Perkenalkan namaku, Erna Pratiwi, ini hari pertama ku duduk di kelas tiga SMA namun jadi beban di diriku, kenapa begitu?. Sebab teman-teman sejawat ku sudah punya pasangan sedangkan aku masih jomblo. Minggu pertama belajar kami duduk berpasangan itu ide wali kelas kami, alasannya simpel agar para siswa yang cewek tak saling mengobrol di saat guru sedang menerangkan, aku diam-diam menyukai teman sebangkuku namanya Amar Husain, dia pintar, tampan dan juga baik hati tapi sayang sudah ada yang punya namun kekasihnya tidak satu sekolah dengan kami. aku tak berniat jadi pelakor hanya saja jodoh tak ada yang tau kan.
Suatu ketika, hujan begitu lebat. aku jadi bingung mau pulang dengan apa.
"Erna apa kau masih belum pulang?," tanya Amar padaku.
"astaga amar kau bikin aku jantungan," jawab ku sambil mengusap dadaku Karna kaget sebab amar bertanya tepat di belakang ku.
"kenapa belum pulang?," ulangnya lagi.
"bagaiman bisa aku pulang Amar, sementara hujannya masih lebat begini," ujar.
"iya aku tau kalau hujan masih lebat, mau ngak aku antar pulang,"
"kita ngak searah Amar," jawab ku.
"kebetulan aku mau kerumah teman yang ngak jauh dari komplek perumahan mu," jawabnya lagi.
"baiklah, jika kamu ngak keberatan jika aku nebeng," jawabku sambil tersenyum padanya, amar membalas senyumku, senyumannya sangat manis semanis aku terpana melihatnya, tuhan boleh aku minta amar jadi jodohku, ucapku dalam hati.
"Erna, ayo buruan," pangil amar m membuat hayalanku ambyar.
Aku pun segera masuk kedalam mobil amar, dan duduk di sebalnya Karna ia marah jika aku duduk di kursi belakang. terpaksa aku duduk didepan.
"mar, nanti pacarmu salah paham lagi sama aku," ujar ku.
"ngak, dia kan udah pulang jam segini,"
"ya mana tau nanti temannya lihat kita," ucapku lagi.
"ngak usah khawatir dia ngak seperti itu kok orangnya," jawab amar.
Setelah itu tak ada lagi pembicaraan di antara kami, jujur aku sangat gugup saat ini tangan ku basah oleh keringat dingin, aku juga ngak tau kenapa bisa begitu.
kurang dari lima belas menit kami sudah tiba dirumah ku, aku mengajak amar mampir dulu sabagai basa basi saja Karna ia telah mengantar ku palang, tapi amar menolak dengan halus.
aku pun tak bisa maksa, sudah di tumpangi aja udah syukur, lalu apa lagi yang aku harapkan dari seorang Amar.
@
@
@
Esok harinya....
Hari hari berlalu, semenjak aku di antar amar pulang waktu itu, Aku dan amar berteman akrab, dan belajar bersama saat jam istirahat atau ketika tak ada guru.
"Erna, apa ada lagi yang tidak kamu pahami," tanya Amar pada ku saat kami mengerjakan soal matemetika, sumpah aku paling anti yang namanya soal perbatuan, Karna aku ngak mau ada yang di bagi, hehehe.
"ngak ada, aku sudah paham dengan soal ini," jawabku sambil memberikan soal yang tadi aku kerjakan, lalu ia melihatnya dan memperhatikan soal yang aku kerjakan.
"wah kamu hebat Erna, ini benar semua," ucapnya.
"makasih, itu juga berkat kamu,"
"itu karena kamu juga pintar Erna," jawabnya.
"makasih pujiannya.
"Erna, nanti malamkan Minggu apa, apa boleh aku menjalani jalan?,"
jalan?, pikirku, apa dia ngak salah ngajak aku jalan, dia kan punya pacar, gumam ku dalam hati.
"kok aku, pacar kamu kemana?," tanya ku sambil menatapnya.
"kamu sudah putus empat hari yang lalu," jawabnya.
"kok bisa?,"
"dia ngak setia, ternyata selama ini aku jadi yang kedua, padahal dia yang pertama bagiku," jawabnya dengan wajah sendu.
"sabar amar, semoga kamu cepat dapat pengantin yang lebih setia dari dia," ucapku sambil menepuk pundaknya dua kali.
"aku harap wanita itu kamu," jawabnya spontan.
"eh, kok aku," jawab ku kaget, padahal dalam hati berbunga-bunga mendengar ucapan Amar.
"jujur, aku sudah simpatik sama kamu awal kita satu bangku," jawabnya, auto kaget dong ternyata dia juga suka sama aku cuy, sorakku dalam hati.
"ehemmm, begitu kah," jawabku yang sedikit gugup.
"jadi apa bisa nanti malam jalan?,"
"oh...hehehe, nanti aku kabari," jawabku yang tak berani menatap wajah amar, aku takut jika dia tau kalau aku bahagia dia ajak jalan olehnya.
