabkan beberapa orang berpakaian putih masuk dan memeriksa setiap sambungan yang mengarah pada tabung tersebut dan memperhatikan dengan seksama sesosok gadis kecil dalam tabung tersebut yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
"hebat! subjek H mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. cepat laporkan ini pada ketua!" seru seorang wanita cantik yang menggunakan jas putih sembari mengamati dengan teliti setiap perkembangan gadis kecil dalam tabung itu dengan perasaan senang dan bahagia.
"kak Zoe subjek L dan B juga mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan" ucap seorang berjas putih lain sembari menunjuk kearah titik titik merah di kaca tidak yang ada ditangannya, benda tersebut, adalah benda semacam peta yang menunjukkan setiap inci ruangan tersebut dengan beberapa titik merah dan hijau disana.
"aku harus mengawasi subjek H kau dan bisa mengawasi subjek B dan kau awasi subjek L" instruksi perempuan itu dengan aura pemimpin yang memang sudah menjadi senior disana. selepas kepergian kedua orang tersebut, kini perempuan itu sendiri sedang mengamati gadis dalam tabung yang saat ini sedang membuka tutup mulutnya seperti ikan
"Zoe bagaimana keadaan subjek H" ucap seorang berjas putih yang nampak menggunakan seragam yang lebih lengkap daripada orang-orang berjas lain yang saat ini mengikutinya dari belakang.
sedangkan, perempuan itu Zoe langsung tersenyum sopan dan memberi instruksi dengan matanya untuk menatap tabung dibelakangnya. dan sosok tersebut menganggukkan kepalanya mengerti dan menatap tabung tersebut dengan seksama
"oh ya subjek B dan subjek L saat aku akan memeriksa subjek B" ucap sosok itu sembari melirik sekilas Zoe yang hanya menganggukkan kepalanya patuh.
Zoe perempuan itu tenang tenang saja bahkan merasa senang bisa leluasa mengamati subjek H itu sendirian, namun tiba-tiba gadis kecil dalam tabung itu membuka matanya dan bergerak dengan liar sebelum akhirnya kembali tenang dan kembali ke kondisi sebelumnya.
namun, Zoe perempuan itu merasa sangat panik dan takut. bahkan dengan tangan yang bergetar, perempuan itu menekan beberapa tombol yang ada didekat tabung membuat cairan dalam tabung itu dengan cepat langsung surut dan disaat bersamaan pula tabung itu terbuka membuat Zoe dengan leluasa mengeluarkan gadis kecil itu dari dalam tabung dan membawanya menuju ruangannya
"Zoe! apa yang akan kau lakukan pada subjek H!" seru pria berjas putih yang baru saja tiba dengan nada suara yang penuh tekanan membuat Zoe perempuan tersebut menghentikan langkahnya dan menatap pria tersebut yang notabenenya adalah pemimpin di penelitian ini.
Zoe perempuan tersebut langsung tersenyum miring dan mengeratkan pangkuannya terhadap gadis kecil yang saat ini ada didalam dekapannya "ada apa? aku hanya ingin membawa pulangnya seperti yang sudah kita sepakati beberapa tahun silam" ujarnya sembari berbalik dan melangkah pergi meninggalkan pria itu yang saat ini menatapnya dengan marah.
"tentu. lakukan sesukamu dan jangan pernah datang padaku jika hal yang paling kau takutkan terjadi" ucap pria itu dengan sinis membuat langkah Zoe terhenti untuk beberapa saat, namun perempuan itu menggertak giginya dan tetap melanjutkan langkahnya membuat pria dibelakangnya merasa marah karena sikat keras kepala Zoe.
sedangkan Zoe perempuan itu dengan telaten langsung membaringkan gadis kecil itu ditempat tidur dan memberinya pakaian yang nyaman sembari beberapa kali mengusap kening gadis itu dan mengecup pipi gadis kecil itu dengan penuh haru dan rasa bahagia "Bun .... bunda?" panggil gadis kecil itu membuat perempuan itu tersenyum senang dan menggenggam tangan kecil rapuh itu.
"iya sayang bunda ada disini ada apa hm..." ucap Zoe perempuan itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan membuat gadis kecil itu tersenyum manis dan dengan perlahan menunjuk kearah dada kirinya dan berkata dengan rilih "ini ... sakit" kemudian jari-jari beranjak menunjuk kearah kepalanya dan dengan suara yang lebih rilih ia berkata
"ini, juga sakit" ucapnya lagi-lagi menunjuk kearah dadanya, dan terdiam beberapa saat sembari menatap Zoe perempuan itu dengan senyum manis yang secara perlahan menghilang
"tapi hatiku lebih sakit bunda ... bunda tahu ... karena bunda .... aku ... disini .... sudah mati karena bunda..." ucap gadis kecil itu pada akhirnya sebelum kembali menutup matanya membuat Zoe perempuan itu menangis sejadi-jadinya sembari memeluk tubuh putrinya.
perempuan itu, takut, benar-benar takut mendengar setiap ucapan putrinya, ia benar-benar tidak siap, ia benar-benar menyesal.
