Eps. 3
" Iya Din, ga papa, biar ibu sama Arini. " kata ibu yang tidak merasa curiga dengan sikap Andini.
Andini masuk kedalam rumah dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mencuci pakaian.
Didalam kamar mandi, Andini menangis, menumpahkan rasa sakit dan sesak di dada yang ia rasakan saat mengetahui jika Adrian sudah membohonginya.
Dilihatnya cincin yang masih melingkar dijari manis sebelah kiri, lalu membuka cincin itu dan menaruhnya di dekat tempat sabun mandi agar is tidak lupa.
" Mengapa kamu tega melakukan ini pada Dini, mas? mengapa kamu harus mempermainkan perasaan Dini? " kata Dini sambil terisak dikamar mandi.
Dini berusaha menahan suara tangisnya agar tidak terdengar keluar.
Dini takut jika ibu mendengar dan menanyakan keadaannya.
Setelah selesai mencuci pakaian, Dini membersihkan diri, ia berusaha agar tidak terlihat habis menangis.
Selesai dengan urusan cucian, Dini membereskan dan membersihkan rumah.
Dini juga mengompres matanya yang sembab menggunakan es batu.
Ibu tidak curiga ketika Dini sibuk di rumah dan tidak membantunya di warung.
Sudah jadi kebiasaan Dini, jika ada Arini yang membantu ibu di warung, maka Dini yang membersihkan rumah.
Dini melampiaskan kesedihannya dengan bekerja membersihkan rumah.
" Aku harus kuat, tidak ada yang perlu aku tangisi.
Allah menunjukkan kebenaran Nya dengan cara ibu memaksaku untuk mengantarkan makanan je rumah mas Adrian, dan inilah yang ingin Allah tunjukkan bahwa Adrian bukan jodohku, dia telah beristri. "
Dini bermonolog sambil mengerjakan pekerjaannya bahwa ia tak perlu menangisi semua ini.
Malam ini, Andini dan keluarganya tengah berkumpul dan menonton acara televisi.
Aria dan Andika duduk didekat pintu keluar karena mereka sedang merokok, sedangkan ibu, Dini dan Arini duduk di atas lantai beralaskan tikar.
" Ibu, mas,.. ada yang ingin Dini sampaikan. " kata Dini pada ibu dan kedua kakaknya.
" Ada soa, Din? " tanya ibu yang merasa heran karena tiba-tiba Dini terlihat sedih.
Kedua kakak Dini pun memperhatikan Dini yang tampak murung.
Dini mengambil sesuatu dari kantong bajunya, lalu meletakkan benda itu didepan ibu.
Ibu dan kedua kakak Dini melihat benda itu, yang ternyata cincin yang selama ini Dini pakai.
" Bukankah itu cincin pemberian dari Adrian? " tanya mas Aria pada Dini.
" Ada apa, Din? mengapa cincinnya kamu lepas? " tanya ibu heran.
" Bu, mas, Dini akan mengembalikan cincin ini pada mas Adrian. Dini, tidak ingin menikah dengan mas Adrian. " kata Dini yang berusaha tegar.
Arini hanya memandang iba pada Andini, karena ia tahu penyebab Andini menolak untuk menikah dengan Adrian.
Arini merasa sedih, tapi ia hanya diam saja, menunggu apa yang akan dikatakan Andini pada ibu dan kakaknya.
" Tapi kenapa tiba-tiba kamu ingin membatalkan menikah dengan Adrian? " tanya Aria yang semakin penasaran.
" Iya Din, bukankah ibu tadi memintamu untuk mengantarkan makanan pada Adrian. Apa yang terjadi di sana? " tanya ibu lagi pada Andini.
Andini menarik nafas dalam, lalu menghembuskan secara perlahan.
Ia ingin menghilangkan rasa sesak di dadanya saat ingat kejadian di rumah Adrian tadi.
" Itulah bu, ibu meminta Dini mengantarkan makanan ke rumah mas Adrian,. mungkin itu suatu petunjuk untuk membuktikan sebuah kebenaran. " kata Andini yang menghentikan ceritanya, lalu menarik nafas lagi.
Ibu dan kakaknya menunggu apa yang akan Andini ceritakan.
" Saat Dini dan Arini kesana, ada perempuan yang membuka pintu rumah mas Adrian, dan ternyata perempuan itu istri mas Adrian. " kata Andini sambil terisak.
