Di suatu desa hiduplah seorang kakak beradik yang saling melengkapi satu sama lain. Keduanya tidak memiliki orang tua. Alhasil sang kakak harus banting tulang untuk menghidupi adik kecilnya itu. Raka namanya. Setiap hari Raka selalu bekerja di sebuah warung makan kecil yang ada di perbatasan desa. Walaupun gaji yang ia terima tidaklah cukup untuk keperluan adik serta pendidikannya. Akan tetapi Raka sangat bersyukur, walaupun dirinya hanya digaji 20.000 setiap harinya.
Setiap pagi Raka akan bangun terlebih dahulu sebelum adiknya. Raka akan menyiapkan sarapan untuk adik kecilnya itu. Jika adiknya sudah selesai mandi maka Raka akan mandi. Jika adiknya sudah selesai sarapan maka Raka akan mengantar adiknya ke sekolah menggunakan sepeda ontel peninggalan almarhum ayahnya. Raka tidak pernah sarapan jika ingin pergi ke sekolah, karena stok beras yang ada di rumah mereka mulai berkurang. Alhasil, setiap Raka sampai di sekolah ia akan membeli satu bungkus roti yang harganya terjangkau di kantin sekolah.
Setelah mengantar adiknya sekolah dengan selamat baru Raka akan bersekolah. Raka baru berusia 17 tahun, ia duduk di bangku SMA. Raka bersekolah menggunakan jalur beasiswa yang ia dapat saat masih duduk di bangku SMP. Bukan hanya pekerjaan keras, Raka juga adalah siswa yang berprestasi. Raka sering mengikuti kejuaraan olimpiade sains tingkat nasional. Di samping ia mengurus dan banting tulang untuk menghidupi dirinya dan adik perempuannya. Raka tidak pernah lupa untuk belajar. Jika Raka tidak sempat untuk belajar maka ia akan membaca buku yang ia pinjam di perpustakaan sekolah.
Suatu hari saat jam istirahat di sekolah. Raka yang ingin pergi ke perpustakaan sekolah untuk meminjam sebuah buku tentang sains. Tiba-tiba dihampiri oleh ketua kelas di kelasnya yang bernama Rangga.
"Raka. Kamu di panggil sama pak kepala sekolah, di suruh ke ruangannya sekarang!!" ucap Rangga.
"Memangnya pak kepala sekolah ada apa memanggilku?" tanya Raka kepada Rangga.
"Nggak tau. Mending kamu cepet ke sana, sebelum si botak hilang kesabaran. Karena aku sedang frustasi mengahadapi urusan Osis," ucap Rangga. Raka hanya tertawa mendengar ucapan Rangga. Bukan hanya ditunjuk sebagai ketua kelas, Rangga juga terpilih menjadi seorang ketua Osis.
"Iya-iya aku akan pergi sekarang."
Saat sampai di ruang kepala sekolah. Raka kemuadian bertanya kepada Pak Budi selaku kepala sekolah di SMA Dharmawangsa yang ia tepati.
"Raka, kamu belum bayar SPP semester ini," ucap Pak Budi.
Raka terkejut, matanya membulat sempurna saat mendengar dirinya tidak membayar SPP sekolah. "Tapi kan pak. Saya masuk ke SMA ini menggunakan jalur beasiswa. Bukankah, jika siswa menggunakan jalur beasiswa untuk masuk ke sekolah SMA Favorit, uang SPP nya akan ditanggung sampai lulus," protes Raka.
Ia tidak terima beasiswanya dihentikan hingga kelas 11 SMA semeter satu, karena ia berjuang mati-matian demi mendapatkan beasiswa di SMA favorit nya itu.
"Benar. Tapi beasiswa yang kamu dapat. Hanya menunjang pembayaran satu set pakaian sekolah, buku dan SPP dari kelas 10 saja," jelas Pak Budi.
Raka terdiam sejenak. "Baik Pak. Akan saya usahakan untuk membayar SPP di semester ini. Kalau begitu saya permisi."