"maafkan bunda sayang maaf maaf bunda janji akan buat kamu bahagia, bunda mohon bunda mohon maafkan bunda Dea" ucap perempuan itu sembari memeluk gadis kecil itu Dea yang hanya terus menerus menutup matanya lelah.
"bunda diam lah aku lelah, meskipun kau mengucapkan kata maaf berjuta-juta kali pun itu tidak akan pernah bisa menebus semua deritaku" ucap Dea gadis kecil itu dengan rilih sembari mendorong kecil perempuan itu agar menjauh darinya.
"kalau begitu, apa yang harus bunda lakukan untuk menebus semua kesalahan bunda? bagaimana cara bunda untuk mendapatkan kembali putri bunda" ucap perempuan itu membuat Dea, gadis kecil itu membuka matanya dan menatap perempuan itu dengan kilatan dingin
"Putri? bukankah aku ini hanya barang ya? sudahlah aku lelah dan kau tidak memiliki hak apapun lagi untuk menyebutku putri mu" ucap gadis kecil itu membuat hati seorang ibu merasa sangat terluka dan terkejut mendengar setiap kata yang terlontar dari bibir kecil itu.
"kalau begitu, dimana bunda bisa menemukan kembali Dea nya bunda" ucap perempuan itu tidak berputus asa dan terus mencoba mendapatkan jawaban yang ia inginkan dari putrinya.
sedangkan, gadis kecil itu Dea ia hanya terkekeh sinis beberapa saat dengan tatapan menghina yang sangat jelas diarahkan pada perempuan berstatus sebagai ibunya itu. "kau ingin mencari kan? kau masuklah kedalam tabung itu dan carilah sendiri Dea mu itu, cobalah dan rasakan lah sensasinya dan kau akan mengerti dimana dea mu itu berada" ucap gadis kecil itu kemudian kembali menutup matanya benar-benar merasa jijik dan malas untuk hanya menatap perempuan itu.
perempuan itu terdiam, ia tertegun beberapa saat sebelum akhirnya tangannya langsung mengambil sebuah pistol yang selalu perempuan itu bawa kemana mana dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga akhirnya mengarahkan moncong pistol itu pada kepalanya sendiri.
"Dea! jawab yang jujur atau kau akan melihat bunda pergi untuk selamanya" seru perempuan itu membuat gadis kecil itu kembali bangun dan mendudukan dirinya sembari menatap datar perempuan itu.
"oh silakan kenapa kau meminta ijinku, silakan setidaknya itu akan mengurangi sedikit dosamu" balas Dea membuat perempuan itu menatapnya tidak percaya, namun Zoe perempuan itu semakin menggenggam erat pistol itu dan mulai berhitung
"5 ... 4 ... 3 ... 2 ....... 1"
DOR
dan saat itu juga kepala perempuan itu berlubang dan mengeluarkan cairan merah kental dengan kedua bola mata perempuan itu yang nampak masih membola sempurna karena rasa tidak percaya.
sedangkan Dea gadis kecil itu hanya menopang dagunya dan menatap jasad ibunya dengan tatapan datar dan dinginnya. "huh dia pikir pistol itu kosong, padahal sebelumnya aku sudah mengisinya berharap dia melubangi kepalaku" ujar Dea gadis kecil itu dengan nada kecewa
"bunda bunda kau benar-benar ceroboh, padahal aku sudah mengatakannya tapi kau malah tidak mengerti. nah karena aku ini anak baik akan aku katakan sekali lagi ya" ucap gadis tersebut dengan senyum manis yang menghiasi kedua sudut bibirnya.
"hatiku sudah mati bunda hatiku sudah mati, kau bundaku, tapi kau adalah musuhku" ucap gadis kecil itu mengatakan maksud sesungguhnya dari dirinya yang sebelumnya mengatakan sakit pada dadanya.
dan dengan senyum penuh rasa lega, Dea gadis kecil tersebut melangkah pergi meninggalkan rumah dan mayat ibunya begitu saja. tidak ada yang bisa ia lakukan dirumah itu, dan hebat bukan dia masih hidup dan memiliki wujud yang lumayan normal mengingat ia sudah menjadi tikus
percobaan di laboratorium ilegal itu.
ya mungkin tidak terlalu normal juga, pikir Dea gadis kecil itu sembari mengusap bagian bahunya yang terdapat insan ikan disana, dan sedikit memainkan lidahnya pada beberapa gigi gerahamnya yang sudah berubah jadi taring.