Hari Halloween hari yang menyeramkan dimana para hantu berkeliaran untuk mencari mangsa mereka dunia Halloween adalah dunia untuk para Hantu yang Menyeramkan ~agus
#hari Halloween
Waahh... Mataharinya terang sekali!" ucap Nana padaku yang kini tengah bersamanya. Gadis itu terlihat begitu polos, tapi aku menyukainya.
"Apa kau tidak ada persiapan?" dia pun menatapku dengan senyuman.
"Persiapan apa?"
"Apa kau lupa bahwa sekarang adalah Halloween?"
"Hahaha..." gadis ini.
"Kenapa? Apa ada yang lucu?"
"Ya! Kau yang lucu. Mana mungkin aku lupa dengan perayaan favorite-ku ini?" aku lantas menunduk dan tersenyum. Benar juga.
"Jadi, apa yang akan kau pakai nanti malam?" gadis ini pun menggaruk dagunya dengan telunjuk. Sepertinya ia tengah berpikir.
"Entahlah, apa kau punya ide? Sesuatu yang bisa kita pakai bersamaan?"
"Romeo..."
"Hiii... tidak! Itu terlalu menjijikkan." aku kemudian tertawa dengan menggaruk kepala bagian belakang. Aku pikir dia menyukainya. Tapi, apalah dayaku yang memang payah dalam hal ini.
"Aku juga bingung," seketika kami berdua pun hening. Memandangi buih latte yang kini berada di depanku. Begitu juga dengan Nana, yang tengah mengaduk ice cream yang sudah mulai meleleh. Tak ada percakapan setelahnya hingga kami berdua memutuskan untuk pulang. Dalam hati memang aku merasakan penyesalan itu. Bodohnya aku.
Di dalam kamar, aku berbaring di atas tempat tidur sembari memandangi langit-langit. Pikiranku melayang memikirkan tentang kostum apa yang akan aku kenakan. Menoleh ke arah kiri, dan aku meraih secarik kertas undangan dari perayaan sekolah nanti malam. Membacanya ulang dan berhenti pada bagian persyaratan yang sepertinya memberatkan. Harus membawa pasangan dan serasi. Sial, siapa yang membuat peraturan ini. Huh... Aku pun meletakkan kembali kertas itu laku beranjak untuk memilah baju tahun lalu yang sepertinya masih layak untuk aku kenakan.
"Aaarggghhh!!!"
Aku memekik kesal seraya menatapi baju-baju yang kini mulai berserakan. Tak ada yang pas rasanya. Tapi sebenarnya alasanku adalah Nana. Apa yang akan dia kenakan nanti, apakah akan selaras denganku sebagai pasangannya? Tapi, jika dipikir-pikir, tentang rasa suka ini terhadapnya adalah jawaban atas segala kegelisahan ini. Dalam hati aku berkata "jika kita memang berjodoh, hatilah yang akan menggerakkan apa yang terbaik bagi bersama," dan pada akhirnya, aku pun memutuskan untuk mengenakan pakaian ini. Dracula.
#Hari Halloween
Kepalaku rasanya ingin pecah. Memikirkan betapa malangnya aku hidup di dalam dunia. Tak ada tempat yang bisa menyenangkan hatiku selama ini. Awal mulanya adalah bullying. Ya, mereka semua mengolok-olok diriku di depan banyak orang setelah mendapati aku membawa seekor kucing untuk tugas biologi yang seharusnya membawa katak untuk di bedah. Itu karena ulah Fredy yang mengirim pesan singkat untuk membawa seekor kucing ke sekolah . Yang pada akhirnya, seluruh siswa yang ada di sekolah memojokkan ku dengan panggilan psikopat. Tak jarang tindakan fisik pun aku dapatkan yang pernah membuat aku tidak masuk selama 3 hari karena wajahku memar-memar setelah dikeroyok oleh teman-teman Fredy. Sebenarnya apa yang mereka inginkan? Apakah kematianku dapat memuaskan hasrat mereka? Apa itu benar adanya? Aku tak memiliki nyali sebesar itu, dan itulah alasanku masih bisa hidup di dunia yang begitu menyedihkan ini.
Dendam, tentu saja aku sangat dendam. Tapi, tubuhku terlalu kecil untuk meninju mereka yang bertubuh besar juga berjumlah banyak. Tapi, sepertinya ada cara lain yang bisa aku lakukan. Yah, ada. Tapi untuk mendapatkannya, aku membutuhkan kurir yang secara rahasia datang kemari mengantarkan benda itu padaku.
Dengan susah payah aku pergi menuju sebuah halte Bus yang keberadaanya cukup jauh dari rumah dengan berjalan kaki. Aku tak peduli dengan ibu juga ayah yang sempat bertanya kemana aku akan pergi. Karena mereka juga tidak pernah mau memahami betapa menderitanya aku saat ini. Apa yang aku ceritakan, mereka berdua hanya menganggap ini sebagai buletin radio yang memang pantas untuk di abaikan. Maka, sudah aku putuskan. Cara ini akan sangat bekerja dan bisa memuaskan dendamku yang sangat membara.
"Apa kau membawa barangnya?" ucapku perlahan pada seorang pemuda yang tengah berdiri mematung tak berbicara. Memakai kaus putih bergambar malaikat, juga topi merah sesuai dengan ciri-ciri yang ia berikan padaku.
"Apa kau membawa uangnya?" dia balik bertanya padaku.
"Tentu, ini." aku lantas menyerahkan uang yang berjumlah banyak. Sangat disayangkan memang, mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk membeli ini.
"Ini permintaanmu." ia pun menyerahkan sebutir obat berwarna putih yang berukuran kecil, sangat kecil. "Selamat bersenang-senang!" pungkasnya setelah sesi jual beli ini berakhir. Dengan segera aku memasukkan ini ke dalam saku celana lalu pergi dengan segera.
"Lihat, betapa tampannya dirimu. Drakula jalang!" ucapku di hadapan cermin yang memantulkan tubuhku yang kini tengah memakai kostum Dracula. Menyibakkan jubah lalu menutup sebagian wajahku kemudian. Aku tertawa saat menyadari betapa konyolnya aku. Berbicara sendiri dengan bayanganku sendiri.
Jam dinding kini tengah menunjukkan pukul 9 malam. Aku lantas bergegas untuk pergi menuju sekolah. Menggunakan mobil Jazz yang sudah sangat bersih dan wangi. Untuk menjemput sang putri dan melaju bersama menuju pesta Halloween.
Kendaraanku kini berhenti tepat di depan gerbang. Aku segera meraih ponsel genggam dan menghubungi Nana; memberitahukan bahwa aku sudah berada di depan rumahnya.
"OTW" balasnya melalui pesan singkat. Seketika itu pula aku merasa gugup. Berpikir apa yang akan ia kenakan malam ini. Semoga saja dia memiliki pemikiran yang sama.
Seseorang itu muncul dari balik pintu gerbang. Berjalan dengan terburu-buru setelah menyapaku sebelumnya. Aku lantas tersenyum, gaun putihnya begitu indah tampak membias saat sorot lampu ini menerpa kain itu. Hingga akhirnya dia pun masuk dan duduk di sebelahku. Benar, hati ini menuntun kita. Aku menjadi Dracula dan kau menjadi korbannya.
#Hari Halloween