" Tidak Dini, ini tidak. berlebihan. Mas pakaikan ya? " Adrian memegang tangan kiri Andini,. lalu menyematkan cincin cantik itu dijari manis tangan kiri Dini.
" Nah, terlihat cantik kan? cocok dipakai di jari manis kamu." Dengan perasaan senang Adrian menatap jari. manis Dini yang sudah terpasang cincin.
Sebenarnya Dini tidak mengenakan cincin itu, karena Dini merasa tidak pantas.
Tapi karena Adrian yang meminta maka Andini mengenakan cincin itu.
Setelah selesai makan, mereka kembali pulang karena hari sudah malam.
Sebenarnya belum terlalu malam, jam baru menunjukkan pukul sembilan malam.
Tapi karena Andini tidak terbiasa keluar malam,. maka ia meminta pada Adrian untuk segera pulang.
Adrian melajukan mobilnya pulang kearah rumah Andini. Tidak ada obrolan selama mereka dalam perjalanan karena mereka fokus dengan pikiran masing-masing.
Tiba didepan rumah Andini, Adrian menghentikan mobilnya. Ia tidak turun dari mobil karena akan segera pulang.
" Din, maaf ya? mas tidak mengantarkan Dini sampai rumah, tidak enak sudah malam. " kata Adrian pada Andini sebelum Andini turun dari mobil.
" Iya mas, tidak apa-apa, Dini ngerti kok.
Terima kasih ya mas untuk makan malamnya. "
Ata Andini yang memahami jika Adrian tidak mampir ke rumahnya.
" Mas yang terima kasih karena Dini mau mas ajak makan malam..
Terima kasih juga karena Dini mau mengenakan cincin yang mas beri. "
Adrian merasa senang karena Andini mau diajak makan malam dan mau mengenakan cincin yang diberinya.
" Dini pulang dulu ya, mas? Assalamu'alaikum. "
Setelah Dini mengucapkan salam dan dijawab oleh Adrian, Dini turun dari mobil dan berjalan menuju rumahnya.
Setelah Andini masuk kedalam rumah, Adrian melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Andini untuk pulang ke rumahnya.
°°°°°
Hampir dua bulan setelah kejadian Adrian memberikan cincin pada Andini, hubungan mereka semakin akrab.
Hampir setiap hari Adrian sarapan di warung ibu Andini sebelum berangkat bekerja, dan Andini selalu melayaninya.
Keluarga Andini sudah tahu jika Adrian memberikan cincin pada Andini karena Andini menceritakan semua pada keluarganya.
Tidak ada yang Andini tutupi mengenai hubungannya dengan Adrian pada keluarganya.
Pagi itu, sudah dua hari Adrian tidak datang untuk sarapan.
Ibu merasa heran, lalu bertanya pada Andini.
" Din, sudah dua hari Adrian tidak datang untuk sarapan, kemana dia? " tanya ibu heran pada Andini.
" Dini tidak tahu bu, karena Dini juga tidak menerima kabar ataupun bertemu dengan mas Adrian." Jawab Dini pada ibu.
" Mungkin mas Adrian bosan bu, sarapan setiap hari disini. Atau mas Adrian sedang pulang menemui keluarganya. " sambung Andini lagi.
" Kalau bosan sarapan disini sih mungkin saja, walau tidak setiap hari makan disini dan tidak selalu makan nasi uduk.
Terkadang kan Adrian sarapan nasi dan lauk masakan kita. " kata ibu yang meragukan jika Adrian bosan makan ditempat mereka.
" Kalau pulang ke rumah keluarganya juga ga mungkin, masa dia tidak memberitahu mu.
Lagian sore kemaren mas mu bertemu dengan Adrian saat akan pergi bermain bola. "
Kata ibu yang mengingat jika tadi malam kakaknya Andini bercerita bahwa dia bertemu dengan Adrian saat akan bermain bola.
" Sebaiknya kamu jenguk kesana Din, sekalian bawakan makanan.
Siapa tahu dia tidak datang karena sedang sakit. "
kata ibu yang meminta Andini untuk menjenguk Adrian.
" Lha, kata ibu kemarin mas Aria bertemu sama mas Adrian, kalau begitu tidak mungkin mas Adrian sakit. " kata Dini yang mengingatkan jika kemarin Aria bertemu dengan Adrian.
" Kamu lihat sajalah kesana, inikan hari sabtu, biasanya dia libur dan ada di rumah. " kata ibu yang meminta Andini untuk tetap melihat keadaan Adrian.
" Dini tidak enak bu kalau datang sendirian, nanti malah jadi omongan orang. " kata Dini yang menolak perintah ibu untuk menjenguk Adrian.
" Kamu ajak adikmu, Arini, untuk menemani kesana. Tidak usah masuk kedalam rumahnya.
Cukup berikan makanan padanya dan lihat keadaannya. " kata ibu yang tetap meminta Andini untuk ke rumah Adrian.
Dengan berat hati, Andini menyiapkan makanan yang akan dibawa ke rumah Adrian menggunakan rantang.
Ibu memanggil Arini untuk menemani Andini ke rumah Adrian.
" Rin, kamu temani mbak mu Dini ke rumah mas Adrian untuk mengantarkan makanan.