Singkat cerita....
Aku dan mar sudah resmi pacaran semenjak malam itu, kini kami akan mengikuti ujian akhir sekolah, aku dan dia tak pernah putus belajar bersama dan membahas soal yang di berikan guru, harapan kami hanya satu, yaitu lulus dengan nilai yang memuaskan serta dapat kuliah di kampus favorit kami dengan jurusan yang kami pilih nanti.
Banyak hal yang aku lalui bersama amar baik di sekolah maupun dirumah, atau bahkan di pustaka sekolah.
Ujian nasional tingal dua bulan lagi, tapi amar sudah dua hari ngak masuk sekolah, hati ini aku berencana menjenguknya kerumah dia, untuk memastikan keadaannya.
"assalamualaikum," ucapku sambil mengetuk pintu rumah amar, Karna ponsel amar tak aktif membuat aku sangat khawatir.
"adek mau mencari amarnya," tanya salah satu tetangga amar?.
"iya buk, amarnya kemana ya?,"
"amar sakit, dan sekarang dirawat dirumah sakit xxx sudah dua hari. Ucap tetangga itu.
"makasih buk infonya, aku mau kerumah sakit dulu,"
"ya hati hati dek," ucapnya.
tiba dirumah sakit aku langsung bertanya pada resepsionis dan menanyakan amar dan dirawat kamar berapa.
setelah mendapatkan informasinya aku langsung masuk keruangan itu, alangkah kaget nya aku melihat amar lemah tak berdaya dengan infus tangannya.
"amar, kamu kenapa?,"
"kak Erna, ucap adiknya.
"Azmi, amat sakit apa," tanyaku dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"kak, amar DBD kak, sudah dua hari dia dirawat tapi belum ada kemajuan," terang adiknya.
Lalu aku mendekat pada amar, dan mengengam tangan nya.
"amar, kenapa kamu tak memberitahu ku jika kamu sakit, dan maaf aku baru datang hati ini, cepatlah sembuh aku kesepian tampa kamu mar," ucapku.
"Erna," panggilnya dengan suara bergetar.
"ya ini aku Erana, kamu mau sesuatu?," tanya ku lagi dengan cepat amar menggeleng kan kepalanya.
"belajarlah dengan rajin, dan kejarlah cita-cita mu, kamu pasti bisa Tampa aku," ujarnya.
deg.....
Apa maksud amar pikirku.
"kita akan belajar bersama lagi mar, maka cepatlah sembuh Karna aku masih butuh kamu,"
"aku pasti akan sembuh," jawabnya.
"harus sembuh," jawab ku.
"kalau begitu makan dulu kak," ujar Azmi.
"apa dia belum makan?,"
"belum kak," jawab Azmi.
"amar, makan dulu ya aku akan menyuapi mu, setelah itu kamu harus minum obat," ujarku.
"baiklah," jawabnya patuh.
Setelah makan dan minum obat amar kenali lelap, Karna hari semakin sore aku pun mutuskan untuk pulang.
Tiba dirumah aku segera masih tumbuhkan yang sudah lengket Karna keringat serta debu yang menempel ditubuh ku ini.
Baru saja aku selesai memakai pakaian santai ku, deringan ponsel mengalihkan pandangan mata ini pada benda petak itu.
"ya halo Azmi ada apa,"
"kak, bisa datang kerumah sakit kak, amar drop.
"iya, iya aku segera kesana," ujar ku.
Segera ku pesan taksi online dan tak lupa membawa dompet serta ponsel ku, kurang dari sepuluh menit aku sudah tiba dirumah sakit.
"kenapa bisa begini, mi," tanya ku.
"ngak tau kak, tiba-tiba saja Kaka drop," jawabnya.
"apa ada diantara kalian yang bernama Erna?," tanya seorang perawat.
"saya sus, ada apa," jawab ku dengan perasan was-was.
"pasien ingin bertemu dengan anda,"
"baik sus, mi aku kedalam dulu ya,"
"ya kak," jawab Azmi dengan mata yang sudah sembab karna air mata.
"amar," pangil ku.
"er...ma, ak...aku, sangat mencintaimu da...n, men...Yaya...ngimu," ujarnya sambil mengengam tanganku erat
"amar, bertahanlah, kamu pasti akan sembuh,"
"ak...aku, su...sudah tak kuat lagi," jawabnya setelah tangan yang tadi begitu erat memegangi kini mulai lemah dan tak berdaya.
"amar...bangunlah, amar....amar.....," tangis ku pecah juga,sungguh aku belum sangup kehilangan cinta pertamaku.
"amar, aku mohon bangun lah," rancu ku aambil mengoyang-goyang tubuh amar.
Namun apalah daya amar sudah pergi untuk selama-lamanya, amar cinta pertamaku pergi dengan meninggalkan ku dengan sejuta kenangan indah yang tak kan pernah aku lupakan.
"Selamat jalan amar, surga Allah menanti mu," ujar ku di depan batu nisan amar lalu ku usap batu tersebut.
.