Ini adalah ceritaku tentang kamu. Tentang kenangan kita dan tentang berharganya kamu untukku. Kamu lah yang pertama kali mengajariku tentang indahnya sebuah senyuman.
***
Namaku adalah Tania Karamoy, siswi kelas XII di SMA Citra Bangsa. Aku adalah murid yang biasa-biasa saja, meskipun begitu aku dapat julukan dari anak-anak yang lain, mereka sering menyebutku si muka tembok. Yah... Julukan ini tidak dapat dibanggakan,sih!
Tentu saja mereka memanggilku begitu karena ada alasannya. Yah.. seperti julukannya, aku tidak pernah berekspresi sama sekali apalagi tersenyum dan tertawa. Aku melihat teman-temanku sering tertawa dan tersenyum,tapi aku tidak tahu kenapa mereka harus melakukan hal itu!
Aku juga sering memperhatikan dia, dia yang selalu tersenyum kepada semua orang dan senyum yang kulihat itu adalah senyum yang tulus. Biar kuberi tahu kalian satu hal, walaupun aku tidak bisa tersenyum tapi aku bisa membedakan antara senyum yang tulus dan senyum yang palsu.
Namanya Agra Alexander, dia cukup populer di semua kalangan, karena selain ramah dan tampan, dia juga pintar di bidang akademik maupun olahraga, dia juga cukup sopan terhadap guru-guru.
Dan tentu saja aku memperhatikannya bukan karena tertarik, tapi karena dia sangat berbanding terbalik denganku. Perbandingannya mungkin seperti emas dan karatan? Atau seperti langit dan lumpur? Uh..Pokoknya kami berbanding terbalik.
“Masih di perpustakaan? Padahal ini udah jam pulang,lho!” Ucapnya sambil mengembalikan buku di raknya.
'What?? Tunggu!! Tunggu!! Dia ngajak gue ngomong? Gue tau kalau dia itu ramah, tapi please!! Jangan gue yang lo ajak ngomong!’ Karena aku tidak tahu harus merespon seperti apa. “Anu... Lo selalu senyum, apa lo.. gak pegel lebarin bibir terus?”
“Hah?? Ppfffff...” Hah.. bahkan sekarang dia tertawa! Seharusnya aku tidak usah menanyakannya. “Ternyata bener ya rumor tentang lo yang seperti muka tembok!” Ucapnya sambil tersenyum. Uh!! Ingin rasanya ku timpuk wajahnya dengan sepatu.
Ia tiba-tiba memegang kedua bahuku dan menatapku lekat. “Tania.. Senyum itu bukan Cuma sekedar lebarin bibir trus kelar gitu aja udah! Tapi saat lo tersenyum orang lain akan merasa bahagia melihatnya. Saat lo bahagia lo juga bisa ngungkapinnya dengan tersenyum, agar orang disekitar lo juga bisa ikut ngerasain apa yang lo rasain.” Penjelasannya panjang lebar.
“Ah ribet banget!!” Aku langsung berbalik meninggalkan dia yang masih tertawa mendengar jawabanku. Sebenarnya ada alasan lain kenapa aku buru-buru meninggalkannya, alasannya... Mungkin akan kuceritakan lain kali saja,ya!!
Setelah percakapan kami waktu itu, ia jadi sering menyapa dan mengajakku berbicara, dia bahkan meminjamkan ku berbagai buku tentang senyuman. Uh!! Entah apa maksudnya! Dan saat kamu berbicara dengannya, maka kamu akan menjadi pusat perhatian. Fix! Ini benar-benar menjadi beban hidup.
Dan tanpa sadar, aku mulai mempraktekkan apa yang diajarkannya. Aku mulai mencoba menarik sudut bibirku sedikit demi sedikit dan tentu saja wajahku rasanya seperti....retak! Uh!! Ini menyebalkan! Kenapa dia bisa melakukannya setiap saat dan aku bahkan tidak bisa melakukannya selama 5 detik? Ini pertanyaan yang besar!
“Pagi Tania!”Sapanya sambil tersenyum.
“Pa-pagi Agra.” Ucapku sambil mencoba tersenyum, dan lagi-lagi wajahku rasanya seperti akan retak!
“Eh? Kamu nyoba buat senyum. Coba lebih lebar lagi dan jangan kaku!” Ucapnya sambil menarik pelan sudut bibirku. Dan saat itu aku melihatnya terpaku sesaat, mungkin karena aku cantik? Kurasa tidak mungkin!
“Gi-gini? U-udah? Gini aja?” Tunggu.. Apakah tersenyum itu memang semudah ini? Atau karena ada dia disini. “I-iya, kamu cukup tersenyum gitu aja.” Ucapnya terlihat kikuk.
Aku mulai menyapa teman-teman yang lainnya sambil tersenyum seperti yang diajarkan Agra tadi. Tapi ada yang aneh saat aku menyapa mereka, entah kenapa ekspresi mereka sama seperti Agra tadi! Yah.. Ternyata senyum tidak seburuk yang kubayangkan.
Beberapa hari aku mendengar beberapa perkataan yang aneh, seperti mereka mengatakan jika aku menjadi lebih cantik dan tidak suram lagi, beberapa siswa juga mulai mengajakku mengobrol dan pandangan mereka terhadapku berubah! Apakah ini efek karena tersenyum? Jika iya itu sungguh sangat luar biasa!
“Hai! Masih belajar?”
“Iya, bentar lagi kan bakal ada uts!” Kulihat Agra masih memperhatikanku.
