“Mas, minggu depan aku mau pulang.” Tania memecah kesunyian antara dia dan Alam.
Mereka tengah makan siang di sebuah warung pecel ayam langganan. Hari ini pekerjaan Alam tidak begitu banyak sehingga bisa mengajak belahan jiwanya untuk makan siang bersama.
“Kamu mau berapa lama di kampung ?” tanya Alam.
Ia tak mau berpisah lama dengan Tania. Sebenarnya ingin Alam ikut bersama Tania. Ia ingin ikut ke kampung halamannya Tania. Akan tetapi gadis yang baru beberapa bulan dipacarinya ini melarang. Tania belum sanggup untuk berterus terang kepada orang tuanya mengenai Alam. Ia tak ingin semua fasilitas yang diberikan orang tuanya akan dihentikan karena ia sudah mulai pacaran.
Tania tau betul kalau Papanya tidak menyukai yang namanya pacaran. Jika Tania ketahuan pacaran, maka Papa akan memberhentikan pembayaran uang semester dan fasilitas lainnya. Tentu saja Tania belum mau kehilangan semuanya.
“Belum tau sih mas. Semester ini kan aku tinggal nyusun. Jadi bisa agak lama di kampung. Kamu baik-baik di sini ya mas,”
Tania adalah mahasiswa fakultas Ekonomi semester akhir. Ia mengambil jurusan manajemen. Ini karena setelah lulus ia akan mengelola perusahaan papanya. Perusahaan yang bergerak di bidang tekstil yang merupakan warisan dari eyangnya.
Sebenarnya papa nya sendiri juga mempunyai perusahaan di bidang pertambangan. Karena papanya lebih menyukai bidang tersebut. Beruntung papa mempunyai ayah yang tidak banyak mendikte anaknya. Bagi kakek setiap anak diberi kebebasan memilih profesi apa yang akan mereka tekuni.
“Nanti jangan lupa kabarin aku kalau kamu udah tau mau berapa lama di kampung ya.”
Alam menyudahi makan siangnya. Ia tidak begitu bersemangat lagi untuk menghabiskan makan siangnya. Entah mengapa rasanya makan siang kali ini terasa berbeda. Mungkin karena ia akan ditinggal kekasihnya.
“Kok nggak dihabisin makannya mas ?” tanya Tania heran.
“Aku udah nggak selera makan. Mungkin karena aku akan kamu tinggal “ Jawab Alam asal.
“Gombal “ jawab Tania sambil menyudahi makan siangnya.
“Lho. Kok ikutan berhenti makannya ? “ tanya Alam.
“ Udah kenyang mas “ balas Tania.
Sepasang kekasih itu pun mengakhiri acara makan siang mereka. Setelah membayar tagihan, Alam menuju ke tempat mobilnya diparkir. Ia akan mengantar Tania ke kosan terlebih dahulu kemudian ia berangkat menuju perusahaan tempatnya bekerja.
Tak terasa seminggu telah berlalu. Hari ini adalah jadwal keberangkatan Tania menuju kampungnya. Gadis itu lebih memilih pulang menggunakan bus. Selain irit ongkos juga bisa melihat pemandangan selama di perjalanan. Itu yang menjadi alasannya menjatuhkan pilihan lewat jalur darat.
Di sinilah mereka sekarang. Di terminal bus AKAP yang akan mengantarkan Tania ke kampung halamannya. Ramai dan penuh sesak oleh calon penumpang dengan berbagai tujuan.
Hari ini Alam sengaja tidak masuk kantor. Ia izin untuk mengantar Tania. Ia ingin memastikan bus yang akan membawa kekasih hatinya menyeberang pulau.
Meskipun tak rela melihat Tania naik bus tapi ia menghargai keputusan Tania. Tak ada acara peluk cium dalam perpisahan ini, karena mereka sepakat akan melakukannya nanti saat halal.