Raka hanya tertunduk lesu, saat keluar dari ruangan kepala sekolah. Dirinya bingung bagaimana caranya untuk membayar SPP, sedangkan untuk makan sesuap nasi saja sudah susah.
***
Saat pulang sekolah. Raka tidak langsung pulang melainkan menjeput adik kesayangannya yakni Tuti. Dari kejauhan Raka bisa melihat Tuti yang sedang berdiri di depan pintu gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat.
"Maaf ya Tuti. Abang lama jemput kamu," ucap Raka dengan wajah yang murung.
"Ya gak apa-apa kok. Abang kok mukaknya kusut sih? Kek baju yang belum disetrika," tanya Tuti dengan sedikit candaan.
Raka tertawa kecil mendengar candaan dari Tuti. "Abang gak apa-apa kok. Ayok pulang, keburu sore!!" ucap Raka seraya mencubit pipi adiknya yang chubby. Tuti hanya mengangguk, kemudian Tuti duduk di bangku belakang sepeda.
"Udah?" tanya Raka memastikan adiknya sudah duduk di bangku sepeda.
"Udah," jawab Tuti seraya memeluk pinggang kakaknya erat-erat.
Raka kemudian menggoes sepeda ontelnya yang terlihat sudah termakan oleh usia.
Di perjalanan pulang, sesekali kakak beradik itu mengobrol dengan canda tawa. Orang-orang yang di sekitar jalan yang dilewati oleh Raka, yang melihat mereka tertawa berdua di atas sepeda ontel mengira mereka berdua adalah seorang pasangan, hingga pejalan kaki yang melihat keakraban mereka berdua seperti seorang kekasih baper dibuatnya. Wajar saja jika orang-orang berpikiran seperti itu, karena Raka dan Tuti hanya berbeda 3 tahun saja.
***
Saat sudah sampai di rumah. Raka memarkirkan sepeda ontelnya di depan rumahnya, kemudian melepaskan sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu. Raka kemudian masuk kedalam rumah dan duduk di kursi yang ada di ruang tamu. Tuti menghampiri Raka yang berada di ruang tamu dan tidak lupa membawakan kakaknya itu segelas air putih untuk diminum.
"Ini Tuti bawain air putih. Pasti abang haus habis ngegoes sepeda," ujar Tuti meletakkan segelas air putih di hadapan kakanya. Tanpa berpikir apapun Raka meminum segelas air putih yang diambilkan oleh adiknya.
Hening sejenak, tidak ada percakapan di antara kakak adik itu. 'Apa aku harus memintanya? Aku kasian ngeliat Abang Raka udah kerja keras untuk menghidupi aku dan dirinya sendiri. Belum lagi untuk sekolah dan isi dapur,' batin Tuti. Tuti bimbang, hati dan pikirannya tidak sejalan kali ini. Pikirannya mengatakan iya sedangkan hatinya tidak. Tuti bisa melihat keringat yang mengucur deras di pelipis kakaknya itu. Tuti mengeluarkan sapu tangannya, kemudian mengelap keringat yang membasahi pelipis kakak kesayangan itu.
"Abang pasti capek habis ngegoes sepeda," ujar Tuti seraya mengelap keringat di pelipis kakaknya.
Raka tersenyum melihat sikap adik perempuannya yang perhatian kedapanya.
"Iya lah gimana gak capek. Orang Abang tadi ngebonceng gajah," ucap Raka sedikit ledekan.
Tuti yang mendengar ledekan dari kakanya, berhenti mengelap keringat Abangnya itu.
"Abang ih!! Aku bukan gajah. Lagi pula berat badanku hanya 40 kilogram, di bawah berat badan Abang," jelas Tuti dengan wajah cemberut.
Raka tertawa puas melihat wajah adiknya yang cemberut. Karena gemas, Raka mencubit kedua pipi Tuti yang terlihat tembem ketika cemberut.