Ia tidak sanggup melanjutkan ceritanya.
Tanpa diminta, Arini menceritakan apa yang terjadi saat ia dan Andini ke rumah Adrian
" Begitulah bu, mas, ceritanya. " kata Arini sambil menunduk.
Ia ikut menangis merasakan kesedihan kakaknya.
Tiba-tiba Andi berdiri dari duduknya, ia marah dan sakit hati atas apa yang dilakukan Adrian pada adiknya.
" Mau kemana, Andi? " tanya ibu yang sedang memeluk Dini yang menangis dalam pelukan ibu.
" Andi mau ke rumah Adrian bu, mau memberi pelajaran. Enak saja dia mempermainkan perasaan Andini. Dia pikir Andini apa? perempuan yang bisa dia permainkan? Sudah punya istri tapi mengajak Andini untuk menikah. " kata Andi dengan suara keras karena menahan marah.
Andi tidak mau jika adiknya direndahkan seperti itu.
" Duduklah dulu, Andi, tenangkan hatimu. Tidak ada gunanya kamu datang dan marah pada Adrian.
Kita ini orang susah nak, kita akan datang pada Adrian dan mengembalikan cincin ini, lalu membatalkan pernikahan Dini dan Adrian.
Kita tolak lamaran Adrian. " kata ibu yang berusaha sabar.
" Tidak bisa seperti itu, bu! Adrian sudah menghina keluarga kita! Sudah punya istri tapi berani melamar Andini. " kata Andi yang masih emosi.
Aria berdiri dan memeluk adiknya. Ia tahu jika Andi terluka atas perlakuan Adrian pada Dini.
Dia pun merasa demikian, merasa sakit saat adiknya dipermainkan seperti itu.
" Ibu benar, Andi, sebaiknya kita duduk dulu.
Tidak akan selesai. permasalahan jika diselesaikan secara emosi. " kata Aria pada Andi.
" Besok kita minta Adrian datang kesini dan minta penjelasan, apa maksudnya memperlakukan Dini seperti ini. " Aria mengusap punggung Andi yang masih ada dalam pelukannya.
Andi menangis karena merasa sedih dengan apa yang menimpa Andini.
Ibu sangat bersedih melihat keadaan anak-anaknya yang sakit hati pada Adrian, tapi ibu berusaha berpikir bijak agar anak-anaknya tidak salah mengambil langkah.
Mereka semua mendengar apa yang ibu sampaikan walaupun dalam hati mengutuk perbuatan Adrian pada Andini.
Mereka merasa jika Adrian hanya mempermainkan Andini dan keluarganya hanya karena mereka orang yang hidup sederhana.
Keesokan hari, selepas magrib Adrian memberanikan diri datang ke rumah Andini.
Ia ingin menyelesaikan permasalahan dengan Andini dan keluarganya.
" Assalamu'alaikum. " salam Adrian didepan pintu rumah saat melihat keluarga Andini tengah berkumpul diruang tengah.
" Waalaikumsalam. " jawab mereka serentak, lalu melihat ke pintu yang sedikit terbuka.
Terlihat Adrian berdiri di sana dengan kepala tertunduk.
Melihat Adrian, Andi langsung berdiri dan hendak menghajarnya, tapi dicegah oleh ibu dan Aria.
" Silakan masuk, nak Adrian, dan silakan duduk! " kata ibu ramah pada Adrian.
Ibu mempersilakan Adrian masuk seolah-olah tidak ada apa-apa antara Adrian dan anaknya Dini.
Ibu masih menyambut Adrian dengan baik, karena menurut ibu Adrian adalah tamu di rumah mereka dan harus diperlukan sebagaimana mestinya, terlepas pada permasalahan diantara mereka.
" Silakan jika ada yang ingin disampaikan, tidak perlu bertele-tele! " kata Aria tegas pada Adrian.
Sebagai anak lelaki tertua dan pengganti ayah mereka, Aria harus bisa menjaga nama baik keluarganya dimata Adrian.
Adrian sejenak menatap pada Aria, tidak menyangka jika Aria bisa bersikap tegas seperti itu.
Selama mereka berteman, Aria selalu bersikap baik dan suka bercanda.
Tapi malam ini, Adrian melihat sisi lain dari Aria.