“Mas, aku berangkat dulu ya” pamit Tania
“Ya. Hati-hati di jalan “ jawab Alam
Mereka saling berjabat tangan erat. Kedua pasang mata saling berpandangan , seakan saling bicara. Seakan mereka saling berpamitan satu sama lainnya.
Perlahan mata Tania mulai berair, berat rasanya untuk meninggalkan Alam, akan tetapi ia harus kuat. Rasanya berat sekali untuk meninggalkan kota ini.
Suara klakson bus menyadarkan mereka bahwa kebersamaan hari ini harus berakhir. Tania harus naik bus dan duduk di kursi penumpang sesuai nomor tiketnya. Ia pun melambaikan tangan.
“Sering-sering berkabar ya , “ teriak Alan sambil membalas lambaian tangan Tania .
Perlahan bus berjalan meninggalkan terminal membawa sepotong hati Alam. Ia termenung di belakang kemudi mobilnya. Pertahanan nya jebol juga. Ada yang mengambang di sana. Di telaga milik Alam.
“Ah... Kenapa barat sekali melepaskanmu , Tania “ desah Alam
Dicobanya untuk fokus menyetir. Ia tak ingin pulang dulu. Mobilnya melaju menuju sebuah taman kota. Ya.... taman kota yang menjadi saksi tempat mereka awalnya bertemu secara tidak sengaja. Perkenalan singkat yang membawa perasaan bagi kedua insan berbeda jenis.
Di bawah pohon di sudut taman terdapat sebuah bangku panjang. Alam duduk di bangku itu. Bangku yang menjadi saksi ungkapan rasa cinta Alam pada Tania. Dengan begitu yakinnya Alam mengungkapkan isi hatinya tanpa ada rasa takut terhadap penolakan Tania.
Ternyata ia tak bertepuk sebelah tangan. Rasa yang selama ini dirasakannya berbalas dengan malu Tania menerima pernyataan cinta Alam. Alangkah bahagia nya Alam waktu itu. Seakan dunia hanya milik berdua, tak henti keduanya larut dalam canda dan tawa kala itu.
Tak terasa senja mulai menyapa Alam yang sedang duduk sendiri. Pengunjung taman mulai undur ke peraduan masing-masing. Cahaya matahari mulai berganti lampu taman penuh warna.
Alam bangkit beranjak pulang. Ada rasa enggan dihati untuk beraktivitas.
“Mas, aku udah mau naik kapal penyebrangan.”
Alam tersenyum membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Ternyata bus yang ditumpangi Tania sudah akan menyeberangi pulau. Kini jarak semakin jauh memisahkan mereka. Ada rasa takut di hati Alam. Ia takut jika Tania tidak kembali lagi ke kota ini.
Segera rasa takut itu diusirnya dengan keyakinan bahwa Tania hanya liburan semester dan akan kembali menyelesaikan pendidikannya. Tania akan kembali ke hadapannya. Kelak saat wisuda dia akan melamar Tania kepada kedua orang tuanya.
Alam bangkit dari tempat duduknya. Tujuannya kini adalah pulang. Tak sampai satu jam Alam sudah sampai di rumahnya. Setelah membersihkan badannya Alam merebahkan badannya.
“Tania.... Tania... Kamu di mana ? “
Alam berteriak mencari keberadaan Tania. Tadi ia sempat melihat Tania pergi. Gaun yang digunakan Tania berwarna putih. Senyum manis yang selalu menghiasi bibir Tania tampak semakin manis bagai magnet menarik Alam untuk mengikutinya.
Alam berteriak sekeras-kerasnya memanggil nama Tania, namun gadis itu tak menghiraukan panggilan Alam. Alam terus berlari mengiringi langkah Tania, namun Gadis itu tak pernah menengok ke belakang sampai Alam lelah dan bersimpuh menatap kepergian Tania.
Tok..
Tok...
Tok....
Suara ketukan pintu menyadarkan Alam dari mimpi buruknya. Di lihatnya sekeliling seakan tak percaya bahwa apa yang dilihatnya tadi adalah mimpi.
