Nama ku arya, Dahulu bapakku adalah orang yang di kagumi dan di segani banyak orang, namun kini itu hanya sebuah cerita. kini bapak hanya lah seorang tukang ojek online yang berusaha keras menghidupi keluarganya. dulu bapak adalah seorang bupati. Namun karena kejujurannya dia di lengserkan oleh para koruptor dan mafia yang suka makan uang negara. ibu dan adikku memilih meninggalkan bapak. ibu menikah lagi dengan seorang pengusaha. Saat itu aku duduk di bangku SMP.
Kini aku telah duduk di bangku SMA kelas 2. aku memiliki sahabat yang selalu menemaniku namanya Adam. dia anak mantan supir ayah ku. kami termasuk dalam golongan sisawa di acuhkan karena kami adalah murid miskin.
Setelah pulang sekolah aku bekerja di bengkel motor dekat rumah. Dulu aku hanya menjadi pesuruh di bengkel. Namun sekarang saya sudah di percaya pemilik bengkel untuk membongkar dan memperbaiki motor. Aku punya cita-cita untuk membelikan bapak motor, jaket dan helm baru. Maka dari itu aku bekerja keras. Saat sore tiba aku mandi sholat ashar dan mengaji untuk menunggu sholat magrip. setelah magrip, saya bekerja di sebuah rumah makan. Walau kehidupan ku terlihat pas-pasan namun aku bahagia. bapak selalu menuruti semua permintaanku, walau terkadang dia menghiraukan kebutuhannya untuk kebutuhanku. kata bapak aku adalah surganya, aku adalah matahari dalam hidupnya. jadi ayah tak ingin melihat surgnya kotor akan kesedihan dan mataharinya redup karena kepedihan.
Suatu malam bapak pulang dari kerjanya. dia namapak pucat dan letih, badannya juga panas. ayah sakit karena kelelahan. Cuaca yang sering turun hujan membuat ayah sering basah. walau begitu ayah tetap tersenyum agar aku tak mengkhawatirkan keadaannya. Karena senyum adalah pertanda keadaan orang baik-baik saja. Saat itu bapak membawakan ayam goreng kesukaanku. ketika aku mengajaknya makan bersama dia bilang sudah makan. Namun suara perut ayah berkata lain. perut ayah berbunyi keras kala itu.
"rasanya akan seperti tempe pak."
ujar ku pada bapak. bapak tersenyum dan akhirnya beliau mau menemaniku makan. Aku bahkan membeli nasi lagi untuk menghabiskan ayam goreng itu.
paginya aku menyuruh ayah beristirahat. Saat sekolah aku menuju ke ruang tata usaha untuk membatalkan kebrangkatan ku ke Bali. bapak berusaha keras untuk membayar karya wisata itu dan bapak juga berusaha keras untuk mengumpulkan uang saku ku. Maka dari itu aku memutuskan untuk tidak ikut karya wisata itu. Saat di ruang TU aku bertemu Widya, dia adalah gadis paling cantik di sekolah. Aku sebenarnya ingin sekali bisa berteman dengannya. Namun itu musathil, karena dia adalah anak orang kaya yang selalu di kelilingi oleh pria ganteng yang kaya. Saat pulang aku melihat bapak tak ada di rumah. Ternyata bapak memaksa diri untuk tetap menarik. aku dan Adam mencari bapak, setelah kami memutar-mutar kota akhirnya saya bertemu bapak. saat itu bapak jatuh dan pingsan. bapak jatuh di dekat sekolahku. Temanku yang sedang masuk kelas ekstra kulikuler melihatku, beberapa temanku juga ada yang membantuku. aku membawa bapak ke rumah sakit, bapak sebenarnya gak mau, namun karena saya mempunyai beberapa tabungan dan uang wisata. saya berani memaksa bapak ke rumah sakit. dokter menyarankan untuk banyak istirahat. bapak ingin istirahat di rumah kala itu. saat aku membayar biaya rumah sakit, ternyata sudah ada orang yang melunasi adsminitrasi rumah sakit. hal ini sering terjadi. Saat sepatuku rusak, tiba-tiba ada kiriman spatu baru.
saat perjalanan pulang bapak mengucap sesuatu yang membuatku bangga menjadi anaknya.
"maaf, bapak membuat kamu malu di depan teman kamu."
"kamu pasti malu punya bapak tukang ojek."
dalam fikiran bapak hanya ada satu keinginan.
