Pagi itu aku dikejutkan oleh kedatangan paman dan bibi yang datang dari kota, mereka sudah lama sekali tidak pulang kampung semenjak terakhir pulang, waktu mendiang nenek meninggal beberapa tahun yang lalu.
Aku masih teringat pertemuan terakhir kami 3 atau 4 tahun yang lalu, ah! Aku benar-benar lupa dalam mengingat, tapi perkataan paman dan bibi waktu itu membuatku teringat selalu.
"Paman dan Bibi pamit pulang, Nara... Kamu sudah tumbuh menjadi gadis cantik, nanti setelah selesai sekolah kamu ikut Paman ke kota yah" itu yang diucapkan oleh pamanku waktu itu.
Saat itu aku masih sekolah kelas 2 SMA, dan belum mengerti maksud dari ucapan pamanku waktu itu, saat aku tanyakan ke ibu dan juga kakak-kakakku, kata mereka mungkin paman mau membantuku mencari pekerjaan atau mungkin diminta tinggal bersama mereka.
Pamanku bernama Arkana, dia sebenarnya anak angkat nenekku. Dia diangkat menjadi anak setelah ditinggal kedua orang tuanya pergi, itu yang kutau ceritanya. Selebihnya aku tak banyak tahu tentangnya.
O ya, aku lupa. Ibu pernah bercerita waktu paman Arkana diadopsi ketika itu, ibu dan saudara-saudaranya sudah menikah semuanya, dan waktu itu paman Arkana berusia 2 tahun. Jika aku pikir-pikir lagi berarti usianya sama dengan kakak tertuaku.
Karena pada saat itu ibuku juga memiliki balita seusianya, yaitu kakakku bang Syahrul. Saat ini paman Arkana hidup sukses di kota, diapun sudah menikah, tapi takdir tak memihak kepada mereka dikarenakan istrinya, bi Sonya dinyatakan tak bisa mengandung dikarenakan kanker rahim yang dideritanya.
Kasihan sekali nasibnya, setelah operasi pengangkatan kanker itu, dia juga harus kehilangan rahimnya juga, kalau ditanya kenapa.. Aku juga tak tahu, karena para orang dewasa waktu itu tidak menceritakan soal itu kepadaku dan saudara-saudaraku yang lainnya.
Mereka sudah mengadopsi dua orang anak tapi tetap saja tak membuat keduanya bahagia, karena bagi mereka anak kandung dan anak angkat rasanya sangat berbeda, entah kenapa paman bisa berpikir begitu, sedangkan dirinya juga merupakan anak angkat di keluarga kami.
Apakah dia merasa tidak disayang oleh nenek dan kakek sepenuhnya? Atau ada faktor cemburu kasih sayang diantara anak-anak nenek dan kakek waktu itu? Entahlah aku pun tak tahu apa-apa.
Dan sekarang tiba-tiba saja keduanya datang tanpa memberikan kabar sedikitpun kepada kami, tepatnya padaku. Karena aku lihat, ibu dan kakakku biasa saja responnya, malah terkesan memang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Bu, emang om Arkana sama tante Sonya udah kasih tau kalau mau pulang kampung hari ini?" tanyaku pada ibu.
"Iya, maaf ibu sama kakakmu gak sempet ngasih tahu! Kamu sibuk dengan pekerjaanmu itu, apa itu.. tulis-menulis di Hpmu itu" jawab ibuku sambil sibuk membuatkan sarapan pagi untuk mereka.
"Nulis Novel, Bu.. Ada kok uangnya, tapi belum nongol aja" jawabku sambil nyengir malu.
Aku baru memulai menulis novel di aplikasi biru kegemaranku, jadi penghasilannya belum seberapa, tapi menurut author berpengalaman, jika kita rajin update nanti penghasilannya juga bertambah, amin!
"Ya sudah, kamu bantuin tante Sonya dulu gih!" perintah ibuku.
Pagi itu kami semuanya nampak begitu sibuk, ibuku sedang sibuk membuat sarapan, kakak perempuanku yang sudah menikah dan memang tinggal bersama kami semenjak ayah meninggal, sedang sibuk beberes rumah.
Sedangkan suaminya lagi momong keponakanku yang lucu didepan rumah sambil bercengkerama dengan paman Arkana.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Tante.." ujarku sambil berdiri didepan kamar dikhususkan untuk tamu jika bertandang.
"Hei, Nara! Ayo masuk sini.." ujarnya ramah.
"Maaf, Tan.. Ada yang bisa Nara bantu gak?" tanyaku sopan.
"Gak ada, udah beres kok" ucapnya sambil tersenyum manis.
Tante Sonya ini merupakan wanita karir yang lumayan sibuk juga, dia merupakan seorang desainer dan juga influencer juga. Dia wanita berpendidikan, dewasa, cantik dan sangat modern sekali. Aku yang masih muda saja, kalah cantik dibandingkan dengannya.
"Nara, maaf yah.. Kami melupakan janji kami waktu itu untuk mengajakmu ke kota bersama kami" ucapnya pelan seperti menyesal.
"Tak apa, Tan. Aku bisa mengerti mungkin kalian sangat sibuk sekali, dan pada waktu itu jujur saja aku gak ngerti apapun maksud perkataan paman waktu itu, hehe!" tawaku malu.
"Dasar kamu, eh! Btw, udah punya pacar belum?" tanyanya sambil menggodaku.
"Ah, Tante bisa aja nanyanya mentang-mentang aku jomblo akut" ujarku membalas candaannya.
"Udah, nanti ikut om sama Tante aja ke kota. Siapa tahu nanti ketemu cowok ganteng yang kaya, haha!" gelaknya.
Aku hanya tertawa saja menanggapi semua kata-kata bercandanya itu, sampai tiba saatnya kami dipanggil semua sarapan bersama.
"Ayo kita sarapan, maaf makanannya alakadarnya saja.." ucap ibuku ramah kepada mereka.
"Ini sudah enak kok, Kak. Banyak lagi, kita jadi gak enak.." sahut tante Sonya.
Sedangkan paman Arkana makan dengan lahapnya, mungkin dia rindu masakan kampung atau masakan ibuku. Sesekali aku perhatikan dia melirik kearahku.
Aku mengabaikan dirinya, aku pikir dia hanya melihat keponakan bungsunya sudah tumbuh besar, itu yang ada dipikiranku saat dia melihatku. Tapi setelah aku perhatikan, paman Arkana awet muda juga yah, dia masih sangat terlihat muda padahal usianya sudah memasuki angka 30an, dan ternyata wajahnya sangat tampan sekali.
Aku baru tahu kalau pamanku satu ini memiliki wajah yang sangat tampan, sangat serasi dengan bibi Sonya, tampan dan cantik.
Tiba-tiba aku terbatuk-batuk saat mendengar perkataan bibi Sonya kepada ibu dan kakakku.
"Kak, Lin.. Aku sama bang Arkana, beberapa hari lagi akan pulang ke kota setelah urusan disini selesai. Tapi Nara ikut dengan kami yah, dia bisa bekerja membantuku di sana atau kalau Nara mau, kuliah juga bisa, gratis!" ucap bi Sonya enteng.
Tentu saja aku kaget, tiba-tiba tanpa persiapan aku akan pergi ke kota bersama mereka, apa kuliah? Tidak mungkin kan aku salah dengar, hal yang sudah lama aku impikan akan terwujud!
Bersambung