“Trick or Treat?” Gisele dan Jordan memamerkan seringainya ketika pintu ku buka. Ku lihat Gisele mengenakan kostum little witch bernuansa hitam dan ungu gelap sementara Jason sangat serasi dengan kostum Jack sparow.
“Hay anak-anak nakal.. kalian mau permen?” Tanyaku yang sebenarnya tak butuh jawaban.
“Yeah... kami hanya menerima banyak. Jika hanya beberapa yang kau punya maka bersiaplah menjadi hidangan pesta bagi para penyihir” ucap Jason pura-pura menyeringai.
“Oh benarkah? Aku sungguh takut mendengarnya” jawabku tersenyum sembari mengisi keranjang mereka dengan permen berwarna warni.
Ku tutup kembali pintu itu.. duduk bersandar sambil menikmati secangkir coklat panas sungguh membuat diriku serasa di manjakan.
Pukul 8 malam, Jonatan dan Claire bahkan belum menampak kan batang hidungnya. Seharusnya mereka sudah datang seperti janji mereka siang tadi. Jonathan akan mengenakan kostum vampir lengkap dengan sayapnya, sementara Claire lebih memilih valak.. oh... kurasa itu sangat menyeramkan.
Dan aku?? Entahlah... aku tak menemukan apapun yang membuatku nyaman. Kurasa berdandan ala gothic dan blus hitam sudah cukup.
Tok tok...
Itu pasti mereka.. Ku lirik sekali lagi jarum jam yang berbutar di pergelangan tangan kiriku, 8 lebih 15 menit. Ok, setidaknya keterlambatanya masih bisa di tolerir. Aku berdiri, melangkah dan membuka pintu. Tak ada seorangpun disana.
“Hello... is there anyone here?” Ucapku setengah berteriak. Sejujurnya aku yakin mereka berdua sedang bersembunyi setelah mengetuk pintu rumahku.
“Ok, i closed the dor!” Kataku sekali lagi agar mereka segera keluar dari persembunyian. Namun tetap tak ada jawaban. Aku berbalik, ku tutup pintu itu dengan keras.
Bugh!
detik berikutnya aku justru di kejutkan suara berdebum yang berasal dari luar , dari balik pintu yang baru saja ku tutup.
“Akhirnya mereka datang” ucapku yakin dalam hati. Ku buka pintu itu sekali lagi.. betapa terkejutnya aku...
Suaraku tercekat di leher, mukaku mendadak seputih kertas, perutku mual seolah semua isi berusaha meronta dan keluar melewati mulutku. Jantungku... jangan tanya bagaimana detaknya, karena itu nyaris seperti genderang di peperangan para gladiator..
Aku mulai menguraikan satu persatu penglihatanku, Claire terbaring disana dengan mulut penuh darah. Kepalanya yang nyaris terlepas dari badanya serta organ perutnya yang terburai tepat berada di depan mataku. Ketakutan menghujaniku.
“Andrea..! Get out of there..! Go... Hurry...!” Itu jonathan.. ku lihat nafasnya tersengal. Sebuah luka sayat mirip cakar tergores di wajahnya. keadaanya sungguh berantakan. Bajunya penuh noda, aku menebak dia baru saja berguling di tanah. Mungkin kata lusuh sangat tepat untuk menggambarkan keadaanya saat ini. Aku tau dia sedang berusaha menguasai rasa takutnya.
“Jon... jon...” aku kehilangan swaraku. Namun untunglah kaki ku akhirnya bisa segera ku kuasai. Aku berlari sekencangnya ke arah Jonathan ketika ku sadari hawa dingin seolah mencengkeram tengkuk ku.
Nafasku tersengal, aku berlari bersama Jonathan sekencang ku bisa hingga akhirnya langkah kami terhenti di sebuah lahan kosong di daerah perbukitan. Aku dan Jonatahan hanya saling berpandangan, tak tau apa yang sedang terjadi. Tak ada penjelasan yang dapat mewakili situasi saat ini. Banyak pertanyaan tentang hal-hal yang baru saja menggoncang jiwaku. Harusnya ini jadi malam halloween yang menyenangkan, bukan sepi dan mencekam seperti saat ini. Terlebih tebing ini... tak pernah ku lihat di sini ada tebing sebelumnya. Kami hanya berlari beberapa belokan, dari clover closed dan akhirnya berbelok ke st Maria. Tapi pemandangan disini benar-benar berbeda. Bukan pusat pertokoan di kota ku melainkan lahan kosong yang terbentang di atas tebing yang curam.
“What the hell is this..!” Jonatahn sama frustasinya denganku. Dia terduduk lemas di atas rerumputan sambil tak henti-hentinya mengumpat.
“Can you explain? I’m scared..!” suaraku bergetar, ketakutan belum hilang dari sana. Bagaimana tidak. Aku melihat sahabatku mati mengenaskan sementara aku berlari sejauh mungkin dan entah dari siapa aku berlari.
“iiiiiihihihihihihi.........” Suara seorang wanita tertawa riang si tengah kesunyian malam dan menggema di atas tebing baru saja mengagetkan kami. Seketika kabut hitam mengepul dan berangsur hilang saat berganti menjadi seorang wanita dengan gaun hitamnya.
“Hello... Andrea? You’ve grown..” seringainya. Dia berjalan mendekat. Semakin dekat dan dekat. Jemarinya mencengkeram rahangku. Mendadak badanku menolak mengikuti perintahku. Aku tak berdaya di bawah pengaruh sihirnya.