Ingat, kalian tidak perlu masuk kedalam rumah, cukup antarkan diluar saja. "
Ibu meminta Arini untuk mengantarkan Andini ke rumah Adrian dengan catatan tidak perlu masuk kedalam rumah Adrian.
" Baik, bu! Mari mbak kita antar makanannya ke rumah mas Adrian." Arini menyetujui untuk mengantarkan Andini ke rumah Adrian.
Andini dan Arini berjalan kaki menuju rumah Adrian karena tidak terlalu jauh.
Tak lama mereka sampai di rumah Adrian yang terlihat sepi.
Andini mencoba mengetuk pintu, takut jika Adrian benar-benar sedang sakit.
Tok..
Tok.. " Assalamu'alaikum. " ucap salam Andini.
Karena tidak mendapat jawaban, Andini mengulangi sekali lagi.
Tok..
Tok... " Assalamu'alaikum. " salam Dini sekali lagi.
" Mungkin ga ada orangnya, mbak! " kata Arini pada Dini.
Sebelum Andini menyahuti kata-kata adiknya, dari dalam terdengar seseorang menjawab salam Andini..
" Waalaikumsalam, sebentar! " jawab seseorang dari dalam.
" Kok suaranya perempuan mbak, siapa ya? " tanya Arini pada Dini.
" Mbak juga tidak tahu, Rin! " jawab Andini.
Tak lama terdengar seseorang membuka kunci pintu, lalu membuka pintu.
Terlihat seorang perempuan muda yang cantik dengan rambut sebahu berdiri didepan pintu.
Andini dan Arini saling pandang.
" Maaf dek, cari siapa ya? " tanya perempuan itu pada Andini dan Arini.
" Maaf mbak, kami mencari mas Adrian.
Mas Adrian nya, ada? " tanya Andini.
" Ada keperluan apa ya? " tanya perempuan itu penuh selidik.
" Maaf sebelumnya mbak, saya Andini dan ini adik saya Arini. Kami kesini diminta ibu untuk mengantarkan makanan ini buat mas Adrian. " kata Andini menjelaskan tujuan kedatangannya bersama Arini.
" Oh iya, kenalkan nama saya Sinta, saya istrinya mas Adrian. " kata perempuan itu dengan sedikit sinis.
Tiba-tiba dari dalam rumah, ada seseorang yang bertanya pada Sinta.
" Ada siapa sayang? kok lama sekali berdiri di luar." kata orang itu yang Dini tahu jika itu suara Adrian.
Dini terdiam saat mendengar Adrian yang memanggil sayang pada perempuan itu.
" Ini sayang, ada yang mengantarkan makanan buat kamu. " jawab Sinta pada Adrian.
Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu.
" Siapa sayang? " tanya Adrian yang sudah berdiri didekat istrinya, dan seketika ia terkejut melihat ada Andini dan Arini didepan pintu rumahnya.
" Maaf. mas, saya kesini diminta ibu untuk mengantarkan. makanan ini.
Karena mas tidak dateng untuk sarapan di warung, ibu takut kalau mas Adrian sakit. " kata Andini yang menyerahkan rantang yang ia bawa pada Adrian.
Adrian masih merasa terkejut dengan kedatangan Andini ke rumahnya.
Ia menatap Andini lekat, tapi Andini pura-pura tidak tahu dan. menyerahkan rantang itu.
Karena Adrian diam saja, Sinta berinisial mengambil rantang itu dari tangan Andini.
" Kalau begitu, kami permisi dulu mbak, mas! Assalamu'alaikum. " kata Andini setelah Sinta mengambil rantang dari tangannya, lalu segera pulang meninggalkan rumah Adrian tanpa menunggu jawaban salam dari Sinta dan Adrian.
" Ada apa sih mas, kok malah bengong. Ini ada yang kirim makanan, ayo kita makan dulu. " kata Sinta yang mengajak Adrian untuk makan.
" Mbak tidak apa-apa? " tanya Arini pada Andini.
" Mbak tidak apa-apa Rin. Tolong jangan ceritakan dulu pada ibu. Nanti malam saat mas Aria dan mas Andi ada di rumah, mbak akan ceritakan semua pada mereka juga pada ibu. "
Andini meminta pada Arini untuk tidak menceritakan apa yang mereka lihat tadi pada ibu saat mereka sampai di rumah nanti.
Andini akan menceritakan semuanya pada saat keluarganya berkumpul nanti malam.
" Baik, mbak! " jawab Arini patuh pada apa yang diminta oleh Andini.
Sampai di rumah, Andini dan Arini bersikap seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.
Sebenarnya Andini merasa sakit dan hancur dengan apa yang dia lihat tadi.
Adrian yang memberinya cincin dan mengajaknya menikah ternyata telah memiliki istri yang cantik.
Andini berusaha menahan kesedihannya agar ibu tidak tahu.
Dini tidak mau jika ibu kepikiran dan akhirnya jatuh sakit.
" Adrian nya ada., Din? " tanya ibu saat Dini dan Arini tiba di rumah.
" Ada bu, mas Adrian sedang ada tamu. " jawab Andini berusaha menahan tangisnya.
" Bu, Dini mau mencuci baju dulu ya? biar Arini yang membantu ibu di warung. " kata Andini pada ibu.
Andini berusaha menghindari ibu agar ibu tidak tahu kesedihan yang sedang ia rasakan.