BAB1
Aga tengah berdiri dihadapan Viola. satu kelas mem-video mereka. Viola loncat kegirangan, padahal Aga sama sekali belum mengucapkan kalimat apapun. matanya tertuju padaku yang bersedekap dada memperhatikannya.
"Viola, lo mau jadi pacar gue?"ucapnya menggenggam kedua tangan Viola mesra. tapi kenapa malah noleh ke aku sih! kan bete.
"Ga, yang lo tembak Viola apa Cassie sih?"ujar Bimbim sebal. "tatapannya ke Cassie meluluh dari tadi, gak mungkin kan, lo naksir Cassie?"katanya sekali lagi.
Plak!
Aga langsung melempar Bimbim dengan sepatunya. "Jangan ngasal,"kata Aga sebal.
Aku pun mendengus. "Yaudah, gue keluar,"kataku mengakhiri semuanya. mending keluar, makan bakso dikantin, ketimbang nyakitin hati.
Di kantin, aku ditemani Tiwi, teman sekelas yang jadi partner sekaligus cewek ter-paling tau tentangku.
"Sampai kapan sih, Cas? gini muluh? jujur aja ngapa sih, sama Aga, kalo elo tuh suka sama dia?"ujar Tiwi memberi saran baiknya. sumpah deh, udah lebih ratusan kali aku dengan saran itu.
"Gak mungkin,"kataku singkat.
Tiwi mendengus sebal. "Apanya yang gak mungkin sih, Cas? Ego lo tuh yang perlu diturunin, gak salah juga, tinggal bilang suka sama Aga,"katanya bagai serangan telak yang aku terima.
Aku lanjut mengunyah pentolan bakso berisi telur puyuh. "Ngomongnya muda Tiw, lo belum tau aja susahnya, gimana?"kataku pada akhirnya membuang nafas lelah. "Gue sama Aga itu temenan dari kita masih suka main ikan hias. dari kecil. gue gak mau hanya karena perasaan gue, gue kehilangan Aga, gue takut sama resikonya. Aga lebih berarti dari apapun, dia tuh kayak pengganti peran papa di hidup gue."jelasku pada akhirnya membuat Tiwi diam.
"Ya maaf... gak tau, maaf ya???"katanya memasang wajah memohon-nya. aku hanya berdehem saja merespon.
"Gue cuman gak mau lo makan hati liat Aga sama Viola, apalagi satu kelas,"lanjutnya menatap kasih diriku.
Aku tersenyum manis kearahnya. "Gue udah biasa, gak hanya sekali, kan?"kekehku. "itu resiko,"kataku cepat.
🦢🦢🦢
"Pulang bareng?"aku menoleh kesumber suara. Aga selalu begitu, suka ngagetin.
"Gue gak enak sama Viola,"kataku apa adanya.
"Aelah Cas, kayak sama siapa aja. satu dunia juga tau lo itu temen gue, biasa aja kalik,"kata Aga santai sekali.
Aku menghela nafas berat. "Lain kali aja, Viola otw kesini tuh!"kataku mengangkat daguku menunjuk kearah langkah kaki Viola yang sudah memasang senyumannya.
"Terus lo balik sama siapa? kan tadi gue jemput,"kata Aga lagi.
Aku menunjuk kearah lain. dimana disana ada Langit yang sudah menatap kearah kami dengan senyuman.
"Bareng langit,"kataku sambil tersenyum. "Yaudah, duluan ya!"
Aku lekas berlari menghampiri Langit. "Kak Langit!"cowok itu menoleh.
Ia tersenyum. "Hai cil, mau nebeng ya?"katanya langsung membuat tawaku pecah.
"Aga lupain elo lagi, hm??"lanjutnya membuat sesaat tatapanku tertuju pada Aga diseberang sana yang menatap kami. namun tatapannya membuat bulu kudukku merinding.
"Udahlah. ayo kak!"
Aku lekas masuk mobil kak Langit, meninggalkan parkiran dan juga Aga yang lagi memboncengi Viola. sesak banget hatiku.
Di dalam mobil tidak ada pembahasan selama beberapa menit, hanya suara musik santai sepanjang jalan.
"Cas,"aku menoleh kearah kak Aga.
"Lo, tau gak? di kamar Aga banyak foto lo,"kekeh kak Langit berucap membuatku mengedipkan mata berkali-kali.
"Ah, yang serius kak???"tanyaku kurang yakin.
Kak Langit mengangguk sambil nyetir mobil.
"Coba aja sekali-kali lo pura-pura nyasar kerumahnya kapan main kerumah,"kak Langit menggeleng sambil memasangkan senyuman.
Aku pun balik tersenyum sambil menatap kosong kedepan. sebenarnya senang sih tau dari kak Langit, tapi kan gak boleh cepat baper. siapa tau itu semuanya Aga abadikan karena kami sudah lama berteman. gak mungkin banget Aga juga menyimpan rasa yang sama denganku. toh dia playboy gitu.
"Udah sampai, Cas,"
"Makasih kak."
"Gue langsung balik ya, ntar Aga cemburu lagi liat gue kelamaan bareng lo."
"Dih. gak mungkinlah!"
Kak Langit tertawa renyah saja. kemudian meng-klakson sebelum mobilnya melaju pergi.
