Sinopsis: Kapan terahkir kali kita bertemu orang tua ataupun berbincang senda gurau dengan orang tua kita? Ya, seperti seorang anak bernama Fachri membangkang, mencaci, dan menghakimi orang tuanya sendiri. Tetapi orang tuanya Fachri tidak di pungkiri mengalami kecelakaan maut.
Inilah kisah di cerpen ini 'Penyesalanku'. Berbaktilah dan sayangilah orang tua kita selagi ada. Dan hormati juga orang tua mu.
Ikuti terus kisahku!
___________________________________________________
Ibuku berseru kepadaku “Fachri kau pergi lagi?”
“Ya memang mengapa? Tidak senang? Pergi aja sana wanita sialan!” Anakku molontarkan kata-kata pedasnya dan pergi meninggalkan ku tanpa mengucap salam.
Ya, tadi itu anakku. Namaku Yati Sunarti, aku tinggal di pinggir Kota **** (Tidak bisa disebutkan). Aku akan menceritakan kisah pilu anakku. Itu tadi anakku, emang wataknya keras, angkuh dan suka mencaci maki bahkan kasar. Bukan hanya kepadaku, tetapi kepada orang sekitarnya.
***
(FLASHBACK KE MASA LAMPAU)
[Teng, Teng, Teng]. Bell lonceng sekolah berbunyi menandakan keluar istirahat. Disitulah anakku yang seharusnya kekantin, malah memalak teman-teman sebangku juga adik kelasnya (disini Fachri masih kelas 5).
“Hei tolol! Minta uang mu sini! ” Dengan gaya bicara Fachri yang kasar dan keras.
Anak kecil itu gemetaran sambil menggenggam erat tangan yang berisi uang tersebut “Ja-jangan Bang! I-ini uang jajanku untuk 3 hari kedepan, nanti kalo tidak ada aku mau jajan apa? Kasihanilah akuu...”
Fachri meninju anak itu sembari merampas uangnya “Kau pikir aku ini bapakmu? Hah? Kau minta aja sana lagi! Jangan lupa storan mu besok pengecut!” Fachri pun meninggalkan tempat tersebut.
Keesokannya si Anak tadi pun mengadu oleh kedua orang tuanya yang berada di rumah, lalu ia menceritakan semua yang terjadi. Ya, Fachri pun di panggil oleh Kepala Sekolah dan Kepala Sekolah pun membuat ’Surat Pemanggilan Orang Tua’ bahwa si Fachri ini digugat karena telah merampas hak milik orang lain juga membuat memar dibagian wajah anak tersebut. Aku pun dipanggil oleh Kepala Sekolah, dan kubaca surat resmi yang sangat memalukan.
“Pak, apakah benar anakku melakukan hal begitu? Biasanya saya selalu memberikan uang saku yang cukup untuk anak semata wayangku ini pak!” Yati menangis dengan tidak menyangka nya.
Fachri menampar dan mengoyah erat pada kerah baju anak itu “Berani kau mengadu pada dua orang tuamu Anak sialan! Persetan kau!” lalu kedua orang tuanya beserta aku melerai anak kami masing-masing.
“Buk, saya ga mau tau ya! Ibu harus mengobati anak kami (Surya) Lihat! Nakal sekali dia! Tak beradab dasar keluarga miskin yang tidak punya moral dan akal sehat nya!” Ayah Anak tadi (Surya) Mencaci kami karena miskin dan anakku yang nakal.
Yati naik pitam dan meninggikan suaranya juga mengumpat sembari menunjuk kearah tubuh Ayahnya Surya “Kami memang keluarga miskin dan sederhana, bukan berarti kami tidak punya moral dan akal sehat! Percuma saja kau kaya kalau pikiran mu dangkal seperti otak udang!”
Lalu Kepala Sekolah pun menenangkan kami satu sama lain. Dan akupun harus membayar iuran tuk mengobati luka anaknya. Sekarang aku bingung, bagaimana untuk makan kami besok sedangkan sudah lah uang itu terpakai untuk membayar pengobatan anak orang lain. Akupun hanya bisa sabar dan mencari pinjaman, tapi banyak orang yang tak mau meminjamkan kepada keluarga kami. Karena banyak sekali hutang yang belum kubayar pada mereka. Aku sadar dan berpikir siang kian malam berganti, kuterus-terusan berpikir bagaimana cara melunasi hutangku. Aku selalu dikejar-kejar rentenir karena hutangku yang tak kunjung kulunasi dan beserta bunga-bunga nya yang kutumpuk seperti buku juga tebalnya seperti buku novel.
