REUNI BERDARAH
Pekat malam telah merengkuh bumi seisinya. Embusan angin membawa kabar, bahwa hujan akan turun malam ini. Kubuka tirai jendela kamar, sekadar menikmati sunyi dan kegelapan di luar. Badanku terasa penat, karena aktivitas yang padat seharian. Namun, kedua netraku tetap terjaga, seolah-olah menolak terpejam, barang sejenak. Bukan tanpa sebab aku begini. Selembar kertas undangan yang diantar oleh Dirga tadi siang, telah membuat hatiku resah tak menentu.
Mataku kembali menatap undangan reuni dari teman-teman putih abu-abu. Dua hari lagi acara itu akan dilaksanakan. Panitia reuni mengadakan acara di kelas kami dulu. Dengan alasan, agar acara lebih mengena. Sebab di kelas itu, kami menyimpan kenangan suka maupun duka. Selain itu, semua undangan harus memakai kostum serba putih.
Setiap kali membayangkan tentang kelas, saat aku duduk di bangku SMA, semua tubuh seolah-olah tak bertulang. Rasanya ingin kembali ke hari itu dan memperbaiki kesalahan yang telah aku perbuat.
***
“ Santi, tadi pagi Dirga telpon Mama, dia menghubungi kamu, tapi nggak aktif. Sore ini dia akan menjemputmu untuk ikut acara reuni SMA. Kamu siap-siap Sayang, agar nanti nggak terburu-buru.”
“ Santi malas Ma.”
“Lho, kok, malas. Gak boleh gitu dong Sayang, kamu kan sudah lama nggak ketemu teman-temanmu SMA. Memangnya malas kenapa?”
“Ya, malas saja.”
“Pokoknya kamu harus ikut, Mama sudah siapkan kostum, dan sudah bilang ke Dirga, kalau kamu ikut ke acara itu.”
“Kenapa Mama maksa Santi?”
“Sayang, Mama nggak enak mau nolak calon mantu.”
“Aduh Mama, siapa juga yang mau nikah sama Dirga?”
Mama tidak mau mendengarkan penolakanku. Dia begitu semangat, ketika tahu Dirga yang akan membawaku ke tempat reuni. Mamaku dan bundanya Dirga teman dekat, mereka sepakat untuk menjodohkan kami. Tapi sejauh ini, aku dan Dirga masih teman biasa, meskipun cowok jangkung itu sudah mulai bersikap aneh kepadaku, dan itu membuat sangat tidak nyaman.
***
Acara reuni sudah berlangsung selama lima belas menit. Ruang kelas telah disulap menjadi sebuah kebun mawar putih yang indah dan romantis. Acara dikemas tidak begitu resmi, agar kami bisa melepas rindu dengan leluasa.
Suasana riuh penuh dengan gelak tawa tidak berhasil membuat hatiku bergembira. Ada rasa takut menyusup masuk dalam hati. Saat kupandangi jendela di balik tirai putih tepat di depanku, terbayang kembali kejadian lima tahun silam.
***
“Kenapa kau tega merebut Anton dariku Des!”
“Dengarkan penjelasanku San, aku nggak seperti itu.”
“Kamu bohong! Foto ini menjelaskan semuanya Des! Dan kamu masih mengatakan nggak ada apa-apa dengan Anton?”
“San, kumohon dengarkan aku, itu foto diambil saat aku berlatih drama dengan Anton, percayalah, kamu juga tahu, aku dan Anton dipasangkan dalam sebuah drama musical.”
“Kamu pembohong Des! Mulai sekarang kamu bukan lagi sahabatku!”
Aku muak melihat wajah Desi yang sok polos. Segera kutinggalkan dia sendiri di kelas kami yang berada di lantai dua, dia berlari mengejar dan menarik tanganku, mencoba kembali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, antara dia dan kekasihku, mata hatiku sudah di butakan oleh kebencian, aku semakin marah. Kuempaskan tangan Desi dan kudorong sekuat tenaga agar dia menjauh. Namun, di luar dugaan, Desi terpental sampai memecahkan jendela dan terjatuh ke lantai satu. Aku terperanjat, saat melihat Desi sudah bersimbah darah di bawah.
Pikiranku sangat buntu, yang ada dalam hati hanya bagaimana cara menyembunyikan kejadian ini. Aku segera berlari meninggalkan sekolah yang sudah sepi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.00.
Sebelumnya aku sengaja membuat janji belajar kelompok dengan Desi, setelah kegiatan ekstra. Agar saat aku membuka kebohongan Desi, semua orang yang berada di sekolah sudah pulang dan dalam kondisi sepi.
Desi kubiarkan tergeletak tak berdaya. Sesampai di rumah, aku langsung masuk kamar, berjanji pada diri sendiri, bahwa aku tidak akan menceritakan kejadian ini kepada siapa pun. Aku sebenarnya sangat khawatir dengan kondisi Desi. Tetapi, aku begitu pengecut untuk menghadapi kenyataan memilukan itu.
Aku sangat panik saat mendengar kabar, Desi meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit. Pukul 19.00 dia ditemukan oleh penjaga sekolah dalam kondisi kritis dan bersimbah darah. Dadaku sesak, aku ingin menangis, tetapi, air mata seolah-olah kering. Aku ingin berteriak, tetapi bibir kelu. Sedih, takut, dan rasa bersalah terus mencekik rongga hidupku. Sehingga aku berjalan menyusuri hari-hari dengan tersengal.
