Di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan, siswa-siswi beramai-ramai menuju mading. Mereka penasaran tentang suatu brosur yang di tempel pada mading sekolah. Ketika sudah mulai terlihat dengan indera penglihatan, mereka semua akhirnya tahu ternyata sekolah lagi lagi membuka peluang untuk mengikuti lomba. Lomba tersebut yakni Lomba Menulis Antologi Cerpen tingkat Nasional.
Berbagai ekspresi ditampilkan oleh mereka, ada yang serius membacanya dan juga saling menunjuk teman temannya yang mempunyai bakat dibidang tersebut. Begitu pula juga 2 siswi yang sudah membangun persahabatan sejak lama. Namanya Rasyanti dan Fasya. Mereka sudah saling mengenal dalam tentang satu sama lainnya.
Fasya sudah tahu jika temannya mempunyai minat di bidang kepenulisan dan bahkan saat ini masih saja melihat serius mading tersebut. Rasya memang tergolong siswi yang patut di contoh. Dibalik sifatnya yang pendiam, ia juga memiliki tingkat produktivitas yang tinggi. Namun hal yang negatif di dalam diri seorang Rasya adalah Ia mudah sekali tidak yakin dengan kemampuannya sendiri.
"aku ikut gak ya?"
"sepertinya aku sudah banyak draft cerpen yang dibuat? Aku ikut saja lomba ini"
"tapi bagaimana jika nanti tidak bagus ya.. Ah aku takut gagal"
Begitulah yang dipikirkan Rasya saat ini, sampai sampai tidak peduli dengan sekitarnya. Sungguh hatinya terpaku dengan lomba tersebut dan itulah masalahnya. Sedangkan Fasya mulai gatal ingin berbicara. Sejak tadi ia menahan agar temannya ini bisa sekali saja untuk maju tanpa rasa takut akan gagal.
"hai, kenapa kamu melamun?"tanya Fasya. Ucapannya ternyata membuat Rasya sadar dengan latar dimana ia berpijak saat ini. Benar benar, merasa tidak enak sudah membiarkan temannya begitu saja. "eh maaf, aku.. lagi mikir tentang mata pelajaran nanti"jawab Rasya reflek.
“Pasti kamu lagi ragu antara ikut dan tidak ikut masalah lomba menulis kan?” Tebak Fasya yang mencoba menelusuri pikiran temannya ini. Rasya hanya bisa menghela nafasnya saja karena memang tebakan Fasya patut diacungi jempol dan diberi gratis makan batagor selama seminggu. Cukup hiperbola agaknya tapi memang kenyataannya seperti itu.
“Iya benar. Kamu punya solusi gak buatku?”ujar Rasya. Ia memang merasa ingin ikut tetapi ragu untuk memulai melangkah maju. Pikirannya selalu saja buruk seperti takut kalah bersaing dengan peserta lainnya. Rasya benar benar pesimis bagaikan menyerah sebelum perang. Dan satu lagi yang harus digaris bawahi, ia tidak bisa memilih dan dianjurkan kepada setiap orang yang menawarkan sesuatu untuk tidak memintanya memilih.
“Kamu harus ikut.” Jawab Fasya singkat, padat dan jelas.
"aku minta solusi fasya, bukan perintah"ucap Rasya yang sedikit kesal akan jawaban tersebut. Ck, apa salah Tasya sih sebenarnya.
“Kamu kan punya bakat menulis cerpen yang menurutku sudah tiada alasan untuk kamu menolak perlombaan ini. So, kamu harus ikut lombanya.” Jelas Fasya.
“Tapi aku takut gagal Fasya. Aku gak mau ngecewain sekolah nantinya.” Lesu Rasya.
“Jangan pesimis dulu. Cobalah terlebih dahulu, lalu mengenai hasilnya nanti itu urusan belakangan. Yang terpenting kamu bisa memawikili sekolah. Walaupun kamu nanti dapat situasi terburuk seperti gagal, tapi setidaknya kamu sudah mencoba.” Terang Fasya yang masuk akal untuk diterima oleh pola pikir Rasya.
"nanti aja deh. Aku masih belum bisa nentuin apa yang harus aku lakukan saat ini"ujar Rasya dan Tasya hanya bisa berdoa, semoga temannya ini menemukan jalan yang benar dan tidak tersesat dalam palung kebingungan yang diciptakannya sendiri.
Saat waktu pulang telah tiba, Rasya berpisah dengan Tasya karena memang arah rumah mereka bertolak belakang. Melangkah sendiri menuju rumahnya dengan santai. Lebih tepatnya seperti berjalan namun pikirannya melayang kemana mana. Tak sengaja, Rasya bertemu dengan seorang anak jalanan yang terlihat duduk memangku buku tulis di tangan kecilnya.
"kamu sedang apa disini dek?"tanya Rasya ikut terduduk bersama anak jalanan itu. Anak itu berbalik menghadapnya dan sedikit mengulas senyum sopan.