"Udah jangan cemberut. Kalau Tuti cemberus mukaknya nambah jelek tau. Sekarang, mana senyum pepsodent nya?" ucap Raka.
Tuti kemudian tersenyum manis memperlihatkan giginya yang putih terjejer rapi dan lesung pipi terlihat diwajahnya. Raka yang melihat senyuman adiknya ikut tersenyum. Raka mengingat senyuman adiknya itu mirip seperti senyuman ibu mereka. Jujur Raka sebenarnya rindu akan sosok ibu di sampingnya. Akan tetapi takdir berkata lain, saat Raka berusia 14 tahun kedua orangtuanya meninggal karena sebuah kecelakaan beruntun. Tanpa sadar Raka ternyata menitihkan air mata karena rindu akan sosok orang tua.
"Abang kenapa? Kok nangis?" tanya Tuti heran kenapa kakanya itu menangis.
Raka mengusap air mata yang membasahi pipi dan matanya itu.
"Gak apa-apa kok. Tadi abang cuma kelilipan sesuatu," ucap Raka.
Bohong. Tuti tau kakanya berbohong namun Tuti hanya diam dia berpikir kakanya pasti punya alasan di balik air mata kakanya itu. Raka kemudian berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya.
"Abang sekarang kerja gak?" tanya Tuti
"Nggak. Kemarin Buk Imey bilang kalau hari ini libur. Ganti baju seragam mu sana!!" tintah Raka.
"Iya Abangku ganteng," jawab Tuti.
Saat di dalam kamarnya Raka mengganti seragam sekolahnya menjadi baju rumahan. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Raka menghela nafas panjang. Ia masih bingung bagaimana caranya membayar SPP sekolahnya. Tiba-tiba ia teringat akan celengan yang ia simpan di bawah kasur, yang rencananya uang celengan itu ia pergunakan untuk membeli kue ulang tahun untuk Tuti yang sebentar lagi akan berumur 15 tahun. Saat Raka mengambil uang dari celengannya kemudian Raka menghitung uang yang selama ini ia tabung.
"Belum cukup ternyata," gumam Raka. Ternyata uang yang selama ini ia tabung belum cukup untuk membayar SPP sekolahnya. Kemudia ia memasukan lagi uangnya ke dalam celengan dan menyimpannya di bawah kasur tempatnya tidur.
Raka kemudian berpikir ingin pergi ke toko kue milik ibunya Rangga, siapa tau di sana ia mendapatkan pekerjaan. Raka kemudian keluar kamarnya dan memanggil Tuti.
"Iya Abang, kenapa? Loh Abang mau ke mana? Katanya sekarang gak kerja?" tanya Tuti.
"Abang ada urusan sebentar. Kamu jaga rumah ya."
"Iya, Abang hati-hati ya," ucap Tuti seraya salim kepada kakanya. Kemudia Raka pergi dari rumah menuju ke toko kue milik ibunya Rangga.
***
Saat sampai di toko kue milik ibunya Rangga. Raka melihat Rangga juga ada di sana yang sedang sibuk membantu ibunya.
"Loh Raka. Tumben ke sini, kamu mau beli kue?" tanya Rangga.
"Nggak dulu Rangga. Aku ke sini mau nanya di sini ada kerjaan yang bisa aku bantu. Seperti bersih-bersih, nganterin kue atau yang lain?" tanya Raka.
"Kebetulan sekali nak Raka. Kita lagi butuh orang buat nganterin kue pesanan ke pelanggan. Kamu mau jadi kurir pesan antar di toko Tante?" tanya Tante Rina.
"Oh mau banget Tante,"jawab Raka dengan semangat.
"Oke kalau gitu kamu bisa kerja hari ini. Masalah gaji itu gampang," ucap Tante Rani.
