Nasrun adalah seorang anak SMP kelas 9 yang sebentar lagi akan menjalani ujian. Ia hidup pada tahun 18xx, ia adalah seorang anak yang berkemampuan rata-rata, seberapa keras apapun ia berusaha, ia tidak akan bisa mengalahkan teman sekelasnya yang begitu jenius, Alfredo.
Nasrun dilahirkan di keluarga yang miskin, ia telah didorong sejak kecil agar menjadi anak yang mandiri karena kedua orangtuanya setiap hari bekerja dari pagi hingga malam untuk menghidupi kebutuhannya meskipun hasilnya tidak seberapa.
Islam adalah agama minoritas pada saat itu, populasinya sekitar 5% dari seluruh kota. Ya, dan Nasrun belum pernah menjumpai teman sesama muslim di sekolah umum.
Nasrun bercita-cita ingin melanjutkan sekolah ke SMA hingga perguruan tinggi, namun ia tau bahwa orangtuanya tidak mampu membiayainya. Nasrun saat ini sedang berjuang keras belajar untuk mendapatkan beasiswa, namun seberapa keraspun ia belajar, nilainya masih belum bisa mendapatkan nilai sempurna meskipun ia dapat nilai 80-an. Ia tidak puas karena nilai tersebut tidak dapat menolongnya mendapatkan beasiswa.
Nasrun juga seorang anak yang berbakti kepada orangtuanya, setiap hari ia membantu kedua orangtuanya dengan melakukan segala pekerajaan rumahnya.
Bukan hanya itu, Nasrun juga seorang anak yang cerdas dalam agama, setiap hari ia pergi mengaji ke masjid, pondok, maupun tempat lainnya, dilakukannya secara umum maupun privat di rumah gurunya.
Setiap hari ia membagi waktunya, waktu jam 3 sampai 6 pagi, ia menggunakan waktunya untuk beribadah, lalu ia bersekolah dari jam 7 pagi hingga 2 siang. Setelah itu, ia melakukan segala pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci pakaian, dan lainnya hingga sampai maghrib. Pada saat waktu maghrib, ia menggunakan waktunya untuk belajar, hingga setelahnya ia istirahat karena lelah.
Saat beberapa hari sebelum ulangan, terdapat acara pengajian yang wajib diikuti oleh semua kalangan, pengajian tersebut diadakan setiap jam 4 sore hingga 9 malam selama 7 hari. Hati Nasrun dipilihkan dengan pilihan-pilihan yang super berat baginya, ia ingin meminta izin untuk belajar supaya bisa mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke SMA.
Pada saat itu, islam begitu diatur sangat baik oleh pemimpinnya. Pengajian yang saat itu diadakan ialah pengkajian ulang hadis tentang perihal puasa dan solat sunah.
Namun Nasrun teringat, bahwa seberapa keraspun ia berusaha, hasilnya tetap tidak akan berubah.
Nasrun pada suatu ketika pergi ke rumah temannya, Alfredo. Ia meminta saran supaya bisa mendapatkan nilai bagus.
Jawaban yamg diberikan Alfredo begitulah tidak menyenangkan hati Nasrun, “belajarlah dengan keras dan sungguh-sungguh.” Karena Nasrun merasa bahwa setiap hari ia membaca buku dan berusaha tetap mengingat, namun selalu lupa.
“Seringkali kamu juga bisa mengganti cara belajarmu, aku bisa membantumu untuk itu. Besok kau bisa datang ke rumahku lagi malam ini. Oh ya, aku tidak punya waktu luang yang lain selain malam hari.” Lanjut Alfredo.
Nasrun teringat dengan adanya pengajian tentang puasa dan solat sunah setelah itu, ia merasa bahwa dirinya dihadapkan pada 2 jalan yang berbeda.
“Bolehkah aku memberikan jawabannya besok pagi?” Tanya Nasrun.
“Tentu saja.”
Nasrun pulang ke rumah dengan keadaan bingung, mana yang harus ia pilih? Mengikuti pengajian atau mengikuti pengajaran yang akan diberikan oleh Alfredo. Ia berbaring di atas kasur sambil mengingat keadaan orangtuanya. Di samping itu, pengetahuannya tentang puasa dan solat sunah kuranglah luas.
Nasrun beranjak berdiri dan pergi melakukan rutinitas hariannya, melakukan pekerjaan rumah tangga.
Pada saat ia sedang mencuci piring, ia melihat bayangan dirinya dari air, dan mengingat suatu nasihat yang diberikan oleh gurunya.
“Jika kamu lebih memilih Allah daripada urusan dunia, niscaya akan secara otomatis, Allah akan memudahkan urusanmu.”
Nasrun mengingat bahwa seringkali ia selalu datang terlambat ke pengajian perihal “belajar”, ia lebih memilih belajar dan terus belajar tanpa memandang realitas bahwa dirinya adalah orang yang ber-IQ standar ke bawah.
“Kenapa dari dulu aku selalu datang telat ke pengajian?” Pikir Nasrun.
Ia segera menyelesaikan pekerjaan rumah dan bersiap-siap untuk pergi ke acara pengajian yang ada.
“Aku yakin bahwa pertolongan Allah akan datang.” Pikir Nasrun.
Ia mengingat apa yang dikatakan oleh gurunya lagi.