“Let her go..!” Teriak Jonathan. Namun hempasan tangan berkuku tajam itu melemparkan Jonathan hingga jatuh terpental. Dia mengaduh kesakitan. Aku masih dapat melihat dia berusaha berdiri meski hasilnya sangat tidak memuaskan. Jonathan jatuh.
“Who are you..! What do you want..!” Teriak ku masih dalam cengkeramanya.
“Ihihihihihihi..... i need your blood, your white blood..!” Bukan hanya cengkraman tapi lidahnya yang bercabang sudah menjilati wajahku. Bisa kau bayangkan bagaimana takutnya aku.
“Let me go..! I don’ t know what you’re talking abaut?!” Jeritku di sertai rasa takut.
Dia melepasku. Ralat.. membantingku ke tanah hingga serasa remuk tulang-tulangku. Aku memekik. Sementara wanita yang nampak seperti penyihir itu tertawa keras.
Dia mulai bercerita, 200 tahun yang lalu tepat di tanggal dan bulan ini seorang wanita penyihir putih membunuh saudara kembarnya. Aku bisa mendengar jelas nama Lowrence Gordon dia sebut sebagai pembunuh itu. Mendengar namanya seolah penggalan ingatan-ingatan yang timbul tenggelam beberapa hari ini seolah berkumpul kembali dan ..
Tara...!!! Pazel terungkap! Aku tak percaya, tapi ini kenyataanya. De-ja-vu yang tak bisa ku hindari.. aku adalah Lowrence. Aku adalah wanita penyihir putih yang telah membunuh saudaranya 200 tahun lalu.. aku terduduk lemas sementara kilatan kilatan cahaya itu tiba tiba datang dan terciptalah sebuah altar lengkap dengan assesoriesnya, anggur dalam cawan, rempah-rempah, dan dua buah lilin berwarna putih yang sudah menyala. Dan.. tunggu.. aku melihat seorang yang sangat mirip dengan wanita itu terbaring di atas Altar.
“I will kill you..! And i’ll take your blood..!” Ucapnya berteriak sebelum menjulurkan sebuah tongkat yang membuatku melayang dan datang padanya.
Aku tak tau apa yang harus ku lakukan, badanku seolah terikat rantai yang kuat. Dia akan segera memenggalku di akhir malam sabat. Tetesan darahku akan di jadikan persembahan untuk kebangkitan saudarinya di bawah sinar bulan darah. Aku ingat, bulan darah terjadi setiap 200 tahun sekali saat akhir malam sabat. Dan ini adalah malam sakral bagi para penyihir karena pada malam ini kekuatan sihir meraka berada pada puncaknya.
Dalam hitungan ke sepuluh akan segera di lakukan ritual penyembelihanku, aku ketakutan.. aku menangis.. meski aku pernah menang sebelumnya namun itu dulu, sekarang aku adalah orang yang berbeda. Aku terlahir sebagai manusia normal tanpa embel-embel sihir.
8
7
6
5
Mendadak tubuhku merasa hangat. Ada semacam aliran listrik halus menjalar di tubuhku..
4
3
Waktu kematianku sudah dekat ketika ku rasakan sebuah benda dingin tiba-tiba menyebul dari jemariku.
2
Ku lirik benda yang semakin nampak. Sebuah pasak berwarna perak sepanjang satu jengkal tangan berada disana.
Dia mendekatkan sebuah pisau tepat ke arah jantungku dan siap menerkam ketika dia menyebut angka..
1......
“Aaaaarrrgghhh....!!” Jeritan itu bukan berasal dariku. Bamun penyihir wanita yang lebih dulu terkena pasak perak di tanganku. Aku menghujamkan tepat di jantungnya. Cahaya hitam muncul dari dalam tubuhnya.. kemudian dia terbakar hangus dan.. wusss.... hilang entah kemana. Sementara saudaranya pung memgalami nasib yang sama denganya, dia hangus tanpa aku sempat menyentuhnya.
Aku terduduk di jalan beraspal. Baru kusadari keadaan kembali seperti semula. Mereka lenyap. Dan aku selamat... mendadak semua gelap...
*****
“Andrea? Are you ok?” Sapa Claire saat pertama kali aku membuka mata
“Claire? Is that you? You’re still alive?” Ku raba wajahnya yang tampak baik-baik saja. Jonatha bahkan disana tampak bertanya-tanya.
“What do you mean?” Ucapnya.
Mereka menemukanku tak sadarkan diri di jalan dengan banyak luka sayatan. Mereka bilang aku mengigau kata-kata tentang malam persembahan dan sihir. Aku seolah berada dalam situasi yang kacau. Apa yang terjadi sebenarnya? Bisakah seseorang memberiku penjelasan? Luka-luka ini sungguh nyata. Dan satu lagi, sebuah kalung dengan lambang bulan sabit seperti milik wanita penyihir itu kini melingkar di leherku. Meaki masih menjadi teka-teki, namun aku bersyukur, semua selamat.. dan aku cukup lega mengetahuinya.
Penyihir hitam..
Malam sabat dan persembahan..
Pasak dan kalung ini..
Tak ada penjelasan sama sekali..
Halloween ini benar-benar menjadi sebuah mesteri bagiku.
***
Trimakasih para readers, jika kalian suka klik gambar hatindi pojok kanan bawah.. karena hati mu sangat berharga bagiku 🥰🥰