'apa pun itu, saya harus membuat anakku bahagia.'
saat itu aku mengucap kalimat yang membuat bapak menangis.
"Kenapa malu pak, terkadang yang melakukan dosa aja gak malu."
"kenapa aku harus malu mempunyai bapak hebat seperti anda."
Hari-hari ku lalui dengan merawat bapak, aku juga menyembunyikan motor bapak di bengkel. karena aku takut bapak memaksakan dirinya lagi. namun karena itu saya mendengar kabar buruk dari bengkel. motor bapak sudah tak layak lagi berjalan. keadaannya tak memungkinkan untuk berjalan jauh. aku juga baru tahu bahwa motor bapak sering mogok. lalu aku dan Adam menuju sebuah dealer motor untuk mencari motor buat bapak. aku sudah hampir mendatangi semua penjual motor yang ada. namun uangku tak cukup untuk membeli motor. aku memutuskan untuk pulang.
karena seharian aku mencari motor untuk bapak, aku melupakan sholat Dzuhur. bapak marah sekali kala itu.
"Arya, rezeki itu sudah di tentukan oleh Allah. tak ada rezeki yang tertukar atau belum di bagikan saat kita mati."
"terkadang orang lupa, orang berusaha keras untuk mendapat rezeki. padahal hanya doa yang bisa merubah jatah rezeki nak. bukan dengan ikhtiar."
bapak juga berpesan sesulit apa pun kita hidup di dunia, kita bisa berusaha merubahnya. namun ketika kita susah di akhirat, kita hanya bisa menerimanya.
esok harinya bapak berlari menuju ke bengkel dengan bahagia. dia memeluku sembari menangis. ternyata ada sebuah kiriman motor beserta jaket dan helm. dalam kiriman itu juga tertulis surat dengan tulisan.
'Arya sayang sama bapak.'
sebenarnya aku ingin jujur dengan bapak bahwa itu bukan pemberianku. namun saat aku melihat wajah senang dan bahagia dari bapak aku tak tega mengatakannya.
hari-hari pun berlalu, suatu hari aku tak sengaja menabrak salah satu mobil temanku. saat itu cacian tak henti-hentinya mengarah pada ku. siswa itu bernama Tomi, dia adalah orang yang dekat dengan Widya. dia juga lelaki idola di sekolah karena ketampanannya dan hartanya. Tomi tak trima dan meminta ganti rugi dari ku. Aku tahu mobil Toni adalah mobil mewah. aku kuat menggantinya namun dengan menguras semua tabungan yang ku miliki. aku memutuskan untuk menerima hukuman dari Tomi. Tomi memukulku, dia ingin aku menjadi budaknya selama satu tahun. aku menyetujui hal itu karena dia mengancam akan melaporkan kejadian ini pada bapak. aku tak ingin bapak bersedih dan beliau pasti akan berusaha untuk mengganti kerugian ini. semenjak saat itu aku sering mengerjakan PR dari Tomi. bukan hanya itu aku sering ke rumah tomi untuk memijatnya dan mengurusi semua keperluannya.
suatu hari Tomi dan aku di hadang oleh beberapa orang. aku merasa bahwa ada yang tidak beres. saat Tomi turun dari mobil dia langsung di hajar. aku keluar mobil dan meukul orang itu, aku harus mengahadapi 4 orang kala itu. karena yang ku lawan adalah anak-anak manja, menjadikan ku bisa melawan mereka. beratnya kehiduoan ku membuatku bisa melumpuhkan mereka dengan cepat. walau aku berhasil mengalahkannya, namun aku juga terluka.
sebelum mereka pergi aku mengancam mereka.
"selama nyawa ini masih menempel di tubuh. tak kan ku biarkan kalian menyentuh sahabatku lagi."
setelah itu Tomi membawa ku kerumahnya, kemudian merawatku. dia juga minta maaf atas perlakuannya selama ini. dia kagum karena aku masih menganggapnya sebagai sahabat walau dia selalu kejam terhadap ku. semenjak saat itu dia justru menjadi sahabatku dan Adam. kini pamor ku naik tingkat setelah berteman dengan Tomi.
dia juga menceritakan kisahnya dengan Widya. dia mendekati Widya sudah lama, namun Widya selalu menolak ketika Tomi menembaknya. aku juga bilang pada Tomi kenapa aku senang menjadi budaknya, karena aku bisa beberapa kali berkomunikasi dengan Nana. Nana adalah wanita yang aku sukai sejak kelas satu. dia adalah gadis yang baik dan ramah. walau dia tak sedikitpun menganggap ku. Nana sering ke rumah tomi karena dia suka dengan Tomi. aku tahu itu, bisa berbicara dengannya saja sudah membuat kebahagian tersendiri bagiku. Tomi menegurku kala itu. dia memberi tahu bahwa di balik kebaikan dan keramhannya tersimpan sifat buruk. Nana adalah gadis yang melihat cowok berdasarkan hartanya. lantas aku menjawab ungkapan Tomi.