“Bu, makanan hari ini mana? Biasanya tempe dan tahu ada dimeja” Ayah membuka tudung saji dan hanya melihat piring yang bersih tanpa isi.
Ibu berbisik pada Ayah (Ayah yang dimaksud adalah suaminya) “Maaf Yah, kemarin anak kita membuat masalah disekolah jadi aku harus mengobati anak yang menjadi korban, anak kita adalah pelakunya. Mau tidak mau ya bagaimanalah..” Ibu menghela nafas panjang.
“Anak itu, bagaimana cara kita memberi tahunya. Apa yang kurang kita sebagai orang tua? Memang salahku, semuanya salahku! Aku yang telah salah mendidiknya menjadikan ia manja, malas dan hanyalah pembuat onar juga nakal.” Ayahnya meneteskan air mata kekecewaan dan kesengsaraan dalam lubuk hatinya yang sedalam-dalamnya.
Ibu memeluk Ayah dengan mengusap rambut yang memutih dan hampir botak itu “Sst! Yah sudahlah. Ini bukan salahmu 100%, mungkin saja Ibu yang salah. Atau memang watak anak kita seperti itu. Sudah ayo pak ibu siapkan makanannya, bapak tunggu disini ya.” Yati mengambil piring dan garam untuk Suaminya makan. Mereka makan berdua dengan perasaan kesal dan kecewa.
***
(BERGANTI KE MASA SEKARANG)
“Fachri selalu saja pulang rumah dengan lambat, paling cepat 3 hari, paling lama 2 Minggu. Jikalau bukan karena uang sakunya habis, ya membuat masalah. Terkadang aku heran bagaimana cara menasehati dan memberitahunya. 1001 Cara yang kami upayakan tak kian membuahkan hasil, hanya berupa pelampiasannya semata dimatanya bagiku. Mungkin dia tak menganggap ku dan suamiku sebagai orang tua, melainkan robot penghasil ATM nya saja. Aku selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, tapi juga sama. Kyai, Ustadz, dan bahkan Orang Pintar pun tak ada hasilnya ataupun [Nihil]. Entah kapan Fachri berpikir dewasa? Kamipun tak tahu bagaimana nasibnya ketika kami sudah meninggal dunia. Apakah ia mandiri? Ataupun terlantar, aku harap, aku bisa berumur panjang”. Unek-unek dikepalanya selalu bersuara tak menentu (Yati).
Ayah membalikan badannya yang tengah tidur dan melihat Istrinya melamun sambil bergumam “Duhh Bu, kok belum tidur malah bergumam? Ibu ngelantur ya? (Ngelantur = mengigau).”
“Ahh tidak kok Yah, sudah sana Ayah tidur saja lagi. Ibu hanya memikirkan besok mau masak apa sedangkan bawang merah saja habis hehe” Yati mengatakan dengan yang tidaklah sebenarnya.
Ibupun tertidur dan tak terasa pagi kembali. Kini ia melaksanakannya ibadah yakni ‘Salat Subuh’. Yati pun membangunkan Anak, Suami dan dirinya sendiri. Ia mengambil Wudhu dan Sholat. Namun anaknya enggan melaksanakan ibadah tersebut. Sudah 3-4 kali Ibunya mengajaknya begitu juga ayahnya. Tapi Fachri malah memakinya.
“Ahh! Bacot sekali kalian orang tua biadab! Menggangguku tidur ku saja yang indah tadi!”.
“Fachri, kau tega sekali! Ibu hanya mengajakmu Ibadah. Apakah kamu tidak takut dengan Tuhan? Ingat Fachri selagi kita masih ada didunia laksanakan lah bergerak dan ambil Air Wudhu mu.”
“Fachri dengarkan dan tanamkan itu didalam dirimu, toh Ayah juga tak pernah mengajarkan mu untuk membantah!”
“Aghh! Pergi sana orang-orang Persetan! Dasar kalian! Apa gunanya melakukan ibadah, toh kita masih aja miskin tidak ada gunanya! Sudahlah aku pergi aja!”
Ayah mencegat badannya ditengah menghalangi jalan keluar Fachri “Mau kemana lagi kamu? Ayo kita Salat Subuh dulu.”
“Kalian aja sana! Aku malas!” Fachri pergi dengan membanting pintu hingga rusak.