Desi dinyatakan meninggal bunuh diri, karena tidak ada bukti kekerasan. Polisi juga gagal dalam mencari bukti melalui CCTV. Ternyata saat kejadian, listrik sedang padam. Hal itu, satu sisi membuatku bersyukur, karena kejadian yang sebenarnya tidak terungkap. Namun, di sisi lain, bayangan Desi meminta maaf, terus hadir dalam mimpi-mimpiku.
Selang beberapa minggu, setelah tragedi jatuhnya Desi dari lantai dua sekolah kami, terpajang foto-foto Desi dan Anton di majalah dinding sekolah. Dalam rangka mengenang Desi dan pengumuman bahwa drama musical sekolah kami yang diperankan oleh Anton dan Desi mendapatkan juara satu sekabupaten.
Seketika lutut lemas, hati sakit, pandangan kabur dan aku menangis dalam hati. Aku merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia. Rasa bersalah dalam hati makin bertumbuh subur. Kebencian yang pernah singgah di hati, terpicu oleh rasa iri kepada Desi, saat dia terpilih menjadi pasangan Anton. Kenapa harus dia? pekikku dalam hati. Aku merasa lebih baik dalam segala hal darinya.
Des, maafkan aku, seandainya aku tidak merasa iri dan terbakar cemburu padamu, maka semua akan baik-baik saja. Kita akan merayakan hari kemenanganmu bersama-sama. Semuanya sudah terlambat, kini aku hidup bersama rasa bersalahku sampai akhir hayat. Inilah hukuman Tuhan padaku.
***
“San, kenapa melamun?”
Dirga membuyarkan lamunanku. Aku membalasnya dengan senyuman kecut. Kenangan pahit itulah yang membuatku enggan melangkah untuk hadir di acara reuni ini.
Tak terasa tiba-tiba mataku telah basah. Aku terpejam sambil menunduk dan segera kuhentikan aliran sungai yang mulai deras. Saat kubuka kembali, jantung seolah-olah berhenti berdetak. Ada sosok bayangan yang aku kenal memakai seragam sekolah, dengan wajah dan baju berlumuran darah, berdiri di balik tirai putih yang menutup jendela. Kulihat lekat-lekat. aku menggosok mata beberapa kali. Aku takut hanya halusinasi. Kipas angin yang sedari tadi memutar dengan santai, tiba-tiba berubah menjadi cepat, sehingga menyibak tirai dan memperjelas pemandangan di balik jendela.
Deg! Desi. Dia memandangku dengan wajah memelas, kemudian melangkah ke arahku dengan menembus tembok di depanku. Aku seketika mematung, seluruh tubuh tak bisa digerakkan. Setelah jarak satu meter, dia menghentikan langkahnya.
“San, maafkan aku.”
“Aku sudah memaafkanmu, aku yang minta maaf Des, maafkan aku.”
Aku mulai tergugu. Rasa sedih, menyesal, dan takut berdesak-desakan memenuhi hatiku. Aku ingin memalingkan muka agar tidak melihat wajah Desi yang mengerikan, tapi aku tak bisa. Sekujur tubuhku menjadi kaku. Desi meraih tanganku, aku makin ketakutan. Tangannya yang sedingin es seolah membekukan sekujur tubuhku.
“San, aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat, kamu harus ikut denganku, kita rayakan kembalinya persahabatan kita.”
Desi menatapku tajam sambil melengkingkan tawanya. Cengkeraman tangannya begitu kuat. Aku berusaha melepaskan diri, tetapi gagal. Aku berteriak meminta tolong orang-orang di sekelilingku, mereka tidak ada yang menghiraukan. Aku terus menangis sejadi-jadinya.
Setelah beberapa menit, tiba-tiba aku sudah berada di lantai bawah, tepat di tempat Desi jatuh saat itu. Desi tidak lagi mencengkeram tanganku, dia berada beberapa meter dariku. Baju dan tubuhnya bersih, tidak ada lagi darah berlumuran. Dia memandangku dengan senyuman penuh tanda tanya.
“Santi, terima kasih telah mengikutiku. Selamat tinggal.”
Aku masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Tetapi, aku merasa lega, Desi sudah pergi. Aku berbalik badan, ternyata sudah banyak orang berkerumun. Ada seseorang yang jatuh, bisikku dalam hati. Aku segera masuk dalam kerumunan, betapa terkejutnya saaat aku melihat jasad yang jatuh dari lantai dua itu adalah diriku. Aku segera berlari mencari Desi, kulihat dia berada tak jauh dari tempatku berdiri. Dia tertawa sambil melambaikan tangannya, kemudian menghilang.
Aku terduduk lemas meratapi yang sudah terjadi. Inilah hukuman dari Tuhan atas apa yang sudah aku perbuat semasa hidup. Menyesal sudah tidak ada guna. Rasa iri dan benci telah memasukkanku dalam lubang hitam dan menjadikanku jiwa yang tak tenang. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan kecuali pasrah, menanti hukuman berikutnya.
Tamat