"Widya juga gadis yang sombong, kenapa kamu masih mengejarnya."
Tomi tertawa kala itu. dia hanya menjawabnya dengan kalimat cintan itu buta.
akhirnya ujian kenaikan kelas tiba. aku berhasil melewati ujian itu tanpa suatu halangan dan kesulitan. stelah ujian kami menerima rapor, dan hasilnya aku lagi-lagi menjadi siswa pringkat satu di sekolah.
suatu malam bapak memberi ku uang. dia memberikan ku untuk uang saku ke Bali. namun aku menjelaskannya bahwa aku membatalkan kebrangkatan ku, aku menarik uang pendaftaran. aku mengatakan bahwa uang itu ku belikan motor buat bapak. namun bapak menerima surat saat penerimaan rapor. katanya aku akan brangkat di bus 3. esoknya aku brangkat ke sekolah agak siang, karena memang tak ada kegiatan belajar setelah penerimaan rapor. hanya sisawa yang ikut ke Bali yang di suruh untuk pergi ke sekolah. ketika aku sarapan aku melihat ada orang meletakkan sebuah amplop berisi uang, aku mengejarnya namun tak terkejar. firasatku dia adalah adikku, sekarang aku tahu siapa orang yang menolongku selama ini. sebenarnya aku ingin sekali memeluknya, aku sangat merindukannya.
setelah itu aku bergegas menuju ke sekolah. ternyata lagi-lagi adikku melunasi uang pendaftaran ke Bali. aku tak bisa membendung rasa bahagia ini. saat itu aku di temani oleh Tomi. aku yang membaca nama ku ada di list daftar peserta karya wisata. aku langsung membalikan badanku dan memeluk Tomi. tapi ternyata Tomi sudah tak berda di belakang ku, yang ada di belakang ku adalah Widya. wajah Widya sangat marah kala itu. aku tertunduk dan bersiap menerima tamparan darinya. namun dia pergi dengan wajah marah melekat padanya.
4 tahun kemudian.
aku berhasil menyelesaikan study S1 dan mendapat IPK terbaik. bapak sangat bangga dengan ku, dia menagis saat mendatangi wisuda ku. aku mendapat beasiswa untuk kuliahku. Tomi dan Adam juga datang ke acara wisudaku, Tomi lah yang mengantar bapak ke kampus. setelah lulus aku menyuruh bapak untuk berhenti mengojek. karena bapak bekrja keras sekali saat aku kuliah. saat itu bapak hidup sendiri di rumah, sedangkan aku merantau untuk belajar. bapak juga semakin tua. kata tetangga bapak sering pingsan karena tidak makan. dia lebih memilih mengirim uang padaku daripada membeli makan.
satu bulan kemudian aku ditrima di salah satu perusahaan ternama. aku bekerja keras saat itu, aku ingin sekali menjadikan bapak orang kaya di akhir khayatnya. karir ku melonjak karena kerja keras ku. saat itu aku hanya bergerak, berfikir dan berdoa untuk bapak. detik demi detik aku lalui. hingga aku berspekulasi untuk membeli rumah dan mobil. kala itu Tomi menegurku karena keputusan itu. dia berfikir karena sisa gaji ku akan tinggal sedikit kalau aku mengambil rumah dan mobil. namun keajaiban itu selalu ada bagi hamba Allah yang taat padanya, bos ku memberikan pinjaman untuk membeli rumah dan mobil. hari itu adalah hari paling bahagia dalam hidupku. akhirnya cita-cita terbersarku terwujud, aku bisa menaikan Drajat bapak lagi. namun hari itu juga menjadi hari paling berduka seumur hidup ku. aku yang datang membawa kabar bahagia harus pulang dengan menerima kabar buruk. bapak jatuh sakit dan tak sadarkan diri. saat aku sampai di rumah sakit bapak hanya bisa tergletak di ranjang. paru-paru bapak rusak karena seringnya naik motor. karena bapak tak mau membeli jaket. beliau sangat sayang dengan jaket yang ku belikan. dalam hati ku aku berteriak.