“Syukurlah, hanya mimpi “ bisik Alam dalam hati.
Dengan malas Alam membukakan pintu. Wanita paruh baya yang sudah melahirkannya sudah berdiri didepan pintu. Dengan wajah penuh tanya menatap putra semata wayangnya terlihat kusut dengan badan penuh keringat seakan habis lari keliling lapangan bola.
“Kamu kenapa Lam. Teriak-teriak manggil nama Tania.? “ sang nyonya mulai interogasi.
“Tania itu siapa Lam ? Pacar kamu ?” lanjutnya.
Alam hanya tersenyum menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak menyangka akan tertangkap basah mamanya sedang memimpikan kekasih hatinya. Mimpi yang membuat Alam gundah.
“Ah... mama salah dengar kali.’ Jawabnya menutupi risau hatinya.
“Aku tadi hanya mimpi buruk mah . “ elak Alam.
“Makanya...kalau tidur itu baca doa. Biar nggak mimpi buruk.” Perintah mama sambil berlalu dari kamar Alam.
Ia tak mau mendesak Alam untuk memberi penjelasan. Ia yakin pada saatnya nanti Alam akan menjelaskan sendiri.
Sepeninggal mamanya Alam tidak dapat memejamkan matanya. Ia masih memikirkan apa arti mimpinya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Tania. Ia akan menghubungi Tania.
Berkali-kali dicobanya menghubungi Tania. Akan tetapi panggilannya tak juga tersambung. Akhirnya Alam membuka galeri dan bernostalgia dengan foto-foto dirinya ketika bersama Tania.
“Mas, Aku sudah sampai Kampung. Jangan sedih ya mas. Nanti akan aku kabari lagi. Aku cinta sama kamu. “
Pesan singkat yang masuk ke ponselnya menyambut pagi Alam. Wajahnya kembali berseri meyakini bahwa gadisnya kini baik-baik saja. Alam pun memulai harinya penuh semangat.
Ketika sore menjelang Alam mencoba menelpon Tania. Panggilannya tidak tersambung. Alam berpikir mungkin Tania akan melepas rindu bersama keluarganya. Alam akan memberi ruang bagi Tania untuk bersama keluarganya. Meskipun rindu di hatinya tak terbendung Alam mengerti jika Tania butuh waktu untuk keluarganya.
Tanpa di sadari Alam, di sana.... di sebuah rumah sakit kota seorang gadis tengah dirawat di ruang ICU. Alat bantu pernafasan dan selang infus kini melekat di tubuh mungil itu. Matanya tertutup rapat seakan tidur lelap dalam mimpi yang indah.
Dialah Tania. Belahan jiwa Alam.
Setelah mengetik pesan untuk Alam, Tania merasakan kepalanya sangat sakit, matanya melihat sekelilingnya berputar dan tiba-tiba saja gelap. Ia tak tahu lagi apa yang terjadi pada dirinya.
Dulu saat masih di tempat kos, Tania juga sering merasa sakit kepala. Hal itu tak terlalu dihiraukannya karena sakitnya seketika sembuh hanya dengan obat warung saja. Oleh karena itu ia tidak tahu apa penyakit sesungguhnya.
Setelah melalui serangkaian tes akhirnya Tania dinyatakan mengidap tumor otak. Karena terlambat mengetahui, tumor ganas itu sudah menyebar ke seluruh jaringan otaknya.
Tania harus menjalani operasi segera. Kedua orang tuanya terkejut mendengar penjelasan dokter. Terlebih kemungkinan sembuhnya 50 persen.
Manusia harus berikhtiar. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Berserah diri adalah kewajiban seorang hamba. Dengan penuh keikhlasan papa Tania menandatangani izin operasi, berharap akan mendengar kembali tawa canda putri sulungnya.