“Ehm.. Boleh tanya sesuatu?” Aku hanya menganggukkan kepalaku. “Sebenarnya dari awal gue penasaran, kenapa lo gak bisa tersenyum!” Lanjutnya.
Ah ternyata dia penasaran tentang itu. “Emm..itu karena...di keluarga gue nggak ada yang tersenyum.” Aku bisa melihat wajahnya yang kebingungan.
“Orang-orang di keluarga kami cenderung serius dan tegas, gue aja dibesarin dengan adat keluarga yang um..lumayan sulit dijelasin,sih!” Dia mengangguk-anggukan kepalanya, mungkin ia peka jika ini adalah permasalahan keluarga.
Setelah perbincangan itu kami jadi sibuk dengan berbagai ujian dan jadi jarang mengobrol bersama, sampai akhirnya kami lulus. Dan bahkan tanpa mengatakan sepatah katapun ataupun berpamitan dulu, dia langsung pergi dan setelahnya, kami pun lost contact. Sungguh sangat disayangkan!
***
7 tahun kemudian
“Halo..?” Ucapku yang masih setengah sadar.
“Halo Tania! Gimana? Lo jadi kan ikut reunian SMA kita? Ayolah.. please!” Aku menjauhkan ponsel dari telingaku. Aku menghela nafas sejenak.
“Ayolah! Lo kan gak pernah ikut reunian SMA, jadi sesekali nggak apa-apa dong! Oh iya, ‘dia’ kali ini juga ikut,lho!” Sambung Anna, aku terdiam sesaat. “Oke gue ikut.” Ucapku tanpa berpikir dua kali.
Ini sudah 7 tahun sejak saat itu dan tentu banyak juga hal yang terjadi di hidupku. Sejak setahun yang lalu aku mulai bekerja di salah satu perusahaan elit, hidupku cukup nyaman dan aku juga masih tersenyum sampai saat ini.
Tapi ada satu permasalahan yang muncul, aku tidak bisa berpacaran dengan siapapun. Bukan karena aku tidak tertarik sama sekali! Tapi karena aku yang masih mengingatnya. Kupikir perasaan ini akan hilang seiring berjalannya waktu, tapi bukannya menghilang perasaan ini makin menjadi-jadi. Dan akankah kami bertemu kembali?
...***
...
Acaranya terlihat mewah dan juga meriah, aku bahkan tidak dapat mengenali wajah-wajah mereka sama sekali, karena waktu dapat merubah segalanya.
“Tania!! Akhirnya lo dateng juga.” Kulihat Anna yang datang menghampiriku dan seperti biasanya, dia sangat fashionable. “Iya.” Jawabku sambil tersenyum.
“Yuk masuk, acanya mau dimulai!” Anna menggandeng tanganku dan masuk kedalam. Saat kami masuk semua orang melirik kami, lebih tepatnya melirikku,sih!
“Wah! Siapa ini? Kok tiba-tiba ada muka baru di alumni kita?” Tanya seorang lelaki yang terlihat keren dengan jasnya.
“Perkenalkan saya Tania Karamoy.” Ucapku sambil tersenyum. Kulihat beberapa dari mereka terlihat sangat terkejut.
“Ta-tania?! Yang jadi manager perusahaan elit itu? Kok lo baru muncul? Kemana aja? Gue sampe pangling,lho!” Tanya seorang lelaki yang duduk berseberangan denganku. Yah..wajar sih mereka tidak mengenaliku, inikan sudah tujuh tahun.
“By the way, acara tahun ini kenapa mewah banget?” Tanya Anna. Kupikir setiap tahun memang semeriah ini, tapi ternyata tidak.
“Tentu aja karena Agra yang buat acara ini!” Jawab seorang perempuan yang duduk disamping Anna.
“Ehem! Maaf telat!” Seseorang menginterupsi pembicaraan kami. Dan dia adalah... Seseorang yang selama ini kutunggu dan ingin ketemui! Seseorang yang membuat jantungku berdetak kencang untuk pertama kalinya, dan dia yang pertama mengajariku tentang tersenyum karena bahagia. Dan senyumnya masih sama seperti dulu, masih hangat dan tulus. Tapi...
“Oh iya, kenalin ini Nayra Karamoy, tunangan gue.” Dia sekarang bersama tunangannya. Beberapa orang nampak terkejut, begitu juga denganku, tapi dengan cepat mereka langsung mengucapkan selamat. Aku masih mempertahankan senyumku, Anna bahkan terlihat khawatir dan menatapku.
Ah.. Jadi begitu! Mungkin sejak awal kami memang dipertemukan tapi tidak ditakdirkan bersama. Dan tunangannya itu...adalah adik tiriku. Hah..dari sekian banyak orang, kenapa harus perempuan itu?
“Kalau begitu selamat! Calon adik ipar!” Ucapku masih tersenyum. Tapi kali bukan tersenyum bahagia, apakah kalian ingin tahu bagaimana hatiku saat ini? Biarlah perasaan ini kusimpan sendiri karena perasaan ini terasa sangat menyakitkan.
Hah...Setelah bertahun-tahun inikah jawabannya? Lebih buruk dari dugaan. Waktu bisa merubah segalanya, bahkan diapun juga berubah, dan aku berharap waktu bisa mempertemukanku dengan seseorang yang lebih baik dari dirinya.
Terimakasih untuk kamu yang telah mengajariku bagaimana caranya tersenyum.
THE END