Boleh percaya boleh tidak, di siang yang teriknya ampun-ampunan kayak begini ini, semua makhluk-makhluk yang katanya punya akal, pastinya, kalau tidak mau terbakar hangus, akan mencari tempat berlindung yang lebih aman bagi diri mereka maupun keluarga mereka. Dan bukannya berniat plesiran kayak si Kancil!
Tapi memang dasar si Kancil,
Kalau tidak bertingkah aneh kayak begitu bukan si Kancil namanya. Mentang-mentang kemarin ia berhasil memperdaya sekawanan buaya. Belum lagi ia juga sempat lolos dari cengkeraman Harimau si raja rimba, yang telah ia tipu dengan mentah-mentah, makin-makin ia berlagak.
Dengan petantang pententeng ia pun keluar kamar kost-kostan. Kok kamar kost-kostan!?
Emang si Kancil nggak boleh ngekost!? Emang ada undang-undang yang melarang gitu!? Kalo benaran ada itu orang bisa dibawa ke sidang mahkamah tuh. Biar kena vonis ntar.
Balik ke si Kancil. Dengan penampilan yang parlente bersiap keluar rumah. Di depan teras ia berpapasan dengan si Tupai yang juga ngekost di tempat yang sama dengan dirinya, intinya, si Tupai adalah teman satu kost. "Mau kemana loe, Cil!?" Tanya si tupai.
"Mau ke hati loe," ucap si Kancil dengan seenak udelnya. "Ditanya serius malah bercanda loe! Loe nggak baca berita emang!?" Timpal si Tupai.
"Lah jaman udah canggih begini loe masih baca Korang yang benar aja loe, Bro." Ejek si Kancil.
"Eh, yang nama berita itu gak mesti ada di koran." Tupai membalas. "Terus!?" Tanya si Kancil. Dengan tanpa perasaan bersalah si Tupai menyahut. "Pada kawan!"
Si Kancil melongo bego.
"Lah kalau loe kagak percaya tanya aja tuh sama Bang Ebiet G Ade." Sahut si Tupai. Si Kancil menimpali. "Sekalian loe tanya noh pada rumput yang bergoyang."
"Tapi gue serius emang loe gak dengar berita apa!?" Si Tupai menyiratkan gelagat wajah yang selaras dengan omongannya, serius.
"Loe serius gimana!? Omongan loe aja kagak konsisten! Tadi loe kata baca sekarang loe kata dengar. Yang benar yang mana, dengar apa baca!?" Tapi si Kancil malah curiga.
"Ini berita boleh loe validasi keasilanya." si Tupai menunjuk ke lantai. "Loe kata surat tanah, pake divalidasi." si Kancil masih berkutat curiga.
"Akibat ini panas tuh kulit nenek-nenek pada keriput!" Kikik si Tupai. "Nenek loe tuh kulitnya yang masih pada keset! Si Kancil ngeloyor pergi.
"Eh, dibilangin kagak percaya. Awas aja kalau kulit loe kayak kulit nenek loe! Ntar, gue bilangin nenek gue biar loe dikawinin!" Si Tupai berseru ngakak.
Di jalan si Kancil berpapasan dengan si Jerapah. "Cil mau kemana loe rapi amat!? Kondangan iya!?"
"Gak!" Sahut Si Kancil menggelengkan kepalanya. "Jangan bohong dong loe! Gue juga lapar nih." kata si Jerapah meragu.
"Iya loe makan aja tuh rumput susah amat!" ucap si Kancil. "Loe kata gue kambing apa!?" Dengus si Jerapah.
"Oh iya loe kan Jerapah ya," si Kancil nyengir geli. "Sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertempe pula!" Si Jerapah berlagak-lagak dengan peribahasa yang diplesetkan.
"Gue mau ngelamar kerja." sahut si Kancil.
"Hari begini loe ngelamar kerja yang bener aja dong!" si Jerapah jelas meragukan omongan si Kancil.
"Emang ngelamar kerja itu ada harinya apa!?" Tanya si Kancil sok penasaran. "Iya paling nggak, nggak hari Minggu kayak begini, Cil." seru si Jerapah.
"Lah gue kerjanya bukan di kantoran tapi..."Ucap si Kancil sekenanya. "Tapi di kintiran!?" Sela si Jerapah.