"lagi lihat jalanan kak"singkat anak jalanan itu. Rasya mencerna perkataan anak kecil itu. Sedikit berpikir, kenapa melihat jalanan saja. Apakah tidak ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat daripada melihat jalanan.
"kakak habis pulang sekolah ya?"tanya anak kecil yang menutup bukunya dan menatap lawan bicaranya. "iya, benar. Kenapa kamu disini? apakah tidak ada hal lain yang bermakna harus kamu lakukan dek"ujar Rasya.
"hehe ini bermakna kak. Saya bisa menulis hanya dengan melihat jalanan"ucap anak itu tersenyum renyah. Benar juga yang dikatakan anak itu, Rasya kembali bersuara.
"kamu suka menulis ya. Hebat. Oiya kenapa kamu hanya menulis di buku saja? Kenapa tidak coba misalnya mencetak cerita mu?"ucap Rasya yang terlihat asik berbicara dengan santainya.
"yah, kayaknya aku hanya bisa menulis di buku kak. Aku gak punya uang untuk mencetaknya"senyum ketenangan dari anak itu. Ucapannya sungguh membuat Rasya tertegun. Ia lupa akan kenyataan, bahwa anak kecil ini adalah anak jalanan yang tidak bisa bersekolah sebab ekonomi yang rendah.
“ah kakak minta maaf yaa. Tidak bermaksud kayak gitu”sesal Rasya tak enak hati. Sedangkan anak kecil itu hanya tersenyum dan mengangguk tanda ‘tidak apa apa’.
“dek, boleh minta pendapat gak? Menurut kamu, kakak harus mengikuti lomba menulis atau tidak?”tanya Rasya
“kakak juga suka menulis?”wajah berbinar anak jalanan itu sangatlah menggemaskan. Rasya tersenyum mengangguk. Jujur saja ia sangat tersipu, karena tatapan binar yang diperlihatkan anak kecil didepannya seperti bertemu dengan idola atau artis saja hehe
"kakak, aku punya pesan. Jika kakak diberikan satu kesempatan, harus diterima ya. Karena sebuah peluang tidak akan datang dua kali. Menurut saya, kakak harus ikut dan semangat ya kak. Saya permisi, mau bantu ibu bersihin jalan raya"pesan Anak jalanan itu dan berdiri meninggalkan Rasya sendiri untuk menghampiri ibunya di seberang jalan.
Rasya berkali kali tertegun kembali. Benar juga kata anak jalanan itu. Kesempatan tidak akan ada dua kali. Seharusnya ia berusaha meraih peluang itu. Setelah pemikiran yang panjang dan tak berujung akhirnya Rasya menyimpulkan sesuatu. Akhirnya keputusan sudah bulat, tekadnya mengalahkan segala pikiran buruk tentang lomba. Dan benar, keesokan harinya Rasya berani mendaftarkan dirinya untuk mengikuti lomba tersebut. Jujur itu membuat Tasya senang dan merasa bersyukur dengan apapun yang menjadi penyadar temannya ini untuk ikut lomba.
Hari berlalu, pengumuman pemenang lomba sudah di depan mata. Rasya dan Fasya dengan jantung yang berdetak tidak karuan terus berjalan. Mereka dengan pasti melangkah menuju mading demi selembaran yang bermakna. Ketika sampai, Rasya kaget dengan apa yang dilihatnya saat ini sedangkan Fasya secara spontan memeluk temannya
“Selamat Rasya, kamu juara. Aku bangga padamu apalagi sekolah.”ucap Tasya hampir memekik girang. Siswa siswa lainnya yang melihat mading juga bertepuk tangan dan ada yang mengucapkan selamat atas kemenangan yang diraih oleh Rasya. Akhirnya sosok pendiam Rasya sudah memunculkan diri dan dikenal oleh orang lain.
“selamat yaa”
“wiih juara nih”
“boleh nih ikut lagi next event lomba kepenulisan”
“selamat cerpennya udah jadi juara satu”
Begitulah ucapan selamat dari siswa lainnya dan Rasya tersenyum menanggapi. “terimakasih semua”ucap Rasya. Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata kata lagi. Juga Ia belajar bahwa sebuah kemauan, dukungan dan kata semangat dari orang terdekat sangatlah berarti. Bahkan hanya ucapan dari seorang anak jalanan saja, sudah membuatnya memiliki tekad.
Akhirnya idenya yang tetuang sudah menjadi peluang untuknya menuju kesuksesan. Namun jika ide tersebut tidak dipublikasikan akan menjadi sia sia saja. Hal itu sudah ia buktikan dan rasakan sendiri dengan memperoleh Juara 1 Lomba Menulis Antologi Cerpen tingkat Nasional. Selain itu, kumpulan cerpennya berkesempatan di cetak bukukan dengan disertai ISBN serta memperoleh Hak Cipta atas karya tulisnya.
TAMAT