Sudah tiga hari Tania koma. Sesuai jadwal yang sudah ditetapkan, hari ini pelaksanaan operasi Tania. Papa dan mama serta kedua adik tania menunggu sambil berdoa, agar operasi berjalan lancar dan Tania dapat sembuh seperti sedia kala. Tak seorangpun dari mereka mengeluarkan suara. Dalam diam menghitung..
Suasana hening di depan pintu ruang opersi. Hanya suara jarum jam berputar yang terdengar. Peralihan dari detik ke minit. Menit berganti jam.....dan tepat suara serine berbunyi pertanda operasi selesai.
Pintu ruang operasi terbuka, tampaklah sang dokter keluar dengan wajah tertunduk. Keringat di wajahnya menampakkan bahwa dia baru saja bekerja keras.
Manusia hanya berusaha sedangkan keputusan mutlak milik sang pencipta. Dengan penuh penyesalan dokter menguvapkan kata maaf.
“Tania.........” pekik wanita yang melahirkan Tania membahana menuju angkasa disusul uraian air mata adik adik tania.
Seakan membelah bumi suara itu singgah di telinga Alam yang kala itu tengah bekerja. Tak sengaja tangannya menyenggol gelas yang berisi kopi hingga terjatuh ke lantai. Tak lupa pula membawa serta potret Tania yang bersebelahan dengan gelas itu.
Hatinya yang beberapa hari ini gundah karena tak mendapat kabar Tania semakin merana. Kemana ia akan mencari informasi tentang kekasih hatinya ?
Semenjak terakhir kali menerima pesan itu Alam tak lagi dapat menghubungi Tania. Sambungan telponnya tak tersambung. Berharap pesan tak juga datang. Bayangan mimpi itu kembali hadir.
“Tania... apa yang terjadi, Kenapa kamu nggak menghubungiku ?” jerit hati Alam.
Seorang OB masuk sambil membawa peralatan pel untuk membersihkan kekacauan di ruang Alam.
“Kamu kenapa lagi Lam ?” Arya sang asisten sekaligus sahabat Alam masuk saat melihat OB keluar dari ruang kerja Alam.
Sudah beberapa hari ini Alam sering melakukan keteledoran. Untunglah Arya selalu membantunya sehingga tidak begitu berdampak ke perusahaannya.
“Arya. Aku akan menyusul Tania. Tolong kamu pesankan tiket pesawat ya. “ , akhirnya Alam memutuskan menyusul Tania. Ia tak mau lama-lama dalam ketidak pastian. Ia sangat mencintai Tania. Ia takut telah terjadi sesuatu pada Tania.
Benar saja. Ketika berada di depan rumah yang ia yakini itu adalah rumah Tania ia melihat bendera tanda berduka di sana. Meskipun tak pernah berkunjung, bukanlah hal yang sulit bagi Alam untuk mencari rumah Tania.
Hatinya bertanya-tanya, siapakah yang meninggal ?
Tania tak pernah bercerita kalau papa atau mama nya sakit. Atau kakek dan neneknya kah yang meninggal ?. Berbagai tanya tak berjawab lalu lalang di kepala Alam sampai suatu percakapan di antara para pelayat menjawab segalanya.
Seketika dunianya terasa gelap. Seluruh badannya terasa kaku. Ingin rasanya memeluk tubuh yang kini terbungkus kain kafan, namun itu tak mungkin. Ia hanyalah seorang asing bagi keluarga Tania.
Dicobanya untuk kuat. Prosesi pelepasan jenazah sampai ke pemakaman tak ada yang dilewati Alam. Ia membaur dengan warga sampai ke pemakaman. Tak ada yang menyadari kehadiran Alam.
Ketika satu persatu pelayat telah meninggalkan makam Alam terduduk menghadap gundukan tanah merah sambil berucap
“Kenapa Tania. Kenapa kau harus pergi secepat ini ?” Alam terisak sambil menatap gundukan tanah merah.
Pantas saja Tania tak tau berapa lama ia dikampung. Sejatinya ia pulang ke kampung yang abadi. kampung akhirat.