"Gue mau PDKT nih dengan..." Ucap si Kancil yang buru-buru mendekat ke si Jerapah lalu hendak berbisik ke telinga si Jerapah tapi ia mencari sesuatu. "Kenapa loe!?" Tanya si Jerapah.
"Gue lagi nyari kuping loe," sahut si Kancil. "Lah ini apa!" Kesal si Jerapah menarik-narik kuping sendiri. "Oh, itu kuping ya. Gue kira tempat pembuangan sampah," si Kancil angguk-angguk. "Bukan! Ini tempat buang Jin!" Rutuk si Jerapah.
Si Kancil pun berbisik ke telinga si Jerapah. Sekonyong-sekonyong si Jerapah membelalak. "Gila! Yakin loe!? Lah kakaknya kan musuh bebuyutan loe!" Seru si Jerapah.
"Mau gimana dong gue udah jatuh hati pada si Tari."
"Jatuh hati loe kata, yang ada loe jatuh ampela! Loe pikir gue bocah ileran apa!? Eh, Koncal Kancil Gue tuh udah kembang tahu maksud dan tujuan loe mau deketin si Tari!" Si Jerapah menunjuk si Kancil.
"Sok tempe loe! Emang apaan!?" si Kancil membusung dada.
"Eh, daun singkongnya Pak Haji noh loe embat, terus loe rebus, loe cocol pake sambal terasi, loe tambahi loe ikan asin, nah tuh enak tuh. Lah, ini Emaknya sebulan baru menjanda udah mau loe embat aja." ucap si Jerapah berpanjang lebar.
"Kan lumayan, Bro, bisa makan gratis di warung makan mereka." si Kancil cekikikan. "Gue udah paham si otak loe, Cil!? Loe itu kan mau dikatai percuma punya nama si Kancil, antara licik dan cerdik beda-beda tipis, loe." ujar si Jerapah. Si Kancil menepuk-nepuk dada. "Tapi itu namanya Loe membuka kembali luka lama loe dengan si Ular Kadut, anak sulung tuh Janda!" Tunjuk si Jerapah.
"Persoalan ya tinggal persoalan. Perasaan ya gak boleh diganggu gugat. Harus kena tuntaskan ini, Bro." Si Kancil berlagak. "Perasaan, lagak loe, Jangkrik." ejek Si Jerapah.
"Udah ah gue jalan dulu." Si Kancil minta diri. "Terbang loe sekalian!" Si Jerapah mendengus kesal.
Si Kancil berlalu sambil mengucapkan salam. Ditinggal sendiri, si Jerapah masih terdiam mematung, sambil bergumam. "Pantesan tuh janda gak bereaksi waktu gue gombali! Gue pikir gue yang kena lemah syahwat! Ternyata oh ternyata..." si Jerapah menggelengkan kepalanya.
Di sepanjang perjalanan si Kancil pun terkenang lagi peristiwa dulu, antara dirinya dengan si Ular Kadut. Pada suatu senja yang berkabut di perkebunan jagung milik Pak Tani.
Sementara di tempat sebelumnya, si Jerapah yang belum beranjak dari keterpakuannya, akhirnya bersiasat pula. "Lah loe kata gue kambing Congek apa!? Gue kabarin si Ular Kadut sekalian biar kena patok loe!" Dengus si Jerapah tertawa.
Tak lama berselang di pertigaan jalan ada seekor ular yang rusuh mendecis-deciskan lidahnya. Dialah si Ular Kadut anak sulung di Janda kembang tai ayam.
"Loe mau akhiri nih gencatan senjata, boleh!" Si Ular Kadut mengangguk geram. "Ntar, loe bakal rasakan bisa gue yang mematikan ini." Si Ular Kadut mendecis sinis.
"Eh, loe Dut ngapain?!" Sapa si Kancil mendapati si Ular Kadut lagi berdiri mematung di pinggir jalan. Si Ular Kadut menyahut tapi dengan pandangan mata yang tertuju ke arah yang berbeda alias buang muka."Dut! Dut! Dut! Loe kata gue Badut!"
"Hehehehe sensian loe, Bro!" Kekeh Si Kancil. "Loe kata gue tespack!" Si Ular Kadut masih aja nyolot. "Gimana kabar loe?" Tanya si Kancil melirik si Ular Kadut dari atas ke bawah. "Loe lihat gimana emangnya!?" Si Ular Kadut balik bertanya sekali ini mukanya tertuju ke si Kancil. "Makin kayak tuyul aja muka loe." ucap si Kancil.
