Di Taman kota aku duduk termenung meratapi semua kenyataan yang menampar ku. Dan entah, kenapa malam begitu terang aku lihat. lampu jalan yang menyala ditiap pinggiran kota terkesan indah bagi mereka yang berlalu lalang yang sekedar mampir taman kota. entah, melepaskan rindu dengan pasangan atau melepaskan penat akan kerjaan yang menumpuk tiada habisnya.
Aku menatap sayup kearah langit. menatap langit dengan bintang-bintang yang begitu redup. Bulan? aku tidak keberadaannya. Dia sembunyi diantara awan malam.
"Kau penipu yang handal. Kau mengatakan, kau begitu menyukaiku sampai tidak ingin pergi dariku," ucap ku lirih yang begitu sakit mengingat cowok yang baru satu jam mengatakan tidak ingin pergi darinya malah melihat cowok tersebut sedang bercumbu mesra disebuah hotel.
"kejam," yang kali air mata perlahan jatuh kembali membasahi pipiku.
"kenapa harus nangis, sih. kau tidak perlu menangisi dirinya. ayo, kuat!!" teriak ku diantara pohon yang menjulang tinggi diantara taman yang begitu gelap, hanya ada aku disini tidak ada yang lain. aku berusaha menghapus air mata yang jatuh yang tetap saja tidak bisa aku hapus dari pipi ini. "hilang dong. Hilang!! Sakit!" memukul dadaku begitu sesak begitu hancurnya saat ini diriku.
"Aku percaya padamu. Aku berikan semuanya. Tubuhku, Waktu, semua yang kau inginkan dariku, aku kasih. tapi kau begitu jahat padaku."
aku menangis begitu kencang yang perlahan kepala ini terasa sakit tanpa sadar aku pingsan di bangku taman kota. perlahan pecahan-pecahan memori tentang dia bermunculan di otaku.
"Kamu mau, kan, jadi pacar aku?"
"Selamat Lulus SMA untuk kita sayang."
"Semangat untuk kuliahnya."
"Aku takut melakukan ini. aku takut hamil."
"minjam duit? buat apa? aku bisa menjamin sih. Iya sayang aku sayang kamu juga."
"Kamu nampar aku?" iya.. aku maafin kamu,"
"Kamu dimana? aku lagi berduka kamu kok ngga Ada. kamu tau, kan, aku habis kehilangan orang tua aku. Iya, kali ini aku maafin kamu tapi ku harap kamu jangan mengulangi nya lagi."
"kamu di D.O dari kampus? astaga kamu.."
"kamu nginep di rumah aku? kenapa? diusir dari rumah? yah udah boleh deh tapi sampai dapat kamu dapat rumah, kan?"
"Kamu kenapa dirumah ajah, sih? cari kerja dong. kok Betah jadi pengangguran gini."
"Aku juga sayang kamu. Kamu selingkuh dari aku? kenapa? padahal belum ada satu jam kamu pergi dari rumah. Gila."
Sebuah cahaya matahari perlahan muncul. cahaya nya yang begitu silau membangunkan aku. aku tersadar aku masih berada di taman. Kepala ku begitu sakit mengingat kalau aku pingsan di taman. aku beranjak dari tempat ku sedikit sempoyongan mengingat aku belum makan apa-apa dari kemarin.
aku berjalan kearah pinggir jalan bermaksud menunggu taksi yang lewat. tidak butuh berapa menit taksi muncul, aku langsung menghentikan taksi dan langsung masuk ke bangku penumpang.
Aku menatap nanar kearah luar jendela memandang langit pagi yang perlahan gelap ditutupi awan kelabu. Mendung dipagi hari. "Apakah kamu ikut bersedih, langit?" ucapku lirih. "Jika, iya. terima kasih langit. Cuman Kamu teman aku bersedih sekarang."