"Assalamualaikum..."ucapku mengucapkan salam.
"Waalaikumsallam, udah pulang Cas?"jawab mama yang aku salami punggung tangannya. aku mengangguk mengiyakan.
"Sama Aga?"mama itu setiap hari nanya gitu.
Aku menggeleng. "Sama kak Langit,"jawabku.
"Loh, tumben gak sama Aga? Aga mana?"mamaku itu juga bawel. wajar sih, udah tua juga. astagfirullah mulut.
"Sibuk sama pacarnya."jawabku ketus. "Yaudah, Cassie ke kamar ya, ngantuk!"aku berlari menaiki anak tangga sebelum mama kembali melontarkan pertanyaan lainnya.
Di kamar. baru lima menit tiduran, chat dari Aga masuk.
Agafi🦢
Lo suka cincin apa jam, Cas?
Loh, tumben nanya gitu, pikirku. gak kayak biasanya sih. aku gak mau lama-lama mikir, langsung mengetik balasan.
Anda
Suka uang
Sesuka aku ajalah. jawabnya gitu, Aga tuh sering gak jelas. nanya hal-hal yang jelas dia udah tau banget jawabannya apa. heran.
Agafi
gak gitu. pilih yang gue tanya.
Anda
Cincin. knpa?
Agafi
Ukuran jari manis lo berapa??
Anda
14 kalo gak salah kecil lagi.
Agafi
Ok
Anda
Lo gak mau pura-pura gila buat lamar gue ujung-ujungnya lamar orang lain, kan, Ga??🙄
Agafi
Gak kok. ukuran jari lo sama kayak Viola, gue mau beliin dia. tadi gue lupa nanya sama dia.
Anda
Oh.
"TUH KANNN!!!!"jeritku kesal. Aku melempar kasar handphone ku ke sembarang arah.
🦢🦢🦢
Pukul 20.20 wib.
"Cassieeee!! Ada Aga di bawah tuh!"
Aku mengucek mataku yang masih ngantuk berat. aku pun dengan malas keluar kamar, bodoamat masih acak-acakan.
"Hmm?"aku duduk di samping Aga sambil memejamkan mata.
"Astaga mak rombeng?? bisa-bisanya lo gak jaga image depan gue? gak malu lo?"tegur Aga pura-pura syok. padahal udah sering liat aku kayak gini. bahkan pernah masuk kamar mergokin aku ileran.
"Gak usah sok deh lo. gue bahkan dari kecil udah liat beo elo!"cibirku saking emosinya. masih kejadian tadi siang sih yang bikin aku badmood.
"Ngomongnya suka gak di filter,"kata Aga mengelus dada.
"Sana cuci mata dulu, sana,"usirnya menarikku cepat berdiri dari posisi ternyaman.
Dengan malasnya aku melangkah ke dapur.
"Bi, minggir dulu bi, aku mau cuci bulu idung,"kataku kepada salah satu pembantu yang lagi cuci piring.
"Yaallah non, suka gak bener ngomongnya,"bi Lasri menggeleng-gelengkan kepalanya saja sambil bergeser.
Usai mencuci muka di wastafel aku mengelap sembarangan ke ujung piyama yang aku pakai.
"Pusar lo keliatan di depan gue, Cassie... balik badan kek, atau dimana kek!"protes Aga merengut kesal. aku duduk di sampingnya.
"Udah deh. lo juga udah pernah mergok-in gue renang di halaman belakang cuman pakai bra doang,"celetukku membuat Aga mendengus.
"Bahaya lama-lama,"ketus Aga.
Ia mulai mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. "Sini jari lo,"ucapnya membuat dahiku berkerut.
"Buat apa?"tanyaku penasaran.
"Enggak, mau baca garis tangan,"jawabnya menarik tanganku.
"Emang lo bisa?"tanyaku tanpa sadar sebuah cincin sudah terpatri indah dijari manisku.
"Wihh, bagus banget! ada inisial huruf gue lagi? 'C' ih, gemes!"kataku memandangi cincin pemberian Aga. gak tau kenapa hatiku senang banget.
"Ada nama gue juga gue minta di ukir."
"Dimana?"
"Ada deh. udah, gimana, suka gak?"
Aku mengangguk mengiyakan. "Agak kebesaran tapi gakpapa,"kataku.
Aga mengacak-acak rambutku membuatku prustasi. "Aga... kusut!"
"Tangan lo terlalu kecil, bukan cincinnya yang kegedean."
"Muji lo bikin sakit hati, tau ga?"
"Tapi senang kan, dapet cincin?"
"Makasih."
"Yang ikhlas."
Aku menghela nafas berat. "Terimakasih Agafi... sahabat ku tercinta."
Reaksi Aga mendadak berubah. apakah aku salah bicara? padahal enggak deh, perasaanku.
"Cassie,"
"Ya?"
"Stop temenan yuk!"
"Ini kali kedua lo bilang gitu."
Aga meringis sakit saat aku mencubit bulu kakinya. suatu kesenangan tersendiri mengerjai Aga.
"Lo boleh minta apa aja asal jangan yang itu. gue, gak bisa berhenti gak temenan sama lo lagi, Aga...."
"Jadi temen hidup gue mau?"
Damn it!
BERSAMBUNG