"Mending gue kayak tuyul nah elo kayak jenglot!" balas si ular Kadut. "Jenglot itu masih sepupuan sama jengkol bukan!?" Eh, si Kancil malah belagak pilon. "Kakek Moyangnya!" ketus si Ular Kadut.
"Eh, loe udah dengar gosip loe!?" si Kancil bertanya sambil mendekatkan mulutnya ke telinga si ular Kadut. Si Ular Kadut buru-buru menghindar sambil berkata: "Udeh!"
"Gosip apaan emang!?" Tanya Si Kancil. "Loe incer emak gue!" Gerung Si Ular Kadut. Si Kancil membelalak kaget. "Gue incer emak loe!?"
"Loe mau balas dendam kan gue?! Si Ular Kadut menatap sinis. "Persoalan apa gue dendam sama loe!?" Tanya Si Kancil dengan tatapan bingung. "Karena gue pernah ngincer emak loe!" si Ular Kadut menuding dada si Kancil.
"Kadut! Kadut! Kadut! Padahal kita ini dulu sahabat sejati, best friends banget, tapi karena loe lebih memilih untuk percaya dengan omongan orang, akhirnya kita jadi.." Ucap si Kancil
"Itu semua gara-gara loe, gue loe tolak kan bapak tiri loe!?" Dengus si ular Kadut menggeram. "Siapa yang bilang!?" Tuding si kancil. "Si Jerapah!!" seru si ular Kadut.
"Si Jerapah loe dengerin! Dia itu udah ngerusak persahabatan kita! Malah gue itu mendukung loe jadi bapak tiri gue! Tapi si Jerapah noh yang ngompori emak gue! Dia bilang, kalo loe cuma mau harta warisan bapak gue!" Ucap si Kancil berpanjang lebar.
"Apa loe kata si Jerapah!?" Giliran si Ular Kadut membelalak mata. "Iya! Semalam suntuk gue berdoa agar loe berjodoh sama emak gue! Sampai gue puasa Senin-Kamis! Gue dukung loe! Tapi dasar si Jerapah... Kalo loe gak percaya tanya noh sama emak gue!" Sambung si Kancil.
"Emak loe kan udah almarhum." Kata si Ular Kadut.
"Kok loe tahu!?" Tanya si Kancil.
"Dari si Jerapah!" kata si Ular Kadut.
"Si Jerapah emang bilang apa aja sama loe?" tanya Si Kancil.
"Iya bilang waktu loe kemarin mudik karena emak loe udah almarhum." sahut si Ular Kadut.
"Loe tahu gak kenapa emak gue almarhum?!
"Emang gue dukun."
"Karena saban hari emak gue itu merindukan loe. Di tersiksa karena kerinduannya pada loe! Sementara loe... Bisa-bisanya loe termakan sama omongan si Jerapah. Apa yang loe lakukan ke emak gue itu jahat, Rangga!" Si Kancil membuang muka.
"Masak begitu!?"
"Tanya emak gue!"
"Emak loe kan udah koit!"
"Susulin!"
"Berarti ini semua..."
"Emak gue cinta sama loe! Cinta sampai ke tulang sumsum... Sama seperti gue mencintai emak loe!"
"Kurang ajar si Jerapah!"
"Bener! Si Jerapah itu kurang ajar!"
"Gue harus buat perhitungan sama tuh bangsat!"
"Kejar! Hajar! Sebelum tuh bangsat melarikan diri! Ntar gue bakal bantu, tapi duluan dah.."
Si Ular Kadut amuk! Mukanya merah membara menahan amarah yang tertahan di dada! Tanpa pikir panjang ia pun berlari sambil berteriak-teriak memanggil nama si Jerapah.
Sementara si Kancil sebisanya tersenyum sinis dan bergumam." Si Kancil mau loe lawan..."
Tampaknya si Ular Kadut lupa siapa gerangan si Kancil--licik dan cerdik beda-beda tipis!
"Hei Kancil loe pikir gue Onta apa!? Gue tahu siapa loe! Tunggu aja tanggal mainnya! Berani loe perawanin emak, gue patok terpedo loe!" Kata si Ular Kadut yang tampak bersembunyi di balik pohon tauge.
Lah janda dikata diperawanin, stres nih bocah!
Sekian dulu ah pusing gue!