"Nih, kue pertama yang harus kamu anter. Ini alamatnya dan ini nama penerimanya. Dan juga ini kunci motor aku. Kamu nganterinnya pakek motor aja biar cepet," ucap Rangga seraya memberikan kunci motornya dan kue pesanan. Raka menerima kue dan kunci motor milik Rangga. Tidak lupa ia berpamitan kepada Tante Rina dan Rangga. Tante Rina berpesan agar Raka tidak ngebut membawa motor, agar kuenya tidak hancur saat diterima oleh pelanggan.
Raka kemudian mengantar kue ke alamat yang tertera di atasnya. Setelah mengantar pesanan kue pertama Raka kembali lagi ke toko kue untuk mengambil pesanan berikutnya yang harus ia antar. Begitupun seterusnya, hingga hari menjelang malam. Merasa pesanan semuanya sudah di antar Raka kemudian kembali lagi ke toko kue.
"Ada lagi kue yang mau di anter Tante?" tanya Raka.
"Nggak ada nak Raka. Tadi itu pesanan terakhir. Sekarang kamu boleh pulang. Oh ya ini gajimu untuk hari ini," ucap Tante Rina seraya memberi uang jagi Raka. Raka menerima uang gajinya dengan senang hati. Saat ia menghitung uang gaji yang diberikan oleh Tante Rina, itu terlalu banyak untuknya.
"Sebanyak ini Tante? Tapikan..."
"Udah ambil aja. Ini rezeki untuk kamu dan adikmu," ucap Tante Rani.
"Iya ambil aja Raka. Itu rezeki buat kamu sama Tuti. Inget, rezeki gak boleh ditolak," ucap Rangga yang tiba-tiba muncul dari belakang Raka, seperti jailangkung.
Raka sangat bersyukur, karena hari ini ia bisa mendapatkan uang lebih dan bisa membeli makanan yang enak untuk Tuti. Kemudian Raka berpamitan kepada Tante Rina dan Rangga untuk pulang. Raka pulang dengan hati yang sangat senang. Di perjalanan pulang ia sempat singgah ke salah satu warung makan pinggir jalan, untuk membeli makan malam untuk dirinya dan Tuti.
***
Saat sampai di rumah. Raka disambut oleh Tuti dengan senyuman. Raka kemudian menyerahkan makanan yang tadi ia beli kepada Tuti.
"Abang mandi dulu ya. Habis ini kita makan sama-sama," ucap Raka. Tuti hanya mengangguk menanggapi ucapan kakanya itu. Raka kemudian pergi ke kamar mandi untuk mandi. Setelah mandi Raka menyusul Tuti yang sudah duluan di dapur. Raka dan Tuti kemudian makan malam bersama.
Setelah makan malam bersama Raka hendak berdiri untuk pergi ke kamarnya. Tuti memanggilnya.
"Abang. Tadi ibu kost ke sini nagih uang sewa kost. Kita udah dua bulan nunggak," ujar Tuti seraya mencuci piring.
Raka menghela nafas panjang. "Iya nanti Abang bayar uang sewanya. Abang ke kamar dulu," ucap Raka. Saat Raka hendak pergi Tuti memanggilnya lagi.
"Abang."
"Iya kenapa lagi Tuti cantik?" tanya Raka.
'bilang gak ya? Aku kasihan ngelihat kondisi ekonomi kita. Mana tadi ibu kost dateng nagih uang kost marah-marah lagi.' batin Tuti. Lagi-lagi ia binbang mengambil keputusan dan lagi-lagi hatinya tidak sejalan dengan pemikirannya. Di sisi lain ia ingin ulang tahunya dirayakan dengan sepotong kue. Namun di sisi lain ia kasihan melihat kakanya yang sudah banting tulang untuk menghidupinya. Kali ini Tuti memberanikan diri untuk meminta keinginannya itu.
"Be…besokkan ulang tahun Tuti yang ke-15. Tuti…pengen nge…ngerayain ulang tahun Tuti pakek kue," ucap Tuti terbata-bata. Raka yang mendengar permintaan adiknya, yang ingin ulang tahunya dirayakan dengan kue. Hanya bisa menghela bernafas panjang dan tersenyum. Ia menghampiri adiknya yang sedang mencuci piring.