Ibu beserta Ayahnya pun melaksanakan ibadahnya. Fachri entah kemana lagi ia pergi tak ada orang tuanya mengetahui. Fina sebagai teman semasa kecilnya Fachri melihat Fachri main dengan teman-teman nya yang memakai Narkoba dan ia pun mencoba Narkotiotika tersebut. Lalu Fina melaporkan kepada orang tuanya. Fina berlari dan sampai tujuan nya [Kerumah Orang Tua Fachri]
Fina terengah-engah karena lelah “(Huh-hah, Huh-hah,) Bi-bi.. Fachri..”
“Kenapa Fachri? Coba tarik nafas, dan, hembuskan..” Yati memberikan arahan pada Fina dan memberinya air putih hangat.
“Fachri memakai Narkoba Buu! Saya lihat sendiri, saya ada fotonya!” Sembari Fina menunjukkan hasil tangkapan layar ponsel nya pada Yati.
Tiba-tiba ada Polisi yang mendatangi kediaman Yati dan keluarga. Polisi itu meminta Yati menghadap ke kantor polisi karena kasus terjeratnya Fachri sebagai Bandar Narkoba, yang kini ia menjadi Buronan.
“Ya Allah, Astaghfirullah hal adzim.. Fachri apa yang kamu perbuat selama ini nak!” Ibunya berdiri lemas tak berdaya dengan terduduk dilantai dalam Kantor Polisi tersebut.
“Buk, jika ibuk menemukan anak ibuk tersebut ibuk ataupun kami akan tetap menghubungi ibuk. Dan ibuk menunggu saja. Karena kasus ini sebenarnya sudah lama di bungkam warga, karena warga resah dengan Fachri yang mengedarkan Narkoba pada Remaja. Bukan hanya remaja bahkan Anak-anak pun menjadi korbannya.”
Setelah itu Fachri pun pulang kerumahnya sendiri dan melihat mata Ibunya yang menyeringai melotot tajam padanya. Namun Fachri merasa bodoh amat apa yang terjadi pada orang tuanya. Yang ia tahu itu adalah penghasil ATM berjalanya saja.
Fachri masuk tanpa permisi dan melihat Ibunya yang berbeda dengan sebelumnya “Hei kau, ngapain menatap ku begitu? Kau mau ku tampar lagi huh?”
Ibu nya berkata tegas “Darimana saja kau Fachri? Ibu didatangi oleh 2 orang polisi tadi? Apakah kau pemakai nak?! Jawab pertanyaan Ibu dengan jujur!”
Fachri mengatakan acuh tak acuh “Halah bukan urusanmu!” Sambil mendorong ibunya dengan keras hingga terdorong ke dinding.
Namun ibunya tidak melaporkan anaknya tersebut, malah tetangga nya yang sudah tau ia adalah buronan malah melaporkan nya dan menindaklanjuti perkara tersebut. Seperti yang kalian tahu, Fachri di tangkap. Dan Fachri divonis 9 tahun penjara.
***
Setelah Fachri dipenjara hidup ku terasa tentram. Tak ada pengaduan siapapun, dan aku bisa berjualan dan menyisihkan uang dengan tenang. Tak ada lagi tetangga yang membicarakan keluarga kami tentang hal buruk. Siapa sangka Fachri tak terasa lambat-laun sudah bebas dari pidana nya, tanggal 23-September-2014, Aku menunggu nya keluar dari penjara hendak menjemput nya sambil menenteng makanan yang ia bawa.
“Kamu sudah keluar nak? Alhamdulillah nakk” Yati sambil memeluk Fachri tersebut.
Fachri pun melepas cengkraman pilu nan rindu Ibunya dengan paksa “Agh sana kau, kau bukan Ibuku! Ibuku bukan perempuan kumuh seperti pengemis begini! Ini juga buat apa kamu membawakan makanan yang gak higienis kepadaku! Dasar udahlah miskin sok memberi. Sudahlah aku banyak waktuku tuk hal lain!” Fachri pun pergi meninggalkan ibunya.
***
(BERALIH KE CERITA FACHRI)
Selepas Fachri meninggalkan ibunya tadi, ia malah ketempat cafe-cafe yang tidak senonoh. Ia langsung membayar kepada Madam dan memberikan sejumlah uang yang lumayan besar. Dan salah satu Pelacur itupun masih awal, karena Pelacur ini membutuhkan uang untuk biaya pengobatanya. Namun Fachri tak mau dan ngeyel memakai aturan yang disuruh oleh Madam dan Pelacur itu. Ya Fachri pulang dengan keadaan puas setelahnya. Selang beberapa Minggu, ia bermain dengan teman lamanya dan Pelacur tadi menemukan Fachri dimana ia berada.