'jaket itu bukan aku yang beli'
itu adalah jaket 4 tahun yang lalu. keadaannya sudah kusam dan jelek, beberapa lubang juga menghiasi jaket itu.
3 hari kemudian bapak harus menghembuskan nafas terakhirnya. saat itu aku terasa ikut mati, aku merasakan hampa se hampa hamapanya. tujuan hidupku hilang seketika, aku hanya bisa diam dan menagis. 7 hari kematian bapak Tomi dan Adam menginap untuk menemaniku. selama itu pula aku hanya diam dan menagis. aku kecewa dengan diri ku. aku hanya berusaha untuk sukses dan menyenangkan bapak. namun aku tak melihat dan memperhatikan keadaan bapak.
aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku dan memilih menjadi tukang ojek agar bisa merasakan apa yang bapak rasakan. bosku yang mengetahui hal tersebut langsung menemuiku, beliau membujukku untuk kemabali bekerja.
dia juga bercerita sesuatu yang membuat air mataku keluar dengan deras. lagi-lagi aku mendapat keuntungan dari bapak. pak Nasar pernah di tolong oleh bapak saat masih menjadi bupati. dulu dia hampir kehilangan semua hartanya. bapak menolongnya dengan memberi bantuan dan meringankan hutangnya. berkat bapak pak Nasar bisa bangkit kembali. pak Nasar juga ingin aku menikah dengan anaknya. beliau ingin menjadi bapakku untuk membalas semua kebaikan bapak. saat kejadian itu Tomi datang kerumah, dia kaget
ketika mendengar tawaran pak Nasar.
"terimalah teman. ini jalan terbaik untuk hidup mu."
Tomi memelukku sambil menangis. aku pikir dia mwenangis karena bahagia mendengar kabar ini. pak Nasar memberiku kesempatan untuk berfikir, rumahnya selalu menunggu kedatanganku. setelah aku sholat malam aku memutuskan untuk menerima tawaran dari pak Nasar. aku memutuskan akan menikah dengan gadis yang tak ku kenal.
suatu malam aku datang ke rumah pak Nasar. aku duduk di ruang tamu bersama pak Nasar dan istrinya. tak lama kemudian putrinya turun dari tangga. aku sangat terkejut kala itu, ternyata Widya adalah anak dari pak Nasar. aku baru sadar kenapa Tomi menagis.
saat Widya duduk pak Nasar dan istrinya meninggalkan kami berdua. Widya menceritakan sesuatu yang membuat aku terkejut lagi. semua pertolongan dari motor, uang pendaftaran ke Bali dan banyak lagi adalah dari Widya. dugaanku ternyata salah. dia juga sombong dan tak menerima semua tembakan dari laki-laki karena dia berjanji pada dirinya agar mencintaiku selamanya. saat ayah ku menolong pak Nasar, aku memberikannya sebuah spedah kesayangku untuknya. itu pertama kalinya widya merasakan sebuah kebahagian, dan semenjak saat itu dia mengagumiku dan bapak.
lalu dia juga menceritakan betapa bahagianya saat aku memeluknya, dia bahkan tak mencuci baju itu hingga sekarang.
1 bulan kemudian kami menikah.
setelah acara pernikahan, aku dan Widya menuju ke makam bapak. aku tak bisa membendung air mata ku saat melihat makam itu.
"belaiu rela tak makan untuk membelikan ku makan enak."
"belaiu rela membanting tulang, sakit, dan lelah agar hidup ku bisa nyaman."
"belaiu tak mau membeli jaket baru karena dia sangat menghargai jaket yang di kira pemberian ku."
Widya menagis dan memelukku kala itu.
"maaf ya. aku tak bermaksud membuatmu menyesal."
"aku hanya ingin membelikan itu untuk bapak."
aku "tak apa wid, beliau meninggal dengan jaket kebanggaannya."
"jaket pemberian anaknya."
"bukankah kau sekarang juga anaknya."
"aku hanya menyesal karena tak mampu merasakan bagaimana senagnya bisa membiayai hidup pahlawanku."
"dalam keadaan apapun belaiu selalu berfikir tentang kebahagiaanku."
Widya "aku juga berharap bisa memeluknya sebagai bapak."
tamat........
*berjuanglah untuk orang yang pertama mencintai mu.*