"Alasannya?" Raka bertanya alasan kenapa adiknya ingin merayakan hari ulang tahunnya dengan kue.
Tuti berbalik. "Alasannya…karena Tuti gak pernah ngerayain ulang tahun Tuti. Tuti iri sama temen-temen yang bisa ngerayain ulang tahunya…"
"Tapi kalau gak bisa, nggak apa-apa kok. Tuti cuma–"
"Iya. Abang usahain biar ulang tahun Tuti yang ke-15 dirayain. Abang janji!!" Raka memotong ucapan adiknya. Bukan tanpa alasan, Raka tau ia sudah banyak menolak permintaan Tuti karena ekonomi. Namun untuk kali ini Raka ingin menuruti satu permintaan adiknya itu.
***
Keesokan paginya. Seperti biasa Raka menyiapkan sarapan untuk Tuti. Saat Tuti sudah selesai mandi ia menghampiri kakaknya yang ada di dapur.
"Selamat ulang tahun yang ke-15, adik Abang yang cantik," ucap Raka saat Tuti memasuki dapur.
"Makasi Abang ku ganteng," ucap Tuti kemudian duduk di kursi meja makan.
"Habisin ya sarapanya. Abang mau mandi dulu, habis itu kita berangkat sekolah," ucap Raka. Tuti hanya menjawabnya dengan anggukan.
Saat Raka sudah selesai siap-siap, merekapun berangkat ke sekolah. Raka terlebih dahulu mengantar Tuti ke sekolahnya. Saat menurunkan Tuti di depan gerbang sekolah.
"Abang…kalau gak bisa beli kuenya buat ulang tahun Tuti. Nggak apa-apa, Tuti takut nanti Abang sakit gara-gara cari uang buat beliin Tuti kue," ucap Tuti dengan nada khawatir.
"Udah, nggak apa-apa. Lagi pula Abang kan udah janji sama kamu. Udah ya, Abang ke sekolah dulu. Kamu belajar yang rajin ya," ucap Raka. Tuti hanya mengangguk dan tersenyum manis menuruti perintah kakanya.
Saat di lorong sekolah, Raka tidak sengaja berpapasan dengan pak Budi.
"Raka!" panggil pak Budi.
"Ya pak?"
"Maaf ya Raka. Kemarin bapak ngasi informasi yang salah ke kamu.."
"Maksud bapak?" tanya Raka dengan ekspresi yang penuh tanda tanya.
Pak Budi menghela nafas panjang. "Ya. Kemarin Bapak ngasi informasi yang salah. Seharusnya Bapak ngasih informasi itu ke Rakha dari kelas MIPA-2. Eh tapi bapak malah ngasih infonya kek kamu," jelas pak Budi.
"Jadi pak, beasiswa saya tidak dicabut?" tanya Raka memastikan. Pak Budi hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Raka. Mendengar hal itu Raka sangat senang, sampai-sampai ia mengeluarkan air mata kebahagiaan. Raka mengucapkan banyak terimakasih kepada pak Budi. Raka sangat-sangat bersyukur beasiswanya tidak dicabut oleh pihak sekolah.
***
Pulang sekolah, seperti biasa Raka menjemput Tuti. Saat Raka dan Tuti sampai di depan rumah, mereka disambut oleh ibu kost yang sepertinya siap menagih uang kost mereka.
"Raka!! Kamu ya udah telat 2 bulan ini. Sekarang mana uang sewa kostnya 400 ribu!!," sentak ibu kost dengan nada yang tinggi.
"Ini buk," ujar Raka seraya memberi uang 400 ribu ke ibu kost.
"Nah gitu dong, kan sama-sama enak jadinya. Lain kali jangan telat lagi ya bayarnya," ucap ibu kost kemudian pergi dari rumah Raka dan Tuti. Saat Raka menghitung sisa uang. Ternyata uang yang hendak ia belikan kue, hanya tersisa 50 ribu saja. Raka memutar otak agar bisa membeli kue yang diinginkan Tuti.