“Hei bang, karena perbuatan mu aku telah hamil 2 Minggu! Mau tidak mau kamu harus tanggung jawab!” Ucap Pelacur itu sambil menangis.
Mau tidak mau Fachri harus menyanggupi permintaan nya. Ibunya yang mengetahui nya sangat kecewa sejadi-jadinya. Ia tak tahu bagaimana berkata lagi dan hanya bisa menerima mantunya tersebut dengan senang hati mau tidak mau. Dan Fachri pun menikahinya dengan sesederhana mungkin.
***
(BERALIH KE IBUNYA)
Dan selang 9 Bulan kemudian, Fachri tidak kunjung pulang setelah 3 Hari. Entah kemana lagi ia. Dan aku juga suamiku membawa mantuku ke bidan terdekat. Yaa anak itu terlahir putih bersih juga anak cowok. Cucuku kuberi nama “Fatih”. Fatih tumbuh menjadi anak yang penurut, patuh dan tak suka membantah. Aku senang sekali terhadap cucuku itu. Aku sekarang tidak terlalu memikirkannya Fachri, yaa karena ia juga entah dimana keberadaan nya yang sulit di jangkau. Hari demi hari kami lalui sudah 2 tahun ia tak kunjung pulang. Namun naluri positif ku berkata 'Palingan ia kerja sekarang dan menghasilkan uang sendiri’. Tapi terkadang tidak. Istrinya risau jikalau suaminya main dengan perempuan lain. Yaa mana kami tahu ia dengan siapa dan mengapa?
Disamping itu pula aku mengajak bermain cucuku sambil jualan. Tidak terduga ia jatuh pingsan dan ia seperti kesulitan bernafas. Kamipun pontang-panting membawanya ke Puskesmas terdekat untuk di cek apa penyebab nya. Pihak puskesmas berkata
“Bu, maaf ya. Seperti nya anak ini harus dibawa kerumah sakit, karena fasilitas kami kurang, mendorong dan membantu anak ini untuk pulih.” Sambil meresepkan obat sementara itu.
Kamipun lari dan bersama sendalku yang putus. Jualan kami tak tau menau, dikabarkan tetangga jualanku lah yang bantu membereskan itu semua. Fachri di diagnosis penyakit 'Asma’. Yaa memang masih kondisi ringan dan syukur tidak terjadi apa-apa kepada cucuku tersayang itu. Aku melihat cucuku itu lambat-laun mengurus kering, seperti orang tak makan. Ia bolak-balik memakai inhaler nya. Sering pingsan dan tak menduga ia telah kompilasi. Kami kira ia hanya tidur tidak taunya gelajanya kambuh, kami kebetulan dirumah sedang menonton TV sekeluarga kami beserta Istrinya anakku.
Kamipun juga secepat mungkin berlari dan mengejar agar cucu kami selamat. Namun, takdir berkata lain, kami tak sempat membawa nya dan kamipun berduka juga menguburkan cucuku pada Sore hari, Jam 16.34 WIB. Kami sekeluarga pilu dan sedih. Setelah 30 hari kematian cucuku, mantuku pun berkata kepadaku
“Bu, Fachri tak kunjung pulang, anakku juga sudah tiada. Aku memutuskan cerai kepada suami ku bisa Bu?”
“Ya, jika itu kehendakmu. Lagipun suamimu tak menentu dan ia lepas tanggung jawabnya itu bagaikan tali rafia yang dibelah dua.”
Fachri pun pulang tak melihat anaknya, ia hanya melihat istrinya yang memegang pena dan sebuah kertas perceraian resmi. Ia pun bercerai tanpa babibu memikirkan yang lain. Anaknya yang meninggal aja ia tak perduli apalagi yang lain? Mantan Istrinya pun pergi meninggalkannya kediaman kami. Dan tak tahu ia berada dimana sekarang ini.
***
Fachri memang sudah pulang. Ia pulang hanya meminta uang saja untuk kesenangan duniawi nya saja. Suamiku menolak memberikannya, sedangkan aku mendengar percakapan itu sambil mengambil Air Wudhu untuk Sholat Zuhur. Akupun Sholat dikamar dan Fachri pun masuk tanpa dosa menghalau sejadahku.
“Woy! Mana duit! Minta sini buruan!” Fachri menjulurkan tangannya kedepannya mukaku
“Sekali lagi, mana duit!” Fachri menaikan amarahnya.