“Jika kamu semakin jauh dari Allah, maka Allah akan semakin menjauhimu. Namun apabila kamu semakin dekat kepada Allah, maka Allah akan semakin dekat padamu. Karena pada dasarnya, kita sebagai hambalah yang membutuhkan Allah, bukan Allah-lah yang membutuhkan kita.”
“Terima kasih, Pak Ilham.” Ucap Nasrun di dalam benaknya.
Nasrun telah sampai di depan masjid dimana pengajian diadakan, perasaanya begitu lega dan tercerahkan.
Pada keesokan harinya ketika ujian penentu kelulusan, ia tidak lupa meminta doa dari kedua orangtuanya, yang mana mereka mulanya adalah orang yang tidak percaya pada Tuhan manapun.
Nasrun teringat pada zaman dahulu ketika SD, yaitu saat dimana kedua orangtuanya melarangnya untuk pergi mengaji, karena ia khawatir dengan masa depannya. Kedua orangtuanya ingin Nasrun sekolah yang pintar.
“Kau tidak boleh pergi mengaji! Buat apa mengaji?! Belajarlah supaya masa depan kamu terjamin!” Bentak ayahnya padanya.
Nasrun pada saat itu adalah seorang anak yang tertarik pada agama islam, karena rumornya agama Islam adalah agama yang buruk, namun Nasrun melihat hal yang berkebalikan dari itu. Nasrun pada saat itu terkesan seperti seorang anak yang bandel dan nakal, ia seringkali membuat orangtuanya marah karena kedapatan membawa lembaran Al-Qur’an ke rumah.
Hingga pada suatu saat ketika pengumuman kelulusan SD, Nasrun mendapat nilai tertinggi ke-20 besar di satu negeri. Kedua orangtuanya sontak terkejut sekaligus bangga. Padahal sebelumnya Nasrun selalu mendapat nilai rata-rata.
“Ayah, ibu.” Ucap Nasrun dengan wajah memelas.
“Sekarang aku bisa membuktikan pada ayah dan ibu bahwa aku bisa belajar dengan giat, aku ingin supaya ayah dan ibu tidak menggangguku dalam urusan belajar agama Islam.”
Sang ibu terlihat seperti mengangguk kepada sang ayah.
“Baik, ayah dan ibumu mengizinkanmu.”
Sontak Nasrun begitu bahagia lalu pergi ke kamar sambil memeluk gulingnya dengan perasaan senang.
Hari demi hari, Nasrun berubah dari anak yang bandel dan nakal menjadi anak yang begitu mandiri dan berbakti.
Kedua orangtuanya penasaran seperti bagaimanakah agama islam, karena Nasrun menjadi seorang anak yang begitu berbaktik. Mereka memutuskan untuk pergi ke hadapan Nasrun dan menanyainya mengapa Nasrun sudah tidak pernah sekalipun membantah ucapan mereka, tidak pernah menjawab dengan nada tinggi, dan selalu memprioritaskan orangtua di atas segalanya.
“Karena dalam Islam, Allah memerintahkan kepada hambanya supaya menghormati dan berbakti kepada kedua orangtua.”
Mereka kembali bertanya mengapa meskipun mereka seringkali mengganggu Nasrun yang sedang solat, atau seringkali menyuruh Nasrun supaya keluar dari agama Islam, Nasrun tidak pernah sekalipun marah, ia menolak dengan halus dan tidak membentak.
“Karena Allah memerintahkan kepada hambanya supaya menolak perintah orangtua yang bertentangan dengan aturan Allah dengan ucapan yang halus dengan nada yang lembut.”
Kedua orangtuanya Nasrun pada saat itu terharu dan kemudian menyatakan beragama islam di hadapan Nasrun.
Ulangan mapel matematika telah dimulai, Nasrun pada saat itu kebingungan karena tidak tau mana jawaban yang benar, beruntunngnya soal pilihan gandalah yang ia kerjakan.
“Ya Allah. Bagaimana caraku mengerjakan ini? Mana pertolongan Engkau?”
Waktu sudah tersisa 10 menit dan masih ada 75% soal yang belum dikerjakannya. Meskipun pada saat kondisi seperti itu, Nasrun tetap bersikap jujur dengan tidak menyontek.
“Ya Allah. Bagaimana ini? Aku begitu tidak paham bagaimana cara mengerjakan ini? Bismillah Insyaallah yang inilah jawaban yang benar.” Pintanya sambil ngasal memilih jawaban.
Keesokan harinya datanglah mapel yang lain, kejadian yang sama seperti mapel matematika menimpa lagi, hal tersebut terjadi pada setiap mapel hingga hari pengumuman telah datang.
Nasrun melihat ke papan pengumuman, ia begitu terkejut. Ia melihat namanya berada di peringkat kedua di bawah Alfredo.
“Alhamdulillah! Nilai ini memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa!” Ucap Nasrun di dalam benaknya sambil mengeluarkan beberapa tetes air mata karena terharu.
Nasrun pulang dalam keadaan senang, ia memperlihatkan hasilnya kepada kedua orangtuanya. Mereka begitu bahagia dan bangga kepada Nasrun.
Akhirnya, Nasrun bisa mendapatkan beasiswa dan dapat melanjutkan pendidikannya serta sebagian uang tersebut digunakan untuk menopang ekonomi keluarganya.
***
Tamat.
Cerita dibuat secara orisinil oleh Muhammad Rizky Bayu Prasetyo, dengan beberapa inspirasi yang didapatkan dari guru mengaji saya.
Tulisan ini memiliki hak cipta.