"Abang pergi dulu ya Tuti. Jagan kemana-mana, jaga rumah!" tintah Raka kemudian pergi dari rumah.
"Lah Abang mau kemana? Bang…Abanngg!!" teriak Tuti namun kakanya itu tidak menjawab.
Raka pergi ke toko kue milik Tante Rina. Seperti biasa di sana ada Rangga ada di sana untuk membatu ibunya.
"Eh nak Raka. Ada apa kesini?" tanya Tante Rina.
"Gini Tante. Ngomong-ngomong di toko kue Tante ini ada jual kue yang harganya di bawah 50 ribu?"
"Untuk kue yang harganya di bawah 50 ada. Cuma ukuranya 35 cm, lebih kecil dari kue ulang tahun yang sering dipesen ma customer," jelas Tante Rina.
"Emang kamu mau beli kue buat siapa Raka?" Tanya Rangga.
"Buat Tuti. Hari ini dia ulang tahun," jawab Raka.
Mendengar hal itu Tante Rina melarang Raka untuk pulang dulu. Beberapa jam Raka menunggu, hingga senja tiba. Tante Rina datang dengan membawa box yang di dalamnya berisi kue,lilin dan piasu pemotongan kue.
"Maaf ya nak Raka Tante lama. Ini kue untuk ulang tahun adik kamu dan di dalamnya udah ada lilin sama pisau pemotong kue. Dan kamu gak usah bayar, anggap aja ini hadiah Tante buat adik kamu yang sekarang ulang tahun," ucap Tante Rina seraya menyerahkan box berisi kue.
Raka menerima pemberian kue dari Tante Rina dengan senang hati. Dirinya sangat bersyukur karena di sekelilingnya banyak orang-orang yang baik.
"Makasi banyak Tante. Makasi banyak," ucap Raka seraya mencium tangan Tante Rina.
"Iya sama-sama," ujar Tante Rina mengelus puncak kepala Raka.
Raka pulang dengan perasaan yang senang, menurutnya hari ini adalah hari keberuntungannya.
"Tuti! Lihat nih Abang bawa apa,"ujar Raka.
"Emang Abang bawa apa?" tanya Tuti.
"Yang kamu minta kemarin."
Senyum terlukis di wajah manis Tuti. Dirinya tidak percaya kakanya membelikannya kue di ulang tahunya yang ke-15. Tuti kemudian memeluk kakanya itu, Ia menangis saat memeluk kakanya.
"Makasi…makasi banyak…Abang udah beliin Tuti kue. Tuti beruntung punya Abang Raka," ucap Tuti dengan pelukan serta tangisan. Raka membalas adiknya itu. "Ayo kita rayain ulang tahun Tuti," ujar Raka.
Tuti melonggarkan pelukannya "Iya ayok."
Raka dan Tuti menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama dan bertepuk tangan. Kemudian Tuti meniup lilin yang tertancap di atas kue.
Setelah tiup lilin Tuti kemudian memotong kue pertama untuk kakanya.
"Potongan kue pertama ini, aku persembahkan untuk Abang yang aku sayangi," ucap Tuti seraya memberikan kue kepada kakanya.
"Selamat ulang tahun adik Abang yang ke-15. Nggak nyangka kamu udah besar sekarang," ucap Raka mengelus puncak kepala adik kesayangannya itu.
Hari itu Tuti sangat senang karena keinginannya terkabulkan. Begitupun sebaliknya Raka ia sangat senang melihat adiknya itu senang. Dan Raka juga senang karena beasiswanya tidak dicabut oleh pihak sekolah.
Jakarta, 22 Februari 2022. Hari itu adalah hari keberuntungan bagi Raka, dari beasiswa yang tidak dicabut serta berhasil membuat pesta ulang tahun kecil-kecilan untuk Tuti. Semua Raka lakoni dengan sepenuh hati karena menurutnya kebahagiaan adiknya adalah keberuntungan untuk dirinya.