Ia pun tak sabar menunggu Ibunya selesai melakukan ibadahnya. Ia langsung menunjang Ibunya dari depan yang tengah sujud. Dan kepala ibunya bocor, keluar darah dari kepalanya mengalir ke sajadahnya dan telekung nya sendiri. Lalu Yati pun menjerit kesakitan, dan suami yang melihatnya langsung membawa nya ke Rumah Sakit untuk segera diatasi. Setelah pulang mereka berdua tak melihat anaknya tersebut dan membereskan sejadah juga telekung nya yang bercampur dengan darah itu.
Lalu selang 3 hari kamipun berjualan lagi di Pasar. Ya kami berjualan pasar yang hanya 1 Minggu sekali beroperasi. Yaitu Hari Jum’at. Kamipun kebetulan banyak sekali pembeli hingga-hingga tak sampai jam 11 kami sudah membereskan dagangan kami. Kamipun pulang dengan gembira niat hati ingin ke Bank menyimpan uang tersebut. Namun tak disangka Mobil Tronton yang melaju kencang juga oleng-oleng itupun menghantam kendaraan kami dan kami pun tak tau antara hidup dan mati.
***
(Beralih ke Tetangganya samping rumah Fachri)
“(Tut, Tut, Tut,) Ya halo? Dengan siapa ya?”
“Saya menemukan ponsel ibu, apakah ibu ada bersangkutan atau kerabatnya Bu Yati”
Tetangganya pun enggan tak minat menjawabnya terpaksa “ Ya, ini siapa?”
“Bu Yati beserta suaminya meninggal di tempat beralamatkan jalan **** (Tak bisa disebutkan alamatnya)”
Tetangganya pun segera mengumpulkan warga berbondong-bondong untuk membantu kedua mayit tersebut. Tak terasa kini sudah 40 harinya Fatih, bersangkutan dengan meninggalnya kedua orang itu (Yati dan Suaminya).
Mereka pun para warga mau tak mau harus membayar uang penggalan dana untuk Fatih juga Bu Yati beserta Suaminya. Dan mereka menguburkan Bu Yati dan Suaminya di siang hari jam 14.03 WIB.
***
(BERALIH KE FACHRI)
Fachri yang tengah berjudi asyik karena menang. Lalu temannya melihat Facebook dan berkata
“Lah inikan orang tua lu Fachri?”
“Mana? ” sambil melihat foto nya yang tabrakan maut tersebut.
“Ibu, Ayah!” ia pergi sambil terpontang-panting tanpa memakai sendal bergegas pulang.
Ia pun tiba dirumah dan orang tetangganya berkata “darimana saja kau Fachri? Kau orang tuamu meninggal aja ga tau. Memang ya anak ga tau diuntung!”
“Itu tak penting, bagaimana orang tua saya sekarang dimakamkan?”
(Tetangga memberi tahu alamat dan dimana kuburannya)
Fachri yang setibanya di kuburan mereka berdua yang masih harum juga bunga yang tak layu padahal sudah 3 hari dimakamkan.
“Bu, Yah,...
Maafkan anakmu yang telah durhaka kepadamu, maaf aku tak pulang-pulang. Dan maaflah semua kesalahanku kepada kalian. Maafkan aku!” Ribuan-ribuan maaf terlontar kepada mereka yang sudah tiada.
Ya namun apalah daya ‘nasi sudah menjadi bubur’ kini yang tiada tak bisa dibangkitkan lagi. Fachri yang ini kediaman neneknya pun tidak diterima dengan perangai Fachri yang nakal dan bandit itu. Ia terpaksa menjual harta dirumahnya juga beserta rumahnya karena tak tahu bagaimana cara menghasilkan uang sendiri.
Kini ia menjadi tunawisma dan berada dijalanan sambil mengemis. Ia duduk dibangku taman dan kicauan burung-burung yang indah merenungi dosanya yang ia lakukan kepada orang tuanya.
“Andai waktu bisa berputar kembali. Aku ingin menjadi orang yang berguna kepada kedua Orang Tuaku juga mantan Istriku.” Gumam nya sambil menatap langit.
*TAMAT*
___________________________________________________
Pesan moral: Janganlah sesekali kita durhaka kepada orang tua kita, apalagi hingga menganiayanya. Juga janganlah kita lepas tanggungjawab dan hadapilah masalah itu dengan lapang dada dan secara dewasa. Karena kebersamaan itu tak mungkin diulang kembali.